Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Erangan di bawah shower


__ADS_3

Alangkah terkejutnya Edwald saat Ealnest turun membawa peralatan make-up Shireen yang termasuk lengkap mendekatinya dengan senyuman kemenangan. Cooper yang melihat itu terkekeh geli karna ia sudah tahu, siapa pemenang dari duel maut yang di pikiran Edwald tadi?!


Shireen dan yang lainnya hanya sibuk mengobrol di ruang tamu tak menghiraukan mereka.


"Ayo mulai!"


Edwald menaikan satu alisnya menukik tajam seraya memandang datar Ealnest yang menyodorkan tas make-up itu ke hadapannya.


"Maksudmu?"


"Ayo duel!" Ajak Ealnest tapi Edwald langsung menatap Cooper yang mendekat dengan sisa tawa gelinya.


"Ealnest mengajakmu bertanding adu make-up!"


"Make-up?" Gumam Edwald mulai merinding. Ia tak pernah memegang semua barang disini sementara Ealnest sudah biasa mendandani mommynya.


Tentu saja Ealnest tak semudah itu menyetujui ajakan duel Edwald jika tanpa ada rencana di kepalanya. Jika bermain tenaga dan senjata pastilah ia kalah tapi, pria seperti Edwald tak akan bisa menggunakan alat-alat tempur wanita seperti ini.


"Riasan siapa yang paling bagus itu pemenang-nya!"


"Tidak bisa!" Bantah Edwald keras. Seumur-umur ia tak pernah melakukan ini dan jangan sampai terjadi.


"Kau tak mau?"


"Tidak," Tegas Edwald masih kekeh mempertahankan kejantanannya.


Ealnest membusungkan dada angkuh dengan tatapan penuh kemenangan pada Edwald.


"Jika begitu, kau sudah kalah."


"Kalah? Pertandingan itu belum berlangsung," Tukas Edwald sengit tak mau mengalah.


"Kalau begitu, ayoo!!"


"Ganti permainannya!" Pinta Edwald tapi ia tak sadar jika yang sekarang ia ajak berdebat adalah benihnya yang sama-sama keras kepala dan sangat arogan.


"Aku sudah katakan sebelumnya. Aku yang tentukan permainan kita, jadi kau harus setuju."


"Tapi, tidak dengan ini," Pungkas Edwald masih kekeh hingga akhirnya Ealnest menarik lengan kekar Edwald keluar dari kediaman.


"Kauu.."


"Pergi saja! Tak perlu lagi mendekati mommyku, paham?"


Ancaman Ealnest sukses membuat Edwald langsung membatu. Ada ego yang begitu tinggi bersarang di kepalanya tapi, jika Ealnest tak menerimanya maka bocah ini akan mencari daddy baru di luar. Itu bahaya, bukan?!


"Pergii!! Ayo pergi!!" Paksa Ealnest tapi Edwald segera merampas tas make-up itu dari tangan Ealnest lalu berjalan ke arah Cooper yang mulai was-was.


"S..Steen kau..."


Edwald dengan ringan mencengkram leher baju Cooper dan menyeret pria malang itu ke arah sofa panjang yang ada di ruang tamu.


Shireen dan yang lainnya hanya memandang heran Edwald dan Cooper yang tampak memelas pada Shireen agar membantunya tapi Shireen tak mengerti.

__ADS_1


"Abaikan mereka. Sudah besar tapi masih kekanak-kanakan!" Sindir nyonya Zofia malas.


Ealnest mendekati Edwald yang membuka tas make-up itu dan mengobrak-abrik isinya. Semua barang-barang ini ia tatap dingin dan bingung cara menggunakannya.


"Ini bisa menusuk matamu!" Dingin Edwald memegang pensil alis di tangannya membuat Cooper menelan ludah kasar dengan wajah pucat.


Ealnets yang melihat itu tersenyum kecut. Ia mencari kanvas lukisnya hingga matanya terhenti pada Catharina yang tahu maksud Ealnest.


"Aunty mau!"


"Duduk disini!" Ajak Ealnest menepuk sofa di samping Cooper.


Wajah Catharina sontak berubah ketus dengan terpaksa duduk di samping Cooper yang juga memasang wajah jutek.


"Baiklah! Kita mulai sekarang!" Tegas Ealnest berjongkok di didepan Catharina begitu juga Edwald yang mengikuti langkah-langkah Ealnest.


Pertama bocah itu memasang pita rambut ke kepala Catharina dan tentu ia juga akan melakukan hal yang sama pada Cooper.


"Steen! Kau yang benar saja!!"


Plakk..


Tamparan panas Edwald menubruk pipi Cooper yang seketika diam dan menjadi batu. Ia pasrah di dandani tangan kasar Edwald yang asal-asalan memoleskan bedak dan banyak lagi alat yang tak ia mengerti.


Ealnest tampak telaten dan sudah biasa hingga Catharina bisa santai menikmati polesan tangan mungil ini sementara Cooper, ia seperti samsak tinju Edwald yang siallnya membedakinya sangat tebal bahkan Cooper tersedak.


"Steen! Jangan terlalu tebal!!"


"Diamlah," Gumam Edwald fokus memoles kuas make-up ke pipi Cooper yang sudah merah total karna blush on.


"Steen! Sudah!! Sudah cukup!"


"Dia memakaikan ini ke mata Catharina!" Jawab Edwald membuka Eyeliner yang juga di pakaian Elanest rapi.


Ia menarik tengkuk Cooper yang ingin sekali berteriak keras tapi ia akan di pukul. Alhasil Cooper menjadi korban make-up amatir Edwald yang memakaikan Eyeliner itu ke matanya bukan ke area bulu mata Cooper.


"KAU MENCOLOK MATAKUU!!"


"CARA PAKAINYA BEGINI, SIALAN!" Umpat Edwald masih memaksa tapi Cooper sudah berlari pergi ke arah kolam renang karna seluruh wajahnya sakit dan matanya perih bukan main.


Ealnest sudah siap dengan hasil make-upnya sedangkan Edwald sudah bermandikan bedak tabur dan cream yang tumpah ke celananya.


"Yeey! Aku menang!!" Sorak Ealnest gembira karna make-up Catharina ia buat tipis dan halus.


Edwald diam sejenak lalu beralih menatap Shireen yang sebenarnya iba. Ia sangat tak menyangka Edwald mau mengikuti permainan kekanak-kanakan Ealnest.


"Sesuai kesepakatan kita! Kau jauhi mommyku!"


Edwald masih diam. Ia merangkak mendekati Shireen yang masih duduk di samping nyonya Zofia. Wanita paruh baya itu masih bingung mau merespon kasihan, iba atau justru geli.


"Sayang!" Panggil Edwald menyandarkan dagunya ke paha Shireen yang mengusap sisa bedak di rambut Edwald.


"Pergilah mandi. Kau sudah begitu berantakan!"

__ADS_1


"Dia ingin memisahkan kita," Jawab Edwald membuat pengaduan. Ealnest seketika membelo jengah merapikan kembali peralatan make-up Shireen yang sudah berantakan.


"Dia tak serius. Pergi ke kamarku dan bersihkan dirimu!"


"Aku tak tahu dimana letak kamarmu!" Gumam Edwald tak malu bersikap seperti ini di hadapan nyonya Zofia yang juga cukup syok melihat putra dinginnya bisa semanja ini.


"Pergi antar suamimu, nak! Mommy akan bereskan ini!"


"Mommy memang peka," Puji Edwald pada nyonya Zofia yang membuat Shireen bersemu.


Ia segera berdiri mengiring Edwald ke arah tangga menuju kamarnya di ikuti Ealnest yang membawa tas make-up tadi.


"Mom! Nanti Eal belikan yang baru."


"Bawa saja itu ke kamarmu, Eal!" Ucap Shireen mengusap kepala putranya yang mengangguk segera berjalan lebih dulu berlari ke kamarnya.


Edwald mengamati setiap lekuk bangunan ini dan Shireen memang luar biasa. Dimana-pun dia tinggal pasti akan ada istana yang ia bangun dengan kerja kerasnya sendiri.


"Ini kamarku! Dan itu kamar Ealnest!"


Menunjuk ke pintu yang berhadapan. Edwald mengangguk, ia masuk saat Shireen sudah membuka pintu ini hingga aroma mawar dari dalam sini menguarkan harum dan sangat feminim.


Ruangannya cukup luas dan lengkap. Ada ranjang king size berwarna putih bersih dan meja rias yang cukup lebar. Balkonnya juga terbuka hingga tirai-tirai itu terkibar halus.


"Ini handukmu!"


Shireen memberikan handuk baru ke bahu kekar Edwald yang mengangguk. Shireen hanya tersenyum kecil ingin berlalu pergi tapi lengannya langsung di cengkal Edwald yang segera menarik Shireen masuk ke pelukannya.


"Kauu.."


"Siapa yang menyuruhmu pergi, hm?!" Tanya Edwald tersenyum messum meremas bokong Shireen yang seketika bersemu.


"Ini kamarku jadi aku bebas ingin pergi kapan-pun aku mau," Jawab Shireen mengalungkan kedua tangannya ke leher Edwald dengan sengaja mengigit bibir bawahnya seksi hingga Edwald tak tahan lagi.


"Adik untuk Ealnest menyusul!" Desis Edwald langsung menggendong Shireen ala bridal-style lalu masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu itu rapat.


Tentunya kalian tahu apa yang akan terjadi di dalam sana setelah Edwald mengatakan kalimat sepanas itu. Terdengar suara-suara syahdu yang menggoda iman dari dalam sana bahkan hentakan beradu ritme erotis juga tak bisa di tepis.


"E..Ed! Pelan-pelan!" Erang Shireen terdengar manja tapi begitu sensual di pendengaran Edwald yang tengah mengagahinya di bawah shower.


Edwald seperti singa yang baru lepas setelah 7 tahun lebih di kurung dan sekarang dengan bebas mencari habitatnya.


Ntah bagaimana Edwald bisa sebuas itu, ia membuat pakaian Shireen sobek dan tergorok di lantai dingin kamar mandi. Alhasil, tubuh indah seksi Shireen tak lagi ada penghalang hingga ia bebas mengeksplore kenikmatan duniawi ini.


"Kau..kau seperti gadis kembali!" Geraman Edwald saat berpacu dengan tetesan air yang membasahi tubuh mereka.


Liang surgawi milik Shireen terasa begitu ketat dan menjepit. Wanita ini memang sangat memabukkan dan membuat jiwa lelaki memberontak tak bisa tenang dan bertahan lama.


Shireen-pun merasakan hal yang demikian. Ia sangat merindukan semua ini karna Shireen tak munafik jika aktifitas ranjang mereka memang selalu dahsyat dan sulit di jabarkan.


...


Vote and like sayang..

__ADS_1


Satu bab lagi besok kita tamat ya sayangku 😘


__ADS_2