
Setelah menenagkan pikirannya Shireen kembali ke penginapan. Borgol yang mengikat lengan mereka berdua masih belum terlepas alhasil Shireen harus menunggu sampai Edwald tahu, bagaimana cara melepasnya?!
Sebenarnya Shireen ragu dengan jawaban Edwald yang mengatakan jika borgol ini tak bisa terbuka, mereka harus menunggu salah satu anggota yang tadi pergi untuk mengambil kunci.
"Apa wajahku begitu tampan?" Tanya Edwald menoleh. Ia duduk di sofa ruang tamu dengan Shireen yang tadi terus menatap penuh selidik padanya.
"Lepaskan borgolnya!"
"Jawabanku masih sama," Jawab Edwald bertopang kaki angkuh memainkan ponselnya. Ia tak menghiraukan Shireen tapi juga tak mau melepas wanita itu.
Alhasil Shireen membuang nafas kasar. Ia bersandar lemah ke punggung sofa menatap langit-langit penginapan yang tinggi.
Ada sebuah pertanyaan yang sedari tadi menganggu Shireen. Ia ingin bertanya pada Edwald tapi egonya terlalu tinggi untuk bersuara.
"Shi!"
Wesson yang muncul dari arah pintu membawa piring berisi potongan buah dan segelas sari jeruk. Shireen menegakkan tubuhnya menyambut kedatangan Wesson.. Tunggu, bukan Wesson tetapi sesuatu yang di bawa pria dewasa ini.
"Kau bawa apa?"
"Buah, kau suka-kan?" Tanya Wesson duduk di samping Shireen yang ingin mendekat tapi tangannya terikat dengan Edwald yang membatu tak mengendurkan lengannya, alhasil Shireen tak bisa berpindah tempat duduk.
"Lemaskan tanganmu!"
Edwald hanya membatu tak menjawab gerutu Shireen yang mendelik gerah kembali menatap Wesson yang menatap rumit sikap aneh Edwald sejak tadi.
"Kau mengupasnya?"
"Yah, kau ingin coba?" Tanya Wesson menusuk satu potong buah apel yang sudah ia kupas rapi lalu menyuapi Shireen yang tak segan membuka mulutnya.
Senyum Shireen mekar kala merasakan rona manis yang pas dan sangat khas dari apel ini.
"Enak, apelnya kau beri apa?"
"Sedikit bumbu cinta," Kelakar Wesson hingga keduanya terkekeh kecil. Wesson dan Shireen sudah biasa dengan candaan seperti ini tapi tidak dengan Edwald yang melirik tajam bagai belati ke arah mereka berdua.
Merasakan tatapan Edwald begitu berbahaya, Wesson jadi menduga Edwald juga ingin merasakan apel ini. Ia mengangkat piringnya menunjukan benda itu.
"Kau ingin coba?"
Tawar Wesson tapi Edwald hanya memandangnya datar lalu kembali melihat ponsel di tangannya. Alhasil Wesson dan Shireen saling pandang lalu menaikan bahunya secara bersamaan.
"Dia tak punya mulut," Lirih Shireen tersenyum miring pada Wesson yang ikut menimpali.
"Sejak kecil memang seperti itu, Shi!"
"Benarkah? Dia patut dikasihani," Jawab Shireen pelan tapi percakapan mereka bisa di dengar jelas oleh Edwald yang merasa sangat geram, marah dan emosi. Berani sekali Shireen mengatainya seperti itu dan tertawa manja dengan kakaknya sendiri?!
"Makanlah! Aku akan membuatnya lagi jika kau mau."
__ADS_1
"Emm.. Terimakasih," Jawab Shireen sibuk memakan potongan buah apel di piringnya sementara Edwald hanya menggulir layar ponsel tak tentu arah.
Wesson diam sejenak. Ia ingin bicara soal Patrica yang tadi siang telah bertemu dengannya. Wanita itu terus bertanya soal Edwald dan ia tahu Patrica pasti lebih tertarik pada pria tampan ini.
"Steen!"
"Hm," Datar Edwald tanpa menatap Wesson. Ia masih fokus dengan ponselnya melihat beberapa informasi yang dikirimkan Cooper baru-baru ini.
"Patrica ingin kita menghadiri jamuan makan malam di rumahnya besok!"
"Lalu?" Tanya Edwald masih belum merubah ekspresi dan posisinya.
"Dia ingin kau datang!"
Seketika Shireen berhenti mengunyah dan begitu juga Edwald yang sejenak terdiam.
"Dia sepertinya lebih tertarik padamu dari pada aku!"
"Misi itu milikmu," Tegas Edwald menatap dingin Wesson yang paham tapi, sepertinya ia tak akan bisa tahan dengan Patrica yang sangat jauh berbeda dengan Shireen. Disepanjang waktu Patrica hanya membicarakan soal glamor dan kemewahan tanpa ingin disela sama sekali.
Sikap manjanya membuat Wesson tak nyaman. Ia berharap jika Shireen yang ada disitu pasti hidupnya akan lebih bahagia.
"Aku tahu tapi, aku benar-benar tak bisa bersandiwara sebaik kau. Saat sudah bosan aku jadi lupa apa yang harus aku lakukan."
"Kau belajar saja pada AKTOR terbaik di sini," Jawab Shireen menyelipkan nada ketus melanjutkan acara makannya.
Wesson melirik Edwald yang tampak tak suka dengan apa yang Shireen katakan walaupun itu benar.
Tawar Wesson tapi Edwald maupun Shireen diam. Keduanya kembali melanjutkan aktifitas masing-masing begitu juga Edwald yang seakan tak mendengar apapun.
Melihat itu Wesson akhirnya pasrah. Ia tak lagi membahas soal Patrica ditengah pasutri ini.
"Tadi, daddy menelponku!"
"Hm," Gumam Edwald masih dengan respon yang sama menyebalkan.
"Dia ingin menyuruh Shi untuk mengemas pakaian mendiang mommy," Gumam Wesson masih belum sadar niat buruk ayahnya.
"Disana ada pelayan!"
"Yah, aku juga berpikir seperti itu. Tapi, dia bilang Shireen bisa memilih dengan bagus," Jawab Wesson tapi Edwald tahu betul isi kepala Suma yang sangat ingin menyentuh Shireen.
Shireen diam. Ia jijik bertemu dengan Suma apalagi melihat wajah mesum pria itu bagai hari paling buruk untuknya.
"Kau mau?" Tanya Edwald menaikan satu alisnya dengan pandangan sinis ke arah Shireen.
"Bagaimana aku bisa menolak ajakan tuan besar."
Seketika jawaban Shireen langsung membuat wajah Edwald mengeras. Bisa-bisanya Shireen kembali ke sana tanpa memikirkan jika sekarang ia tengah hamil muda, kemana pergi akal sehat wanita ini?!
__ADS_1
"Shireen! Aku yakin daddyku tak akan mengusikmu dia akan menghargai permintaanku kemaren."
"Kau benar, dia tak mengusikku," Jawab Shireen tapi berbeda dari kenyataan.
Suma benar-benar mampu mengendalikan pikiran anak-anaknya kecuali Edwald yang tak akan menurut jika itu sudah mengarah pada Shireen.
"Shireen! Aku khawatir jika kau ikut dengan kami dalam misi ini kau akan celaka. Lebih baik kau kembali ke kediaman pribadiku saja."
"Dia tak akan pergi kemanapun tanpa IZIN dariku!" Tekan Edwald menyambar dingin.
Wesson sampai membisu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau bukanlah siapapun bagi Shireen, Steen! Kalian hanya menikah karna misi dan.."
"Apapun yang terjadi, itu bukan urusanmu!" Sela Edwald tegas tampak sangat serius. Shireen yang ada di tengah-tengah pria jantan ini jadi ikut gugup karna Edwald tampak emosi.
"Steen! Kau berhentilah memanfaatkan Shireen! Aku tak ingin dia ikut campur dalam misi ini lagi, lepaskan dia!"
Wesson yang tak ingin Shireen mencelakai Edwald begitu juga sebaliknya. Ia ingin jalan tengah yang damai.
"Aku tak ingin kalian berdua saling menyakiti. Aku.."
"Sudah ku katakan sebelumnya!" Sela Edwald tak main-main dengan ucapannya.
"Apapun yang terjadi, itu bukan urusanmu. Aku harap kau tak melewati batas," Imbuh Edwald benar-benar membuat Wesson tak bisa berkata-kata lagi.
Shireen juga tak mengerti. Ia tak bisa menebak apa yang Edwald mau atau apa rencana pria ini?!
"Sudahlah. Kalian jangan berdebat, aku yang menentukan akan kemana dan tak ada urusannya dengan kalian berdua, paham?"
"Aku mengerti," Jawab Wesson tapi Edwald hanya diam. Ia bagai api yang terus menyala dan siap membakar siapapun yang berani mendekat atau menyentuhnya.
Di tempat yang berbeda. Seorang pria dewasa dengan wajah bahagia tak tertandingi itu tengah menghirup aroma alkohol yang sangat lezat menyeruk di hidungnya.
Ia menyukai cairan mabukan ini karna bisa membuat keinginannya menjadi mimpi indah yang berterbangan.
"Tuan! Kita sudah memata-matai GYUF sejak lama. Kapan kau akan mulai lagi menyerang mereka?"
Tanya salah satu bawahan setianya yang baru saja bicara dengan anak buah mereka.
Pria dengan kumis tipis dan mata coklat gelap itu bersiul santai seraya memandangi peta suatu daerah yang terbentang lebar di dinding bar pribadi miliknya.
"Tunggu sampai pria sialan itu memberi cela sedikit lebar," Jawabny seraya melemparkan satu anak panah kecil ke arah tanda merah peta itu sampai tertancap sempurna.
"Tuan! Mereka bergerak dengan rapi. Tak ada yang tahu, apa yang mereka mau dan lakukan sekarang?!"
"Mereka membidik keluarga William. Sebelum berlian mahal ini jatuh ke tangannya kita harus lebih dulu mengambil alih semua itu dan menghancurkan GYUF!" Liciknya ingin menggantikan posisi GYUF sebagai kelompok kriminal paling licin di negara ini.
...
__ADS_1
Vote and like sayang