
Tanpa di ketahui siapapun tadi malam, jenderal Adison membawa Edwald pergi dari tahanan khusus di kantor pusat Badan Intelejen Pertahanan Italia. Ia di bantu beberapa bawahannya yang selalu siaga memantau situasi karna bisa saja beberapa petinggi di sini menyadari keberadaan Edwald yang sudah ia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Sekarang jenderal Adison membawa Edwald ke kediaman Aldebaron. Perusahaan yang dulu Edwald pimpin memang bernama belakang sama tetapi, semua orang tak menduga jika nama itu ternyata juga sama dengan nama keluarga jenderal Adison yang selama ini juga merasa presdir Edwald yang disanjung-sanjung itu memanglah putranya.
Berbeda dengan jenderal Adison yang masih ragu-ragu pada saat itu, Edwald justru tahu segalanya. Hanya saja, karna masalah di waktu kecil ia jadi pergi dari keluarga Aldebaron dan mendirikan momentum sendiri.
"Kau tak merindukan rumah?" Tanya jenderal Adison yang duduk di sebelah Edwald. Mereka tengah ada di dalam mobil yang di kemudikan oleh Refalls.
"Aku tak peduli kau mau pulang atau tidak tapi, temuilah mommy-mu," Imbuh jenderal Adison yang sama memiliki ego yang tinggi dengan putranya.
Edwald hanya diam. Ia memandang datar keluar jendela mobil dengan pikiran yang melayang jauh. Ada satu hal yang ingin segera ia temui dan bagaimana kabar wanita itu sekarang?!
Ini sudah 7 tahun berlalu dan apa Shireen masih mengenalnya? Apa masih ada tempat untuknya?!
Sungguh, Edwald merasa tak berdaya jika berhadapan dengan wanita yang selalu disakiti olehnya.
"Kita akan segera sampai, tuan!" Ucap Refalls memelankan laju mobil yang berbelok ke sebuah jalan yang sangat rapi dengan kiri kanan di tata pohon yang asri.
Edwald mengamati setiap jalur yang mobil ini lewati. Pohon-pohon yang dulu masih kecil sekarang sudah besar rimbun meninggi. Banyak perubahan yang terjadi tapi tetap saja, kediaman ini terasa familiar untuknya.
Saat mobil ini memasuki gerbang besar berwarna emas itu, mereka langsung di sambut dengan penghijauan dikiri-kanan jalan menuju bangunan megah yang di dominasi warna putih perak berlapis emas yang begitu mewah. Edwald hanya merekam semuanya dari mata hijau elang itu seakan-akan bernostalgia ke masa lalu.
"Kenapa begitu sunyi?!" Batin Edwald bertanya pada dirinya sendiri. Jenderal Adison hanya melirik santai ekspresi bingung Edwald yang cukup perhatian dan timbul rencana di benaknya.
"Mommy-mu sedang tak sehat!"
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Edwald tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Kau lihat saja sendiri," Datar jenderal Adison turun saat mobil ini sudah berhenti di depan kediaman. Edwald yang bertanya-tanya di dalam benaknya juga ikut turun sementara Refalss memasukan mobil ke dalam garasi.
Semuanya hening dan sunyi seakan-akan tak ada penghuni di dalam sini. Alhasil Edwald segera bergegas mendorong pintu besar megah kediaman ini dengan perasaan harap-harap cemas.
"SELAMAT DATANG KEMBALII!!!"
Edwald tersentak dengan suara sorakan dari banyak orang yang ternyata menunggu di dalam sini. Para pelayan wanita, penjaga di luar bahkan beberapa rekan jenderal Adison ikut bergabung membawa terompet dan balon selayaknya anak-anak.
Edwald diam. Tatapan datarnya tak berubah mencari sesosok wanita yang selama ini ia tinggalkan.
"Selamat datang kembali ke rumah, nak!"
__ADS_1
Suara seorang wanita paruh baya yang muncul dari belakang keramaian orang-orang yang perlahan menepi. Edwald mematung dan tak berkedip seperti menahan sebuah perasaan yang sulit ia ungkapkan.
Nyonya Zofia berjalan mendekati Edwald dengan manik hijau miliknya sudah berkaca-kaca membawa sebuah kue dengan lilin menyala di atasnya.
Wajah nyonya Zofia begitu tampak cantik walau diusianya yang tak lagi muda. Wanita berambut coklat keemasan itu berdiri dengan dada berdebar di depan Edwald yang juga merasakan hal yang sama.
Nyonya Zofia tahu Edwald tak akan mau meniup lilin ini karna sedari kecil Edwald tak pernah mau di perlakukan seperti anak-anak.
"Kami merayakan setiap hari kelahiranmu. Tapi, hari ini kau hadir setelah sekian lama pergi jadi, kami.."
Edwald lebih dulu meniup lilin itu hingga semua orang terkejut. Air mata nyonya Zofia langsung tumpah tak mampu membendung tangisnya.
"Fedrick!" Lirihnya membiarkan kue itu di ambil alih lalu ia berhambur ke pelukan Edwald yang juga tak segan lagi membalas dekapan sang ibu.
"Mom!"
"Apa kau begitu membenciku, ha?? Kau tak pernah pulang selama puluhan tahun hanya karna bertengkar dengan daddy-mu. Apa kau memang tak ingin melihatku walau aku tak akan lama lagi di dunia ini?! Hiks, kau ..kau memang anak yang tak menyayangi ibunya sendiri," Isak nyonya Zofia memukul-mukul punggung kekar Edwald yang dulu meninggalkan kediaman karna bertengkar dengan jenderal Adison.
Edwald tak mau mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang anggota militer apalagi, Edwald kerap melihat banyak pemerintahan yang kotor dan lebih hina dari seorang penjahat.
Tapi, jenderal Adison tetap memaksanya karna Edwald putra tunggal mereka. Alhasil, saat ingin di masukan ke Akademi Militer, Edwald pergi tanpa kabar.
"Apa saat aku tidak ada lagi di dunia ini baru kau mau sukarela pulang?"
Nyonya Zofia mengusap jambang sedikit tebal di rahang tegas Edwald yang juga belum mengurus dirinya karna ingin bertemu dengan sang ibu.
"Kau sudah sebesar ini. Dulu..dulu kau masih tidur denganku, makan mu harus ku suapi dan .."
Nyonya Zofia tak bisa melanjutkan kenangan itu. Ia mengecup kening Edwald dan mengusap rambut agak panjang sang putra.
"Dan kau yang selalu menjadi pengawal sampai terus bertengkar dengan daddymu. Kau ingat?"
Edwald mengangguk masih tak melepaskan pelukannya sampai semua orang menatap haru pertemuan keduanya. Jenderal Adison yang berdiri di depan pintu sana ikut senang melihat keluarganya kembali utuh.
"Nak! Kau pasti belum makan. Mommy memasak banyak untukmu dan semuanya makanan kesukaanmu sewaktu kecil. Dan yang paling penting, semua pakaianmu sudah mommy urus, hm?"
"Terimakasih," Ucap Edwald mengusap pipi nyonya Zofia yang begitu lengket pada Edwald yang juga sangat merindukan mommy nya.
"Ya sudah, kau pergi bersihkan dulu tubuhmu dan mommy akan.."
__ADS_1
"Tunggu akuuu!!!"
Suara pekikan keras dari lift di dekat tangga sana yang terbuka memperlihatkan seorang wanita muda berlari membawa buket besar ke arah Edwald yang menajamkan matanya.
Saat wanita itu ingin berhambur memeluknya, Edwald langsung mengelak hingga jenderal Adison sigap menangkap tubuh wanita ini.
"Astagaa!!"
Mereka terkejut sekaligus lega saat sosok itu diselamatkan jenderal Adison atau tidak pasti dia sudah tersungkur ke lantai.
Wajah Edwald mendingin. Jelas sekali ia tak suka dengan tingkah wanita berambut sebahu yang memakai kaos kebesaran dan hotpants pendek.
"Nak! Dia..."
"Aku tak peduli siapa dia," Tegas Edwald mengira jika sosok itu adalah anak dari rekan jenderal Adison yang tak tahu malu datang kesini.
Tapi, semua orang langsung menghela nafas khususnya nyonya Zofia.
"Nak! Dia itu.."
"Catharina Aldebaron!" Sela Catharina yang merupakan anak bungsu nyonya Zofia dan jenderal Adison.
Edwald diam sejenak. Ia mengamati wajah Catharina yang tak menuruni mata hijau ibunya. Wanita ini lebih mirip ke keluarga jenderal Adison
Melihat Edwald yang seperti sangat tak bahagia, Catharina langsung merenggut.
"Dad! Dia tak kenal aku. Padahal, dulu aku yang menyelinap masuk ke dalam markasnya dan bertemu dengan kakak ipar," Dengus Catharina bersandar manja ke bahu jenderal Adison.
Edwald diam. Apa mungkin wanita ini adalah gadis berseragam yang saat itu mendekati Shireen saat di markas?! Jadi dia adalah adiknya.
"Kakak! Kau memang tak menyadari itu? Apa kau memang tak berniat punya adik cantik sepertiku?"
Edwald hanya diam setia dengan wajah datarnya. Catharina ingin mendekat tapi saat melihat tatapan membunuh Edwald ia jadi mengurungkan niatnya.
"Galak sekali," Umpat Catharina lebih memilih memeluk jenderal Adison yang sudah paham karakter putrinya.
"Mom! Aku pergi ke kamarku dulu, ya?"
"Iya, sayang!" Lembut nyonya Zofia membiarkan Edwald pergi sementara ia tersenyum bahagia memandangi sosok gagah itu.
__ADS_1
.....
Vote and like sayang..