Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Hancur dalam rencana sendiri


__ADS_3

Wesson masih diam dengan pikirannya sendiri kala mereka pergi ke kota Milan. Jarak antara Verona dan Milan memang cukup jauh tapi, karna fasilitas dan jalan pintas yang memadai akhirnya mereka bisa sampai ke kota ini.


Wesson mengamati setiap jalan yang mereka lewati tanpa ada dialog dengan Edwald yang juga tengah melamun di sampingnya.


"Sudah sampai!"


Cooper menengahi suasana. Ia memasukan mobil ini ke dalam gerbang rumah sakit besar yang memiliki gedung dua bangunan horizontal.


"Tutupi wajahmu!"


Edwald melempar masker ke paha Wesson yang langsung memakainya. Mereka turun dari mobil memastikan masker di wajah tampan masing-masinh terpasang sempurna.


Keadaan lobby lumayan sepi. Edwald diam sejenak di samping mobil seakan memantau situasi yang sudah ia atur sebelumnya.


Sedetik kemudian, ada seorang staf kebersihan berseragam rumah sakit yang mendekat membawa peralatan menyapu tapi wajahnya juga memakai masker.


"Tuan!"


"Masih aman?" Tanya Edwald tapi matanya tertuju ke area cctv dan dia pihak keamanan yang sedari tadi lalu lalang di depan lobby.


"Untuk sekarang masih dalam kendali, tuan!"


Jawaban pria itu langsung menggerakan langkah mereka untuk keluar dari lobby dan masuk ke dalam rumah sakit


Situasi seperti rumah sakit jiwa pada umumnya. Para Suster yang membawa beberapa pasien berjalan-jalan di sekitar rumah sakit dan ada banyak dokter yang bekerja membesuk pasien-pasien yang tampak kambuh.


"Kau ingin membawaku kemana?"


Tanya Wesson mengikuti Edwald untuk menyusuri koridor rumah sakit. Edwald diam tak menjawab pertanyaannya barusan bahkan tak menggubris Wesson.


Alhasil Wesson diam hanya mengikuti Edwald bersama Cooper. Ada isyarat yang tak bisa Wesson mengerti kala Cooper mengibaskan tangannya ke arah beberapa perawat laki- laki yang tadi ada di depan sana.


"Ruangan 21! Agak terpelosok!" Bisik Cooper pada Edwald yang hanya diam. Mereka pergi ke ruangan yang di infokan para perawat laki-laki tadi.


Dipertengahan perjalanan Edwald melirik ke arah lorong di sampingnya. Tatapan yang misterius dan tak bisa di mengerti siapapun.


"Cooper!"


Panggil Edwald dan keduanya saling lirik. Sedetik kemudian Cooper mengangguk membuat Wesson heran.


Edwald membiarkan Cooper pergi sedangkan mereka berdua sudah ada di depan ruangan 21. Tempat ini berada di paling belakang rumah sakit dan jauh dari pasien lain.


Tapi, yang membuat Wesson bingung adalah, kenapa disini banyak penjaga tapi tak ada yang mendekat mencegat mereka.


"Ibumu ada di dalam!"


Mendengar itu Wesson langsung membuka pintu itu dengan kasar. Suara hentakan benda ini terbentur kasar ke dinding hingga suaranya mengejutkan seseorang di dalam sana.


Mata Wesson terpaku melihat ruangan kecil dingin ini. Tak ada jendela di sudut manapun bahkan langit-langitnya begitu rendah lebih sederhana dari gudang.


Namun, pandangannya tertuju pada satu ranjang yang menampung tubuh seorang wanita. Sosok itu memunggungi mereka dengan rambut terurai panjang dan tangan keriputnya mengguncang pinggir kasur secara pelan menambah kesan mistis.


Jantung Wesson sudah tak bisa di kendalikan. Antara gugup bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini dan marah akan posisi wanita itu di dalam hidupnya.


"Kau masih hidup?" Tanya Wesson mendekati ranjang. Edwald hanya diam di depan pintu sama sekali tak bersuara.


"Kau masih hidup? Apa ini benar kau istri Suma?"


Tanya Wesson lagi sudah berdiri di dekat ranjang. Tangannya yang semula terkepal seketika mengulur untuk memeggang bahu wanita ini dan..


"PERGI DARI SINII!!!".


Teriak sosok itu berbalik cepat ingin menerkam Wesson yang seketika terkejut langsung mundur. Matanya terpaku melihat sosok wanita tua yang bukanlah menyerupai ibunya.


"Kau.."


"PERGII!!! KENAPA KESINI?"


Tanya wanita itu tertawa girang dengan mulut lebar menampakan gusinya.


Wesson marah. Ia berbalik menatap Edwald yang masih berdiri di depan pintu sana dengan pandangan datar dan tajam mengarah pada wanita itu.


"Kau membohongiku??" Geram Wesson tapi segera tersentak saat orang-orang yang tadi ada di luar menjaga tempat ini, seketika menyerang mereka.

__ADS_1


Edwald tampak santai menerjang masing-masing tubuh yang ingin menusuknya dengan pisau tajam bahkan tak khayal Edwald meninju dada para pria ini.


"Steen!"


Wesson mendekat saat lima orang pria berbadan kekar tadi sudah dilibas oleh Edwald yang tak berubah dari posisinya.


"Kau kenal mereka?" Tanya Edwald menginjak lengan salah satu pria yang sudah tak bernyawa di bawah kakinya.


"Mereka siapa? Ku pikir ini anggotamu."


"Ini bukan bawahanku!" Jawab Edwald menginjak pisau di dekat kepala pria ini lalu menariknya dengan kaki hingga benda itu sudah terlempar ke tanganya.


"Lalu siapa? Aku belum mengerti apa yang ingin kau katakan."


"Kau yakin tak kenal mereka?"


Tekan Edwald memperjelas makna ucapannya. Alhasil Wesson langsung berjongkok di dekat mayat ini melihat bekas tinjuan Edwald tadi sudah meremukkan rahangnya tapi, bukan itu yang dicari Wesson.


Ia terkejut saat melihat pria ini adalah penjaga gerbang di markas utama.


"Ini.."


"Dia anggota GYUF!" Tegas Edwald yang melihat ke arah wanita tua tadi yang berbicara sendirian di dalam sana.


"Kenapa? Maksudnya ini..."


"Ikuti aku!" Sela Edwald berjalan kembali pergi ke area lorong yang tadi sempat ia lirik. Wesson bergegas pergi dengan perasaan campur aduk.


Sementara di samping rumah sakit ini, ada 5 pria berpakaian hitam tengah mendorong kursi roda seorang wanita paruh baya yang telah di tutupi dengan jaket.


Mereka bergegas pergi ke area mobil yang sudah terparkir di tempat yang termasuk jauh dari keramaian rumah sakit. Mereka benar-benar terburu-buru mencapai pintu mobil yang sudah di tunggu oleh dua orang pria lain.


"Cepat! Sebelum mereka menyadari keberadaan kita, maka harus membawanya pergi!"


"Aku mengerti."


Mereka saling bahu-membahu memasukan wanita ini ke dalam mobil dalam keadaan tak sadarkan diri. Wajahnya tak terlihat karna masih di tutupi jaket.


"Kalian sudah siap?"


"Bawa dia ke tempat yang sudah ku siapkan! Aku akan disini menjalankan rencana ketiga," Titah Suma pada anggotanya yang mengangguk segera memasukan kursi roda itu ke dalam mobil sementara Suma melirik-kiri kanan bak seorang pencuri.


Sedetik kemudian ia menyeringai. Nyatanya Edwald tak menyadari jika tadi ia mendengar pembicaraan mereka di meja makan dan masih sempat untuk mendahului pria itu.


"Nyatanya kau tak secerdas itu!"


"Siapa yang tak secerdas itu?"


Degg..


Suma menoleh ke belakang hingga terlihat Cooper yang datang dengan senyum liciknya tak lagi bermasker. Suma benar-benar syok karna tak mungkin Edwald bisa tahu rencananya dengan cepat.


"K..KAU.."


"Jangan terlalu bersemangat. Kau lupa jika berhadapan dengan siapa, hm?" Desis Cooper tapi Suma segera memerintahkan anggotanya di mobil untuk menyerang.


"Bunuh dia sebelum yang lain datang!!"


Teriak Suma benar-benar sudah gelisah dan tak lagi merasa aman. Ia masuk ke mobil ini mendorong para anggotanya tadi keluar untuk melawan Cooper yang seketika bersedekap dada santai.


"Habisi diaa!! Kalian.. Apa yang kalian tunggu??!!" Teriak Suma benar-benar emosi tapi sayangnya anggota yang tadi dia dorong keluar tak bergeming.


Suma melihat ke sekelilingnya dan yang membuat matanya melebar adalah, seluruh sudut tempat ini sudah di kepung anggota Edwald yang sudah mengarahkan pistol ke mobilnya.


Wajah Suma benar-benar pucat memeggang erat pintu mobil yang tadi ingin ia tutup.


"K..kalian.."


"Maaf, tuan! Tak semua anggota GYUF mau menuruti pengkhianat sepertimu," Desis salah satu pria yang ia dorong tadi seraya berjalan menyingkir hingga mata Suma semakin tak bisa berkutik saat Wesson dan Edwald sudah berdiri di samping Cooper memandang tajam ke arahnya tak lagi memakai masker.


"K..kau.."


Edwald tersenyum kecut. Kedua tangannya masuk kedalam saku celananya menatap prihatin Suma yang masuk dalam rencananya sendiri.

__ADS_1


"K..kau.. kau kenapa bisa.. ini.."


"Kau tak sadar jika sedari tadi kau masuk dalam rencana Steen, hm?" Desis Cooper semakin membuat Suma mati kuta di hadapan Wesson yang sampai mematung tak menyangka.


"Steen sengaja membiarkan kau tahu jika kami akan kesini. kau akan segera memindahkan istrimu ke tempat lain dan kami akan mudah mencegat mu tepat sasaran."


"Steen!!" Geram Suma berapi-api memandang Edwald yang hanya diam. Ia melirik Wesson dari ekor matanya dan pria ini sudah melangkah cepat mendekati Suma.


"APA YANG SEBENARNYA KAU LAKUKAN, HAA?? DIMANA MOMMYKUU??"


Teriak Wesson emosi dan sangat-sangat tak bisa di kendalikan. Suma yang terbata-bata menjawab terus berusaha mencari aman dan membela diri.


"N..nak! Aku.. ini hanya rencananya. Dia.. Dia sangat licik dan.."


"Dimana wanita itu?" Tanya Wesson beralih mencengkram kerah mantel Suma yang ia tarik keluar berhadapan langsung dengannya.


Suma menatap ke dalam mobil dengan panik dan ketakutan. Sontak Wesson sadar itu segera mendorongnya kasar Suma yang jatuh ke bawah dengan kasar.


"I..ini.."


"Tenang saja tuan. Nyonya sudah kami amankan ke tempat lain!" Ucap anggota di belakang Wesson yang seketika langsung menatap Edwald.


"Dia sudah di tangani. Kau bisa langsung ke rumah sakit!"


Tak mau menunggu lagi. Wesson segera berlari pergi setelah mendengar ucapan Edwald yang memandangi kepergiannya dengan datar.


"Steen! Kau mau apakan pria ini?" Tanya Cooper sudah melenturkan jari jemarinya untuk menghajar Suma tapi Edwald diam sejenak.


"Kurung saja di di markas. Aku sudah muak melihat wajahnya!" Gumam Edwald beralih mengeluarkan ponselnya.


Dahinya mengkerut saat banyak notif yang masuk dan salah satunya dari mata-mata di desa Shireen.


"Apa ada masalah di tempatnya?" Tanya Edwald pada Cooper seraya membuka file yang di kirim tadi malam.


Cooper mematung. Ia baru sadar jika semalam mata-mata yang ada di tempat Shireen menelponnya untuk segera mencegah Edwald untuk membuka rekaman yang ia kirim.


Memangnya rekaman itu berisi apa?


Itulah yang jadi pertanyaan Cooper sampai tak melakukan apapun saat Edwald menonton rekaman ini.


"Steen! Rekaman apa?"


Edwald diam. Matanya seketika berkabut amarah saat melihat siapa yang bersenda gurau dengan seorang pria yang tampak malu-malu dan tersipu didepan wanita ini.


"DIA SUDAH BERANI MENDUAKAN AKU?!" Geram Edwald menggertakan giginya segera menarik kerah jaket Cooper yang terkejut bukan main.


Edwald benar-benar mencekiknya dengan nafas memburu dan mata berkabut murka.


"AKU SUDAH MENGATAKAN PADAMU, BUKAAN?? JANGAN ADA YANG MENDEKATINYA DI SANA!!"


"S..Steen.."


Gugup Cooper saat Edwald benar-benar tak menyukai hal ini. Tubuhnya di dorong Edwald yang seketika langsung gusar.


Dari interaksi Shireen dan pria itu tadi, sepertinya mereka punya hubungan spesial atau sudah punya ikatan.


"Cih, berani bermain api denganku, hm?!" Gumam Edwald menegaskan kerah jaketnya dengan seringaian iblis bercampur cemburu.


Cooper yang tadi tersungkur ke lantai ini langsung berdiri menatap kesal Edwald.


"Kau kenapa?? Selalu saja aku yang jadi pelampiasan. Aku berharap jika Shireen mencintai manusia yang lebih normal dari pada kau!" Maki Cooper tapi segera pucat pasih saat Edwald sudah menarik jaketnya kasar.


"S..Steen! Aku.. Aku bercandaa!!" Panik Cooper saat Edwald menyeretnya ke area belakang gedung. Para anggota yang melihat itu sudah saling pandang takut karna mereka tak bisa membayangkan, apa yang akan di lakukan pria iblis itu pada Cooper.


Tak butuh waktu lama. Suara jeritan Cooper sudah menggema membuat seluruh rumah sakit ini terkejut bahkan tak berani keluar.


"Steeen!!! Ampuuun!! Aku.. Aku tak akan.. Aaaa.. Aku tak akan bicara seperti itu lagi!!! S..Shirren hanya milik.. Aaa.. Milikmuuu!!! Sakiit haiss.."


Jeritan Cooper diiiringi suara cambukan. Beberapa menit kemudian barulah Edwald keluar dari belakang sana dengan tali pinggang sudah ada di tangannya.


"C..cepat pergi!" Gugup para anggota yang segera bubar saat melihat wajah Edwald sudah tak bersahabat.


....

__ADS_1


Vote and like sayang


__ADS_2