Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Apa yang terjadi?


__ADS_3

"Tuaaan!!"


Teriak mereka semua seraya mundur saat tanah di tepi tebing berangsur luruh ke bawah. Tak ada yang bisa di lakukan selain menyelamatkan diri sendiri di tengah deru angin dan hujan yang semakin tak bisa di atasi.


Dari kejahuan sana, salah satu dari pekerja itu melihat rombongan kakek Bolssom yang baru datang dengan masing-masing memeggang payung.


"Ituu! Itu tuan besaar!!" Serunya hingga semua pekerja disini berlari ke dekat tuan Bolssom yang tersentak melihat kondisi para pekerjanya.


"Kalian kenapa? Apa yang terjadi sampai mandi lumpur begini?"


"Tanah di tepi tebing longsor dan tuan Edwald jatuh ke dalamnya!"


"Apaaa??" Syok Shireen yang terkejut mendengar itu.


Pandangan semua orang langsung menyorot tepian tebing yang benar saja sudah rubuh dan keranjang-keranjang anggur yang tadi sudah berhasil di bawa naik untung saja tak ikut terbawa tanah.


"Iya, nona! Tadi, tuan Edwald dan temannya membantu kami memanen anggur. Tapi, tiba-tiba saja hujan dan tangga batu di lereng sangat licin bahkan ada lumpur pekat dari atas. Tuan membantu kami naik tapi dia yang.. yang terkena bahaya," Jelas salah satu dari pekerja itu tampak takut dan merasa bersalah.


Shireen yang sudah jantungan segera mendekati area tebing yang masih terasa bergetar membuat kakek Bolssom segera menahan lengan cucunya.


"Jangan kesana!"


"Tidaak!! Edwaald!!" Panik Shireen memberontak saat melihat di bawah sana sudah di penuhi tumpukan tanah dan lumpur. Rasa takutnya kian meningkat bahkan Shireen sampai lupa jika sekarang ia tengah hamil.


"Shireen! Ini berbahaya, kakek akan menyuruh orang untuk membantu suamimu."


"Tak ada waktu, kek! Aku.. Aku tak bisa menunggu!!" Jerit Shireen yang merasa tak akan hidup lagi melihat ini semua.


Melihat Shireen yang bersikeras untuk turun ke bawah sana, kakek Bolssom segera mengambil tindakan untuk menenagkan wanita ini.


"Kami akan turun ke bawah dan kau harus tetap disini, jangan ceroboh karna kau sedang hamil, paham?"


"K..kek! Aku.. Aku mohon jangan sampai terjadi hal buruk padanya," Ucap Shireen yang berkaca-kaca menatap kakek Bolssom.


Pria tua tapi sehat dan bugar ini mengangguk. Ia dan rekan-rekannya termasuk Fanze segera bahu membahu mencari jalan keluar untuk bisa ke bawah sana mencari Edwald.


"Hubungi orang di balai desa. Katakan jika ada longsor di tebing gunung dan bawa bantuan kesini!"


"Baik," Jawab Onand segera pergi menjalankan titah kakek Bolssom yang segera memutar jalan. Mereka memilih jalan lama yang memakan waktu cukup banyak karna memutar untuk pergi ke bawah.


Shireen yang tengah pucat memeggang payung di atas tebing ini terus memandang ke bawah sana. Sungguh, ia tak menyangka jika Edwald akan senekat ini hanya demi menyelamatkan orang-orang di perkebunan.


Kenapa kau lakukan ini? Jelas-jelas tak ada untungnya sama sekali bagimu.


Batin Shireen yang cemas terus menunggu walau ia ingin sekali turun ke bawah sana. Seiring detikan waktu dan perputaran menit yang berlalu, rombongan kakek Bolssom belum bisa turun dengan cepat karna harus melawan semak belukar yang sudah meninggi di jalan lama.


Alhasil, Shireen tak bisa menunggu lagi segera melepas payung di tangannya hingga mengambil ancang-ancang dari atas tebing dan meloncat ke bawah sana.


"Shireeen!!".


Teriak kakek Bolssom dari kejahuan sana karna melihat Shireen meloncat dari atas tebing dan mendarat diantara lumeran lumpur di tumpukan tanah yang terus bertambah dari atas.


"Edwald!! Aku tahu kau pasti masih hiduup!!" Teriak Shireen menggali puncak tanah ini dengan tangannya mencari-cari sosok pria tampan itu di sela hantaman lumpur dari atas sana.


Shireen begitu bekerja keras bahkan tak takut jika tubuhnya akan tertimbun tanah yang terus turun dari atas. Pakaiannya sudah basah bahkan dipenuhi lumpur pekat yang berat.


"Edwaald!! Kau jangan bermain-main. Keluarlaah!!" Panggil Shireen lagi berusaha keras mengais tanah yang sudah lumer karna hujan deras ini.


Dari arah perkebunan di depan sana ada seseorang yang tengah mengawasi Shireen. Dia berdiri di balik rimbunnya pepohonan anggur membiarkan hujan ini menerpa tubuhnya.

__ADS_1


"Bagus, carilah lebih dalam hingga kau ikut terkubur bersamanya," Gumam wanita itu licik. Ia berpakaian seperti seorang pria dimana ada penutup kepala khas petani anggur biasa dengan gelang rajut merah yang selalu ia pakai.


Memantau detik-detik kematian Shireen dari sini, ia benar-benar sudah tak sabar menunggu tebing itu menimpa Shireen yang sialnya bisa menghindar lincah bahkan kaki jenjangnya terus menurunkan tumpukan tanah yang semakin banyak turun ke bawah.


"Edwaald!! Kau.. Kau dimanaa??"


Shireen yang sangat cemas terus mencoba mengais tanah-tanah ini. Karna Shireen tak kunjung tertimbun oleh tebing itu, akhirnya wanita ini langsung mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya.


Sebuah pisau kecil tapi mengkilap sudah ada di tangannya. Walau suasana mendung dan tak stabil ia bisa membidik Shireen dari sini.


"Aku tak bisa menunggu sampai pembunuh bayaran itu tiba. Lebih baik kau mati di tanganku detik ini juga," Desisnya siap melempar pisau itu ke arah Shireen yang tengah memunggunginya.


Namun, sebelum pisau itu lepas dari tangannya. Tiba-tiba saja ada sekilat bayangan seseorang muncul di tepat di belakang.


"Kauu.."


Lehernya langsung di putar dua arah oleh sosok ini hingga segera tumbang kehilangan kesadaran atau mungkin sudah tak bernyawa.


"Steen! Kau membunuhnya?"


Cooper yang datang dari belakang dengan raut kesal bukan main. Edwald hanya diam tapi pandangannya justru lurus kedepan melihat Shireen yang sangat ketakutan sampai menangis di bawah rintikan hujan.


"Steen! Cepat kau urus Shireen, dia pasti sangat mencemaskanmu."


Untuk sesaat Edwald diam. Kedua tangannya mengepal meneteskan air yang juga membasahi tubuh kekarnya.


Jika tak sedang dalam kondisi seperti ini, akan ku pastikan kau mati dengan sengsara.


Kilatan amarah Edwald yang segera pergi mendekati Shireen. Wanita itu terduduk di tepi timbunan tanah menggenggam lumpur yang terus menimpanya.


"K..kau.. kau sudah berjanji padaku!! Kau ingin memulai semuanya! Kau pembohoong!!" Teriak Shireen tapi ia terkejut saat tubuhnya terangkat ringan menjahui area longsor.


Edwald menurunkan Shireen di bawah pohon yang cukup rindang untuk berteduh sebentar. Ia memeggang bahu Shireen yang memandangnya bingung sekaligus terhenyak.


"K..kau Edwald?"


"Hm, kau pikir siapa?" Datar Edwald tapi Shireen langsung berhambur memeluknya. Tangis Shireen pecah bercampur dengan lelehan air hujan yang sudah membasahi seluruh tubuhnya.


Shireen tak bicara tapi, pelukan erat dan tangis tertahan ini sudah membuktikan betapa kacaunya ia.


"Sudahlah, jika terus menangis seperti ini maka, kau akan mengalahkan hujan di atas sana."


"Kauu.." Geram Shireen langsung memukul-mukul dada bidang keras Edwald dengan sangat kesal dan meluapkan rasa khawatirnya.


"Apa memang ingin sekali tiada, ha?? Apa tak ada hari lain??"


"Apa boleh hari lain?" Tanya Edwald mengusap pipi Shireen yang terkena lumpur. Seketika Shireen melemah segera mendorong bahu Edwald menjauh darinya.


"Tak ada hari apapun untuk ini. Tidak ada," Gumam Shireen membuang wajah sembabnya ke arah lain.


Melihat itu Edwald segera menghela nafas. Udara yang semakin dingin dan hujan yang tak reda-reda membuatnya harus segera membawa Shireen kembali pulang.


Wanita ini bisa saja demam karna imun tubuhnya memang cukup lemah di saat hamil.


"Ayo pulang!"


Menarik lengan Shireen untuk mengikutinya berjalan ke arah kakek Bolssom yang sudah berhasil turun mendekati mereka.


Pria itu tampak lega melihat Edwald baik-baik saja apalagi tak ada luka apapun.

__ADS_1


"Cepat bawa Shireen ke rumah kecil di jalan masuk perkebunan. Jika pulang kalian tak akan sempat," Ucap kakek Bolssom menyerahkan payungnya pada Edwald yang mengangguk.


"Kakek juga segeralah pulang! Jangan disini lagi," Peringat Shireen seraya mengikuti Edwald yang benar-benar mengutamakan keselamatan Shireen.


Ia memimpin lebih dulu seraya menyingkirkan beberapa ranting tajam yang ada di jalan untuk naik.


"Ini licin, hati-hati!"


Shireen mengangguk. Udara begitu dingin sampai bibirnya bergetar kedinginan tapi masih bisa mengikuti Edwald yang memeggang payung meneduhi keduanya dan satu tangan lagi menggenggam tangan Shireen.


Setelah berusaha mencapai atas tebing sana akhirnya mereka sampai. Edwald bergegas membawa Shireen pergi ke jalur utama masuk perkebunan untuk segera berteduh dan menghangatkan diri.


Tapi, di sela langkahnya menuju rumah peristirahatan itu Shireen masih memikirkan tentang kejadian tadi. Kenapa Edwakd muncul di tempat lain padahal menurut kesaksian pada pekerja disana, Edwald tertimpa longsor?!


"Ed! Apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba muncul di belakang area perkebunan?! Dan.."


"Nanti ku jelaskan," Tegas Edwald bergegas karna sudah melihat rumah kayu yang seperti sebuah penginapan di hutan dengan lampu-lampu mengelilingi tempat ini.


Saat tiba di depan rumah itu mereka langsung berteduh di atap teras kayu yang seperti rumah panggung di depannya.


Shireen segera membuka pintu rumah ini. Keduanya masuk seraya menutup pintu yang juga dingin.


"Disini tak ada kamar. Kau bisa bersihkan dulu tubuhmu di kamar mandi di pintu belakang!" Ujar Shireen yang memeluk dirinya sendiri seraya berjalan ke area pembakaran kayu di pertengahan ruangan.


Edwald segera mendahuluinya. Pria dengan tubuh basah kuyup dan masih ada sisa lumpur itu mengambil potongan kayu di samping pembakaran lalu mulai menyalakan api dari peralatan yang sudah disediakan disini.


"Kau bersihkan tubuhmu! Aku akan nyalakan apinya!"


"Tapi,..."


Edwald tak lagi bicara hingga Shireen mau tak mau menurut. Ia pergi ke belakang sedangkan Edwald memanaskan air di area dapur yang kecil.


Disini hanya ada kompor dan panci seadanya. Apalagi tempat ini hanya punya dua ruangan dan dapur langsung menyambung dengan ruangan utama yang tak ada sofa atau kursi.


"Dia pasti kedinginan," Gumam Edwald melepas atasan lalu memasak air hangat. Tak lupa sembari menunggu Shireen, Edwald mencari selimut atau kain yang ternyata sudah tersedia di satu lemari kayu besar yang ada di paling sudut.


"Benar-benar tempat terdesak," Lirih Edwald melihat banyak sekali peralatan berkebun disini dan tak lupa juga ada kotak obat.


"Eeed!!"


Suara Shireen memanggil dari area belakang. Edwald berbalik tapi satu alisnya terangkat heran melihat Shireen hanya mengintip dari balik pintu kamar mandi.


"Kenapa?"


"K..kain!" Jawab Shireen mengigil dengan wajah sudah bersih tapi pucat.


Melihat itu Edwald langsung mendekat membawa selimut tebal di tangannya. Shireen mengulur tangan dengan sedikit gemetar berniat meraih selimut itu tapi Edwald justru menarik tangannya keluar.


"Edwaald!!!" Pekik Shireen menutupi area dada dan bawahannya karna tak memakai sehelai benangpun.


Edwald diam. Tatapannya datar tapi ia segera menghela nafas dalam untuk mengusir pikiran nakalnya.


"Hangatkan tubuhmu. Kau bisa demam," Gumam Edwald membungkus Shireen dengan selimut tebal ini lalu menggendongnya ala bridal style ke arah api pembakaran yang menguarkan asap di cerobong atas.


Setelah memastikan Shireen berjarak aman dengan api ini, barulah Edwald pergi ke kamar mandi untuk membersihkan bekas lumpur di tubuhnya.


"Kenapa dia jadi begitu aneh?!" Gumam Shireen menatap kepergian Edwald yang tiba-tiba saja tak berbuat messum. Biasanya Edwald akan selalu menjengkelkan di setiap situasi.


....

__ADS_1


Vote and like sayang


__ADS_2