Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Foto misterius


__ADS_3

Shireen tengah memindahkan pakaian di sebuah lemari besar di kamar Suma yang tergolong lebih megah dari kamar Wesson yang ia tinggali. Pria paruh baya itu tengah berdiri di samping ranjang menatap lekat Shireen bak daging empuk siap santap.


Shireen juga tahu niat buruk Suma padanya. Ia masih tenang memilah pakaian mana saja yang akan di pindahkan tapi rata-rata semua ini masih bagus. Ini hanya taktik mesum Suma.


"Tuan!"


"Yah, kau melakukannya dengan baik," Decah Suma justru menjadikan Shireen tontonan.


Dari kaca di sampingnya Shireen bisa melihat pandangan lapar Suma yang pasti akan menerkamnya cepat atau lambat.


"Semua pakaianmu masih bagus dan baru. Mohon tuan tunjukan pakaian apa saja yang akan di pindahkan!" Pinta Shireen sopan menyingkir dari depan lemari.


Suma segera mendekat melihat isi tempat penyimpanan ini. Ia tersenyum kala tak sabar untuk memulai aksinya.


"Aku bingung memilih pakaian mana yang harus di pindahkan. Kemarilah!" Meraih tangan Shireen yang seketika menghindar halus.


Ia tersenyum hangat dan tenang walau sekarang Shireen sangat ingin menendang perut Suma yang ingin melecehkannya.


"Ada apa? Kau tak perlu takut. Aku tak akan melakukan hal yang tak pantas."


"Tuan! Aku bingung," Gumam Shireen pura-pura memandang polos setiap pakaian di lemari ini.


"Kenapa? Kau ingin apa?"


"Kenapa tuan tak memiliki seorang istri? Maaf, aku lancang tapi aku takut ada di dalam sini," Gugup Shireen menunduk dan waspada.


Suma menghela nafas ringan. Ia tersenyum puas karna dari cara bicara dan memandang, Shireen adalah wanita yang lugu.


"Kau jangan khawatir. Istriku sudah lama tiada."


"Tiada?" Syok Shireen dan diangguki Suma. Ia seperti berat untuk mengungkit hal ini tapi Shireen yang sudah dilatih oleh keadaan itu tahu jika ini wajah pura-pura Suma.


"Jika kau memang mencintai istrimu, lalu kenapa kau sampai sebejat ini?!" Batin Shireen tak percaya itu.


"Dulu sebelum dia meninggal karna sakit. Dia pernah berselingkuh dengan pria lain," Lirih Suma tapi masih bisa di dengar oleh Shireen.


"Selingkuh?"


"Yah. Aku sudah beberapa kali memaafkannya tapi dia tak pernah berubah. Alhasil aku memutuskan untuk menceraikannya tapi sayang sekali tuhan lebih mencintainya," Jelas Suma memandang teduh Shireen yang mencerna setiap cerita Suma.


Apa dia seperti ini karna istrinya sering selingkuh?! Seharusnya dia jijik padaku karna wanita tapi justru sebaliknya.


"Ada apa? Kau tak takut lagi-kan?"


"Tuan! Aku turut prihatin mendengarnya," Iba Shireen tapi Suma tersenyum cerah.


"Begitulah. Masa lalu biarlah berlalu dan sekarang ada kau!"


"Dia benar-benar pemain lama," Batin Shireen merutuk.


Saat Suma ingin memeggang lengannya, Shireen segera bergerak cepat ke arah lukisan zaman roma yang terpajang di dinding kamar ini.


"Lukisan ini sangat indah dan antik. Kau pandai memilih, tuan!"


"Oh yah? Kau suka?"


Shireen mengangguk. Senyumnya begitu memabukkan bagi Suma yang kembali mendekat. Ia terlihat sangat tergesa-gesa dan tak sabar untuk menerkam Shireen.


"Jika kau suka aku bisa memberikannya padamu."


"Benarkah?" Tanya Shireen berbinar.

__ADS_1


"Yah. Apapun, tapi kau harus menenangkan diriku pagi ini," Jawab Suma menunjukan ketertarikan.


"Tuan! Aku tengah bersedih," Gumam Shireen murung. Suma langsung sigap mengambil langkah yang pasti.


"Kenapa? Katakan!"


"Aku di bawa kesini dengan paksa. Keluargaku pasti sangat mencemaskan aku," Lirih Shireen membuat suaranya begitu rendah dan pilu.


"Kau ingin apa? Aku akan mengabulkannya."


"Aku ingin punya ponsel untuk menghubungi mereka. Aku takut jika nanti kedua orang tuaku jatuh sakit karna memikirkanku," Jawab Shireen sendu.


Suma diam. Jika memberi Shireen ponsel maka akan melanggar aturan. Apalagi bisa saja nanti Shireen akan membahayakan GYUF?!


Tahu akan makna pandangan Suma memantik ide cemerlang Shireen yang menyergap cepat.


"Jika tuan cemas aku akan berbuat macam-macam, kau bisa memenggal ku hari ini. Aku tak akan berani karna kau dan semua tuan muda sangatlah kejam," Jelas Shireen mengiba.


Suma akhirnya termakan bujuk rayu mematikan Shireen yang sangat pandai meniru. Pantas Edwald menjulukinya KUCING PRNIRU HANDAL.


"Aku yakin kau tak akan berbuat sebodoh itu!"


"Iya, tuan! Apalagi aku pelayan pribadi tuan Wesson yang pasti akan selalu memantau ku," Sahut Shireen hingga Suma sudah memutuskan.


"Kau tenang saja. Akan ku suruh pelayan untuk mencarikan benda itu."


"Benarkah?" Sorak Shireen sangat menunjukan keceriaannya.


"Yah, sekarang kau harus menebus kelonggaran yang ku berikan."


Suma berjalan mendekat. Shireen semakin terdesak, ia akan menggunakan satu teknik yang ia pelajari dari buku kemaren. Semoga saja berhasil.


"Tuan! Apa kau lelah?"


"Aku tak berani, tuan! Tapi, aku bisa memijat mu!"


Mendengar kata PIJAT itu otak Suma tak lagi tenang. Ia bak kesurupan naik ke atas ranjang membuka atasannya.


Shireen sangat jijik tapi ia tak bisa menunjukan ketidaknyamanan pada Suma sekarang.


"Silahkan. Aku ingin merasakan pijatan tangan lembut mu!"


"Nikmati, tuan!" Jawab Shireen duduk di samping ranjang.


Ia memindai tubuh Suma yang memang masih bugar dan tegap. Tapi, keriput di tangan dan lehernya tak bisa di sembunyikan.


"Ayo mulai!"


"Apa tuan bisa tengkurap. Aku akan segera memulainya," Pinta Shireen sopan dan Suma tak membantah.


Ia melakukan apapun yang Shireen minta asal bisa di manjakan oleh tubuh sang dewi ini. Melihat hal itu senyum tipis Shireen mekar.


Ia sudah menentukan titik mana yang akan ia totok lebih dulu.


"Cepat! Kau harus memuaskan ku!"


"Pejamkan matamu, tuan!" Pinta Shireen.


Suma tetap melakukannya. Awalnya Shireen memijat di kaki tak berniat untuk menyentuh area lain. Tangannya pun di lapisi selimut tanpa sepengetahuan Suma yang tengah hanyut.


"Pijatan mu sangat lembut tapi tenang!"

__ADS_1


"Aku punya cara lain, tuan!"


"Lakukan! Kau harus memanjakan ku," Gumam Suma menikmati itu.


Tak ingin menunggu lagi, Shireen segera menotok bagian tengkuk dan leher Suma yang langsung tak sadarkan diri.


"Tuan!" Panggil Shireen memastikan itu. Ada rasa gugup di hatinya tapi ia yakin metode yang ada di buku itu berhasil.


"Tuan! Kau mendengarku?"


Suma tetap tak bergerak. Alhasil Shireen lega melihat mata Suma sudah tak bergetar itu pertanda ia benar-benar larut.


"Aku bisa memanfaatkan ini untuk mencari bukti kuat," Batin Shireen segera bangkit.


Ia mengobrak-abrik lemari Suma tapi masih meletakkannya di posisi semula. Sejauh ini Shireen hanya menemukan uang dan senjata yang ada dimana-mana.


Kamar ini begitu mengerikan jika di telisik lebih jauh membuat Shireen sedikit merinding.


"Dimana dia menyimpan bukti transaksi ilegal itu?!" Gumam Shireen heran. Ia membuka laci dan meja yang ada di kamar ini tapi masih belum menemukan apapun.


Saat Shireen sudah mulai lelah tiba-tiba saja ia tak sengaja menjatuhkan beberapa buku di atas meja hingga Shireen terkejut takut Suma bangun.


"Astaga! Kau sangat ceroboh," Gumam Shireen berjongkok mengambil buku-buku ini.


Namun, tak di sangka Shireen menjatuhkan satu lembar foto yang tampak sudah lama.


"Foto?" Gumam Shireen melihatnya.


Disini ada foto sebuah aliansi atau organisasi. Wajahnya kabur dan sudah lawas tak bisa Shireen kenali.


"Aku harus menyelidiki ini," Gumam Shireen mengambil benda itu lalu menyusun kembali buku-buku yang tadi jatuh.


Ditengah pencariannya Shireen melihat ada brangkas di dekat laci. Letaknya paling sudut dan jika dilihat sekilas maka tak akan tahu jika itu adalah brangkas.


"Aku tak tahu sandinya," Gumam Shireen berpikir keras. Ia menatap lekat tombol-tombol di benda ini sampai ia sakit kepala memikirkannya.


Tak ingin sia-sia disini akhirnya Shireen memutar otak cerdasnya. Ia mencoba mengingat-ingat bagaimana cara membobol tanpa ketahuan.


"Tuan!!"


Suara seorang wanita di depan sana terdengar. Shireen buru-buru merapikan laci ini dan segera membersihkan jejak pencariannya.


"Tuan! Ini aku!"


"Penghibur mu ternyata sudah banyak," Gumam Shireen sangat jijik. Ia pergi ke dekat pintu mengambil nafas dalam melanjutkan aksinya.


Shireen sengaja membuka tali atasan di dadanya lalu menyembunyikan foto itu di dalam bera. Shireen juga sedikit mengacak-ngacak rambutnya barulah membuka pintu dengan senyum ramah pada seseorang.


"Nona!" Gumam Shireen dengan tampilan kacau.


Wanita ini masih muda seumuran Shireen. Ia syok melihat penampilan wanita asing yang keluar dengan tampilan seperti ini.


"Kenapa kau bisa di kamar tuankuu??" Geramnya emosi.


"Aku.. Aku .." Shireen tak melanjutkan ucapannya.


Ia segera berlalu pergi dengan isakan halus membawa rona pelecehan itu.


"Siall!! Dia sangat cantik dan bisa saja dia akan menggantikan aku," Geram Nhatta lacur setia Suma.


.....

__ADS_1


Vote and like Sayang..


__ADS_2