Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Kenapa kau berbohong?


__ADS_3

Restoran Bullgart. Tempat ini kembali menjadi titik pertemuan Edwald bersama dua anak buah Suma selain Cooper yang juga ada disini.


Mereka ada di ruangan privat jauh dari keramaian Bar di luar sana. Cooper tengah menjelaskan bagaimana kondisi perusahaan Harmon setelah gagal menjalankan proyek besar itu.


"Waktu kehancuran total mereka hanya tinggal 3 hari. Perusahaan keluarganya sudah di ancam kebangkrutan jika sampai uang yang mereka pinjam itu tak berhasil di kembalikan dan banyak investor yang akan menarik diri dari kerja sama perusahaan."


"Jadi, apa tuan Steen akan kembali malam ini?" Tanya salah satu pria berbadan kekar dan berjas itu. Mereka memang masuk dengan identitas sebagai seorang bodyguard agar tak di intai kepolisian.


"Aku rasa kau bisa menyudahi ini sekarang, Steen!" Timpal Cooper duduk berhadapan dengan Edwald yang sedari tadi diam.


Ia membiarkan Cooper bicara memberikan data situasi pada anak buah Suma yang akan kembali ke markas setelah ini.


"Kita hanya perlu mengakusisi perusahaanya. Apalagi rencana tuan Steen sangat licik membuat seakan-akan proyek itu ada. Padahal, tak nyata sama sekali," Decah kagum para anggotanya tapi Edwald tetap diam.


Seperti biasa ia tak pernah terlihat berlebihan dalam segi exspresi yang akan di tunjukan.


"Berapa kerugian mereka sekarang?" Tanya Edwald baru buka suara terdengar datar.


"50%. Aku yakin mereka akan bertahan hanya sampai 2 hari. Rencana-mu terus berjalan mempengaruhi semua orang agar tak berinvestasi di sana. Lambat laun perusahaan itu tak akan bisa berdiri lagi, Steen!"


Jelas Cooper tampak puas. Tapi, di balik wajah sumringahnya ia tengah menyelidiki Edwald yang terlihat tak mau membahas jawaban dari satu pertanyaan barusan. Apa ia akan pulang ke markas malam ini?


Aku ingin lihat. Apa masih ada jalan untuk menikung istrimu?!


Batin Cooper tertawa jahat. Ia menunggu Edwald pergi dan melepaskan wanita cantik itu hingga mereka akan berpesta.


Tahu akan pikiran mesum Cooper yang terlihat sudah lemah membayangkan hal itu, Edwald langsung menatapnya dengan sorot membunuh hingga Cooper tersentak.


"A.. jangan berburuk sangka. Aku tak sedang memikirkan itu, Steen!" Gugup Cooper mengusap tengkuknya yang dingin.


Dua bawahan Suma di sampingnya saling pandang tak mengerti dengan percakapan dua pria ini.


"Bagaimana, tuan? Apa kau akan pulang malam ini? Tuan besar sudah menunggu anda dan dia juga menjanjikan pesta penyambutan," Ucap pria itu tapi Edwald masih belum bicara.


Cooper jadi menaikan satu alisnya. Biasanya Edwald tak akan mau berlama-lama menuntaskan misinya dan ini adalah misi terlama dalam sejarah ia bekerja.


"Jangan bilang kau ingin tinggal disini!"


"Omong kosong!" Ketus Edwald kasar. Ia beralih meminum wine di gelas yang ia genggam dengan pikiran berkelana.


Aku rasa sekarang belum waktunya. Mereka masih ada harapan untuk bangkit.


Pikir Edwald menjadikan itu alasan untuk tetap tinggal. Yah, ia hanya menebak penyebab dari lidahnya keluh untuk menjawab pertanyaan tadi.

__ADS_1


"Bagaimana? Sebaiknya kau kembali ke markas. Aku akan mengurus sisanya disini, Steen!"


"Ini misi-ku!" Tegas Edwald pada Cooper. Sorot mata tajam nan menikam dan raut wajah tak bisa di tebak. Cooper cukup kewalahan mencari tahu apa isi di balik wajah pria ini.


"Aku tak suka melakukan hal setengah-setengah. Kau bisa katakan pada Suma jika aku akan kembali 2 hari lagi membawa keinginannya," Imbuh Edwald yang tak lagi bisa di bantah.


Dua pria itu mengangguk tapi tidak dengan Cooper yang justru menyipitkan matanya. Ia meneropong cela yang bisa saja ia dapatkan dari sikap totalitas pria tampan ini.


"Jika begitu kami akan pergi, tuan!"


"Hm," Gumam Edwald membiarkan anak buah Suma itu pergi. Ia kembali minum dan agak lebih banyak dari biasa seraya menaikan lengan jaket ini tanpa mencoba rileks.


"Ada apa?" Tanya Cooper bersandar ke punggung sofa. Ia mengamati tingkah Edwald di tengah ruangan tertutup ini.


"Kau sudah bosan bicara?" Gumam Edwald tapi itu sebuah peringatan.


Cooper sontak menelan ludah. Ia menggeleng cepat agar Edwald tak mengeksekusinya seperti di pantai Chastillo kemaren. Bahkan, rasa cambukan itu masih menjalar di kulit Cooper yang mengeriput.


"Aku hanya heran. Kau jadi gelisah setiap ingin di ajak kembali. Apa nyaman disini?"


Tanpa menegur lagi Edwald langsung mengeluarkan pistol di balik jaketnya.


"K..KAUU..."


Setelah melepas satu tembakan, Edwald melempar pistolnya ke sembarang arah. Gelas yang tadi ia peggang juga sudah di buang asal.


"Ada apa dengan hari ini?!" Geram Edwald mengusap wajahnya kasar. Edwald membuang nafas kasar seraya bersandar ke punggung sofa.


Pandangannya menembus langit-langit ruangan sampai pertanyaan asing dan tak ada jawaban itu mulai memenuhi kepalanya.


Kenapa aku masih disini? Apa yang-ku cari? Bukankah misi ini sudah mau selesai?


Cecer benak Edwald bingung sendiri. Ia terus mencari jawaban itu tapi sampai matanya panas menelan langit-langit itu tetap saja tak menemukan jawaban.


Karna kesal tanpa alasan yang jelas ini, Edwald ingin melampiaskan semuanya dengan minum. Tapi, tiba-tiba saja ponselnya di dalam jaket berdering terasa samar.


Edwald mengurungkan niatnya untuk menegguk botol wine itu. Ia melihat ponsel dengan dada berdegup melihat nama Shireen di sana. Ternyata sudah 7 kali berbunyi bahkan ada pesannya juga.


"Shi!" Panggil Edwald mengangkat sambungan.


"Sayang! Kau dimana? Kenapa tak menjawab pesan dan panggilanku?" Cecer Shireen terdengar khawatir di seberang sana.


Edwald diam sejenak. Ia tak mungkin jujur dan alasan utamanya akan meluncur seperti biasa.

__ADS_1


"Kau dimana? Kirimkan nama tempatnya! Aku akan kesana sekarang."


"Aku di tempat kerjaku. Shi!" Jawab Edwald tapi tak ada jawaban dari Shireen. Wanita itu tak menyahut seperti diam.


"Aku di tempat kerjaku. Sekarang banyak sekali penumpang. Aku akan menemui mu nanti, Sayang!"


"Kau sedang membawa mobil?" Tanya Shireen terdengar memastikan.


"Iya, Sayang! Ada apa?"


"Aku menunggumu di perusahaan!"


"Hm. Baiklah!" Jawab Edwald mematikan sambungan. Ia mengambil nafas dalam karna energinya sudah terasa full sekarang.


"Kau masih harus bersenang-senang, Steen!" Gumam Edwald menegguk gelas terakhir lalu bergegas pergi.


Di luar sana sudah ada Kimmy yang tadi sudah menunggu Edwald keluar agar bisa bermain panas siang ini.


"Edwald! Kau sudah selesai?" Tanya Kimmy manja menggandeng lengan kekar Edwald yang menyentak kasar lengannya.


Hal itu memantik kekecewaan Kimmy yang sudah menunggu sangat lama.


"Kenapa? Urusanmu sudah selesai-kan?"


"Aku tak punya waktu," Dingin Edwald bergegas pergi tampak terburu-buru. Kimmy mengepalkan kedua tangannya dengan amarah meledak-ledak.


"Dia seenaknya datang dan pergi. Apa aku harus menjebak mu hingga kau baru bisa menyentuhku?!" Geram Kimmy tapi ia tak punya keberanian untuk membuat Edwald marah. Pria itu sangat mengerikan dan begitu kasar menanggapi hal yang tak sesuai dengan keinginannya.


.....


Di tempat yang berbeda. Shireen terpaku diam berdiri depan gedung yang menyediakan jasa supir taksi. Bahkan, manajer tempat ini baru saja bicara dengan Shireen yang menanyakan keberadaan Edwald tapi ia terkejut saat wanita muda ini menjawab.


Edwald memang melamar bekerja disini tapi ia tak pernah datang. Bahkan, mereka tak pernah melihat wajah tampannya selintas-pun.


Sontak Shireen kebingungan. Ia menelpon Edwald tapi Shireen semakin heran saat Edwald mengatakan jika ia bekerja sedangkan namanya tak terdaftar disini.


"Nona! Ada yang bisa saya bantu lagi?"


"A.. tidak. Terimakasih!" Ucap Shireen tersadar dari lamunannya. Ia berjalan kembali ke arah mobil dengan beribu tanda tanya di benaknya. Kenapa kau berbohong?


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2