
Peluru yang melesat ke arah pergelangan tangan Licnus langsung menembus permukaan kulit pria itu. Pistol yang ia peggang jatuh bahkan tubuhnya mundur beberapa langkah.
Semua orang yang menyaksikan adegan tak terduga itu hampir tersedak bahkan melongo tak percaya. Kapten intelejen utama mereka bisa terkena tembakan dari musuh?
Apalagi, mata mereka terpaku pada sosok pria gagah yang berdiri tak jauh dari Licnus. Wajahnya sedikit familiar bahkan kapten Licnus yang memandang ke arah Edwald-pun tersentak.
"P..Presdir Edwald?!" Gumamnya terkejut dengan pandangan bertanya-tanya. Benarkah dia Steen? Bagaimana bisa?
Edwald diam tapi matanya memanas ke arah Cooper yang tampak sudah sekarat dengan tubuh berlumuran darah. Darahnya mendidih hebat bahkan tak bisa lagi di jabarkan bagaimana murkanya Edwald melihat Cooper yang biasa terlihat konyol sekarang tampak menyedihkan.
"Kau Steen? Seorang Presdir perusahaan ACIAN?" Tanya Licnus dengan senyuman terkesan tak percaya tapi juga ada kesan remeh di dalamnya.
"Sudah-ku duga sebelumnya! Di balik organisasi besar ini pasti, ada seseorang yang kuat. Ternyata kau juga terlibat."
"Kapten! Akan-ku urus dia. Obati pergelangan mu dulu," Peringat salah satu rekannya tapi Licnus tak ambil pusing soal darah yang menetes di pergelangannya.
Ia lap cairan amis itu ke seragam pria di dekatnya menjelaskan jika dia benar-benar tertarik dengan pertemuan kali ini.
"Luka ini hanya goresan kecil. Jangan terlalu di pedulikan, kawan!"
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kapten! "
Licnus melirik Edwald yang masih berdiri di tempat. Beberapa warga yang melihat menantu keluarga Harmon itu bermasalah dengan para aparat negara ini tentu saja syok bukan main.
Tak ada yang berani mengambil tindakan saat Edwald berjalan mendekati Cooper dengan pistol masih setia di genggaman tangan kanannya.
Rasa takut, cemas tak bisa mereka temukan di wajah tampan Edwald yang justru menguarkan amarah dan hawa intimidasi.
"S.. St..een.. "
Lirihan Cooper samar-samar dan membayang bisa melihat Edwald yang sudah berdiri di hadapannya. Kedua tangan Edwald semakin mengepal kuat melihat luka-luka di tubuh Cooper begitu serius.
"K.. kau.. p.. pergi.. d..dari sini.. bo.. bodoh!" Maki Cooper dengan nafas diambang-ambang. Tangan Edwald yang bebas terulur memeggang bahu Cooper yang tadi lemas ia sangga untuk menatapnya tegap.
Darah yang meleleh di kening Cooper sampai menetes ke tangan kekar Edwald yang benar-benar tak akan melepaskan siapapun yang melakukan ini.
Edwald yang tak bicara sepatah-katapun melepas ikatan kuat di tubuh Cooper hingga pria malang ini hampir jatuh tapi Edwald segera menahan bahunya.
"P..pergi.."
Edwald hanya diam. Ia menaikan Cooper ke bahunya ringan lalu membawa rekan terbaiknya itu untuk pergi dari sini.
Tapi, belum lima langkah Edwald menjauh, Licnus bicara lantang menghentikan langkahnya.
"Kau pikir bisa pergi dari tempat ini??!" Hardik Licnus menggeram melihat keangkuhan Edwald sangat mendominasi.
Semua warga yang melihat itu gemetar karna takut jika kejadian berdarah tadi akan kembali lagi. Bahkan, beberapa diantara mereka ada yang berlari menjahui area kejadian.
"Jangan harap kau bisa bersembunyi lagi, Presdir! Ouhh..bukan, tapi Steen!"
Licnus terus mengolok-ngolok Edwald dan dapat seruan tawa dari para aparat yang hanya berlindung di balik seragam tentara itu.
__ADS_1
Cooper yang sekarat masih bisa mendengar penghinaan yang di lontarkan Licnus. Ia bersumpah, atas nama hidup dan matinya pria itu harus merasakan penghinaan yang paling menyedihkan di dunia ini.
"S.. Steen!"
Edwald hanya diam membaringkan Cooper di dekat semak rimbun yang tampaknya ada sesuatu di baliknya.
Dari isyarat tatapan Edwald ke dalam hutan itu, ia seperti memberi kode rahasia yang hanya dapat dimengerti oleh mereka sendiri.
"Tetaplah hidup!" Datar Edwald kembali berdiri hingga Cooper menggeleng perlahan karna tahu apa yang akan Edwald lakukan.
Disaat melihat ada sesuatu yang datang dari arah semak-semak sana. Licnus memerintahkan anggotanya untuk menembak.
"BUNUH DIA!!!"
Titah Licnus keras tapi sebelum senapan mereka terangkat, Edwald sudah lebih dulu berbalik dan menyapu semuanya secara rentetan peluru yang cepat.
Ini seperti kilat yang melewati wajah mereka dan tak terasa sudah menembus area dada masing-masing anggota yang tadi ingin menembaknya.
Benar-benar luar biasa. Licnus sampai mematung melihat 5 penembak jitu mereka tumbang tanpa sisa bahkan bidikan Edwald tak melenceng menakuti sisa anggota yang berdiri di belakang Licnus.
"Luar biasa! Kau pantas diacungi jempol!" Decah Licnus masih santai. Di tatapnya mayat para anggota yang sudah tewas di tempat itu lalu beralih pada Edwald yang masih berdiri di tempat yang sama tanpa ada rasa takut maupun gentar.
"Tak di sangka-sangka, Presdir yang-ku kira bertangan halus bisa menjelma menjadi iblis seperti ini. Hmm..luar biasa."
Licnus bicara panjang lebar karna ia sudah mengatur anak buahnya di beberapa penjuru tempat ini untuk menyergap Edwald yang hanya diam tapi lirikan ekor matanya menangkap tempat-tempat di sekitarnya.
Saat dirasa Edwald lengah, Licnus langsung mengangkat tangannya hingga orang-orang yang tadi bersembunyi di balik hutan langsung menembaki Edwald secara brutal.
Licnus berlindung di balik body mobilnya sementara Edwald menjadikan rerumputan tinggi di sampingnya sebagai pengalihan untuk membalas serangan ini.
Keduanya diberi perlindungan oleh Edwald yang menghadang peluru-peluru yang mengarah pada anggotanya yang sudah menyeret Cooper masuk ke dalam hutan.
Keadaan belum usai. Edwald berlindung di balik pohon yang ada di tepi jalan tadi setelah berhasil menumbangkan dua musuh yang ingin mengejar Cooper.
Melihat Edwald yang kembali lolos, tentu saja Licnus sangat geram. Ia bangkit dari persembunyiannya dan berjalan cepat nyaris berlari tegas ke arah Edwald.
"KAU PANTAS MATII!!" Geram Licnus langsung menarik kerah jaket Edwald yang tak tinggal diam. Ia mencengkram pergelangan tangan Licnus yang tadi berdarah lalu melayangkan tinjuan mautnya ke rahang pria ini.
Alhasil tubuh Licnus tersungkur ke belakang bahkan, sampai menyapu rerumputan tajam di tepi aspal ini.
Para bawahan Licnus yang melihat kaptennya terkena serangan hebat itu, sampai termenggu menyaksikan dua pria kekar saling baku hantam di tepi jalan.
Licnus yang tampak emosi, ikut menghantamkan tinju nya ke dada bidang Edwald hingga keduanya saling mengadu skill.
Licnus yang juga seorang angkatan militer juga menguasai beladiri yang handal. Ini lawan yang pas bagi Edwald yang juga terkena beberapa serangan dari Licnus di bagian tulang pipi dan dagunya.
"Bagaimana ini? Mereka bertengkar hebat."
"Kita tak bisa bertindak gegabah."
Para bawahan Licnus yang berkecamuk semakin fokus pada pertarungan sengit dua pejantan itu. Beberapa kali mereka melihat Licnus di hantam mentah oleh Edwald yang mereka akui begitu kuat bahkan kaptennya sendiri sampai kewalahan.
__ADS_1
"Ini untuk temanku!" Geram Edwald menendang dada Licnus kuat lalu mencekik leher pria itu dengan ayunan tangan kekarnya yang cepat membenturkan kepala Licnus ke aspal.
Ia tak peduli dengan darah di hidungnya karna niat membunuh Edwald sudah berapi-api mengepul ke ubun-ubun.
"Ku akui kau memang kuat! Cuihh!" Desis Licnus masih bisa berdiri padahal sudah tertelak habis-habisan oleh Edwald yang juga tak menghentikannya.
Licnus kembali memburu wajah Edwald yang juga sudah sering beradu nyawa di luar sana. Ia memelintir tangan Licnus yang ingin meninjunya lalu memukul tengkuk pria itu keras sampai berbunyi retakan.
"B..bunuh dia!!" Teriak Licnus sebelum mencium aspal di belakangnya.
Para bawahan yang tadi diam menyaksikan pertikaian ganas ini, segera mengangkat senjata untuk menembak Edwald termasuk Licnus yang sudah membabi-buta.
"BERHENTIIII!!"
Teriakan keras dari arah samping sana. Edwald tersentak saat melihat Shireen yang baru turun dari mobil kakek Bolssom dan nenek Rue lalu berlari mendekati Edwald dengan wajah sembab dan perutnya yang sesak.
Semua orang yang tadi ingin menembak seketika tertahan saat Shireen sudah berdiri membelakangi Edwald seraya merentangkan tangannya.
"BERANI KALIAN MENEMBAK!! AKU AKAN PASTIKAN KALIAN JUGA AKAN MATI SEBAGAI PECUNDAANG!!" Bentak Shireen sekeras-kerasnya membuat Licnus yang sudah dalam keadaan luka-luka di aspal sana menyahut.
"Kau juga terlihat, nona Shireen! Suamimu penjahat besar tapi kau menyembunyikannya!!"
Sarkas Licnus tapi Shireen menatapnya dengan mata mengigil bahkan berkaca-kaca. Pandangan yang tegas, keras kepala dan tak bisa di bantah.
"Kau juga ikut dalam komplotan sampah ini!"
"KAU YANG SAMPAH!! KAU BAHKAN LEBIH BURUK DARI SAMPAAH!!!"
Emosi Shireen menggebu-gebu sampai kedua tangannya gemetar. Edwald tahu Shireen pasti benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya sekarang.
"Aku.. Aku ..."
Shireen melemah saat kedua tangannya yang tadi mengepal di genggam Edwald yang memeluk Shireen dari belakang. Air mata wanita itu semakin deras turun membuat kakek dan nenek Rue yang menyaksikan semua ini jadi ikut terluka.
"A..aku.."
"Tenanglah!" Bisik Edwald mengecup lama bahu Shireen yang langsung berbalik menatapnya. Wajah cantik Shireen semakin terluka melihat ada darah yang mengalir di hidung Edwald dan tulang pipi pria ini juga lebam.
Memang tak separah Licnus tapi ini belum pernah ia saksikan sebelumnya.
"K..kau.. kau benar-benar gila!!! Kau mengunciku di sana dan pergi ke tempat seperti ini!!! Berhadapan dengan mereka yang ingin membunuhmu!! Kau .. kauu .. .."
Shireen tak bisa melanjutkan kata-katanya hingga langsung lemas ke pelukan Edwald yang juga segera meraup tubuh lemahnya.
"K..kenapa? Hiks, kenapa kau sangat keras kepala??"
Isak Shireen memukul-mukul dada bidang Edwald yang membisu. Tak ada yang dapat ia katakan pada Shireen selain situasi yang sudah jelas ada di depan mata.
Seiring dengan tangisan Shireen, datanglah rombongan mobil-mobil dari aparat negara ini yang mengepung Edwald.
Shireen dengan tarikan sendatnya menatap cemas dan waspada ke seluruh arah. Banyak tentara yang keluar dari mobil-mobil itu membuat penjagaan bagi seseorang penting yang keluar dari Jip hitam yang ada lambang negara ini.
__ADS_1
"T..tidak. Kau.. Kau cepat pergi!" Desak Shireen tapi Edwald masih diam. Tak memungkinkan bisa pergi dalam situasi seperti ini dan ia hanya bisa menyerahkan diri.
Vote and like sayang..