Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Kembali ke masa awal!


__ADS_3

Sesuai dengan perintah Suma tadi siang. Akhirnya malam ini mereka sudah akan pergi ke tempat dimana perencanaan matang itu di laksanakan.


Wesson sudah siap dengan stelan jas lengkap begitu juga Edwald yang sangat tampan dengan balutan jas hitam dan kemeja yang sama. Tubuhnya yang tinggi bersandar ke depan mobil dengan kedua tangan bertopang dada menatap datar Wesson yang tengah bicara dengan Suma.


"Kau harus melakukannya dengan sempurna. Kita tak boleh gagal, Wesson!"


"Aku mengerti. Lagi pula ada Steen!" Jawab Wesson beralih menatap Edwald yang seperti biasa selalu mendominasi.


"Pestanya akan mulai 1 jam lagi dan kita harus segera pergi karna tempatnya cukup jauh," Ucap Cooper memeriksa jamnya.


Wesson diam. Ia tengah menunggu Shireen karna wanita itu juga ikut ambil dalam misi besar ini.


Mersi yang ada di sana mendelik gerah. Ia berharap jika Shireen tak ikut campur dalam hal ini apalagi sampai menjadi pusat perhatian.


"Tuan! Dari pada kalian menunggu lama lebih baik pergilah dulu. Aku akan mengurusnya nanti."


"Yah, apalagi dia seperti tak niat untuk ikut," Timpal Glimer tapi hanya mendapat kebisuan dari mereka semua.


Edwald masih sabar menunggu menatap ke ujung sepatu pantofel hitam yang tampak maco di tubuhnya. 10 menit berlalu, separuh anggota yang tadi menunggu juga ikut bosan bahkan hampir mati kedinginan karna salju mulai turun.


"Tuan! Salju akan turun. Pergilah lebih dulu!" Ujar Mersi memberikan mantel pada Wesson yang segera memakainya.


Begitu juga Cooper. Ia memberikan mantel hitam tebal hangat pada Edwald yang hanya menenteng benda itu dengan serbuk salju sudah mulai berjatuhan seperti biasa saat malam.


"Sudahlah. Kalian pergi saja!" Pinta Suma karna takut misi ini gagal.


Alhasil Wesson tak bisa lagi mengulur waktu. Ia segera pergi menuju mobilnya bersama Mersi yang akan menjadi supirnya nanti.


Tapi, Edwald masih diam di tempat bahkan ia tak berubah posisi membiarkan serbuk salju itu menimpa tubuhnya.


"Steen! Apa yang kau tunggu?"


"Rencana ini tak akan di mulai jika dia tak ikut," Tegas Edwald membuat semua orang saling pandang.


Suma bingung maksud Edwald bagaimana begitu juga yang lainnya.


"Steen! Kalian akan terlambat."


"Jawabanku masih sama," Sahut Edwald menatap datar Suma yang seketika menghela nafas. Ia ingin bicara lagi mencoba mendengar tapi tiba-tiba terdengar suara detakan heels dari arah belakang.


"Maaf, aku terlambat!"


Suara lembut tegas seorang wanita yang datang bak bintang utama. Mereka semua menaikan pandangannya ke arah pintu utama kediaman dimana Shireen baru keluar.


Bagai angin di pagi hari, Shireen datang menyapu semua perhatian. Sorot mata terkejut penuh kagum itu langsung memantau langkah kaki jenjangnya yang dipertontonkan karna gaun hitam panjang dengan bagian pinggir terbelah sampai sejengkal diatas lutut.


Belum lagi rambutnya di sanggul rapi menyisakan untaian bergelombang di pelipis dengan bibir seksi glossy mengkilap segar dan riasan natural yang soft.


Semua hening. Shireen yang sudah berdiri di tengah-tengah mereka kebingungan seraya mengusap kedua lengannya karna dingin.


"Kalian kenapa?"


Pertanyaan polos. Tak ada yang sadar karna yang datang itu adalah royal model beraura mahal dan berkelas.


Tapi, Edwald segera sadar langsung merubah wajahnya datar tapi sungguh Shireen malam ini berkalilipat sangat cantik. Leher jenjangnya di pertontonkan karna gaun satin ini tak memiliki lengan dan hanya ada dua tali kecil di atas bahu. Sungguh, pemandangan seksi dan indah akan dadanya yang menyembul keluar.


"Shi!" Panggil Wesson yang tersenyum hangat. Ia ingin mendekati Shireen tapi Edwald sudah lebih dulu menarik lengan Shireen hingga mereka semua diam.


"Steen! Kau.."


"Aku tak ingin karna dia fokus kalian jadi buyar," Geram Edwald segera membuka pintu mobil dan mendesak Shireen masuk melalui pandangan penuh intimidasi.


Tak ingin menambah masalah akhirnya Shireen menurut. Ia masuk ke dalam mobil sedangkan Suma masih mencoba mengintip dari sela tubuh kekar Edwald yang seketika menutup pintu mobil itu keras mengejutkan semua orang.


Wajahnya kelap dan sangat dingin tak bisa di jabarkan.


"Jika karna dia misi ini jadi gagal, akan ku pastikan kalian tak akan pernah melihatnya lagi!" Geram Edwald emosi.


"Jangan sakiti dia. Aku mengerti maksudmu," Jawab Wesson segera masuk ke mobilnya.

__ADS_1


Ia berpikir jika Edwald marah karna Shireen mengalihkan fokus semua orang pada misi. Padahal, pria tampan bermanik hijau elang itu terbakar melihat keindahan visual istrinya menjadi tontonan.


"Sayang sekali. Kenapa dia harus muncul tepat waktu?!" Gumam Suma kesal karna ia seharusnya menikmati keindahan itu malam ini.


Cooper yang melihat exspresi kesal Suma yang merugi langsung mendelik jengkel. Ia masuk ke dalam mobil Edwald untuk mengemudi tapi juga merutuk halus.


"Tua-tua keladi," Geram Cooper menyalakan mesin mobil saat Edwald sudah masuk ke mobil dan duduk di samping Shireen dengan jarak seperti sungai nil.


Saat mobil melaju stabil keluar gerbang kediaman-pun Edwald juga tak mau bicara begitu juga Shireen yang tak merasa bersalah atau risih.


"Kita kemana?" Tanya Shireen tapi memandang Cooper yang melirik wajah dingin Edwald dari spion lalu kembali menatap Shireen yang tahu arti pandangan itu.


"Cih, untuk apa aku bertanya padanya?!" Batin Shireen membuang wajah ke jendela mobil memperhatikan butiran salju yang turun membasuh kota.


Lirikan mata tajam Edwald melihat bahu dan separuh dada Shireen terbuka dan Shireen mengusap lengannya sendiri.


"Kau ingin menjebak siapa lagi?"


Shireen diam seperti tak mendengar apapun. Ia justru santai mengacuhkan Edwald yang masih ingin mengoyak pakaian ini dan membungkus Shireen dengan selimut.


"Kau tuli?"


"Bicara denganku?" Tanya Shireen menunjuk dirinya sendiri seraya menatap Edwald yang seketika memiringkan senyuman culas.


"Kau puaskan?"


"Maksudmu?" Tanya Shireen menaikan satu alisnya sinis.


Edwald dengan cepat melempar mantel yang tadi ia peggang ke wajah Shireen tanpa menatap wajah cantik Shireen yang merah padam.


"Kauuu!!!"


"Aku tak ingin membawa domba peranakan," Dingin Edwald tapi maksud perkataanya begitu merendahkan Shireen yang seketika mengepal.


"Apa maksudmu dengan peranakan, ha??"


"Kau akan menjadi istriku disana!"


"I..istri.."


"Yah! Steen akan menjadi adik tuan Wesson sedangkan kau istrinya. Kalian akan menjadi keluarga tuan Wesson yang tak punya kedua orang tua karna telah tiada karna kecelakaan. Skenario yang bagus, bukan?" Jelas Cooper yang sesekali menoleh pada Shireen.


"KALIAN MEMANG BERBAKAT MENIPU ORANG LAIN!! SANGAT-SANGAT MENJIJIKAN!!" geram Shireen melempar kembali mantel itu pada Edwald yang seketika meremas benda itu.


"Kau tak ingin memakainya?" Dingin Edwald tapi Shireen juga sama-sama emosi.


"Aku tak ingin melakukan itu! Lebih baik turunkan aku disini," Gumam Shireen ingin membuka pintu mobil tapi kesabaran Edwald hanya setipis tisu.


Ia menarik lengan Shireen hingga tubuh wanita itu jatuh ke pangkuan kokohnya. Shireen yang terkejut langsung memberontak tapi Edwald dengan cekatan memakaikan mantel itu secara paksa ke tubuh Shireen yang tak bisa melawan kekuatannya.


"Lepaass!!"


"Kau ingin berpakaian atau TIDAK SAMA SEKALI?" Bisik Edwald menekan paha Shireen yang tercekat. Ia tahu Edwald tak main-main dengan ucapannya dan pria ini sangat gila.


"K..kau.. "


"Turuti aku. Maka kau aman," Desis Edwald membuat Shireen bangkit dengan cepat berpindah ke tempat duduknya tadi.


Mantel itu ia eratkan menutupi tubuhnya tak lagi menggubris Edwald yang kembali pada pose duduk berkelasnya tadi.


"Kau harus berakting dengan baik. Hidup mati mu tergantung pada suksesnya misi ini!"


Shireen hanya diam. Ia tetap mempertahankan wajah dinginnya bahkan Edwald tahu Shireen pasti tengah marah dan kesal.


"Siapkan mentalmu. Identitas kali ini sama dengan kehidupan nyata!"


Shireen sontak langsung memandang Edwald yang sudah mempertimbangkan segalanya. Mereka akan datang sebagai keluarga Aldebaron pemilik perusahaan ACIAN yang dikabarkan bangkrut tapi sudah berjaya kembali sekarang.


Shireen dengan identitas lamanya. Putri tunggal keluarga Harmon yang sudah tak lagi terendus publik dan Edwald adalah seorang direktur utama perusahaan ACIAN yang sudah mengambil alih Harmon Company.

__ADS_1


"Kau ingin mempermainkan ku lagi?" Desis Shireen dengan mata memanas.


Edwald tak memandangnya. Apa yang ia lakukan pasti menyakiti Shireen tapi wanita itu tak tahu apapun soal tindakan Edwald.


"Kau datang sebagai nona muda Harmon dan istriku! Bersikaplah selayaknya!"


"Kenapa aku harus bertemu dengan bajingan sepertimu?!" Maki Shireen lalu membuang wajah bencinya keluar jendela mobil.


Edwald hanya diam tapi Cooper, ia juga tak mengerti kenapa Edwald melibatkan Shireen? Apalagi membawa nama keluarga Harmon yang pasti akan membuat luka lama terkoyak kembali.


Disepanjang perjalanan menuju lokasi gedung pesta dipenuhi sunyi dan dingin. Cooper-pun sudah tak berani berbuat konyol karna sekarang keadaan tengah membahayakan.


"Kita akan segera sampai!"


Ucap Cooper tapi tak ada tanggapan dari Shireen maupun Edwald yang sudah sibuk dengan pikiran masing-masing.


Cooper menghela nafas. Ia memasuki area gedung besar tempat pesta berlangsung. Banyak staf dan pihak keamanan di sekitar tempat ini tapi mereka lolos masuk ke loby karna sudah ada anggota yang Edwald masukan ke dalam tempat ini menjadi petugas. .


"Baiklah. Akan ada banyak media di dalam sana. Aku harap pestanya lancar," Gumam Cooper sedikit mengeraskan suaranya agar Shireen dan Edwald dengar.


Ia turun begitu juga Edwald. Bedanya, Cooper berlari kecil membuka pintu samping dimana Shireen keluar dengan wajah yang sangat masam.


"Mari, tuan putri!"


Shireen hanya diam melenggang lebih dulu menuju aula besar ini. Edwald berjalan di belakang memperhatikan langkah Shireen yang sangat pandai memakai heels hingga lenggoknya tak pernah gagal.


"Apa yang kau rencanakan? Steen!" Tanya Cooper mengikuti langkah lebar tegas penuh kharisma Edwald yang tak menjawab sepata-katapun.


Hal itu membuat Cooper jengkel tapi hanya diam saja melihat kondisi lobby yang cukup ramai pertanda acara ini sangat besar.


Setelah beberapa lama menyusuri lobby mereka sampai ke satu lorong dimana sudah banyak staf menunggu di depan satu pintu kaca yang dijaga oleh dua pria berbadan kekar memeriksa para tamu undangan yang menyerahkan kartu undangan mereka.


Shireen yang merasa tak membawa benda itu segera berhenti. Ia menunggu Edwald yang tersenyum tipis melihat Shireen yang masih mau di atur walau dalam mode marah.


"Begini lebih baik," Gumam Edwald menyambar pinggang ramping Shireen mesra menuju para staf yang awalnya tak tahu Edwald dan Shireen siapa tapi saat mengingat-ngingat mereka langsung terkejut saling pandang.


"I..ini presdir Edwald dan Nona Shireen?" Tanya mereka padahal mereka beda kota.


"Yah," Singkat Edwald menyerahkan undangan yang ia keluarkan dari saku jasnya lalu melangkah masuk ke dalam gedung ini.


Didepan sana sudah terbentang karpet merah di sepanjang tangga menuju ke pintu satunya yang transparan hingga mereka melihat bagaimana mewahnya tempat ini.


Tapi, media juga tengah sibuk menyambut para tamu undangan dan banyak lagi orang-orang kelas atas disini.


"Lakukan apa yang kau mau!"


"A..ha?" Tanya Shireen tapi Edwald hanya diam. Shireen masih belum ngeh saat Edwald membawanya ke arah para media yang seketika langsung sadar saat couple royal ini masuk ke area tangga.


"Itu bukannya nona Shireen yang di kabarkan hilang?"


"Yah, dia bersama suaminya."


Desas-desus mereka tapi tak lupa merekam. Saat mereka ingin berkerumun tiba-tiba saja ada pihak keamanan padahal itu anggota yang sudah menyamar sesuai rencana mereka.


Shireen hanya menurut saat diiring menaiki tangga menuju satu pintu kaca yang sudah di buka dua pelayan yang berdiri di kiri kanannya penuh hormat.


Pesta ini seperti di dunia dongeng yang sangat mewah dan instan.


"Dimana keluarga targetmu itu?" Tanya Shireen tapi Edwald tiba-tiba berlalu begitu saja tak lagi mendampingi Shireen.


Ia kebingungan saat ada orang-orang besar yang mendekatinya dengan bertanya soal kepergiannya selama ini. Shireen terpaksa berbaur kembali menjalin hubungan dengan para klien yang dulu pernah mengenalnya.


Di dalam sana, Edwald sudah bertemu dengan Wesson yang sangat cepat berbaur dengan salah satu kerabat di keluarga Wiliam. Saat melihat Edwald datang ia langsung memisahkan diri membawa segelas anggur.


"Dimana? Shi!" Bisiknya tenang.


"Dia melakukan tugasnya!"


"Kau tak menyiksanya-kan?" Selidik Wesson tapi Edwald segera merengkuh bahu Wesson memberi senyum tipis pada seorang wanita cantik yang tampaknya pusat pesta ini.

__ADS_1


"Itu targetmu!" Gumam Edwald sudah membuat wanita itu mabuk dengan senyum tipis penuh daya pikat itu.


Vote and like sayang..


__ADS_2