Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Peran baru?


__ADS_3

Sudah satu minggu Shireen di rawat di rumah sakit. Sebenarnya Shireen sudah ingin keluar dari hari ketiga tapi tiba-tiba saja dokter Remy menahannya dan mengatakan jika kondisi tubuhnya harus benar-benar fit.


Ntah itu memang ketentuan atau sebuah perintah dari seseorang yang selalu memantau kondisinya yang melakukan hal itu.


"Nona! Kau yakin ingin keluar sekarang?" Tanya Dokter Remy mengantar Shireen ke pintu depan rumah sakit.


Shireen mengangguk. Ia sudah merasa baikan dan bisa melakukan aktifitas seperti biasanya. Hanya saja, Shireen masih merasakan mual ketiga di pagi hari dan akan sangat mengantuk di waktu-waktu tertentu.


"Terimakasih sudah membantuku. Aku tak tahu bagaimana lagi jika tak ada kau, dokter!"


"Tak apa. Itu kewajiban ku dan nona harus menjaga diri bersama janin yang ada di perutmu."


Shireen mengangguk. Ia berpelukan hangat dengan dokter Remy yang juga sangat nyaman dekat dengan Shireen. Wanita ini memang sangat pandai membuat orang-orang bahagia bersamanya.


"Baiklah. Aku pergi, lain kali aku akan datang berkunjung!"


"Kami menunggu kunjungan-mu, nona!"


Shireen hanya tersenyum. Ia mengeratkan mantel di tubuhnya berjalan keluar dari gerbang rumah sakit. Rencananya Shireen akan mencari taksi karna uang kemaren masih ada.


Seharusnya uang itu tak cukup untuk membayar biaya rumah sakit tapi dokter Remy mengatakan jika biaya pengobatannya sudah di tanggung pihak komisaris.


Shireen hanya menerima saja. Ia ingin berterimakasih pada komisaris yang sudah mau membantunya tapi waktu tak bisa di relakan lagi.


"Aku kembali kesana tapi, apa alasanku jika mereka bertanya?!" Gumam Shireen berjalan di pinggir jalur yang lumayan ramai.


Suasana tak begitu terik dan hanya mendung. Nuansa langit gelap dan angin berhembus dingin ini cukup membuat Shireen bersantai melihat-lihat dimana ada taksi yang lewat.


Tak beberapa jauh dari rumah sakit tadi tiba-tiba ada mobil mewah Lamborghini Veneno yang melesat dari arah belakang dan berhenti di samping Shireen yang hanya diam tetap melanjutkan langkahnya.


Suara klakson mobil mahal ini berbunyi seakan memberi kode agar Shireen berhenti tapi wanita itu tetap berjalan santai seperti tak mendengar.


"Kenapa dengan mobil itu?!" Gumam Shireen melirik dari ekor matanya pada mobil yang mengikutinya dengan pelan.


Semakin Shireen cepat berjalan maka mobil itu terus mengikutinya. Tak tahan dengan tingkat kekesalannya Shireen berhenti lalu mengetuk kaca jendela mobil ini.


"Kau kenapa? Apa yang kau mau, ha??" Tanya Shireen kesal bukan main.


Kaca ini perlahan turun dan yang paling membuat Shireen terkejut adalah siapa yang ada di dalam. Tubuhnya mematung dengan pandangan kosong seperti tak percaya ini.


"K..kau.."


"Masuk!" Tegas Edwald dengan pandangan lurus tanpa menatap Shireen yang memucat. Ia jelas khawatir jika sampai Edwald tahu apa yang terjadi padanya selama satu minggu ini.


Melihat Shireen yang diam, Cooper segera menyahut dari kursi kemudi.


"Masuklah! Tuan Wesson sudah mencarimu selama seminggu ini!"


"A.. W..Wesson?"


"Yah, dia mencemaskan mu tapi aku pikir kau kabur!" Jawab Cooper seraya menoleh kebelakang.

__ADS_1


Shireen diam. Ia mengambil nafas dalam agar bisa mengendalikan suasana dan Edwald tak akan mencurigainya.


"Masuklah! Jika anggota Suma menemukanmu maka dia akan berbuat kasar. Tapi, untung saja Steen berbaik hati tak sengaja melihatmu disini!" Ucap Cooper tapi mendapat tatapan dingin Edwald yang seperti acuh pada Shireen yang sudah membuka pintu mobil.


"Kenapa kau disini?" Tanya Shireen duduk berjarak dari Edwald seraya menutup pintu mobil.


"Seharusnya pertanyaan itu cocok untukmu!"


"Aku hanya tersesat," Jawab Shireen asal melihat keluar jendela mobil yang sudah melaju stabil.


Edwald diam. Keduanya sama-sama membisu seakan-akan tak ingin saling menyapa atau bertukar kabar. Yang lebih parah lagi, Shireen sampai merapat ke pintu mobil menyisakan banyak ruang diantara mereka.


Suasana mobil yang sunyi bak pemakaman dan di penuhi hawa dingin tak menyenangkan ini membuat Cooper menyetel lagu romantis.


"Perjalanan yang sangat membuatku jenuh," Rutuk Cooper memperbesar suara musik yang memang sangat berima lembut tapi membahas soal ranjang dan hubungan panas.


Shireen mulai tak nyaman terlihat dari exspresi wajahnya saat mendengar kalimat BERCINTA dari lagu itu.


"Matikan!" Titah Edwald tapi Cooper tak begitu dengar. Alhasil kaki jenjang kokoh itu langsung menghantam punggung kursi Cooper yang tersentak langsung sadar.


"Steen!!"


"Matikan MUSIK itu," Tekan Edwald menekan kalimatnya. Cooper berdecih segera mematikan musik itu sedangkan Edwald melirik ke arah Shireen yang sudah kembali tenang.


Setelah beberapa lama berkendara akhirnya mereka sampai di depan gerbang kediaman Suma. Penjaga yang dulu di pukul Edwald membuka gerbang masuk hingga Cooper leluasa berlayar.


"Kenapa sangat ramai?" Tanya Shireen pada dirinya sendiri tapi Edwald menyeletuk ringan.


"Menyambut tawanan yang kabur!"


Edwald hanya diam. Saat mobil ini sudah berhenti Cooper lebih dulu turun membuka pintu di samping Shireen sedangkan Edwald keluar sendiri.


"Shii!!"


Wesson yang tergesa-gesa keluar dari kediaman tampak sangat cemas mendekati Shireen yang berdiri di samping mobil.


"Sepertinya mereka tak tahu apa yang terjadi padaku," Batin Shireen mulai bersandiwara. Ia tak akan mundur dan berniat untuk segera menyelesaikan rencananya lalu pergi sejauh mungkin.


"Kau kemana saja? Aku sangat mencemaskan mu!"


Wesson memeluk Shireen yang mematung tapi ia melirik Edwald yang hanya berlalu mendekati Suma yang baru keluar dari kediaman bersama Glimer dan satu lagi wanita tak asing bagi Shireen.


"Steen! Kau sudah mengurusnya?" Tanya Suma menatap datar wajah tampan Edwald yang selalu slow respon.


"Hm, dia bekerja dengan baik!"


"Kau memang bisa di andalkan," Ucap Suma bangga menepuk bahu kokoh Edwald lalu memandang Shireen yang tak tahu apa yang tengah mereka bicarakan.


"Tak ku sangka dia bisa bekerja sama denganmu. Wanita yang sempurna," Imbuhnya membuat Mersi merutuk di batin.


Shireen yang masih bingung tak menunjukan ketidakpahamannya. Ia hanya menurut saat Wesson menariknya pelan menuju Suma.

__ADS_1


"Dad! Aku sudah mengatakannya, bukan?! Shi tak sama dengan wanita lain."


"Maksudmu?" Lirih Shireen menatap Wesson yang tersenyum menggandeng bahunya. Hal itu hanya di lirik Edwald tapi jelas ia tak bisa berbuat banyak menolong perasaanya.


"Steen mengatakan jika kau hilang hari itu karna menghubungi keluargamu. Tapi, kau akhirnya membantu dia untuk mencari informasi di keluarga William dengan lebih dulu menyamar jadi adikku," Jelas Wesson membuat Shireen terkejut beralih menatap Edwald yang tak menanggapinya.


"Kenapa kau terkejut?" Tanya Mersi menangkap raut aneh Shireen.


"Aku hanya tak menyangka jika tuan Steen akan menggunakan aku untuk melancarkan aksinya," Jawab Shireen mengikuti alur yang Edwald buat.


"Tentu saja. Dia pecinta orang-orang berbakat," Bisik Wesson membuat mereka semua mulai mengatur diri.


"Baiklah. Malam ini kalian akan pergi menjalankan misi ini, aku ingin semuanya sempurna sesuai rencananya, Steen!"


"Hm," Gumam Edwald membiarkan mereka pergi kembali ke dalam kediaman membahas soal apa saja yang akan di lakukan nanti.


Para anggota yang datang juga di arahkan Mersi untuk pergi ke lapangan belakang untuk mengatur konsep keamanan sedangkan Glimer bersama Wesson pamit untuk melanjutkan pekerjaan mereka tadi.


"Aku pergi dulu! Nanti aku akan menemanimu."


"Aku mengerti," Jawab Shireen membiarkan Wesson pergi hingga tinggallah mereka berdua, eetss.. tak berdua lagi karna Cooper tengah pura-pura mencari nyamuk di bawah mobil.


Tatapan Shireen beralih pada Edwald yang ingin pergi tapi lengannya langsung di cengkal Shireen yang melesatkan tatapan marah.


"Kenapa kau melakukan ini?"


Edwald menaikan satu alisnya sinis. Ia masih tenang dengan wajah sangat sulit di tebak oleh Shireen.


"Kau bicara denganku?"


"Aku serius. Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Apa yang kau rencanakan, ha??" Geram Shireen mencengkram lengan kekar Edwald penuh perasaan rumit.


Ia takut Edwald tahu tentang apa yang terjadi padanya tapi juga khawatir jika Edwald punya rencana buruk.


"Kenapa kau begitu marah? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Edwald sedikit bingung.


Shireen diam menyelidiki raut heran Edwald yang seperti tak tahu tentang masalahnya.


"Kau cukup cerdas kabur selama satu minggu. Jika aku tak melakukan itu, aku akan rugi tak melihat istriku lagi disini," Kelakar Edwald menyeringai licik hingga Shireen melepas kadar cengkramannya tadi.


"Cih, kau selalu mencari keuntungan dimanapun," Desis Shireen terlihat jijik. Edwald hanya menanggapi dengan senyum tipis yang angkuh.


"Itu keahlian ku, Sayang!"


"Aku akan membalas mu," Geram Shireen berbalik pergi tapi Edwald mengingatkannya sesuatu.


"Siapkan diri untuk peran barumu nanti!"


Shireen hanya diam. Ntah apalagi yang akan Edwald lakukan saat ia tak ada di sini, yang pastinya itu bukan hal baik.


"Aku tak akan jatuh dalam permainanmu untuk yang kedua kalinya," Batin Shireen mengepal dan terus berjalan pergi.

__ADS_1


....


Vote and like sayang


__ADS_2