Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Tak pernah mengerti


__ADS_3

Kekacauan yang terjadi di kasino tadi membawa Edwald bertemu dengan salah satu pemimpin disini. Pertikaian yang tadi berlangsung anarkis langsung terhenti spontan karna kedatangan seorang pria paruh baya yang sudah berhadapan dengan Edwald secara jantan dan berkharisma.


"Kau siapa?"


Tanya pria itu penasaran wajah pemilik manik hijau elang ini. Melihat dari keadaan kasino-Nya, pria ini bukanlah lawan yang setimpal.


Berbeda dengan dirinya yang tertarik untuk berkenalan, Edwald justru tak sudi untuk menambah relasi manapun.


Edwald mengiring Shireen untuk pergi tapi langkah mereka lagi-lagi di halangi anak buah pria ini. Padahal, keadaan para penyerang tadi sudah tak bisa di katakan baik karna terguling diantara hamparan beling botol minuman yang pecah dan dihujam peluru.


"Siapa namamu? Dan kenapa kau kesini?"


"Kami hanya datang bermain," Jawab Cooper mengalihkan perhatian. Pria paruh baya ini diam tapi ia sangat merasakan hawa Edwald bukanlah dari manusia awam yang tanpa dosa. Ia selama ini hidup bertemu banyak penjahat dan pendosa dan Edwald salah satunya.


"Aku ingin tahu, darimana tuan ini berasal! Aku tertarik dengan keahlian menyerang-mu, tuan! Apa kau mau bergabung dengan.."


"Steen!"


Deeg..


Jawaban tegas Edwald membuat mereka syok bahkan terkejut. Para bawahan yang tadi menghadang langkah Edwald perlahan mundur dengan wajah yang pucat pasih termasuk pria paruh baya itu.


Shireen jadi bingung, apa Edwald begitu berpengaruh dengan nama Steen di dunia bawah?!


"K..kau.. Kau ketua GYUF?" Gugupnya tak seberani tadi.


Di negara ini hanya ada dua organisasi yang selalu di hindari. META dan GYUF, keduanya adalah musuh bebuyutan tapi tak pernah ada yang berani menyenggol salah satunya.


Yang paling ditakuti itu GYUF. Mereka di kenal sebagai PEMBUNUH BERDARAH DINGIN dan nama STEEN sudah tak lagi asing bagi mereka.


"Perbaiki cara menyambut-mu."


"T..tuan! Aku tak tahu kau akan datang kesini. Jika aku tahu pasti tak akan seperti ini," Sesalnya terlihat khawatir jika GYUF mengambil alih kota ini karna itu mudah bagi mereka.


Edwald hanya mengacuhkannya. Ia pergi tanpa melepas genggamannya dari tangan Shireen yang tadi sudah melakukan pertunjukan hebat untuknya.


Mereka keluar melewati nyonya Colins dan pemuda lincah tadi. Terlihat jelas nyonya Colins tertarik pada Edwald tanpa tahu siapa sosok di balik masker hitam itu.


"Mom! Mereka sangat mengerikan," Bisik Reonal pria muda polos itu.


"Dia sepertinya bisa membantu kita."


"Maksud, mommy?"


Nyonya Colins tak menjawab. Ia bergegas pergi diikuti Reonal yang tergesa-gesa membuntuti langkah nyonya Colins.


Setibanya diluar, nyonya Colins langsung menyapa mereka yang baru ingin masuk ke mobil tapi langsung terhenti.


"Tuan, nona!"


Ia mendekat dengan senyum ramah dan hangat. Shireen menatap ambigu nyonya Colins yang seperti tak mengenal dirinya.


"Tuan, nona! Apa bisa kita bicara sebentar?"


Tanya nyonya Colins agak segan. Shireen saling pandang dengan Edwald yang hanya setia dengan manik datarnya.


Alhasil Cooper mengambil alih karna tahu suasana ini akan membuat Shireen tak nyaman.


"Apa yang ingin kau katakan? Nyonya!"


"Begini. Aku lihat kemampuan tuan dan nona sangat luar biasa. Aku bersedia membayar berapapun asal kalian mau mencari seseorang untukku!"


Jawab nyonya Colins membuat Shireen berpikir. Bagaimana keadaan Freya sekarang?! Kenapa nyonya Colins bisa ada disini dan siapa pria muda ini?!


"Nyonya! Kami tak punya banyak waktu," Santai Cooper tapi nyonya Colins sudah tak bisa menunggu dan bersabar lagi.


"Tuan! Aku berjanji akan melakukan apapun, kau hanya perlu mencari seorang wanita dan membunuhnya. Itu seharusnya mudah bagi kalian, bukan?"

__ADS_1


"Wanita?" Tanya Cooper heran dan nyonya Colins mengangguk.


"Yah, dia sudah lama menghilang dan akhir-akhir ini ada berita yang membahas soal dia. Aku yakin ini akan mudah bagi kalian," Jawab nyonya Colins sangat berharap.


Shireen diam. Dadanya sudah sesak menduga, siapa yang sedang di cari nyonya Colins?! Bahkan, tangannya berkeringat dingin bisa Edwald rasakan jelas.


"Nyonya! Bisa kau tunjukan fotonya?"


"Baik, aku ada fotonya."


Nyonya Colins buru-buru membuka ponselnya. Diam-diam Reonal melihat hingga ia terpesona dengan pose cantik nan lugu ini.


"Mom, anak tirimu ini sangat cantik!"


"Yah, tapi dia sudah tak berguna," Gumam nyonya Colins memperlihatkan foto itu pada Cooper yang seketika tersentak.


Ini foto Shireen yang tengah berdiri memeggang buket bunga dengan senyum lebar ke arah kamera. Sepertinya, itu foto perayaan suatu acara yang tersebar di internet.


"Ternyata dia ingin melenyapkan, Shireen!" Batin Cooper tak menunjukan foto itu pada Shireen tapi Edwald tahu maksudnya.


"Ini wanita itu. Kau cukup bunuh dia dan buat seakan-akan dia kecelakaan. Apa bisa?"


Dengan menahan marah Cooper mengangguk. Ia tahu Edwald pasti akan mengambil langkah ini untuk tahu, apa tujuan nyonya Colins yang sebenarnya?!


"Baik. Tapi, kami tak pernah melakukan sesuatu yang tak jelas. Kau harus memberitahu, untuk apa kau melakukan ini dan kenapa?"


Nyonya Colins seperti berat untuk mengatakannya. Lama ia diam membuat Cooper belagak pergi hingga nyonya Colins terdesak panik.


"Baik-baik, aku akan katakan!"


"Cepatlah. Waktu kami tak banyak," Tegas Cooper angkuh.


"Dia adalah satu-satunya pewaris dari keluarga ayahnya. Yah, walau dalam segi finansial ayahnya dia tak punya harta lagi tapi, keluarga besar Harmon yang ada di kota lain pasti akan mewariskan kekayaan mereka pada cucu tunggalnya!"


Duarr....


"Jika dia tiada, aku akan memalsukan data kematian dan melenyapkan semua keluarganya. Dengan begitu tak ada lagi halangan bagiku."


Liciknya sudah membayangkan itu dengan senyuman bahagia. Mata Shireen mengigil antara marah, kecewa, sakit bahkan tak bisa dikatakan lagi sampai tangannya mencengkram kuat tangan Edwald yang membiarkan Shireen menahan amarahnya.


"Jika kali ini berhasil, maka aku tak akan segan bekerja sama dengan kalian, tuan!"


"Baik," Sanggup Cooper tapi kedua tangannya sudah mengepal begitu juga Edwald yang berusaha meredam api amarahnya karna sekarang Shireen pasti sangat terpukul.


"Terimakasih, tuan! Aku tunggu kabar baik dari kalian. Dan yah, aku akan kesini dalam beberapa hari lagi. Kita bisa bertemu kembali."


Cooper hanya diam kembali masuk ke mobil begitu juga Edwald yang membawa Shireen bersamanya. Cooper melajukan mobil itu stabil kembali ke jalan pertama yang mereka lewati meninggalkan nyonya Colins dan Reonal yang tampak berbincang senang di belakang sana.


Mata Shireen yang mulai memanas terus menatap kaca spion luar dimana masih tampak jelas nyonya Colins membicarakan soal kematiannya.


Kenapa orang-orang seperti kalian harus datang dalam kehidupanku?!


Batin Shireen sungguh hancur. Yang ia harapkan hanya kakek dan neneknya, itupun mereka sudah tak tahu kabar dan berusia senja. Sungguh, Shireen sangat takut kehilangan dua mahluk itu.


Edwald diam tapi ia tahu apa yang dipikirkan Shireen. Hanya saja, masker ini menghalangi air matanya untuk jatuh.


"Steen! Apa kau lapar?" Tanya Cooper mencoba mengalihkan suasana tak enak ini. Lebih baik ia mendengar umpatan dan emosi Shireen dari pada kebisuan wanita ini.


"Aku sangat lapar. Haiss.. Kalian berdua memang perhitungan. Hari ini aku yang bayar," Imbuh Cooper bicara heboh sendiri.


Tapi, Shireen masih diam. Ia tak menyahut apapun bahkan ia terus memandang keluar jendela tapi pikirannya tak disini.


Melihat hal itu Cooper saling pandang dengan Edwald yang tahu ini tak akan berhasil.


"Pergi ke penginapan!"


"Steen!" Gumam Cooper menekan pandangannya seakan-akan ia menyiratkan untuk menghibur Shireen tapi Edwald hanya diam tak meladeninya.

__ADS_1


Cih, yang satu batu dan yang satu lagi seperti pusaran air yang tenang tapi menenggelamkan.


Pikir Cooper menambah kecepatan mobilnya. Ia menyetel musik yang sedikit mengisi lengangnya suasana menepis suara mobil yang tadi mendominasi.


Edwald-pun hanya diam. Shireen memandang ke kiri maka ia akan melihat ke kanan tapi tangannya tak melepas genggaman sama sekali. Ia acuh tapi semua itu memang gayanya.


"Kau memang pria tak peka. Sudah tahu istrimu tengah gundah tapi kau malah tak mau menghibur. Jika itu aku, pasti Shireen akan ku bawa bermain ke taman atau bersepeda. Haiss.."


Batin Cooper membayangkan momen romantis itu tapi sayangnya saat melihat wajah datar Edwald tengah melepas masker itu ia kembali kesal.


Setelah beberapa lama mereka sampai. Suasana kediaman masih saja sepi tapi sangat tenang dengan para anggota yang tak ada di sekitar sini.


"Sudah sampai. Akhirnya penderitaan ku berakhir," Gumam Cooper memarkirkan mobil di samping penginapan lalu keluar diikuti Shireen dan Edwald yang masih terikat borgol.


"Lepaskan ini!" Pinta Shireen datar dengan suara parau.


Namun, siapa sangka Shireen tersentak saat Edwald menariknya menuju pantai yang ada di depan.


"Lepaskan borgol ini!!!"


Edwald hanya diam terus menyeret Shireen kesana. Cooper memandangi hal itu tapi ia segera ingat dengan senyum yang geli.


"Haaiss.. Dia bahkan lebih romantis dari perkiraan ku," Gumam Cooper terbayang momen Edwald mencambuknya di pantai dulu hanya karna melihat dan memuji Shireen.


"Apa yang terjadi?"


Wesson yang tiba-tiba keluar dari penginapan mendekati Cooper tapi matanya menyeberang ke arah bibir pantai.


"Apa ada masalah?"


Cooper diam. Ia ragu-ragu untuk menjawab dan Wesson tahu alasannya.


"Aku sudah tahu semuanya. Mereka suami istri!"


"A...APA??" Pekik Cooper menatap wajah tenang Wesson yang santai melampaui galaksi bima sakti ini.


"Apa ada masalah?"


"A.. Jika kau sudah tahu, baguslah! Tapi, aku tak bisa membicarakan ini karna itu privasi Edwald dan Shireen," Jawab Cooper lalu pergi.


Wesson kesal tapi ia paham karna Cooper memang sangat setia pada Edwald yang sering menghajarnya. Alhasil Wesson hanya bisa memandangi sepasang pasutri labil itu dari sini.


Di tepi pantai sana Edwald diam. Ia menatap lurus kedepan dengan satu tangan yang tak diborgol masuk ke saku celananya memandang jauh ke depan.


"Kau kenapa?" Tanya Shireen tapi Edwald tak menjawab membuat Shireen segera melepas kasar maskernya.


"Kau kenapa??"


Lama-kelamaan Shireen lelah dan berhenti bertanya. Ia berdiri di samping Edwald ikut memandang ke arah hamparan laut bebas ini sampai dadanya sedikit jadi lebih tenang dan bahunya perlahan ringan.


Luasnya lautan biru ini seperti mencoba menahan beban di pundaknya dan memperluas pikiran yang tadi sudah buntu. Angin berhembus menepis kegelisahan dan rasa cemas yang tadi mendominasi hatinya. Apa ini kekuatan alam atau cinta?!


Nyaman dengan suasana ini, Shireen memejamkan matanya untuk membebaskan rasa sesak. Edwald memanfaatkan hal itu untuk memandang dalam diam wajah cantik Shireen.


Kau pernah mengatakan padaku, jika kau sangat menyukai pantai karna mereka seperti teman yang bisa menampung berbagai masalah apapun. Sekarang, aku paham kenapa kau selalu punya pilihan?!


Batin Edwald selalu berlawanan dengan prinsip Shireen tapi ia selalu diajarkan oleh wanita ini, bagaimana cara tegar dan berdiri walau kedua kakinya patah.


"Terimakasih," Gumam Shireen membuka matanya dan Edwald segera menutup mata seakan-akan tak mendengar kalimat itu.


Shireen melirik Edwald yang selalu membuatnya bimbang. Apa kau sedang bersandiwara?! Aku selalu sulit mencari siapa dirimu yang sebenarnya.


Apa kau Edwald? Steen? Atau mungkin penjahat-penjahat lain yang memakai satu tubuh. Aku sungguh, tak bisa memahami-mu.


.....


Vote and like sayang..

__ADS_1


__ADS_2