
Shireen berlari mendekati polisi yang tampak heran saat melihat Shireen mendekat dengan wajah begitu panik dan tampak cemas. Apalagi, tadi Shireen berteriak diculik oleh seseorang.
"Nona! Kau.."
"Pak! Pak, toloong.. tolong aku, pak!" Ucap Shireen terengah karna ia cukup lelah berjalan cepat ke sini. Polisi itu mulai menatap mobil Edwald yang ada di depan sana.
"Nona di culik?"
"Yah, dia..dia seorang mafia, pak! Dia menjual banyak organ manusia bahkan menipu. Aku tahu dimana tempatnya," Jelas Shireen begitu serius. Pria paruh baya berseragam masih bugar itu segera mengambil tindakan.
"Nona! Aku akan memeriksa mobil itu."
"Pak! Sebaiknya kita langsung pergi ke markas mereka. Dia sangat berbahaya dan menjadi buronan di mana-mana, pak!" Desak Shireen tapi pria ini berusaha menenangkannya.
"Nona! Kau tenanglah, kami pasti akan melindungimu."
Ucapnya lalu berjalan mendekati mobil mewah di depan sana. Kendaraan yang lewat di samping mereka hanya acuh karna mereka memang sibuk.
Polisi itu berdiri di depan pintu mobil yang sudah tertutup begitu juga kaca jendelanya. Pria ini membungkuk kecil segera mengetuk kaca ini.
"Tuan! Bisa kau buka kaca ini?" Pintanya sopan menunggu seraya menoleh pada Shireen yang sudah berdiri di belakangnya.
"Pak! Mana borgolmu?"
"Nona! Aku harus memeriksanya lebih dulu setelah itu baru memulai tindakan penangkapan jika terbukti benar."
Jawaban Polisi ini membuat Shireen jengkel. Kekesalannya pada Edwald bahkan bisa ia lampiaskan pada siapapun termasuk petugas keamanan ini.
"Kau meragukan keterangan ku?" Geram Shireen emosi.
"Bukan, nona! Aku hanya mengikuti prosedur."
"Dia ini mafia kelas kakap! Jika menunggu lebih lama lagi, kau akan kehilangan nyawamu!" Sarkas Shireen segera mengambil borgol yang ada di pinggang polisi itu lalu melakukan tindakan agresif.
"Jika kau tak mau, aku yang akan melakukannya," Gumam Shireen sudah tak sabaran membuka pintu mobil kasar lalu menarik lengan Edwald kasar untuk keluar.
Edwald hanya pasrah. Ia keluar dari mobil langsung berdiri di hadapan Polisi di depannya.
"Pak! Kau cukup bawa saja dia. Tak perlu periksa lagi!" Tegas Shireen memborgol kedua lengan Edwald yang berwajah tanpa ekspresi.
Polisi itu terdiam. Ia mengamati wajah tampan Edwald yang tak asing baginya.
"Kauu.."
"Dia ini penjahat! Kau akan mendapat bintang 10 jika mengurungnya. Aku jamin!" Sela Shireen mendorong bahu kekar Edwald hampir menabrak polisi yang seketika sadar.
"Kau presdir Edwald?"
Tebaknya dengan ekspresi wajah terkejut tapi tak dipungkiri ia sampai menjaga jarak seakan merasa kecil. Mendapat respon seperti ini tentulah Shireen langsung mendidih tapi Edwald menyeringai.
"Dia ini penjahat besar! Presdir itu hanya wajah liciknya, kau ..."
"Nona! Apa kau nona Shireen?"
Tanya pria itu tapi Shireen tak lagi bisa berkata-kata. Ia mengusap wajahnya kasar sangat marah bukan main.
__ADS_1
"Kauu.. Bisa tidak kau mengerti maksudku?! Dia tak seperti yang kau lihat. Dia menculikku lalu dia berpura-pura baik agar.."
"Kalian suami istri-kan?" Selanya bingung dengan kata-kata Shireen. Ia beralih memandang wajah tampan Edwald yang tiba-tiba membuka ponselnya lalu menunjukan sesuatu.
Mana ada seorang suami menculik istrinya?!
"Dia istriku. Kami sudah menikah," Tegas Edwald menunjukan foto pernikahan mereka berdua.
Sontak polisi itu terdiam tapi segera minta maaf pada Edwald karna kecerobohannya.
"Maafkan aku, presdir! Aku tak tahu jika ini kau!"
"Tak masalah. Hanya saja, ISTRIKU kehabisan obat," Jawab Edwald memberi senyum tipis penuh kemenangan pada Shireen yang membuang wajah ketus ke arah lain.
Melihat tak ada masalah yang terjadi, polisi itu pamit pergi kembali ke tempatnya. Shireen seketika mendengus kembali masuk ke dalam mobil dengan wajah masam dan terlihat sangat dongkol.
"Begitu jauh wilayah penipuannya sampai semua orang tertipu olehnya," Umpat Shireen yang duduk di kursi Edwald tadi.
Sementara Edwald, ia menatap kedua tangannya yang di borgol lalu memandang Shireen yang acuh.
"Kau tak ingin melepaskan ini?"
Shireen tak menjawab. Ia seakan tak mendengar bahkan hanya fokus memandang ke luar jendela di sampingnya.
Cooper yang melihat itu hanya mengulum senyum. Ia tahu Edwald bis melepas borgol itu tapi ntah kenapa Edwald jadi ingin berlama-lama.
Ia masuk ke mobil duduk di samping Shireen. Pintu mobil sudah tertutup otomatis hingga tak perlu di tarik lagi.
"Lepaskan ini!" Menyodorkan tangannya ke atas paha Shireen yang seketika meninggikan suaranya seraya menepis tangan Edwald.
"Jangan menyentuhku!!!"
Alhasil, Shireen langsung mendengus memberinya sorot mata tajam yang terlihat menggemaskan di mata Edwald.
"Jangan harap aku akan membantumu."
"Baiklah," Jawab Edwald menarik tangannya dari paha Shireen.
"Aku tak akan bisa ke kamar mandi, minum, makan. Jadi, kau harus melakukannya untukku!"
"Kauuu..." Geram Shireen tapi Edwald memiringkan bibirnya licik.
"Dengan senang hati menerima pelayanan dari ISTRIKU," Jawab Edwald sangat menambah bumbu cabai di mulut Shireen yang tak menyangka jika Edwald begitu bisa membolak-balikan keadaan.
"Kau tahu?"
"Tidak," Santai Edwald menaikan satu alisnya angkuh.
"Kau pria paling MENYEBALKAN yang pernah aku kenal," Geram Shireen segera mengotak-atik borgol di tangan Edwald.
Cooper yang melihat dari kaca spion hanya tersenyum kecut menikmati perjalanan kali ini.
"Mana bisa lepas, kuncinya pada polisi tadi," Gumam Shireen menoleh ke belakang.
"Lalu?"
__ADS_1
"Putar arah!" Pinta Shireen pada Cooper tapi pria itu melirik Edwald yang memandangnya dengan tatapan datar dan itu sudah di pahami oleh Cooper.
"Kita tak bisa kembali lagi. Waktunya sudah habis."
"Apa kau pikir sekarang kita lomba lari, ha?" Desis Shireen tapi Cooper hanya bisa diam.
Shireen mengambil nafas dalam menormalkan suasana hatinya. Ia terus berusaha mengotak-atik benda ini tapi tetap tak bisa sampai keringat muncul di pelipisnya seperti tengah mengoperasi seseorang.
Edwald memandang lekat wajah cantik serius Shireen yang sangat mempesona dalam mode apapun.
Walau kau berusaha menjadi iblis, kau tak akan bisa menghilangkan sisi malaikatmu.
Batin Edwald menikmati panorama indah ini. Untuk pertama kalinya ia suka di borgol dan di permainkan oleh seorang wanita.
"Tidak bisa. Kau harus memotong besi di.."
Edwald melepaskan kuncian borgol itu dengan sekali tarikan di ujungnya tapi ia bergerak halus tanpa sepengetahuan Shireen yang sampai tersentak melihat borgolnya sudah terbuka.
"I..ini.. "
"Kau lumayan," Puji Edwald mengangkat satu tangannya. Shireen masih tak percaya menelisik kembali apa yang terjadi barusan.
Ntah kemana pergi akal sehatnya sekarang, Shireen dengan polosnya menguji borgol itu dengan meletakan satu tangan kirinya ke benda itu lalu menguncinya.
"Aku bisa melakukannya," Gumam Shireen semangat belajar.
Edwald menyeringai. Ia tahu Shireen sangat suka belajar hal baru, jika ia berhasil tapi masih ambigu dia akan mencoba lagi. Itulah yang Edwald pahami dengan cara pikir Istrinya.
Namun, sesuai rencana Edwald sebelumnya. Shireen mulai pucat saat borgol ini tak terbuka.
"I..ini.."
"Kau begitu agresif sampai menahanku seperti ini, hm?" Goda Edwald terdengar menakutkan di telinga Shireen yang menggeleng keras.
"T..tidak, tidak seperti itu! Tadi, bisa!" Gumam Shireen panik kembali mengotak-atik borgol ini sampai beberapa menit kemudian Shireen berteriak cemas.
"Tidak bisaa!!! Aku.. Ini.. Aaaaaaa!!! Tidak bisaa!!" Jerit Shireen begitu takut dalam keadaan seperti ini. Sementara Edwald, ia sangat santai bersandar ke kursi mobil bahkan memejamkan matanya.
"Edwald!! Kau jangan diam saja. Lepaskan ini!!"
"Aku tak bisa," Gumam Edwald nyaris hanya seperti gumaman acuh.
Edwald menyentak borgolnya hingga Shireen sontak merapat ke arahnya.
"Kauu!!"
"Jangan berisik. Kau bisa di anggap kurang waras disini," Gumam Edwald tanpa membuka matanya sama sekali.
Shireen hanya bisa merutuki kecerobohannya. Ia berusaha menjaga jarak dari Edwald yang sialnya tiba-tiba menggaruk lengan sebelah kiri atau tengkuknya hingga Shireen terpaksa harus mendekat kembali.
Ditengah perjalanan menakutkan bagi Shireen dan menyenangkan bagi Edwald itu, tiba-tiba saja Shireen tak sengaja melihat ke luar jendela mobil dimana ada mobil seseorang yang sangat familiar di matanya.
"F..freya?" Sentak Shireen ingat jika mobil itu adalah mobil Freya adiknya.
.....
__ADS_1
..
Vote and sayang