
Kedatangan nyonya Colins di sambut dengan raut cemas nenek Rue dan kakek Bolssom yang sebenarnya menahan amarah. Demi mendukung rencana Shireen akhirnya ia menurut jika tidak, sudah ia pastikan wanita ini habis sekarang juga.
"Mom, daddy!"
"Ada apa? Kau terlihat sangat cemas, nak!" Ucap nenek Rue mengiring nyonya Colins untuk duduk di ruang tamu.
Kakek Bolssom hanya diam membiarkan istrinya menangani ini karna ia tak cukup kuat jika berpura-pura baik.
"Ada apa? Kenapa kau datang kesini?"
"Mom! Sungguh, aku tak tahu harus mulai dari mana," Sesak nyonya Colins mengeluarkan air mata buaya yang benar-benar membuat sepasang suami istri senja ini langsung mengepal.
"Katakan!" Tegas kakek Bolssom membuat nyonya Colins langsung terisak.
"Dad! Maafkan aku, aku sungguh minta maaf!"
"Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya nenek Rue memeggang lengan nyonya Colins yang seketika menunjukan bakat aktingnya.
"S..Shireen! Dia.."
"Apa yang terjadi pada cucuku??" Panik nenek Rue membuat batin nyonya Colins puas. Lihat saja, ia akan membuat semuanya hancur dan apa yang menjadi milik Shireen akan jatuh ke tangannya.
"Mom! Shireen mengalami kecelakaan mobil dan..dan aku.."
"Astaga, Shireen!" Lemah nenek Rue berpeggangan ke lengan sofa dengan wajah yang sangat kelut.
Kakek Bolssom mau tak mau harus ikut bersandiwara walau ia sangat jijik melihat wajah nyonya Colins disini.
"Kenapa bisa itu terjadi??"
"Dad! Aku sudah melarangnya pergi di kondisi hujan tadi malam, tapi dia kekeh dan akhirnya dia..dia mengalami kecelakaan dan .. d..dia tiada, hiks! Putriku sudah tewas dalam kecelakaan itu," Isak nyonya Colins memeluk nenek Rue yang saling pandang tajam bersama suaminya.
"Sekarang dia dimana? Aku ingin melihat cucuku! Aku ingin melihatnya!!" Histeris nenek Rue tapi nyonya Colins tak punya mayat Shireen.
Cooper mengatakan jika mayat Shireen sudah hangus terbakar hingga tak bisa di bawa pulang lagi. Itu lebih baik dari pada mengubur wanita itu dengan susah payah.
"Aku tak bisa menunda pemakaman Shireen! Tubuhnya sudah tak utuh. Aku.."
Braakk..
Kakek Bolssom memukul meja kaca di hadapannya hingga pecah. Wajahnya berkilat emosi dengan mata berapi-api memandang nyonya Colins yang pucat.
Melihat suaminya yang sudah tak bisa menahan amarah mendengar ucapan nyonya Colins pada Shireen, nenek Rue segera menekankan pandangannya.
"Suamiku! Aku tahu kau pasti marah, tapi kita bisa apa?! Shireen adalah wanita yang baik. Aku juga sangat menyayanginya."
"Iya, mom! Aku..aku masih tak percaya jika Shireen pergi secepat ini. Suamiku meninggal, putriku masih kritis dan sekarang.. "
Nyonya Colins tak bisa berkata-kata sampai tangisnya kembali pecah. Kisah tragis yang ia karang ini seperti benar-benar nyata disertai wajah pilu menyesal itu.
"Putriku, hiks! Shireen kau sangat tega meninggalkan aku sendirian! Daddymu pergi dan sekarang kau juga sama, nak!"
__ADS_1
Isaknya benar-benar pandai memainkan suasana. Shireen yang sedari tadi berdiri di balik tirai tebal di belakang sana mengepal melihat rekaman yang tengah berjalan.
"Aku tak menyangka wanita sepicik ini bisa menggantikan mommyku,"
Batin Shireen benar-benar muak melihat drama yang nyonya Colins buat. Tapi, malam ini akan ia buktikan jika keluarga Harmon sama sekali tak bisa dia akali.
"Mom! Aku.. aku tak tahu harus apa. Disepanjang perjalanan kesini aku benar-benar bingung menghadapi warga desa yang menanyai Shireen. Aku sangat berat mengatakan hal itu pada mereka, mom!"
"Kau sudah menyebarkan berita kematian cucuku tanpa memberi tahuku lebih dulu??" Emosi kakek Bolssom berapi-api kembali.
"Lalu aku harus apa dad? Mereka mendesak untuk bertemu dengan Shireen. Aku.. "
Tiba-tiba saja nyonya Colins pura-pura mengalami pusing dan lemah. Ia memeggangi kepalanya yang terasa berat mengeluarkan air mata mutiara hitam dari hati busuknya.
"Colin!"
"M..mom! S..shireen.." Lirihnya terkulai lemas di rengkuhan nenek Rue yang melirik ke arah Shireen di belakang sana.
Saat wanita cantik bertubuh semampai itu mengangguk pertanda sudah, ia segera melancarkan rencana keduanya.
"Colins! Kau istirahatlah dulu di kamar. Aku akan menenagkan diriku dulu!"
"K..kepalaku sangat sakit," Desis nyonya Colins berdiri menuruti arahan nenek Rue yang mengiringnya pergi ke area kamar tamu.
Shireen kembali bersembunyi membiarkan nenek Rue pergi bersama nyonya Colins.
"Shireen!" Seru kakek Bolssom berdiri dan mendekati Shireen yang menggenggam ponselnya.
Begitu juga kakek Bolssom yang benar-benar tak menyangka jika nyonya Colins bisa bersandiwara sampai senatural itu bahkan, jika Shireen tak ada disini pasti mereka sudah percaya jika cucu kesayangannya sudah tiada.
"Sekarang apa rencanamu? Cepat singkirkan dia karna aku tak akan bisa menahan untuk tak memakinya," Geram kakek Bolssom memandang Shireen.
"Kek! Hubungi polisi besok pagi. Aku akan mengumpulkan warga desa untuk menghakimi wanita itu saat polisi sudah tiba."
"Apa buktinya sudah cukup?"
Shireen menatap ponselnya. Bukti rekaman ini ia rasa cukup dan para warga yang tadi menerima berita palsu dari nyonya Colins juga bisa di jadikan saksi.
"Aku rasa cukup, kek! Kau tenang saja, aku akan mengurusnya," Jawab Shireen mendapat elusan di kepalanya dari kakek Bolssom yang sangat bangga memiliki cucu yang serba bisa seperti Shireen.
"Desa ini sangat beruntung memilikimu. Sejak kecil kau suka berkebun anggur dan buah di lereng bukit sana. Kau belajar dengan rajin bahkan membantu warga desa untuk berkebun yang lebih baik menambah hasil panen. Kakek sangat menyayangimu, nak!"
Mendengar itu Shireen tersenyum haru. Ia memeluk kakek Bolssom yang selama ini mengambil dua peran dalam hidupnya. Menjadi ayah sekaligus kakek yang memanjakan tapi juga sangat bijaksana.
"Maafkan kakek karna tak bisa mencegah daddymu saat dulu membawamu pergi ke kota. Pasti kau sangat sengsara disana."
"Sudahlah, kek! Shireen baik-baik saja. Kakek dan nenek yang terbaik," Jawab Shireen memberi senyum lebar yang cantik nan indah.
Kakek Bolssom mengusap kepalanya lembut sampai ada suara pria di depan kediaman sana dan satu pelayan yang datang mendekat.
"Taun, nona muda! Ada yang ingin bertemu!"
__ADS_1
"Malam-malam begini?" Gumam kakek Bolssom heran tapi Shireen segera menyahut.
"Itu pasti Fanze!"
"Fanze?" Gumam kakek Bolssom mengikuti Shireen untuk pergi keluar.
Dari dalam sini mereka bisa melihat sesosok pria muda dengan mantel hangat dan sarung tangan itu berdiri membelakangi pintu utama.
"Fanze!"
Sapa Shireen hangat membuat sosok itu menoleh. Pria dengan mata bulat dan senyum ramah itu melebarkan pupil matanya saat sudah berhadapan dengan Shireen.
Wajahnya seketika memerah saat pesona kecantikan wanita ini lagi-lagi membuat dirinya terkapar lemas.
"Fanze! Bagaimana? Apa sudah selesai?"
"A.. s..sudah, mereka setuju dengan rencanamu, cantik!"
Jawabnya menahan gugup. Kakek Bolssom tersenyum kecut memukul pundak Fanze yang menunduk malu saat tahu makna ini.
"Bocah! Kalian berteman sudah dari kecil tapi kau masih saja malu seperti gadis perawan!"
"A.. Kek! Jangan berkata seperti itu," Desis Fanze yang membuat Shireen tersenyum kecil.
Ia dan Fanze memang dulu tergolong akrab. Shireen sempat melupakan pria ini tapi saat tadi siang ia berjalan-jalan di perkebunan mereka bertemu dan saling tak percaya bisa kembali berjumpa.
"Terimakasih sudah membantu!"
"Tidak usah sungkan. Aku akan selalu bersedia," Sahut Fanze menyanggupi penuh semangat.
Kakek Bolssom hanya menggeleng saja. Ia pamit pergi ke dalam meninggalkan Shireen dan Fanze yang agak canggung karna mereka baru saja bertemu setelah sekian lama.
Apalagi, penampilan Shireen malam ini sangat-sangat memukau. Gaun tidur di lapisi kardigan tebal berwarna maron ini sangat kontras dengan kulit putih bersih Shireen bak porselen mahal.
"Kau ingin masuk?"
"A.. tidak. Ini sudah malam, aku..aku pulang dulu!" Canggungnya terus menunduk mengusap tengkuknya gugup.
Melihat itu Shireen hanya tersenyum memandangi kepergian Fanze yang tak ia anggap serius tapi sudah memakluminya.
"Sudah berpuluh tahun lamanya tapi dia sama sekali tak berubah," Gumam Shireen menggeleng halus lalu masuk ke dalam kediaman kakeknya.
Tempat ini tak begitu besar tapi, lingkungan kediaman kakek Bolssom termasuk mewah dan asri selayaknya sebuah villa.
Tapi, tanpa di sadari oleh Shireen interaksi mereka tadi di rekam oleh mata-mata Edwald yang menyamar menjadi pelayan disini. Dia bersembunyi di balik pohon di depan kediaman merekam apa yang tadi terjadi sesuai perintah tuannya.
"Apa kali ini juga harus di kirim?!" Bingungnya karna takut akan jadi sasaran amukan tuannya. Ia ragu-ragu membuat keputusan tapi juga takut jika tak menjalankan rencananya.
....
Vote and like sayang..
__ADS_1