Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Aku harap ini tak akan berakhir


__ADS_3

Di rumah sakit besar kota Milan. Gedung tinggi dengan banyak ruangan itu tampak ramai dengan manusia-manusia yang datang dengan berbagai keluhan.


Tak heran jika rumah sakit besar ini akan jadi tempat tersibuk apalagi, seluruh tenaga medis yang bekerja memang sangat profesional.


Kiranya itu alasan yang tepat, kenapa Edwald menempatkan ibu Wesson di rumah sakit ini. Dalam beberapa waktu belakangan, kondisi wanita itu sudah lebih baik dari sebelumnya.


"Apa dia sudah sadar?" Tanya Wesson yang selalu menunggu di luar ruang rawat.


Dokter Tramp yang baru saja keluar dari dalam sana segera mengatakan, apa saja yang perlu di khawatirkan dan tidak?!


"Tuan!"


"Untuk sekarang komplikasi jantung dan kerusakan syaraf nyonya sudah berhasil di atasi. Tapi, saya tak menjamin ini bisa bertahan lama. Kondisi tubuhnya sudah terlalu parah sampai ada beberapa organ yang kurang berfungsi."


Penjelasan dokter Tramp sukses membuat Wesson mematung. Sorot mata sendunya menembus sepetak kaca di depan pintu yang memperlihatkan tubuh rentan ibunya.


Ntah apa yang dia lakukan padamu sampai kau begitu tak berdaya.


Amarah Wesson yang menggebu mendesir di setiap aliran darahnya. Kedua tangan terkepal dan wajah kelam yang dapat di mengerti oleh dokter Tramp.


"Tuan! Beberapa menit lagi nyonya akan sadar. Ada baiknya kau bertemu langsung dengannya!"


"Hm," Gumam Wesson hanya bisa mengangguk membiarkan dokter Tramp pergi. Karna racun yang sudah lama bersemayam di tubuh wanita itu hingga syaraf dan organ-organ penting di dalam sana tak lagi bertahan.


Lama Wesson membayang diantara padatnya pintu ruangan ini sampai terdengar suara seseorang yang sangat ia kenal.


"Kak!"


Glimer datang mendekati Wesson dengan wajah bingung tak bisa di jabarkan. Pria muda dengan tubuh lebih ramping itu terlihat ingin menanyakan sesuatu.


"Kak! Apa yang terjadi? Kenapa daddy di kurung di markas dan.. dan kenapa kau kesini?"


Cecer Glimer beralih memandang ke arah tujuan Wesson. Ia tak begitu peduli akan apa yang ada di dalam sana karna yang ia tahu sekarang hanya alasan dan penjelasan.


"Kak! Kau jangan diam saja. Steen sialan itu sudah memerintahkan anggota kita untuk mengurung daddy bahkan mereka mencambuknya! Dia memang benar-benar ba.."


"DIAAM!!" Geram Wesson menekan tatapannya pada Glimer. Sang adik hanya bisa terpaku tak mengerti.


"Kau diam."


"Kak! Apa karna orang asing kau membiarkan daddy terbunuh?"


"AKU BAHKAN INGIN MENGHABISINYA DENGAN TANGANKU SENDIRI, GLIMERR!!" Bentak Wesson tak bisa mengendalikan dirinya.


Ada rona menyesal, marah dan benci yang berkabut di mata coklat Wesson sampai rahangnya yang ditumbuhi jambang tipis ikut mengerat.


"Aku bahkan sangat ingin melenyapkannya. Dia tak pantas hidup diatas dunia ini!"


"Kak!" Bantah Glimer tak suka makian yang di lontarkan Wesson tapi, pria dewasa ini segera mencengkeram jaketnya.


"Dia!! Pria tua yang selama ini kita bela, kita agungkan dan kita terima semua perintahnya itu telah membuat ibu kita nyaris tiadaa!! Dia sudah mempermainkan hidup kita, Glimer!"


"Apa maksudmu?" Tanya Glimer melepas paksa cengkraman Wesson ke jaketnya.


Wajah Wesson bertambah kelap berjalan mendekati pintu ruang rawat ini dengan pandangan menerobos ke dalam.


"Kau lihat itu!"


Glimer memandang lekat ke arah kaca di depan Wesson. Ia diam sejenak menyipitkan matanya fomus hingga dahi Glimer yang tadi mengernyit seketika datar.


"M..mommy?"


Syoknya tak percaya. Glimer mencoba memperjelas pandangannya hingga ia benar-benar terkejut melihat sosok wanita kurus dengan wajah suram dan pucat sangat berbeda dari yang dulu tapi ia masih mengenal pemilik rambut kepirangan dengan tai lalat di dagu itu.


"K..kak! I..ini.. dia..dia sudah tiada!! Dia sudah tiadaa!!" Bantah Glimer menolak kenyataan ini.


"Mommy tak tiada."

__ADS_1


"L..lalu apa bedanya? Hidup atau tidak kita juga tak ada hubungan apapun dengannya. Sejak dia memilih untuk pergi dengan orang lain dan membuang kita, dia bukan lagi seorang ibu."


Glimer yang emosi segera ingin pergi tapi Wesson langsung menahan bahunya. Keduanya sama-sama menahan gejolak perasaan yang sama sekali tak bisa di jabarkan.


"Kita sudah di bohongi!"


"B..bohong? Bohong apa??" Tanya Glimer menatap marah pada Wesson seakan tak akan menerima ini.


"Mommy tak melakukan semua itu, Glimer! Semua kisah yang kita lihat dan dengar itu palsu dan hanya karangan dari Suma. Mommy.. mommy tak pernah membuang kita atau berselingkuh. Dia.."


"Kak! Kau jangan membual. Daddy tak akan seperti itu," Bantahnya masih tak percaya.


"Aku melihatnya Glimeer!! Dia mencoba membawa wanita itu pergi saat aku dan Steen datang kesini. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dan mendengar semuanya!! Aku melihatnya!!" Keras Wesson yang terpukul akan semua ini.


Dadanya sesak dan sangat sempit. Ada penyesalan yang teramat dalam yang menggerogoti batinnya.


Jika seandainya aku selama ini mencari kebenaran, pasti kau tak akan semenderita ini, mom! Kami tak akan mengutukmu setiap saat.


Jeritan batin Wesson yang sungguh tak bisa menahan kekecewaan. Glimer yang mendengar itu akhirnya tersandar ke dinding dingin ini menatap lurus kedepan seakan-akan semua yang terjadi bagai mimpi buruk yang selalu mengekor di kepalanya.


.......


Di tempat yang berbeda suasananya tak lah sama. Jika Wesson tengah meratapi penyesalannya maka sepasang pasutri yang semalam saling melepas rindu tengah beristirahat di bawah selimut berwarna merah muda manja itu.


Keduanya terkapar nyenyak. Shireen yang sudah tak bertenaga lagi hanya pasrah masuk ke dalam pelukan hangat lengan kekar Edwald yang menyandarkan dagunya ke puncak kepala sang istri.


Shireen sudah memakai gaun tidur tipisnya sedangkan Edwald masih setia tanpa atasan. Untung saja semalam Edwald masih sempat membersihkan tubuh keduanya sebelum akhirnya tidur.


"Shireen!"


Suara nenek Rue dari depan pintu seraya mengetuk ringan. Panggil pertama tak ada respon hingga di panggilan berikutnya barulah Edwald mulai bergerak.


Pria tampan dengan ciri khas rahang tegas dan mata hijau elang itu mulai membuka matanya. Wajah bantal yang seksi dan sangat jantannya ingin ia usap tapi saat mengangkat tangan ternyata jemari lentik Shireen menggenggam jarinya.


Sepertinya kau kehabisan tenaga.


Tapi, saat Edwald ingin beranjak dari tempat tidur, Shireen segera menggeliat karna kehilangan kehangatannya.


"Ehmm!"


Gumamnya dengan mata menyipit dan sayu. Rambut yang semalam dicempol sudah terurai berantakan membuatnya terlihat seperti singa betina.


Untuk saat ia dan Edwald saling pandang tak berkedip. Shireen yang masih mengumpulkan kesadarannya itu tersentak saat Edwald mendekat dan melayangkan satu kecupan singkat ke bibirnya.


"Pagi!"


Ucap Edwald berbaring memangku kepalanya dengan satu tangan masih memandang wajah Shireen yang seketika memerah.


"P..pagi..."


"Bagaimana rasanya?" Tanya Edwald tapi di pikiran Shireen itu bermakna liar seperti yang mereka lakukan semalam.


"Kauu.. kau kenapa selalu berpikiran kotor, haa??" Ketus Shireen menjauhkan tubuhnya dari Edwald yang seketika menyeringai.


"Bagaimana rasanya tidur di pelukan pria tampan seperti-ku? Apa itu kotor?" Tanya Edwald membelokan niat aslinya.


Shireen yang sadar jika ia yang terlalu sensitif langsung memalingkan wajah malunya.


"Bukan soal semalam?! Haiss.. Shireen, dia hanya bertanya soal yang lain. Kenapa sedari tadi otakmu selalu salah jalan,"


Batin Shireen merutuk seraya memukul-mukul kecil kepalanya. Melihat itu Edwald tersenyum tipis. Ia bangkit dari ranjang segera mengambil ponselnya di atas nakas.


"Nenekmu ada di depan!"


"Nenek?" Tanya Shireen dan diangguki Edwald yang seperti memeriksa sesuatu di ponselnya.


Shireen juga mulai merapikan pakaiannya. Ia menggulung rambutnya ke atas lalu memakai kardigan yang di gantung di dekat lemari.

__ADS_1


"Nenek!"


Sapa Shireen seraya membuka pintu kamar. Senyum hangatnya menyapa wanita tua itu tapi, nenek Rue hampir saja tersedak saat melihat leher dan dagu Shireen.


"S..Shireen," Gumamnya kikuk.


"Yah? Aku akan mandi. Nenek makan saja duluan di bawah," Jawab Shireen yang sepertinya belum tahu bekas gigitan dan stempel kepemilikan yang sekarang memenuhi lehernya.


Nenek Rue yang tahu itu hanya bisa mengangguk. Dia tersenyum kecil membelai pipi Shireen lembut.


"Jangan sampai kelelahan, sayang! Kau dan bayimu harus istirahat. Nenek akan antarkan makananmu ke kamar, hm?"


Shireen yang tak mengerti akan ucapan nenek Rue hanya mengangguk saja.


"Ingat. Usahakan kau jangan memimpin dulu. Biarkan dia yang bekerja keras."


"M..maksudnya?" Bingung Shireen tapi nenek Rue hanya tersenyum dan melangkah pergi kembali turun ke bawah.


Shireen diam sejenak tapi, ia segera sadar makna kalimat itu dan jangan-jangan..


"T..tidak.."


Gumam Shireen berbalik dan berjalan cepat ke arah kaca meja rias seraya mendorong Edwald yang tadi berdiri di depannya.


"Kau ingin mencium lantai?!" Gumam Edwald menatap heran Shireen yang seperti kesetanan memeriksa bagian tubuhnya di depan cermin.


Shireen tampak syok melihat kondisi lehernya sudah seperti sisik ikan dan belum lagi ada bekas gigitan kemerahan Edwald di dagunya.


"Apa-apaan ini, haa??" Protes Shireen menatap kesal Edwald yang hanya berwajah datar tapi tak menyembunyikan seringaian licik itu.


"Apanya?"


"Ini, ini dan ini!!"


Shireen menunjuk bagian-bagian di tubuhnya pada Edwald yang memandangnya puas.


"Kau mempermalukan aku di depan nenek! Ntah apa yang dia pikirkan. Aku ingin kau hilang-kan semua ini, TITIK!" Dongkol Shireen tak tenang.


Edwald diam sejenak. Sudut bibirnya tertarik samar tak tampak oleh Shireen yang tengah menggerutu seraya melihat bagian dadanya di cermin.


"Bagaimana cara menghilangkannya? Ini terlalu banyak."


"Aku tahu," Jawab Edwald berdiri di belakang Shireen yang berharap.


"Bagaimana? Aku tak bisa keluar jika seperti ini."


"Kau ingin keluar?" Tanya Edwald dan Shireen mengangguk.


"Jangan harap," Batin Edwald menyahut licik. Ia segera menyesap kuat bagian leher Shireen yang terpekik saat Edwald melakukan hal ganas untuk kedua kalinya.


"EDWAAALLD!!!"


Teriak Shireen saat bekas hisapan ini lebih kontras bahkan lebar. Ia ingin memukul Edwald tapi pria itu sudah masuk ke kamar mandi dengan pintu tertutup rapat.


Dengan emosi yang membara Shireen merutuki Edwald yang justru memperparah keadaanya.


"Aku ingin menjenguk Fanze tapi ini sangat memalukan. Bahkan daguku.."


Shireen frustasi sendiri padahal Edwald bersiul santai di dalam kamar mandi sana. Ia sesekali tersenyum kecil membayangkan wajah marah Shireen padanya dan hari-hari seperti ini sangat menyenangkan.


"Aku harap ini tak akan berakhir," Gumam Edwald membasuh wajahnya dengan air seraya menikmati omelan di pagi hari dari istri tercinta. Apa yang lebih indah dari ini?!


.....


.


Vote and like sayang..

__ADS_1


Jangan di kira semuanya dah usai😏🤣


__ADS_2