
Ucapan Edwald barusan benar-benar menjadi buah pikiran untuk Cooper yang tengah mengendarai mobil kembali ke markas. Ia menatap lurus ke jalan yang diterangi lampu kota malam ini. Pikirannya melayang seperti tak tahu apa jadinya jika tak ada lagi yang ia buntuti.
"Kau ingin mati, tapi mengajakku?" Datar Edwald dengan mata terpejam bersandar ke kursi mobil.
Cooper yang tersentak akan suara Edwald. Seketika ia sadar saat melihat mobil ini nyaris menabrak mobil orang lain di depan. Alhasil Cooper segera membanting stir berbelok kasar menghindari benturan.
"Astaga! Hampir saja," Gumam Cooper memelankan laju mobil.
Ia melirik Edwald dari kaca spion dengan tatapan kesal bercampur marah.
"Kau kenapa sangat santai, ha??"
Edwald hanya diam. Ia lebih tak menanggapi Cooper yang menggerutu di depan sana. Edwald bukan tak tahu jika Cooper masih memikirkan soal ucapannya tadi siang tapi, ia tak mau menjelaskan apapun.
"Steen! Tadi, Shireen menelponku!"
"Hm?"
Edwald membuka matanya. Tangannya mengambil ponsel di dalam saku jaket lalu membukanya. Sudah jelas semalam ia katakan pada Shireen untuk menghubunginya langung tapi, masih saja melalui Cooper.
"Apa yang dia katakan?"
"Dia menanyakan soal rencananya semalam. Apa kau sudah mengurusnya apa belum?!"
Jawaban Cooper seketika memberi ide untuk Edwald agar menggunakan hal itu sebagai alasan untuk menelpon Shireen. Apalagi, ini sudah malam dan ia sangat lelah.
Cooper melirik sinis Edwald yang segera menghubungi nomor curian semalam. Tapi, sudut bibir Cooper tertarik licik misterius.
"Senyummu tak akan bertahan lama."
"A.. Aku tak melakukan apa-apa," Gumam Cooper mengelak kala Edwald memandangnya tajam.
Setelah beberapa lama kemudian. Mata Edwald seketika berbinar samar saat sambungannya terhubung.
"Kau begitu tak sabar untuk mendengar suaraku, nona!"
Sinis Edwald tapi ia heran saat tak ada sahutan. Edwald mulai cemas jika terjadi sesuatu hal buruk pada Shireen di sana.
"Kau masih hidupkan? Apa karna begitu merindukanku kau sampai tak bisa berkata-kata?"
"Pria messum!! Siapa kau berani menelpon kesini???"
Sontak Edwald terkejut bukan main hampir menjatuhkan ponselnya saat suara nenek-nenek yang menjawab ucapan manis tapi berbisa tadi.
Ia menatap Cooper yang menahan tawa geli mendengar omelan nenek Rue yang memaki Edwald dengan berani.
"Kau anak muda tak tahu sopan santun!! Walau ini benua eropa tapi kalian masih manusia!! Apa tak ada wanita lain yang lebih muda di dunia ini, haa?? Kemana akal sehatmu??!"
"Sialan!!" Geram Edwald meremas ponselnya kuat. Wajahnya mengeras dengan sorot mata membunuh pada Cooper yang seketika menutup rapat mulutnya agar tak berakhir tragis.
__ADS_1
"Itu neneknya Shireen! Kau bahkan berani menggodanya," Kelakar Cooper membuat dada Edwald memburu menahan emosi.
Ia segera menendang kursi kemudi Cooper yang akhirnya tak bisa menahan kegelian. Untuk pertama kalinya Edwald membuatnya sangat bahagia dengan panggilan salah sasaran ini.
"KAU AKAN MATI!! BERHENTILAH TERTAWAA!!" Geram Edwald mengeluarkan pistol dari jaketnya dan sontak Cooper memucat berusaha fokus ke jalan.
"S..Steen! Kau jangan emosi dulu, aku.."
"Sialaan!!" Maki Edwald merasa muak dengan apa yang ia lakukan barusan. Ia segera ingin mematikan sambungan ini tapi seketika tertepis oleh suara lembut seseorang.
"Siapa? Nek! Kenapa marah-marah?"
"Shireen!" Gumam Edwald yang akhirnya lega. Setidaknya emosinya yang tadi siap menelan Cooper hidup-hidup akhirnya mereda.
"Ada pria tak waras yang menggodaku! Apa semua anak jaman sekarang memang tak tahu sopan santun pada wanita tua?! Cih."
Omelan nenek Rue terdengar sangat kesal. Edwald tak bisa membalas ucapan wanita ini karna ia juga tak mau membuat masalah dengan Shireen.
........
Sementara di seberang sana. Nenek Rue menyerahkan ponselnya pada Shireen yang baru saja turun untuk makan malam. Wanita cantik itu memakai gaun tidur berlapis kardigan selutut menutupi lekuk tubuh indahnya.
Shireen duduk di kursi dekat jendela di dapur menghadap langsung ke area kebun kecil di samping kediaman yang diterangi lampu khusus.
"Siapa yang menggoda nenek? Ada-ada saja," Gumam Shireen menatap kepergian nenek Rue keluar dari dapur.
Saat ia memandang layar ponsel ini, Shireen seketika tersentak saat nomor tanpa nama yang semalam lupa ia simpan seketika terpampang disini.
"Hm."
Suara dingin Edwald langsung bisa di pahami Shireen. Seketika Shireen mengulum senyum bahkan menahan tawa dengan mata tenggelam karna kedua pipinya terangkat keatas meredam geli.
"Prufftt!" Shireen meloloskan kekehan kecilnya lalu ia segera menutup mulut.
"Kau senang?? Apa kau ingin menari sekarang, ha?"
Suara kesal Edwald seperti sangat dongkol tapi Shireen begitu menyukainya. Ia tak menyangka Edwald akan salah sasaran bahkan bisa diomeli neneknya.
"Seleramu tidak buruk. Hanya saja nenekku sudah punya suami."
"Kucing peniru!! Aku peringatkan padamu untuk tak berpikir menggelikan."
Geram Edwald di seberang sana tapi Shireen sungguh suka menggodanya.
"Tak ku sangka diam-diam kau memiliki minat yang langka. Tapi, seharusnya jangan nenekku juga."
"SHIREEN!!"
Decah Edwald di seberang sana mulai tak terima. Shireen benar-benar puas meledek Edwald yang semalam juga sudah mengejeknya.
__ADS_1
"Apa? Kau tak suka?"
"Tidak!"
"Lalu mau apa?" Pancing Shireen tanpa takut.
"Kau tunggu saja. Saat bertemu nanti akan ku buat kau.."
"Kau apa?" Tanya Shireen tapi segera jantungan saat Edwald tak segan menjawabnya.
"Kau terkapar lelah di ranjangku!"
Glek..
Shireen menelan ludah. Ia meraba dadanya yang berdegup tak karuan dengan bulu kuduk meremang. Membayangkannya saja sudah membuat Shireen gemetar karna, Edwald memang sangat buas di ranjang.
Seakan tahu respon Shireen akan jawabannya barusan. Edwald di seberang sana mulai melancarkan aksinya.
"Kenapa? Kau takut, hm?"
"K..kau bicara apa?! J..jangan melantur!" Decah Shireen gugup tapi ia sudah menebak jika Edwald pasti akan menyeringai licik di sana.
"Aku bicara soal ranjang. Kau pasti merindukan caraku me.."
"A... iya nek! Aku akan kesana!!" Sela Shireen pura-pura menjawab nenek Rue yang sama sekali tak memanggilnya.
Shireen mematikan sambungan cepat lalu memeggangi dadanya. Kedua tangan Shireen beralih memeggangi pipinya yang memanas dan sangat malu.
A..apa yang kau pikirkan?! Tidak, dia.. dia tak akan melakukan hal itu. Kau tenanglah, Shireen!
Batin Shireen menggeleng mencoba sadar. Ia tak munafik jika selama ini ia sangat merindukan momen erotis itu tapi, ia tak punya banyak nyali untuk melakukannya.
Setelah lama bergelut dengan diri sendiri dan menenangkan pikirannya barulah Shireen mengibas rambutnya yang terurai panjang dan mulai beranjak pergi.
Tapi, langkahnya terhenti saat nenek Rue tiba-tiba datang tergesa-gesa mendekatinya.
"Nek!"
"Shireen! Di depan ada Colins!" Ucap nenek Rue tak menduga nyonya Colins akan datang secepat ini.
Shireen diam menegaskan pandangannya. Ia sudah siap dengan semua rencana yang sudah ia buat sebelumnya.
"Nek! Sesuai apa yang aku katakan tadi siang, pura-pura saja untuk tak tahu. Orang-orang di desa ini juga sudah ku beri arahan."
"Syukurlah! Aku tadi sempat cemas jika dia tahu kau datang kesini dari warga yang lain," Lega nenek Rue tak lagi cemas.
Shireen menjelaskan, apa saja yang dilakukan saat di depan nyonya Colins nanti?! Sementara Shireen akan merekam semua percakapan itu melalui ponselnya.
....
__ADS_1
Vote and like sayang