Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Masih terasa sakit


__ADS_3

Tatapan waspada Shireen mengurung Edwald dalam pandangan tajamnya. Shireen menggendong Ealnest erat seraya melihat ke sekelilingnya dimana masih ada orang yang berlalu lalang memperhatikan mereka.


"Eal! Dia melukaimu? Apa dia memaksamu?" Tanya Shireen pada Ealnest yang bingung cara menjelaskannya.


Edwald masih diam mengusap bahunya yang cukup nyeri sementara Shireen seperti benar-benar mengintimidasi dirinya.


"Kau!! Kau jangan coba-coba menculik putraku!! Akan-ku buat kau mendekam di penjara. Lihat saja!" Geram Shireen mengeluarkan ponselnya dari saku mantel yang ia pakai berniat menghubungi polisi tapi Ealnest segera merampas benda itu.


"Ealnest!!"


"Mom! Jangan panggil polisi," Decah Ealnest tapi Shireen tak tenang apalagi Cooper sudah tergeletak di bawah sana.


"Kau jangan ikut campur urusan orang dewasa. Masalahmu masih belum mommy urus, paham?" Tekan Shireen kembali mengambil ponselnya dari tangan Ealnest yang ngeri tak lagi mau membantah ucapan wanita ini.


Ia mengisyaratkan Edwald untuk mengambil ponsel Shireen yang sudah berhasil menghubungi kepolisian.


"Pak! Disini ada pe.."


Belum sempat Shireen bicara, ponsel itu sudah beralih ke tangan Edwald yang segera mematikan sambungannya.


"Kau takut? Jika kau takut cepat pergi dari sini!!"


"Mom! Dia tak menculik-ku. Kami ..kami berteman dan.."


"Kau diam," Tekan Shireen tampak benar-benar marah pada Ealnest yang seketika membisu. Ia tahu kelakuannya sudah terlalu berlebihan sampai membuat mommynya semarah ini.


"Mom!"


"Apa kau pikir ini lulucon-ha? Kalau sampai kau bertemu dengan orang-orang jahat disini kau akan habis, Eal! Mau seperti apa lagi mommy memberitahumu?!" Marah Shireen terlanjur khawatir sampai lupa jika sekarang mereka tak sedang ada di kediaman.


Edwald memandang intens wajah cantik Shireen yang di penuhi guratan cemas, takut dan emosi. Pantas Shireen semarah ini karna apa yang Ealnest lakukan terlalu berbahaya.


"Mom! Tapi, Ealnest hanya bermain saja. Eal juga pasti pulang! Dan.."


"Yasudah, bermain sepuasmu," Tegas Shireen menurunkan Ealnest yang terkejut saat mommy nya sampai seperti ini.


Shireen kembali pada Edwald yang memandang wajah kelap Shireen tak berkedip. Dadanya berdebar tak karuan bahkan tubuhnya panas dingin kembali melihat wanita ini setelah sekian lama.


Shireen-pun diam. Ia menyipitkan matanya menatap lebih dalam netra hijau tajam Edwald sampai tiba-tiba saja ia tersentak.


E..Edwald?


Batin Shireen terkejut. Tubuhnya mulai mendingin dengan degupan jantung terasa sangat cepat seperti terkoneksi dengan sosok ini.


"Mom!" Panggil Ealnest menarik-narik lengan Shireen yang tampak termenung kosong masih memandang lekat Edwald yang ingin sekali meraup tubuh wanita itu dalam pelukannya.


"Mom!!" Keras Ealnest hingga Shireen tersadar. Wajahnya mulai pucat dan matanya memanas saat mengingat sosok itu. Ia berusaha memutus perasaan yang tak terkendali ini sampai Shireen merasa sekujur tubuhnya mulai kaku.


"A...ambil air di dalam mobil!" Pinta Shireen pada Ealnest yang mengangguk segera masuk ke mobil di sampingnya.

__ADS_1


Shireen berusaha mengacuhkan Edwald yang ia anggap hanya sebagai perasaan lama yang hanya datang menghantui karna bukan hanya Edwald yang memiliki mata seperti itu.


Ia berlalu mendekati Cooper dan berjongkok memeriksa, apa pria ini terluka berat atau tidak?! Tapi, sepertinya hanya pingsan ringan.


"Ini, mom!"


Ealnest memberikan botol air pada Shireen yang kesulitan mengangkat tubuh Cooper untuk bersandar ke body mobil.


Melihat itu Edwald segera mendekati Shireen yang tiba-tiba saja gugup saat Edwald mendudukan Cooper yang disandarkan ringan.


"Ternyata kau!" Batin Edwald merasa sangat konyol. Ia menoleh pada Shireen yang justru mematung kosong memandang ke arahnya hingga keduanya sama-sama saling tatap untuk yang kedua kalinya.


Ealnest yang melihat interaksi dua manusia ini sangat aneh segera mengambil alih botol dari genggaman Shireen.


"Mommy tatap saja dia! Aku akan mengurus uncle Cooper!"


"K..kau! B..biar mommy saja," Gugup Shireen mengambil botol itu dari tangan Ealnest dan dengan gemetar membuka tutupnya hingga tumpah.


"Mom!" Pekik Ealnest dan Edwald refleks menarik Shireen merapat ke arahnya agar air itu tak membasahi pakaian Shireen.


Jantung Shireen semakin tak baik-baik saja di dalam sana apalagi tangan Edwald memeggang lengannya hingga perasaan hangat yang dulu sering mengerumuni hatinya mulai datang kembali.


"Mom! Mommy sakit? Ayo duduk dulu!" Cemas Ealnest meraba kening Shireen yang diam seperti masih dilema dengan rasa sesak dan familiar ini.


Edwald juga merasakan hal yang sama. Tapi, ia tak mau membuat Shireen terkejut apalagi disini bukan tempat yang tepat.


"C..Copeer!" Gumam Shireen saat Cooper sudah menunjukan tanda-tanda sadar. Pria itu mendesis mengusap tengkuknya yang sakit dan nyeri lalu perlahan membuka matanya.


"Bocah tengil," Umpat Cooper memandang jengkel Ealnest yang memberi cengiran kudanya tapi, saat pandangan Cooper tertangkap dengan netra hijau tajam Edwald ia langsung melebarkan matanya.


"K..kau.."


Cooper terperanjat kuat. Ia berulang kali mengucek matanya lalu berdiri seperti tak percaya.


"E..Edwald! Kau..kau kesini? Aku..aku bersumpah tak ada niatan menggantikanmu. Hari..hari itu dia memang menawariku tapi aku menolaknya! Jika kau tak percaya tanya pada Shireen, tanya dia!" Panik Cooper seperti melihat arwah Edwald yang datang untuk menghakiminya.


Melihat semuanya melantur, Ealnest jadi kebingungan. Tadi mommynya yang tiba-tiba aneh dan sekarang Cooper.


"Uncle! Kau ini kenapa?"


"Eal! Dia..dia ini dad.."


Ucapan Cooper terhenti kala melihat wajah sendu Shireen yang tampak menunduk memandang genggaman tangan Edwald pada lengannya. Jelas sekali ini nyata dan bukan ilusi.


"S..Shireen! Dia.."


"Ayo pulang!" Tegas Shireen menyentak tangannya dari genggaman Edwald lalu berdiri menarik lengan Ealnest mengikutinya.


Air mata Shireen akhirnya luruh tapi segera ia hapus agar Ealnest tak melihat ini semua.

__ADS_1


"Mom! Apa kau sakit?"


Shireen hanya diam. Ia pergi menuju mobilnya yang ada di depan resto lalu membuka pintu itu seraya mendorong pelan Ealnest untuk duduk di kursi depan.


Ealnest kebingungan. Ia memandang keluar jendela dimana Edwald sudah berdiri mandang mereka dari kejahuan.


Saat Shireen sudah masuk ke mobil dengan dada terasa sangat sesak ia berusaha baik-baik saja. Ia mencari kunci mobilnya yang tak ada disini hingga mulai terlihat pusing.


"Kunci..kunci mobil!"


Ealnest hanya diam melihat Shireen mencari-cari benda itu di bawah kursi dan merogoh saku mantelnya buru-buru. Ia tak pernah melihat mommynya seperti ini apalagi, mata Shireen sudah mulai berair kembali dengan hidung merah.


"Tadi..tadi aku meletakkannya disini!! Kunci itu.."


"Mom!" Lirih Ealnest memeggang lengan Shireen yang ada di kemudi. Seketika Shireen diam menundukan kepalanya yang tersandar langsung ke stir mobil.


"Mom! Eal minta maaf. Eal janji tak akan seperti itu lagi. Mommy jangan marah, mommy jangan seperti ini," Lirih Ealnest merasa takut kala tubuh Shireen dingin.


Shireen berusaha menahan air matanya. Sungguh, ia seperti kembali merasakan luka 7 tahun yang lalu dan masih mencabik-cabik hatinya.


T..tidak. Bu..bukan..bukan kau. Tidak mungkin.


"Mom! Mommy sakit? Ayo kita kevrumah sakit. Ayo!"


Shireen sudah mulai merasakan pusing. Keadaan tubuhnya memang tak sebaik dulu apalagi Shireen memiliki tekanan darah yang tinggi.


"Mom!" Parau Ealnest mulai ketakutan memeggang lengan Shireen yang tak bergerak. Ia pernah melihat mommynya masuk rumah sakit bahkan sampai tak sadarkan diri.


"Mommy!! Mom!" Panggil Ealnest mengguncang bahu Shireen yang mulai merasa kaku di bagian kakinya. Ia perlahan duduk dengan benar dengan pandangan kabur dan kepala seperti berputar.


"E...Eal!"


"Mom!"


Tak lama setelahnya Shireen langsung pingsan hingga Ealnest histeris.


"Mom!! Unclee!! Uncleee toloong!!" Panik Ealnest berteriak seraya menahan kepala Shireen agar tak membentur kaca mobil.


Ia menangis merasa sangat bersalah bahkan ketakutan memenuhi matanya. Cooper dan Edwald yang tadi melihat itu semua segera berlari mendekat.


"Mommy!! Mommy, bangun!"


"Eal!" Panggil Cooper membuka pintu mobil membiarkan Edwald menggendong Shireen untuk pindah ke kursi belakang sementara ia menyetir.


"Mom, hiks! Mommy!!"


"Dia akan baik-baik saja. Jangan menangis!" Ucap Cooper pada Ealnest yang terus berbalik kebelakang memandang Shireen yang terbaring pasrah di atas pangkuan Edwald yang mengusap kedua tangannya yang dingin.


Sungguh, Edwald-pun khawatir karna dulu Shireen pernah seperti ini bahkan sampai pucat bak mayat hidup.

__ADS_1


...


Vote and like sayang


__ADS_2