
Di balik jeruji rapat nan dingin itu ada seorang pria muda yang sudah babak-belur di pukuli oleh petugas penggali informasi dari inteligen kenegaraan Rusia yang telah bekerja sama dengan aparat hukum Italia untuk memburu kelompok-kelompok kriminal kelas kakab yang sudah berangsur mendekam di penjara.
Seperti Johannes sekarang. Ia hanya bisa pasrah duduk di atas kursi panas dengan wajah lebam dan kedua tangan di borgol menghadap dua pria berbadan kekar yang berdiri tegap di hadapannya.
"Katakan! Siapa lagi yang ikut bersamamu dalam organisasi ini?" Tanya Licnus yang merupakan kapten inteligen kenegaraan Rusia.
Ia lebih dewasa dari Johannes yang hanya diam tak ingin bicara soal orang-orang yang ada di belakangnya. Kebisuan Johannes tentu membuat Licnus dan satu rekannya naik pitam tapi mereka masih bermain aman.
"Kau tak ingin bicara?"
"Kalian sudah menangkap orang-orangku. Lalu, apa yang kalian mau?" Geram Johannes menatap tajam Licnus yang memberi seringaian puas mengangkat kumis tipis di bawah hidungnya.
"Kau pikir kami tak tahu selama ini META bertransaksi dengan siapa saja?"
"Lalu kenapa kau bertanya?? Tangkap saja mereka!!" Bentak Johannes arogan hingga pipinya kembali di pukul dengan besi yang di peggang rekan Licnus.
Johannes meludahkan darah di mulutnya tepat menciprat sepatu Licnus yang seketika mengepal.
"Kau memang keras kepala. Tapi, sayangnya semua anggotamu sudah di ringkus habis!"
Sontak Johannes terkejut. Ia tadi berharap jika beberapa anggota yang belum tertangkap akan menyusun strategi untuk menyelamatkannya. Tapi, ternyata para sialan itu sangat dungu.
"Terkejut? Kami hanya minta keteranganmu bukan, memohon."
"SIALAAN!" Maki Johaness murka karna tak punya harapan lagi untuk keluar dari sini. Melihat sikap arogan Johaness tentu Licnus punya rencana yang cukup licik.
"Kau ingin segera bebas?"
"Kau jangan mempermainkanku," Geram Johaness tapi Licnus tersenyum kecut melipat tangan di depan dada.
"Di dalam hukum ada banyak keringanan bagi orang-orang yang mau bekerjasama dengan kami. Termasuk keringanan untukmu."
Johaness diam sejenak. Ia mengamati jeruji besi dengan satu lampu di atas kepalanya ini dengan intens.
Jika aku tak keluar dari sini. Maka, seumur hidup aku akan terus mendekam dan membusuk tiada ampun.
Yah, ia berpikir untuk mengandalkan segala cara untuk lepas dari sini.
"Penawaranku terbatas. Iya atau tidak kau.."
"Kau ingin informasi apa?" Tanya Johaness menyela.
Licnus tersenyum puas melirik rekannya yang mengangguk mengerti akan isyarat atasannya.
"Kau pasti kenal GYUF, bukan?"
"Yah, sangat kenal," Jawab Johaness sudah tahu apa inti dari pembicaraan ini. Di dalam batinnya Johaness tertawa jahat dan sangat puas jika melihat GYUF juga bernasib sama seperti META.
"GYUF terlibat jual beli organ ilegal selama belasan tahun bahkan, mereka juga menekuni bisnis senjata rakitan ilegal, penyebaran obat-obatan terlarang dan penipuan kelas atas. Aku ingin kau mengatakan, siapa sebenarnya orang-orang di balik organisasi besar ini?"
__ADS_1
"Aku akan mengatakannya jika kalian memastikan aku bebas," Tawar Johaness membuat kesepakatan.
Licnus mengangguk. Buronan yang paling sulit di tangkap itu GYUF. Hanya beberapa anggota yang berhasil di sergap tapi, mereka memilih terus bungkam bahkan nyaris mati di dalam ruang interogasi. Kesetiaannya patut diacungi jempol.
"Katakan saja! Masalah itu akan di urus nanti."
"Baik. Dengarkan aku," Tegas Johaness bersemangat tanpa beban. Dari sini responnya Licnus sudah tahu jika META dan GYUF memang bukan sahabat baik.
"GYUF di pimpin banyak anggota. Organisasi ini di atas namakan Suma yang merupakan pimpinan tertinggi."
"Suma?" Tanya Licnus tak asing dengan nama itu.
"Yah, Suma memiliki dua orang putra. Putra pertama bernama Wesson dan kedua Glimer. Keduanya juga petinggi GYUF yang aktif melakukan bisnis," Jelas Johanees membuat Licnus langsung terpancing.
"Mereka pasti sangat licik hingga berhasil lolos selama belasan tahun."
Mendengar gumaman Licnus. Johaness langsung terbahak keras membuat dua pria di depannya membisu geram.
"Kauu.."
"Kau jangan begitu bodoh. GYUF memang kuat tapi jika kau bunuh otak dan nyawanya, mereka akan hancur dalam sekejab," Desis Johaness yang sudah lama tahu cara melumpuhkan GYUF tapi tak pernah berhasil.
"Maksudmu?"
"Steen! Kau pasti kenal, bukan?" Tanya Johaness mengangkat satu alisnya.
"Steen! Dia memang seperti belut," Geram Licnus mengepal. Selama ini itu buronan terlama yang pernah ada karna setitik jejak identitasnya sama sekali tak pernah bocor bahkan, tak ada yang tahu wajah pria di balik masker itu.
"Kau tak akan mudah menangkapnya. Tak seorang-pun tahu, bagaimana wajah aslinya?!" Decah Johaness juga penasaran akan hal itu.
Saat di kapal dulu ia pernah melihat Steen tapi karna bayang-bayang malam dan guncangan kapal yang besar, ia tak begitu jelas melihat wajahnya apalagi saat itu Johaness buru-buru pergi.
"Hanya ini yang kau tahu?" Tanya Licnus tampak belum puas. Johaness tentu hanya tersenyum kecut karna pantas badan intelejen manapun tak bisa menangkap Steen karna mereka begitu lamban dan dungu.
"Tentu tidak. Aku sudah lama mengumpulkan semua informasi tentang pria itu," Jawab Johaness santai.
"Katakan!"
"Tapi, ini tak gratis," Imbuhnya licik. Licnus langsung diam tapi ia sadar jika Johaness memanfaatkan keadaan untuk mencari keuntungan. Pria ini memang berbahaya.
"Sesuai kesepakatan pertama!"
"Hm, baik! Steen yang kau cari itu tak ada lagi di markasnya. Dia pergi ke sebuah desa kecil untuk menemui seorang wanita. Saat itu aku hampir tahu siapa dia tapi kalian sangat menjijikan," Jelas Johaness menyelipkan kalimat ketus di akhir katanya karna memang saat mengintai Edwald-lah ia tertangkap dan tak sempat mencari informasi lebih.
..........
Di desa Casthillo.
Edwald tampak berdiri di balkon kamar Shireen yang sudah tidur sedari tadi. Malam yang pekat menyisakan dingin teramat kental hingga memaksanya untuk memakai mantel hangat.
__ADS_1
Pandangan di lempar jauh ke sela langit gelap miskin bintang di atas sana. Wajah tampan datar tampak berpikir melalang buana tak tentu arah.
Sampai kapan harus seperti ini?
Itulah yang terjabar di kepalanya. Hari bertambah hari, bulan berganti bulan keadaan yang semula ia anggap biasa sudah mulai menganggu pikirannya.
"Kenapa belum tidur?"
Suara serak khas bangun tidur itu mengalun di belakang Edwald diiringi belitan tangan lentik Shireen yang memeluknya dari belakang.
Edwald diam. Wajahnya yang tadi suram berubah tenang mengusap punggung tangan mulus sang istri.
"Kau bangun?"
"Hm, siapa suruh kau diam-diam meninggalkanku?!" Ketus Shireen membenamkan wajahnya ke punggung kekar Edwald yang perlahan berbalik.
Melihat Shireen yang hanya menggunakan baju tidur tipis dengan perut sudah begah ini, ia langsung menarik Shireen masuk ke dalam pelukan hangatnya di dalam mantel ini.
"Lanjutkan tidurmu. Ini masih larut malam."
"Apa ada masalah?" Tanya Shireen mengadah menatap wajah tampan Edwald yang memang anehnya tak pernah lagi membahas GYUF atau apapun di depannya.
"Tidak. Aku hanya memikirkan soal rumah kita nanti."
"Kita akan punya rumah sendiri?" Tanya Shireen berbinar.
"Hm. Setelah itu aku bekerja dan kau cukup melahirkan banyak anak untukku."
"Kau pikir mengandung itu mudah, haa??" Kesal Shireen mengigit dada bidang Edwald yang hanya bisa tersenyum tipis mengusap kepala Shireen.
Tak pernah terbayang olehnya akan mendapatkan momen seperti ini. Hidupnya yang dulu hanya seputar misi, GYUF dan uang sudah terasa asing semenjak kehadiran Shireen.
"Tapi, itu salah satu keinginan terbesarku."
"Benarkah?" Tanya Edwald dan diangguki Shireen.
"Yah. Aku ingin kita hidup tenang, aman dan bahagia bersama anak-anak nanti. Tak ada kepalsuan, hidup di dunia yang memang selayaknya orang biasa. Aku tak ingin merasa terancam di manapun kita datang."
Ucapan Shireen terdengar sederhana. Tapi, bagi Edwald itu sebuah kemustahilan. Keinginan Shireen seperti sebuah mimpi yang ntah sampai kapan bisa terwujud.
"Hiduplah denganku. Jangan jadi Steen lagi, apa bisa?" Bujuk Shireen tapi, bukan Edwald tam mau. Keadaan sudah terlalu pekat untuk kembali ke jalan awal.
"Akan-ku lakukan yang terbaik," Jawab Edwald mengecup lama kening Shireen yang merasakan sesuatu yang tak enak.
Ia memeluk Edwald erat seperti dadanya terasa sesak dan tak rela. Sungguh, perasaan ini begitu dejavu bahkan sulit membuatnya tenang.
.....
Vote and like sayang
__ADS_1