Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Jangan lepas tangan


__ADS_3

Tanpa sadar waktu berlalu dengan cepat. Hal-hal yang selama 4 bulan terakhir menjadi masalah bagi Edwald sudah tak lagi di pedulikan pria itu. Ia tahu Cooper selalu menjadi jalan penyalur informasinya dari markas ke desa Casthillo.


Tapi, sayangnya kondisi GYUF sekarang diambang batas. Wesson bahkan sudah mengosongkan markas dan seluruh anggota GYUF di pecah menjadi beberapa kelompok untuk sementara bersembunyi dari kejaran aparat negara.


Bagaimana dengan Edwald? Jika membahas soal calon ayah satu itu, ia benar-benar mengabdikan hidupnya di sisi sang istri. Apalagi, kandungan Shireen sudah mau jalan 8 bulan hingga 1 bulan lagi anak mereka akan lahir ke dunia ini.


"Neneeek!!"


Suara khas Shireen mengalun dari arah lantai atas. Nenek Rue dan kakek Bolssom yang tengah menyusun baju-baju bayi di lantai dasar segera menatap ke arah tangga.


Nenek Rue terperanjat melihat Shireen turun dengan perut sudah tampak sesak bahkan berjalan-pun ia harus berpeggangan.


"Ya tuhan, Shireen! Tunggu disitu!" Panik nenek Rue segera berdiri terpongoh-pongoh mendekati Shireen yang tampak baru saja bangun tidur.


Rambut panjangnya dicempol ke atas dengan baju hamil berbahan agak ketat tapi ringan mencetak lekuk tubuhnya yang sempurna. Tapi, Shireen menutupi visual seksi itu dengan kardigan panjang miliknya.


"Nek! Dimana suamiku?" Tanya Shireen memang sudah sangat manja pada Edwald yang tadi pergi ke perkebunan mengambil langsung buah yang Shireen mau.


"Suamimu sedang memenuhi permintaanmu tadi pagi! Kau yang bilang ingin makan buah di perkebunan tapi Edwald yang memetiknya."


"Tapi, tak harus selama ini-kan? Sudah sore, nek!" Kesal Shireen menurut saat di tuntun turun oleh nenek Rue yang hanya menggeleng saja.


Sesuai bertambahnya usia kehamilannya, Shireen semakin sensitif bahkan ia jadi mudah marah tanpa alasan yang jelas.


"Sudahlah. Sebentar lagi dia akan pulang. Duduk di dekat kakek!" Seru kakek Bolssom berdiri juga ikut menjemput Shireen yang tampak beraut masam.


"Duduk yang benar. Nanti, kau mengeluh sesak lagi!"


"Memang sesak, nek!" Gumam Shireen bersandar ke punggung sofa panjang ini seraya mengusap perut besarnya. Tak ada yang berubah drastis dari bentuk tubuh Shireen.


Bahkan, semakin tampak seksi, menggiurkan dengan dada yang lebih sekang dan bokong serta pinggulnya yang padat.


Akhirnya sepasang pasutri senja itu mengajak Shireen untuk memilih baju-baju bayi yang lucu dan sangat menggemaskan. Mereka belum tahu jenis kelaminnya apa karna Shireen ingin menerima kejutan nanti jadi, mereka beli semuanya.


Seraya meladeni kakek dan neneknya, Shireen berulang kali melihat ke pintu utama menantikan sosok gagah itu.


"Kenapa lama sekali?!" Gerutu Shireen seraya membolak-balikan celana bayi di pahanya.


Tak sabar menunggu disini, Shireen akhirnya berdiri di bantu nenek Rue yang membiarkan Shireen melangkah ke pintu depan.


"Lihat cucumu! Semakin hari dia tak membiarkan Edwald jauh sedetik saja. Untung tadi Shireen tidur baru Edwald bisa pergi," Geli nenek Rue tapi kakek Bolssom hanya tersenyum kecil.


Ia bahagia melihat Shireen begitu lepas saat bersama Edwald yang beberapa bulan ini begitu siaga bahkan selalu menemani Shireen ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan.


Di depan sana. Shireen terus menatap ke jalan di depan sana, ia sesekali menguap sampai matanya berair tapi buru-buru ia usap agar tak mengantuk.


"Kita tunggu daddymu," Gumam Shireen mengusap perut besarnya sampai pupil mata hitamnya melebar melihat Edwald sudah berjalan sedikit terburu-buru membawa keranjang kecil anggur yang sudah penuh.


"Cepaat!!" Sorak Shireen berjalan menyongsong kedatangan Edwald yang buru-buru mendekat karna bagian teras depan itu licin.


"Kenapa disini?" Tanya Edwald menarik Shireen ke dekat pintu.

__ADS_1


Shireen tersenyum penuh minat melihat Edwald bersimbah keringat bahkan kaos yang ia pakai terasa lembab.


"Ini buah yang kau mau!"


"Peluk!" Pinta Shireen ingin mencium keringat Edwald yang seketika menjauh. Tubuhnya kotor dan berkeringat, ia tak mau membuat penyakit untuk bumil ini.


"Aku akan mandi. Makan buah ini dulu, hm?" Menyodorkan keranjang buah di tangannya tapi Shireen bukan ingin makan buah tapi lebih ingin mencium aroma tubuh pria ini.


"Aku ingin di peluk. Nanti saja makannya!"


"Shireen! Kau.."


Edwald lagi-lagi menjauhkan dirinya. Ia paham Shireen memang tak lagi menjadi dirinya sendiri tapi, tubuhnya terlalu kotor menurut Edwald sendiri tapi tidak dengan Shireen yang justru menyukainya.


"Kau tak mau aku peluk? Kenapa? Apa kau ingin si ulat bulu itu yang memelukmu?" Sarkas Shireen panas.


Edwald langsung mendengus. Shireen semenjak meningkatnya usia kehamilannya jadi sering mengungkit-ngungkit soal kesalahan Edwald bahkan Kimmy yang sudah mati-pun akan jadi objek sasarannya.


"Sepertinya kau mulai bosan denganku, ya?"


"Shireen! Kenapa lagi-lagi membahas itu, ha?" Decah Edwald memijat pelipisnya pusing. Ia juga heran, ingatan Shireen sangat kuat sampai seluk beluk masa lalu pahit dulu tak akan ia lewatkan.


"Kenapa? Kau tak suka? Aku masih ingat jelas saat kau membuang masakan yang aku buat!! Apa sekarang kau juga ingin seperti itu?" Cecer Shireen tak ada tanda titik koma.


Edwald menoleh ke arah kakek Bolssom dan nenek Rue dengan isyarat untuk meminta bantuan hingga mereka segera mendekat.


"Shireen! Jangan marah-marah terus. Tak baik untuk kandunganmu, nak!"


"Bagaimana aku tak marah?! Nek! Dia itu selalu saja memancing emosiku. Sudah bagus aku tak perhitungan soal pengkhianatannya padaku dulu!!" Bantah Shireen dengan mata berkaca-kaca.


"Aku hanya minta di peluk! Jika itu wanita ulat bulu yang dulu bersamanya pasti dia akan mau. Dia bahkan sering menelpon, nenek tahukan bagaimana perasaanku?!" Adu Shireen mencekik lejer Edwald yang tak bisa berkata apapun atau mengelak.


Shireen bagai roll film yang bisa memutar memori manapun kapan saja.


"Sudahlah. Mungkin suamimu lelah, nak! Ayo masuk!" Bujuk nenek Rur tapi Shireen melirik tajam Edwald lalu masuk sendiri meninggalkan mereka di depan pintu.


"Hati-hati!!" Seru Edwald siaga melihat Shireen yang pergi ke dapur tanpa mau menoleh kanan kiri.


Nenek Rue yang sudah sering melihat Shireen begini hanya bisa menghela nafas. Ia salut pada Edwald yang tahan bahkan, ada suatu malam Shireen sampai mengusir Edwald dari kamar karna teringat masa hubungan gelap sang suami dengan Kimmy.


"Jangan dimasukan ke dalam hati. Kau tahu sendiri jika Shireen sejatinya tak seperti itu," Ujar nenek Rue pada Edwald yang justru hanya pasrah dan tetap mengutamakan keselamatan Shireen.


"Yah. Mungkin ini karmamu," Timpal kakek Bolssom agak ketus pergi masuk ke dalam.


Nenek Rue hanya bisa menghela nafas mengikuti kakek Bolssom sementara Edwald masih mematung di depan pintu.


Ia menatap keranjang buah di tangannya lalu menyunggingkan senyum pelit.


"Karma?!" Gumam Edwald merasa ini kurang jika ingin membalas tentang apa yang dulu ia lakukan pada Shireen.


Tak tenang membiarkan bumil itu dalam kondisi marah seperti ini, akhirnya Edwald menyusul ke dapur.

__ADS_1


Shireen terlihat duduk di jendela dapur yang biasa menjadi tontonan wanita itu saat sedang ingin sendiri. Bahkan, Edwald mendekat-pun Shireen tak menggubrisnya.


"Kau tadi ingin makan buah-kan?" Tanya Edwald seraya meraih kursi di dekat meja dapur untuk duduk di samping Shireen yang justru memalingkan wajahnya yang sudah berair.


Tak ada satu katapun keluar bahkan Shireen enggan memandang Edwald yang mengambil nafas dalam.


"Yakin tak mau buahnya?"


Shireen tetap diam. Ia meremas jari jemari lentiknya di paha lalu menarik nafas sendat untuk kesekian kalinya.


"Kalau begitu aku akan habiskan," Ancam Edwald memasukan satu butir anggur itu ke dalam mulutnya tapi Shireen tak merespon.


Alhasil, karna tak mau ini semakin berlarut Edwald segera menarik dagu Shireen hingga ia menautkan ciuman lembut seraya memasukan anggur tadi ia gigit ke dalam mulut Shireen yang membulatkan matanya.


"Manis," Gumam Edwald menatap nakal Shireen yang seketika memerah segera mendorong bahu Edwald yang berdiri di hadapannya.


"Biasa saja," Gumam Shireen mengunyah anggur di mulutnya menghindari pandangan intens Edwald padanya.


Melihat Shireen yang masih kesal, akhirnya Edwald segera membuka kaos lengan pendek di tubuhnya hingga Shireen hampir tersedak melihat tubuh kekar berotot Edwald yang bermandian keringat sudah bisa memanjakan matanya.


"Perutnya, dada.. Ini ."


Batin Shireen terkagum-kagum sampai melupakan rasa anggur di mulutnya. Edwald hanya bisa pasrah membiarkan Shireen mengendus perutnya karna dia menyukai aroma keringat maskulin sang suami.


"Setelah ini makan, ya?"


Tanya Edwald seraya mengusap kepala Shireen yang mengangguk membelit kedua pinggang Edwald manja dan patuh bak anak kecil.


Edwald tak risih. Justru ia menikmati masa-masa ini karna pastinya Shireen akan berubah lagi saat dia sudah melahirkan nanti.


Kucing penirunya selalu bisa membuat kejutan yang tak baik untuk jantung.


........


Di tempat yang berbeda.


Cooper tengah berdebat dengan Wesson yang tampak kekeh beradu argumen bahkan dia sampai membuat Cooper terlihat marah di lobby rumah sakit.


"Kau ingin lepas tangan? Lalu, bagaimana dengan GYUF?"


"Aku ingin membebaskan mereka karna aku tak mau mengambil resiko, Cooper! Ibuku masih di rumah sakit dan Glimer tak akan bisa menangani masalah ini. Aku paham Steen sudah punya urusan lain dan itu karnanya aku tak lagi menjalankan GYUF," Jelas Wesson panjang lebar tapi Cooper tak setuju.


"Aku tak peduli soal GYUF ada atau tidak. Tapi, masalah yang selama ini kita ciptakan sudah di baca oleh aparat seluruh negara yang ingin menangkap kita bahkan keluarga William juga mencurigai hal ini. Jika berhenti sekarang, maka semuanya habis."


"Lalu apa maumu?" Geram Wesson juga tengah fokus pada mommynya.


"Aku ingin kau sebagai pimpinan bisa menyelamatkan GYUF! Membebaskan semua anggota bukan solusi jangka panjang. Apalagi karna keputusan gegabahmu itu satu persatu anggota kita sudah di ringkus oleh mereka!!" Emosi Cooper yang tak ingin melihat temannya ikut terseret.


Wesson-pun sudah kehabisan ide. Sekarang, semua orang tengah memburu GYUF sebagai organisasi kriminal berbahaya.


Apalagi, nama yang paling terdepan adalah STEEN. Itulah yang jadi buah pikiran Cooper yang tak bisa diam saja.

__ADS_1


....


Vote and like sayang...


__ADS_2