
Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Sedari tadi Shireen hilir-mudik di depan kediaman menunggu kepulangan Cooper yang katanya mencari Ealnest tapi sampai sekarang belum juga pulang membuat kekhawatirannya semakin membuncah.
"Nek! Aku tak bisa selalu menunggu disini," Resah Shireen pada nenek Rue yang sedari tadi menemaninya.
Nenek Rue mengambil nafas dalam. Ia tahu sedari tadi Shireen ingin menyusul Cooper tapi, ia melarang karna bisa saja mereka sudah dalam perjalanan pulang.
"Shireen! Coba kau hubungi Cooper, nak!"
"Sudah berulang kali ku hubungi, Nek! masih saja tak aktif," Decah Shireen kembali menghubungi Cooper. Beberapa saat kemudian nomor pria itu aktif hingga barulah Shireen mencecer pertanyaan beruntun.
"Kau dimana? Kenapa sampai sekarang masih belum pulang? Dimana Ealnest?"
"Shireen! Tadi dia sudah ada di mobilku tapi, sudah hilang lagi! Aku tadi melihat dia bersama seorang pria yang tak jelas, sekarang aku tengah menguntit mereka. Kau tenang saja."
Suara Cooper seperti terburu-buru. Shireen mengambil nafas dalam segera masuk ke dalam kediaman mengambil kunci mobilnya di atas sofa.
"Kau dimana sekarang?"
"Aku di dekat resto yang tak jauh dari Hotel Royal Suite!"
Mendengar itu Shireen bergegas keluar. Ia mematikan sambungan seraya pamit pada nenek Rue yang hanya bisa berharap semuanya baik-baik saja.
Shireen pergi dengan mobilnya keluar dari gerbang besar kediaman. Ia tak peduli jika sekarang ia hanya memakai dress santai selutut tanpa lengan tapi untung saja ada mantel dan syal di kursi samping kemudi yang biasa ia gunakan untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.
Laju kecepatan mobil ini cukup ekstrem. Shireen cemas jika Ealnest nekat berdekatan dengan orang baru yang pasti belum tahu asa-usulnya.
"Semoga saja kau masih aman," Gumam Shireen harap-harap cemas jika sampai terjadi hal yang buruk pada Ealnest yang sembarangan bertemu banyak orang.
........
Sementara di restoran amerika yang tak jauh dari hotel Royal itu tampaklah Edwald yang tengah menikmati hidangan makan malamnya bersama Ealnest di ruangan VIP agar tak di ganggu pengunjung lain.
Ruangan ini ada di lantai atas resto dimana dari sini mereka bisa melihat pemandangan kota New York yang sangat gemilau dengan lampu-lampu indah di sekitaran jalan. Apalagi, hanya ada pagar pembatas seperti balkon yang mengelilingi lantai ini hingga angin dari luar masuk sempurna dan sangat segar.
"Rumahmu dimana?" Tanya Ealnest seraya memakan hidangan Seafood dengan lahap. Edwald yang duduk di sampingnya hanya mengupaskan cangkang kerang dan udang di piringnya lalu memberikan itu pada Ealnest.
"Apa kau tinggal disekitar sini?"
"Hm," Jawab Edwald mengangguk seadanya. Ia sama sekali tak membuka masker atau topi di wajahnya dan tentu Ealnest risih bukan main.
"Disini tak ada orang lain selain aku. Buka saja maskermu! Atau.."
Ealnest menyipitkan matanya dengan sisa saos belepotan di mulutnya. Edwald tak banyak bicara karna ia lebih suka mendengarkan Ealnest.
"Atau apa?" Tanya Edwald santai. Ealnest menyeringai melirik kiri kanan seperti waspada.
"Wajahmu jelek, ya?"
"Hm."
__ADS_1
Edwald mengangguk tenang. Alhasil Ealnest terdiam, ia menatap lekat tangan Edwald yang masih mengupas cangkang udang dan kepiting untuknya dengan telaten dibaluti sapu tangan khusus makanan.
"Benar wajahmu jelek?"
"Kenapa?" Tanya Edwald melirik wajah berat Ealnest yang tampak kecewa.
"Sayang sekali. Padahal kau sudah hampir mendekati kriteriaku!"
"Maksudmu?" Tanya Edwald ingin tahu tujuan Ealnest berkeliaran di tempat berbahaya seperti kasino dan bar tadi siang.
Ealnest mengambil nafas dalam. Ia menatap lurus kedepan seperti memiliki pemikiran yang panjang.
"Apa semua orang punya daddy?"
Edwald diam. Tangannya yang tadi mengupas kulit udang ini sampai terhenti dan matanya terpaku pada piring di hadapannya.
"Aku bingung. Semua anak di sekolahku setiap hari diantar oleh daddy-nya bahkan, saat penerimaan penghargaan keduanya naik ke atas panggung dan tersenyum dengan bangga. Hanya aku yang berbeda," Gumam Ealnest menghela nafas berat dan pasrah.
Edwald sampai terbongkem mendengar penjelasan Ealnest. Ada rasa sakit dan sesak di dadanya yang untuk ke sekian kali terasa sempit.
"Aku tak masalah karna mommy selalu memperhatikanku! Tapi, mommy itu selalu tak punya jawaban. Mereka seakan-akan menyembunyikan daddyku dimana?! Kau tahu-kan bagaimana rasanya jika itu.. apa .. emm.."
Ealnest berusaha menjabarkan maksudnya tapi saat melihat Edwald, pria itu bahkan melamun seperti tak mendengar ucapannya.
Sontak Ealnest langsung mendengus kesal kembali memakan seafood yang sudah Edwald kumpulkan ke atas piringnya.
"Cih, kau memang kuat dan berkharisma tapi sangat membosankan."
Tapi, Ealnest masih kecil. Ia tak tahu apapun tentang perasaan atau sejenisnya yang jelas, semua yang ia inginkan dapat terjadi.
"Hm, aku pernah bertanya pada mommy tapi tak ada jawaban. Aku pikir aku tak terlahir dengan orang itu jadi aku mencari pria yang mau menjadi daddyku saja," Asal Ealnest menaikan bahu acuh.
"Pria lain?"
"Yah, dan tak ada yang cocok. Semuanya begitu lemah dan tak bisa diandalkan, jadi tak akan ku biarkan mereka mendekati mommyku," Jawab Ealnest tapi hampir tersedak saat Edwald merangkul bahunya jantan.
"Kauu.."
"Kau memang putraku!" Tegas Edwald bangga dan Ealnest langsung membelo jengah. Ia menepis lengan kekar Edwald di bahunya tapi tak bisa menghindari rangkulan ini.
"Aku sudah tak berminat. Mommy-ku itu sangat cantik dia tak akan mau denganmu!"
"Apa dia pernah jatuh cinta dengan pria lain?" Tanya Edwald seperti menggali informasi pada anaknya sendiri.
Merasakan sesuatu yang tak beres dari Edwald yang tiba-tiba baik padanya tentu saja Ealnest tak mudah percaya. Ia yakin Edwald punya tujuan tersembunyi sampai mentraktirnya makan enak di resto mahal.
"Aku tahu kau pasti punya rencana. Kau pikir aku bisa mudah diakali," Batin Ealnest menarik sudut bibirnya licik.
Ia menghabiskan semua seafood di piringnya lalu menegguk segelas jus yang ada di atas meja. Dirasa sudah kenyang dan sangat mengantuk, Ealnest menatap Edwald yang menunggu jawabannya.
__ADS_1
"Kenapa memandangku?"
"Aku bertanya padamu," Datar Edwald seperti sangat ingin mengetahui tentang mommynya. Ealnest diam sejenak mengusap kedua tangannya dengan serbet di atas meja lalu mengusap perutnya yang sesak dengan santai.
"Kau tahu?"
"Hm, apa?" Tanya Edwald menunggu. Ealnest berdiri di kursi ini lalu membungkuk ingin membisikan sesuatu ke telinga Edwald yang sialnya lupa jika Ealnest titisan benihnya.
Saat Edwald sudah begitu serius. Ealnest langsung menarik nafas dan..
"BAYAR BILLNYA!!" Teriak Ealnest keras lalu meloncat dari kursi ini dan berlari turun dari tangga di depan sana.
Sontak Edwald langsung mengumpat segera mengejar Ealnest yang sudah membodohinya. Antara kesal, emosi dan gemas ia bisa-bisanya di permainkan anak sendiri.
"Tuan!!"
Sapa para pelayan resto saat melihat Edwald terburu-buru keluar mengejar Ealnest yang begitu cepat hilang di depan pintu masuk.
Semua pelayan dan manajer disini tahu jika Edwald adalah putra jenderal Adison hingga mereka tak berani menegur kelakuan bocah tadi.
Tak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarnya, Edwald keluar masih mencari Ealnest yang hilang diantara kilau lampu di depan sana.
"Ini sudah malam. Shireen akan bertambah cemas jika dia tak pulang," Gumam Edwald melihat ke sekelilingnya.
Edwald diam sejenak seperti menelisik jauh. Instingnya tak bisa di ragukan membaca setiap gerak-gerik orang di sekitarnya dan benar saja.
Ia bisa melihat di seberang jalan sana Ealnest tengah di tarik paksa masuk ke dalam mobil oleh seorang pria yang memakai hoodie.
"Pulang! Mommy-mu sudah sangat khawatir dan kau bertemu dengan orang asing disini!"
"Uncle! Apa mommyku sudah tidur?" Tanya Ealnest takut terkena amukan ibunya.
"Mommymu sudah cemas sedari siang dan aku kewalahan mencarimu. Lihat saja, kaki dan tanganmu akan di ikat lalu kau di kurung selama 1 bulan!" Geram Cooper kesal bukan main menyeret Ealnest yang memberontak masuk ke dalam mobil.
Namun, saat ia ingin menutup pintu mobil itu tiba-tiba saja tengkuknya di pukul keras dari belakang hingga Cooper terjatuh tak sadarkan diri.
"U..Uncle!" Pekik Ealnest melihat Cooper tergeletak di samping mobil dengan wajah tertutup hoodie. Edwald yang tadi terlanjur emosi karna putranya di tarik-tarik seperti itu segera mendorong tubuh Cooper menjauh dari kakinya lalu menatap Ealnest yang pucat.
"Kenapa kau pukul?? Kau ingin aku di panggang mommyku, ha??" Panik Ealnest semakin takut pulang.
"Dia ingin menculikmu!" Dingin Edwald tapi ia agak familiar dengan postur tubuh pria ini sayangnya, ia tak begitu memperhatikannya.
"Bukan dia itu.."
"Akan ku antar kau pulang!" Tegas Edwald tak percaya siapapun tapi tiba-tiba ada benda keras yang memukul bagian bahunya hingga patahan balok kayu itu terlempar ke samping mobil.
"KAU JAUHI PUTRAKU!!"
Suara keras Shireen mendorong Edwald menepi dari pintu mobil dan dengan cepat ia gendong Ealnest yang melongo seperti tak percaya mommynya bisa memukul sekuat itu, tulang-tulang di tubuhnya-pun mulai ngilu.
__ADS_1
Vote and like sayang