
Edwald sudah sampai ke dalam kamar Shireen. Wanita itu ada di dalam kamar mandi terbukti dengan suara deraian air yang berjatuhan di atas lantai terdengar dari luar.
Sembari menunggu Shireen keluar, Edwald memanfaatkan waktu luangnya untuk menelisik kamar wanita itu.
Pandangannya menyapu ranjang berukuran sedang berwarna merah muda dengan badcover berwarna gelap tapi ada dua boneka kucing dan beruang besar yang tertata rapi di kepala ranjang.
"Kamarnya seperti masih anak gadis," Gumam Edwald gemas melihat kamar ini. Ada pajangan foto-foto masa kecil Shireen yang tampak sangat ceria naik di bahu kakek Bolssom yang seperti sangat menyayangi Shireen.
Pantas respon pria itu sampai begitu keras menghadapinya karna Shireen memang cucu kesayangannya.
Puas melihat foto-foto mungil dan ceria Shireen, Edwald beralih ke lemari besar yang ada di sudut dekat sofa.
Kamar ini memang tak begitu luas. Hanya ada balkon tanpa kamar ganti atau ruang bersantai.
"Bahkan, pakaian masa kecilnya masih tertata rapi," Gumam Edwald melihat ada deretan pakaian anak-anak di pintu lemari yang pertama dan pakaian Shireen dewasa di pintu sebelahnya.
Namun, fokus Edwald tertarik oleh daleman mungil berwarna pink di lemari sebelah kananya dan daleman milik Shireen sekarang.
"Dia tumbuh sangat baik," Geli Edwald membandingkan besar benda itu dengan pikiran mesum yang memenuhi kepalanya.
Begitu sibuknya ia membandingkan daleman Shireen sampai tak sadar jika wanita itu sudah keluar dari kamar mandi menggunakan handuk putih senada dengan warna kulitnya.
"Edwald?"
Batin Shireen tersentak melihat Edwald berdiri di depan lemari memunggunginya. Shireen mulai panik karna handuk yang ia pakai cukup minim tapi..
Mata Shireen seketika berapi-api saat melihat Edwald memeggang dua daleman berbeda ukuran dengan raut senyam-senyum sendiri.
"Messuuum!!"
Pekik Shireen memukul punggung Edwald yang terkejut saat Shireen merampas dua benda bersejarah itu lalu di masukan kedalam lemari dan menutupnya keras.
"Apa yang kau lakukan, haa??" Geram Shireen berdiri di depan lemari menatap tajam Edwald yang justru mematung melihat penampilan Shireen yang sangat-sangat seksi.
Handuk yang menyimpul di pertengahan dadanya tak bisa menutupi dua bongkahan kenyal padat nan menyembul keluar belum lagi, panjang benda ini hanya sejengkal di atas paha Shireen hingga membungkuk sedikit saja maka bagian belakangnya akan tampak sempurna.
Sadar akan pandangan intens Edwald yang menelan ludah berat menatap dadanya, Shireen segera berbalik memunggungi Edwald.
"K..kau.. keluaar!!" Gugup Shireen dengan jantung berdegup kencang. Pipinya memanas dengan rona merah yang muncul antara malu dan sangat gugup.
Keduanya diam seperti terkurung dalam perasaanya sendiri. Edwald yang terbuai dengan panorama indah didepannya tanpa sadar mengulur tangannya membelai paha mulus jenjang Shireen yang seketika tersengat kuat.
A..apa yang akan dia lakukan?
Batin Shireen merapatkan kedua pahanya saat tangan Edwald sudah menelusup lebih dalam. Shireen mengigit bibir bawahnya saat belaian Edwald terlalu memabukkan sampai ia menekuk kedua kakinya segera menahan tangan Edwald yang ingin bergerak ke depan.
"K..kau.."
Ia ingin menurunkan tangan Edwald tapi pria itu sudah langsung memeluknya dari belakang dengan belitan sangat erat tapi tak membuat ia sesak.
"Kau sangat seksi," Bisik Edwald sensual di telinga Shireen yang meremas pinggir handuknya.
Hembusan nafas hangat Edwald menerpa leher jenjang Shireen apalagi rambutnya di cempol tinggi hingga Edwald mudah meniup lehernya.
Hasrat yang menjalar di tubuh Edwald bisa di rasakan oleh Shireen yang juga mulai terpancing. Edwald sengaja mengecup lembut pundak beralih ke leher bahkan menyesap nakal disana menyisakan bekas kemerahan.
"Kau tak merindukanku?" Tanya Edwald menempelkan bibirnya ke daun telinga Shireen bahkan sengaja mengigit kecil disana hingga Shireen menggeliat halus.
Sentuhan yang di berikan Edwald sangatlah memabukkan. Pria ini memang pandai mengaktifkan seluruh bagian sensitif sang istri bahkan nafas keduanya mulai tak stabil.
"E..Ed!" Lirih Shireen ingin menolak tapi Edwald menarik dagunya menoleh ke arahnya hingga bibir merah segar itu langsung ia sergab syahdu.
Ciuman yang sangat lembut memuja tapi ada percikan api gairah yang menjalar diantara keduanya.
Bibirmu sangat lembut dan manis. Semua rasa ini tak pernah berubah bahkan selalu memabukkan.
Kagum Edwald yang sangat menyukai apa saja yang Shireen miliki. Bibir manis, kulit lembut dan aroma harum mawar yang romantis. Ini adalah sosok yang melambangkan ke feminiman wanita.
__ADS_1
Berbeda dengan Edwald yang menikmati momen ini, Shireen justru takut-takut jika kejadian waktu itu akan terulang lagi. Edwald akan meninggalkannya bahkan dalam keadaan yang paling terburuk.
Saat tangan Edwald naik ingin melepas simpulan handuk Shireen tanpa melepas tautannya, tiba-tiba saja Shireen menahan tangan Edwald dan menarik diri secara paksa.
"Shi!" Serak Edwald menatap hampa Shireen yang tampak bingung.
Bibir keduanya basah dan diselimuti kabut gairah. Shireen tahu dirinya juga menginginkan hal itu tapi, ia tak berani untuk melangkah lebih jauh.
"Se..sebaiknya kita tak melakukan ini," Gumam Shireen menunduk meremas simpulan handuknya.
Edwald diam dengan mata menatap penuh damba tapi juga mengerti akan batasan yang Shireen buat di tengah-tengah mereka.
"Kau takut aku pergi?"
Suara berat Edwald bertanya. Shireen masih diam tetap menunduk karna tak bisa berbuat apapun.
"Aku tahu kau ragu. Tapi, kali ini aku serius!"
"Kau.."
Shireen menatapnya penuh tanya dan kacau seperti masih menebak-nebak wajah apa lagi yang akan Edwald mainkan.
Tahu akan isi pikiran Shireen, tangan Edwald terulur menarik pinggang wanita itu untuk merapat ke tubuhnya.
Shireen mengadah hingga tatapan keduanya saling mengunci dalam perasaan yang tak pernah ada batasnya.
"Aku serius dengan pernikahan kita. Kau tak perlu percaya padaku tapi, izinkan aku untuk memperbaiki hal yang pernah ku hancurkan. Apa bisa?"
Shireen diam seperti tak percaya jika Edwald akan mengatakan ini. Masih ada rasa ragu di mata Shireen hingga Edwald tersenyum hangat mendaratkan kecupan lama di kening Shireen.
"Ini wajahku saat bersamamu. Tak ada maksud apapun, aku hanya ingin memulai hal baru denganmu dan anak kita!"
"A..anak??"
Syok Shireen tersentak saat mendengar Edwald mengatakan hal itu.
"Yah, aku tahu kau hamil!"
Edwald mengangguk. Ia mengusap perut Shireen yang sudah berisi hingga wajah Edwald begitu berbinar walau tak berlebihan.
"Dia bahkan berkembang sangat baik di sini!"
"Bagaimana bisa? Jadi selama ini kau tahu aku hamil. Tapi.. tapi kenapa kau masih.."
Shireen yang cemas jika nanti bayinya akan dalam bahaya. Melihat itu Edwald menangkup kedua pipi Shireen dalam raupan kedua tangannya.
"Aku tahu sejak awal kau pendarahan. Aku sengaja pura-pura tak tahu karna aku yakin kau akan ketakutan dan kondisimu akan semakin parah. Hanya itu, sayang! Aku tak ada maksud lain, sungguh."
Ucapan Edwald sukses membuat Shireen membisu. Kata-kata ini begitu lembut dan sangat manis. Seorang Edwald bisa bersikap seperti ini, apa mereka percaya?!
"Kita jalani saja dulu. Suka atau tidak, kau juga tak akan bisa pergi," Bisik Edwald kembali menunjukan seringaian liciknya membuat Shireen yang tadi mengagumi rona romantis itu seketika berubah kesal.
"Kauu.. KAUU MENYEBALKAAN!!" Ketus Shireen ingin berbalik pergi tapi Edwald sudah mengangkat tubuhnya ringan dan di lempar ke atas ranjang.
Shireen membulatkan matanya tak percaya saat Edwald kembali berubah seperti pria yang paling menyebalkan sedunia.
"Kauu.. kau memang manis jika ada maunya!!" Ketus Shireen tapi Edwald masa bodoh.
Ia melepas jaketnya dan ia lempar ke sembarang arah. Pandangan Edwald yang begitu mematikan mengurung Shireen dalam keperkasaan dan sikap arogannya.
"Kau ingat hukuman mu kemaren? Nona!"
"Hukuman apa? Jangan membual," Ketus Shireen membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut menyisakan wajah cantiknya yang menggemaskan seperti kepompong.
Edwald yang tak bisa bertahan terlalu lama, segera menanggalkan seluruh helai pakaiannya hingga Shireen segera menutup mata saat pusaka perkasa itu sudah sangat tegak menjulang sangat jantan.
"P..pakai celanamu!! P..pakaai kembali!!" Gemetar Shireen merapat ke kepala ranjang menutup mata ngeri.
__ADS_1
Edwald melihat itu dibuat semakin tak tahan. Tubuh kekarnya yang gagah dan bagian pusaka berurat penuh kejantanan itu sama sekali tak malu menunjukan pesonanya.
"Kau ingin bersembunyi dimana, hm?" Licik Edwald membuat Shireen ingin segera lari dari monster ini. Ia semakin meringkuk di dalam selimut yang tak lagi menampakan sejengkal kulitnya.
"Tidak, dia.. Haiss.. Aku sampai berkeringat dingin," Gumam Shireen ngeri membayangkannya. Ia berangsur ingin turun dari ranjang tapi, Shireen segera terpekik saat kedua kakinya di tarik Edwald ke bawah.
"Aku.. Aku akan melaporkanmu pada polisi!! Jangan.. Jangan dekat-dekaat!!" Ancam Shireen saat kedua kakinya sudah di tahan Edwald yang seperti memperkosa anak gadis padahal ia hanya ingin berkuda dengan istrinya sendiri.
Sekuat apapun Shireen berusaha lepas, tetap saja Edwald yang akan menang. Selimut dan handuknya sudah di tarik lepas dari tubuh Shireen yang seketika tak lagi berpenghalang.
"Edwald! Berani kau macam-macam, aku.. aku akan berteriak!" Ucap Shireen menutupi dada dan bagian bawahnya menatap waspada Edwald yang sungguh gemas melihat tingkah wanita ini.
"Kau jangan menguji kesabaranku, Shi!"
"J..jangan dekat-dekat!" Panik Shireen saat Edwald sudah naik ke atas ranjang. Shireen yang ketakutan segera ingin pergi tapi Edwald langsung mendorongnya hingga terlentang di atas ranjang.
Wajah Shireen pucat menatap wajah tampan merah padam Edwald yang sudah benar-benar di kuasai hasrat dan rasa yang tak terjabarkan sampai tak ada cela untuk menghindar lagi.
"E..Ed! K..kemaren aku hanya..hanya bercanda. Aku.. b..bercanda, serius!"
"Bercanda, hm?" Tanya Edwald sudah memposisikan senjatanya di bawah sana. Shireen memelas agar tak menyiksanya dulu.
"T..tunda dulu l..lima menit, ya? Aku.. aku mau ke kamar mandi," Tawar Shireen mencoba menghindar.
"Lima menit?"
"I..iya, lima menit! Ke.. ke kamar mandi!" Jawab Shireen tapi tak sadar jika posisinya sudah sangat pas.
"Li..lima menit?" Lirih Edwald mengigit bibir bawahnya saat mencoba bersahabat di bawah sana. Shireen mengangguk tapi kedua tangan mereka sudah saling menggenggam dengan mata bertaut dalam.
"L..lima.. m..menit.. Eemm E..Ed!" Desis Shireen di ujung kalimatnya mencengkram tangan Edwald yang perlahan-lahan menekan sampai sensasi jepitan ketat dan kesat ini membuat ia hilang akal.
"Ss..Shii.." lemah Edwald tak tahan dengan semua ini. Pelan tapi pasti ia mendorong dengan lembut takut jika terlalu kasar akan jadi masalah.
"Shitt!!" Umpat Edwald merasa hilang akal saat sudah berhasil memasuki liang ketat ini sempurna. Shireen melenguh kecil merasa ada benda keras yang memasukinya secara penuh dengan sensasi yang tak terjabarkan.
Untuk sejenak keduanya diam dengan deru nafas memburu tapi menikmati semuanya. Edwald belum mau bergerak karna ingin membuat Shireen rileks dan tak terlalu terkejut apalagi mereka sudah lama tak melakukannya.
"Jika sakit beritahu aku, hm?" Bisik Edwald mengecup bahu Shireen yang terengah-engah memejamkan matanya.
Dirasa Shireen mulai tenang barulah Edwald bergerak pelan menyiksa dirinya sendiri. Ia tak berhenti memandang wajah panas erotis Shireen yang terus mend**sah tak karuan di bawah kungkungannya.
"E..Ed!"
"Kau suka?" Tanya Edwald tak menghentikan gerakannya tapi pandangan penuh cinta itu sangat membuat Shireen malu.
"J..jangan .. menatapku seperti itu!"
Edwald hanya tersenyum kecil. Ia memejamkan matanya seperti menahan agar tak lepas kendali. Tapi sungguh, ia sangat tersiksa bergerak lamban seperti ini dan ingin lebih karna milik Shireen sangat memabukkan.
Melihat batin Edwald yang masih memikirkan dirinya dalam kondisi seperti ini timbul rasa iba Shireen. Apa aku terlalu na'if membiarkan dia menahannya?! Bagaimana nanti Edwald melampiaskan hasratnya pada wanita lain?!
Cemas Shireen segera menarik tubuh Edwald untuk berpindah posisi. Edwald tersentak saat Shireen berinisiatif memimpin permainan.
"Kau.."
"Akan-ku hilangkan jejak lintah itu di tubuhmu," Desis Shireen membuat Edwald terpaku. Yang ia lihat sekarang bukan Shireen yang dulu pasrah dan sangat pasif tapi, yang sekarang memimpin dan mengobrak-abrik jiwanya adalah Shireen yang tak ingin kalah dan tak mau miliknya di ambil orang lain.
Edwald di buat meledak terus menerus oleh kelihaian Shireen yang ntah mengapa sangat agresif. Malu-malu dan penolakan manjanya hanya berlaku di awal dan sekarang Edwald seperti media percobaan Shireen yang juga bisa menyaingi keperkasaannya di atas ranjang.
"S..Sayaang! Kau.. Kau memang luar biasa!!"
Erangan Edwald memuja-muja sang istri yang tengah bergerak liar di atasnya. Edwald sampai lupa dengan wanita lain yang dulu pernah ia jadikan pemuas.
Aku tak ingin menyesali apapun tapi, jika bisa meminta. Aku ingin melakukan hanya denganmu saja, Sayang!
....
__ADS_1
Vote and like sayangku..
Hutang author lunas ya 🤣