
Pagi ini tiba-tiba saja Cooper datang setelah beberapa bulan lalu jarang mengunjungi mereka. Kedatangannya kali ini tampak berbeda dari sebelumnya dimana, jelas terlihat jika Cooper tergesa-gesa menemui Edwald yang selalu ada di samping bumil cantik itu.
Bahkan, Shireen yang duduk di ruang tamu-pun cukup heran saat Cooper seperti banyak melamun.
"Kau kenapa?" Tanya Shireen menatap heran Cooper yang hanya memberi senyum santai.
"Tidak ada. Hanya heran saja, kenapa kau belum juga melahirkan!" Jawab konyol Cooper yang membuat Shireen jengah.
"Baru 7 bulan. Kau yang benar saja."
"Apa tak bisa di percepat?" Kelakar Cooper hanya mendapat wajah malas Shireen yang kembali memakan camilan ringan di atas meja.
Edwald diam. Ia tahu Cooper pasti membawa informasi baru untuknya dan kali ini terlihat cukup sulit di hadapi.
"Aku keluar dulu. Kau makan saja disini!"
"Kemana?" Tanya Shireen menahan lengan Edwald saat ingin bangkit dari duduknya.
"Kedepan. Kau makan disini dulu!"
"Tapi.."
"Hanya sebentar," Sela Edwald menurunkan tangan Shireen hingga dengan pasrah wanita cantik itu memandangi Edwald yang melangkah ke depan kediaman bersama Cooper yang mengikutinya.
Didepan sana Cooper berdiri di samping Edwald yang memandangi jalan di depan kediaman. Ada beberapa warga yang lewat menyapa Edwald tapi, seperti biasa Edwald mengangguk tanpa senyum ramahnya. Ini sudah kemajuan yang paling besar terjadi.
"Katakan!"
"Kau harus segera pergi!" Ujar Cooper serius. Tak biasanya ia begitu tampak tegas begini dan sepertinya keadaan sudah mendesak.
"Kau harus segera pergi dari sini. Mereka sudah datang menuju desa karna Johaness pasti mengatakan semua informasi yang dia tahu tentangmu," Imbuhnya resah.
Edwald diam sejenak. Tak ada raut terkejut, panik atau hal apapun di wajahnya selain datar.
"Steen! Jika kau sampai tertangkap hanya ada dua kemungkinan. Hukuman mati atau penjara seumur hidup. Tapi, kemungkinan pertamalah yang pasti untukmu."
Cooper berusaha terus mendesak Edwald pergi dari sini. Jika Edwald bertindak pasti mereka tak akan pernah berhasil menangkapnya seperti yang sudah terjadi sebelumnya.
"Steen! Aku mohon. Kau punya anak dan istri, mereka membutuhkanmu. Pergilah! Aku.. Aku akan menyerahkan diri untuk mengelabui mereka. Kau.."
"Aku tak akan pergi kemanapun," Sela Edwald dingin membuat Cooper terhenyak. Tatapan yang sulit di percaya itu bisa Edwald rasakan.
"K..kau.."
"Aku akan menghadapi ini. Kau pergilah sejauh mungkin!" Tegas Edwald menatap datar Cooper yang tak setuju.
"Kau ingin mati sia-sia, ha? Kau punya Shireen dan sebentar lagi anakmu akan lahir. Pikirkan itu!"
__ADS_1
"Kau pikir jika aku terus lari ini bisa selesai?" Desis Edwald memandang tajam Cooper yang terdiam membisu.
"Anakku akan lahir. Dia akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Jika sekarang aku tak mengakhirinya apa kau menjamin hal ini tak akan terjadi di masa depan?!"
Cooper mematung. Ia tak bisa berkata-kata karna apa yang di katakan Edwald adalah sebuah kebenaran. Sekuat apapun mereka berhasil lolos jika sudah jadi buronan-pun tak akan bisa bernafas lagi.
"Mudah untukku menghabisi mereka tapi, bagaimana dengan istri dan anakku?! Keadaan tak sama seperti belasan tahun yang lalu," Imbuh Edwald menekan setiap intonasi katanya.
Terlihat jelas Edwald-pun tengah dilema dalam mengambil keputusan ini tapi, demi masa depan Shireen dan anaknya, Edwald mampu mengorbankan nyawa bahkan hidupnya sendiri.
Tapi, Cooper juga punya pertimbangan. Edwald adalah rekan terbaik bahkan, terlepas dari apapun yang pria ini lakukan padanya tetap saja Edwald jadi panutan terbaik bagi Cooper.
"Steen! Begini saja. Aku akan menyerahkan diri atas namamu. Dan kau bina hidupmu bersama Shireen!"
Mendengar jawaban tegas Cooper, tentu saja Edwald geram bukan main. Ia raih kerah jaket Cooper kasar hingga tubuh pria itu mendongak padanya.
"Jangan membuatku ingin membunuhmu!"
"Lalu apa? Aku tak punya siapapun di dunia ini. Aku mati-pun tak akan ada yang menangisi, Steen! Tapi tidak denganmu!!" Keras Cooper mendorong kasar bahu Edwald yang seketika melepas cengkramannya.
Ia menatap datar Cooper tapi jauh di dalam manik hijau elang ini, Edwald lebih peduli pada hidup Cooper. Hanya saja, Edwald tak pandai menunjukan kepeduliannya.
"Pergilah!" Titah Edwald membuang pandangan ke arah jalan sepi di depannya.
"Steen!"
"Baik. Kau menyuruhku membuat jalan hidup, bukan?!" Desis Cooper tersenyum culas.
Saat ia ingin melangkah pergi dari sini tiba-tiba saja ponsel Cooper berdering. Ada nama Marccus yang merupakan anggota mereka di pejabat kenegaraan.
"Ada apa?" Tanya Cooper mengangkat sambungan.
"Cepat pergi dari negara ini!! Lady dan rekannya sudah di tangkap termasuk tuan Glimer!"
Degg..
Cooper seketika terkejut. Jantungnya mulai berdebar bukan karna takut dia akan tersergab tapi justru Edwald-lah yang menjadi poin utama.
"Mereka mencari tuan Steen! Waktunya tak banyak. Aku juga sudah di penerbangan sekarang!"
"Bagaimana dengan tuan Wesson?" Tanya Cooper cemas jika semuanya sudah di ringkus.
"Tuan Wesson sempat melarikan diri. Mereka tengah mengejarnya dan jangan sampai kau dan tuan Steen juga tertangkap. Aku pergi dulu!"
Marccus mematikan sambungan. Cooper ingin kembali menemui Edwald tapi jelas pria itu akan teguh dengan keputusannya.
"Hanya satu jalan lagi," Gumam Cooper memantapkan keputusan dan segera pergi. Ntah apa yang akan dia lakukan, tak seorangpun bisa mencegahnya termasuk Edwald.
__ADS_1
Cooper masuk ke mobil yang terparkir di tepi jalan di depan kediaman lalu memacu benda itu cepat tapi stabil.
Seraya tangan memeggang kemudi, Cooper mengisi butir peluru di pistolnya secara penuh lalu menghubungi mata-mata mereka yang sudah di kirim untuk mengawasi pergerakan aparat negara itu.
"Mereka sudah disini?"
"Di depan jalan masuk desa Casthillo sudah di blokir. Mereka mengepung di seluruh penjuru desa!"
Jawab anggota di seberang sana terdengar juga ada di balik semak-semak. Cooper diam sejenak, ia memacu mobilnya ke arah jalur utama desa dengan niat tersembunyi.
"Apa yang harus di lakukan?! Mereka akan segera masuk ke dalam desa."
"Kalian pergilah. Pergi sejauh mungkin di jalur lereng gunung!"
Titah Cooper mematikan sambungan. Ia mengambil nafas dalam dengan tatapan yang optimis.
"Tak apa Cooper. Mati dalam keadaan lajang adalah anugrahmu," Gumam Cooper santai dan menertawakan diri sendiri.
Ia mengutuk Edwald yang sialnya begitu keras kepala. Pria arogan dan berperasaan yang sayangnya ia juga sulit kehilangan sosok itu.
Cooper memacu mobilnya cepat dan mengagetkan beberapa warga yang tengah beraktifitas di tepi jalan. Ia sengaja memancing keributan termasuk menabrak beberapa keranjang buah yang semula rapi di tepi jalan hingga semua warga di sana berteriak memakinya.
"PERHATIKAN CARA MENGEMUDIMU!!! PRIA MABUUK!!"
Saat sudah sampai ke jalur keluar desa, Cooper menyipitkan matanya melihat ada ranjau kawat yang sengaja letakan melintang di permukaan jalan dengan beberapa anggota kepolisian berdiri tak jauh dari sana.
"Kau berhentii!!"
Seru beberapa aparat kepolisian yang terkejut saat mobil yang di kendarai Cooper melaju tanpa batas. Cooper tersenyum jahat melihat budak-budak negara ini ingin menghentikannya dengan berdiri di depan sana.
"Cih, dasar penjilat," Geram Cooper dengan cepat menabrak salah satunya hingga semua orang disana berteriak. Cooper memutar mobilnya berhantaman dengan tubuh-tubuh aparat kepolisian yang tadi sengaja ia kumpulkan dan menyapu semuanya.
"Mungkin dia adalah Steen! Dia ingin pergi dari desa ini!" Panik dua aparat yang tadi melihat dari jauh langsung menghubungi anggota lain yang tadi di perintahkan untuk mengepung desa ini di segala penjuru.
"AKU ADALAH STEEN!! BERANI KALIAN MENGANGGUKU AKAN KU RATAKAN TUBUH KALIAAN!!" Teriak Cooper berkendara secara menggila bahkan seperti kesetanan memancing kedatangan aparat kepolisian dan tentara negara ini hingga ia di kepung habis-habisan.
Tembakan demi tembakan di lancarkan padanya. Cooper hanya santai terus bermain-main disini sampai ban mobilnya pecah karna tembakan yang beruntun.
Di saat semuanya sudah banyak berkumpul disini. Cooper menyeringai.
"Ayo mati bersama!" Gumam Cooper melesat cepat menabrak semua orang yang ada di sekitar sini. Ia menggila sampai semua kaca mobil pecah dan peluru itu leluasa melesat ke arahnya.
"Lemparkan ranjau itu!!"
Teriak salah satunya berlarian tapi itulah yang Cooper cari. Ia sengaja menabrakan mobilnya ke ranjau kawat besi itu hingga ledakan tak bisa di hindarkan melukai orang-orang yang ada di sekitarnya.
...
__ADS_1
Vote and Like Sayang