
Jamuan makan yang di hadirkan Shireen pada seluruh warga desa berlangsung sangat lancar dan meriah. Mereka sudah berkumpul di depan kediaman kakek Bolssom sampai memenuhi jalan di depan sana untuk saling bertukar makanan.
Semuanya terlihat sederhana tapi hangat. Warga desa Casthillo tak segan untuk duduk lesehan dengan menikmati buah-buahan segar dan berbagai macam hidangan hangat yang di masak langsung oleh Shireen dibantu pelayan yang ada di kediaman kakek Bolssom.
"Nak! Kau terlihat sangat senang," Sapa nenek Rue mendekati Shireen yang berdiri memandangi warga desa yang saling bersenda gurau.
"Nek! Aku senang karna mereka semua tak punya hati yang buruk. Lihatlah! Aku hanya memberi makanan sederhana tapi, semuanya sangat senang."
Mendengar itu nenek Rue tersenyum hangat membelai surai panjang hitam kecoklatan milik Shireen yang memeluknya.
"Walaupun sederhana tapi itu di masak olehmu. Tentu mereka sangat senang, nak!"
"Apa rasanya enak?" Tanya Shireen pada nenek Rue yang tadi juga ikut makan.
"Enak! Kau selain cantik juga pandai memasak. Mereka sangat merindukan sub buatanmu, nak!"
Mendengar itu Shireen bertambah senang. Ia akhirnya ikut bergabung dengan yang lain mencicipi hidangan ikan bakar dan banyak lagi makanan berasal dari alam yang sangat enak.
Belum lagi anggur yang berasal dari perkebunan kakek Bolssom yang terkenal akan rasa manisnya itu juga di berikan secara percuma.
"Tuan!"
Ada salah satu pemuda yang tadi pergi bersama Fanze untuk mengambil anggur di kebun. Wajahnya terlihat pucat mendatangi kakek Bolssom yang berdiri di depan pintu kediaman.
"Ada apa?"
"Fanze tiba-tiba saja hilang. Aku tak tahu dia dimana, tuan!" Jawabnya cemas.
Kakek Bolssom tak panik. Ia mengira jika Fanze pasti ada urusan sendiri sampai tak pulang lagi kesini.
"Mungkin dia ada urusan mendesak. Jangan terlalu cemas."
"Tuan! Jika seperti itu, seharusnya dia tak meninggalkan keranjang anggur di tengah jalan. Baju yang dia pakai juga terkoyak dan berserakan di semak dekat kebun."
"Apaa??" Syok kakek Bolssom dapat di dengar Shireen yang duduk tak jauh darinya.
Wanita itu heran melihat raut wajah cemas kakek Bolssom lalu berdiri sempat pamit pada ibu-ibu yang tadi ia ajak bicara.
"Kek! Ada apa?"
"Shireen!" Gumam kakek Bolssom seraya melihat situasi yang ramai ini. Tak baik rasanya jika keadaan yang tengah hangat ini rusak karna berita yang baru saja terjadi.
"Kek! Ada apa? Kenapa kau tampak cemas?!"
"Fanze menghilang. Barang-barangnya berserakan di perjalanan dan mungkin ada sesuatu hal yang buruk terjadi padanya."
Mendengar itu Shireen tersentak. Kakek Bolssom mengisyaratkan untuk tetap tenang agar tak merusak suasana.
"Kerahkan semua penjaga desa untuk pergi mencarinya! Jangan terlalu rusuh dan tetap utamakan keselamatan kalian!"
"Baik, tuan!" Jawab pemuda itu bergegas pergi. Shireen memandang kepergiannya dengan cemas. Ia khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada Fanze karna tak biasanya pria itu menghilang tanpa kabar.
"Kek! Aku akan mencarinya di pinggir sungai!"
"Shireen! Jangan kemana-mana, nak! Kau itu sedang hamil," Cegah kakek Bolssom menahan lengan Shireen.
"Kek! Aku.."
"Tidak. Kau tetap disini dan kakek akan pergi ke balai desa!"
Alhasil Shireen mengangguk patuh. Ia membiarkan kakek Bolssom pergi bersama dua pria paruh baya yang merupakan bawahannya disini.
"Shireen!"
Nenek Rue yang mendekat karna mendengar ucapan Shireen dan suaminya tadi.
"Nek! Fanze hilang. Jika terjadi sesuatu padanya, apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuanya?!"
"Sudahlah. Dia pasti akan baik-baik saja, hm?"
__ADS_1
Shireen mengangguk. Ia kembali bergabung dengan yang lain walau sesekali timbul perasaan tak nyaman Shireen yang mengatakan jika Fanze dalam bahaya dan orang di balik ini sangat kuat ia bisa merasakannya.
"Nona!!"
Mereka di kejutkan dengan kedatangan seorang bawahan kakek Bolssom yang merupakan mata-mata Edwald. Pria itu berlari menerobos barisan para warga yang heran saat pria ini mendekati Shireen dengan nafas memburu.
"Kau.."
"Nona! Kau harus ikut aku!" Desaknya seperti tengah di kejar oleh singa.
"Maksudmu apa?"
Shireen yang tak mengerti mencoba memperjelas. Tapi, melihat banyak warga disini dan akan menjadi masalah jika mereka tahu apa yang terjadi, pria itu langsung membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk permohonan.
Shireen yang terkejut langsung mundur dan heran.
"Kau kenapa?"
"Nona! Aku mohon ikut aku. Ini soal hidup mati seseorang," Lirihnya hanya bisa di dengar Shireen yang mengambil nafas dalam.
"Baiklah!"
"Tidak. Kau ingin kemana?" Cegah nenek Rue khawatir tapi Shireen memeggang bahunya.
"Tenang saja, nek! Aku akan baik-baik saja. Lagi pula dia bawahan kakek," Ucap Shireen lalu pergi bersama pria ini.
Mereka berjalan menuju area gudang persediaan pupuk perkebunan yang tak jauh dari kebun anggur milik kakek Bolssom. Hanya saja ada pagar kawat yang mengelilingi sekitar tempat ini untuk berjaga dari hewan liar dari luar.
"Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Nona! Tuan ingin membunuh pria muda yang mendekatimu itu."
"Tuan?" Bingung Shireen tapi segera sadar akan apa yang di maksud pria ini.
"E..Edwald?"
"Iya, nona! Aku bawahan tuan Steen dan sekarang dia tengah marah besar. Aku dan tuan Cooper tak bisa mencegahnya untuk memanggang pria itu."
Beberapa menit kemudian mereka sampai. Dari depan pagar masuk. Mereka sudah melihat asap dari belakang gudang dan sontak Shireen berlari kecil ke arah sana.
Di belakang gudang sana ada lapangan kecil untuk mengeringkan pupuk. Disini terjadi adegan berbahaya dan menyenangkan bagi seorang pria tampan yang tengah berdiri di dekat api unggun yang menyala-nyala di bawah kaki seorang pria tanpa atasan.
kedua kaki dan tangannya terikat lalu di gantung di atas tiang yang biasa digunakan untuk menarik karung pupuk.
"Steen! Sudahlah, kau bisa membunuhnya," Decah Cooper yang frustasi melihat Edwald yang tak ada rasa kemanusiaannya sama sekali.
Fanze yang tadi berusaha lepas dari sini sudah tak berdaya. Kakinya terasa terbakar bahkan sangat panas menyentuh bunga api yang berkobar di bawahnya.
"L..lepaas!! K..kau.. "
Bukannya kasihan Edwald justru sangat puas. Ntah kemana pergi akal sehatnya sampai menjadikan Fanze ikan panggang lezat yang nyaris akan ludes di lahap api.
Melihat Fanze yang kesakitan akhirnya Cooper berusaha membujuk Edwald yang justru semakin mengumpulkan kayu yang terbakar di api unggun ini.
"Steen! Sebelum kakinya benar-benar terbakar. Kau hentikan ini!"
"Diamlah!" Gumam Edwald menyeringai iblis menatap kaki Fanze yang akan dilahap api segar ini. Fanze pucat dan berkeringat antara panas dan menahan telapak kakinya yang sudah merasakan jilatan api panas ini.
"Steen! Kau.."
"Tambahkan minyak disini!" Pinta Edwald seperti menunggu ikannya akan matang.
Cooper yang sangat cemas jika Fanze benar-benar akan tiada mau tak mau mengambil minyak di belakangnya.
"Cepatlaah!!"
"Steen! Kau akan di habisi Shireen," Gumam Cooper memberikan jerigen minyak itu ke tangan Edwald yang tersenyum kecut.
"Cukup buang abunya ke sungai. Dia tak akan tahu!" Ucap Edwald santai ingin menuangkan minyak ini ke bara api yang siap melahap Fanze yang sudah menggeliat kepanasan.
__ADS_1
"HENTIKAAN!!"
Suara keras Shireen di belakang sana langsung berlari mendekati Edwald yang seketika berwajah beku. Cooper yang tadi sempat pasrah seketika lega bahkan sampai mengusap dadanya yang sudah ringan kembali.
"Shireen! Syukurlah kau datang. Aku sudah tak bisa mencegah suami gilamu ini!"
"Kau yang memberitahunya?" Desis Edwald melirik dengan sorot membunuh pada Cooper yang seketika langsung menelan ludah segera mencari aman.
"T..tidak. Aku.. Aku sedari tadi disini. Aku.."
"Kalau begitu kau gantikan dia," Geram Edwald ingin menarik kerah jaket Cooper tapi rambutnya sudah di tarik Shireen menjauh.
Sontak Edwald menggeram murka saat Shireen menjauhkannya dari Fanze yang sudah hampir mati segera di bantu lepas oleh mata-mata yang tadi mengantarnya.
"Kauu..."
"Apaa??" Geram Shireen menatap tajam Edwald yang juga marah padanya. Tangan Shireen yang masih setia mencengkram rambut Edwald membuat pria itu tak bisa berkutik.
"Cepat bawa Fanze ke rumah sakit. Jangan sampai dia terluka parah!"
"Baik."
Jawab pria itu segera membawa Fanze yang setengah sadar menatap Shireen dari sela keringat yang berjatuhan di alisnya.
Shireen-pun sama. Ia memandang kepergian Fanze dengan cemas dan khawatir jika kaki pria malang itu akan mengalami luka serius.
"Cih," Decah Edwald menyentak kasar tangan Shireen dari rambutnya karna begitu kesal.
Tak jauh berbeda dari Shireen yang sangat tak menduga jika Edwald akan melakukan hal sekejam ini tanpa jelas salahnya dimana.
"Kau kenapa, haa?? Kau ingin membunuhnya?"
"Yah, kenapa? Kau tak suka?" Tantang Edwald saling beradu tatapan kesal dengan Shireen yang seketika mengepal dengan nafas memburu seperti ingin menelan Edwald hidup-hidup.
Melihat percikan api diantara suami istri ini semakin membesar, Cooper yang ada di tengah-tengah mereka langsung merasa panas.
T..tidak. Aku tak bisa berlama-lama disini.
Pikir Cooper merasa atmosfer di sekitarnya menipis. Ia pelan-pelan melangkah pergi menjauh dari arena pertempuran Edwald dan Shireen yang sudah saling melepas hawa kemurkaannya.
"Kauuuu.."
Keduanya sama-sama menggeram hingga Shireen dengan cepat mengambil potongan kayu yang tadi terbakar di sampingnya lalu memukulkan itu ke betis Edwald yang seketika dibuat tak bisa menghindar.
"Kau yang akan ku panggang disinii!!"
"Coba saja! Demi pria itu kau ingin melenyapkan aku?!" Geram Edwald tak melukai Shireen yang justru semakin berapi-api mengejar Edwald yang membawanya jauh dari area api di belakang gudang.
"AKAN KU PASTIKAN KAU MERASAKAN HAL YANG SAMAA!!"
"COBA SAJA!! AKAN KU ULANGI PERBUATANKU!!"
Sahut Edwald berlari ke area yang lebih aman untuk Shireen yang masih membawa kayu untuk mengejarnya.
Keduanya terlibat aksi kejar-kejaran tapi saat Shireen tampak sudah lelah Edwald akhirnya menyerahkan diri.
"Sudahlah! Aku bosan," Gumam Edwald berdiri di dekat Shireen yang sudah ngos-ngosan.
Edwald berbalik memunggunginya seakan membiarkan Shireen untuk memukulnya dari belakang. Shireen yang memang kesal dan dongkol ingin memukul betis Edwald lagi tapi ia tak sanggup melakukan itu untuk kedua kalinya.
Brugh..
Shireen menjatuhkan tubuhnya ke punggung keras Edwald. Keningnya tersandar ke punggung Edwald karna sudah puas berlarian.
"Kau lelah?" Tanya Edwald dan saat Shireen mengangguk melepaskan kayu itu barulah Edwald menggendongnya di punggung.
"Ini masih belum selesai. Tunggu saja bagianmu," Gumam Shireen membelit leher kokoh Edwald yang menggendongnya ringan seraya berjalan kembali ke kediaman kakek Bolssom.
.....
__ADS_1
Vote and like sayang