
Pencarian hewan peliharaan Brandon itu sama sekali tak membuahkan hasil. Cooper yang juga ditanyai Shireen pada saat itu mengelak dengan mengatakan jika ia tak melihat anjing berkeliaran di dekat kolam ini.
Alhasil Shireen begitu merasa bersalah pada Brandon yang juga merasa cemas karna peliharaanya tak kembali lagi.
"Maaf tuan. Aku benar-benar tak menyangka akan seperti ini," Sesal Shireen sopan pada Brandon yang berdiri di depan teras kediaman masih melihat di sekitar tempat ini.
Mendengar permintaan maaf Shireen, ia segera menggeleng halus diiringi senyuman yang hangat dan ramah.
"Ini bukan salahmu. Jeki itu juga sulit di atur. Dia pasti pergi berkeliaran semuanya di luaran sana. Tak perlu minta maaf, ok?"
"Mau bagaimanapun tuan menitipkannya di kediamanku. Jika hilang itu .."
"Sudahlah. Nanti akan ku cari di sekitar lingkungan ini," Sela Brandon menepuk bahu Shireen yang hanya mengangguk tapi menurunkan tangan Brandon dari bahunya.
Brandon sampai tersipu malu sendiri karna ia memang tak bisa menahan untuk berinteraksi lebih dekat dengan Shireen.
Wajahnya di palingkan dengan semrawut canggung dan sampai mengusap tengkuknya yang terasa dingin.
"A.. Iya, aku pergi dulu! Untuk pertemuan hari ini sangat luar biasa. Kau menarik investasi begitu banyak dan nona Shireen memang patut di apresiasi," Ucapnya mengalihkan suasana ini.
"Terimakasih, tuan!" Jawab Shireen seadaanya membiarkan Brandon pergi ke arah mobil yang sudah di tunggu oleh supir pribadinya.
Sebelum masuk ke mobil, Brandon menoleh dengan senyuman pada Shireen yang hanya mengangguk sopan dan elegan membiarkan pria itu pergi.
"Sampai jumpa di meeting besok pagi, nona!"
"Iya, tuan!" Jawab Shireen membiarkan Brandon masuk ke mobilnya dan melaju stabil ke arah gerbang besar kediaman.
Shireen menghela nafas ringan. Ia memandangi kepergian Brandon dengan tenang lalu mulai berpikir. Dimana Jeki si anjing peliharaan Brandon? Kenapa tiba-tiba menghilang?!
"Mustahil dia bisa memanjat pagar beton tinggi di sekeliling kediaman ini," Gumam Shireen memandangi pagar beton yang hampir menutupi setengah bagian kediaman dari luar.
Tak mau diam saja disini. Shireen melangkah menuju kebun kecil di belakang sana. Kebun rumahan yang mini tapi cukup luas jika di lihat dari dekat.
Ada beberapa pekerja yang bertugas membersihkan kebun tengah duduk di dekat tempat bersantai di belakang sana. Melihat kedatangan Shireen, semuanya bangkit dan berderet rapi.
"Nona!" Sapanya sopan.
"Apa kalian melihat seekor anjing berwarna abu lalu ada bercak putih di bagian lehernya?" Tanya Shireen dan para penjaga itu diam saling pandang.
Mereka ingat jika tadi anjing itu di tarik oleh tuan muda mereka ke dalam kediaman dan sepertinya setelah kejadian itu tak lagi terlihat visual anjing itu disini.
"Tadi, tuan muda Ealnest menarik anjing itu ke dalam kediaman, nona! Setelah itu kami tak tahu lagi," Ucap salah satunya dan sontak Shireen terhenyak.
"Elanest?!" Gumam Shireen heran. Ia pamit pada para pekerja kebun ini lalu melangkah pergi masuk ke dalam kediaman.
Kebetulan Shireen berpapasan dengan para pelayan yang bekerja di samping kediaman dan mereka seperti menghindari kontak mata dengan Shireen yang berhenti.
"Ada apa?"
__ADS_1
"A..tidak nona! Kami..kami permisi!" Gugup mereka yang tadi sibuk menyapu dan ada yang membersihkan sudut-sudut terkecil sekalipun seperti bersembunyi segera berhambur pergi.
"Tunggu! Jangan menyembunyikan sesuatu hal dariku."
"N..Nona!" Gugup mereka berhenti melangkah. 3 wanita berseragam pelayan itu saling pandang memeggang erat sapunya
"Apa yang terjadi? Pasti kalian tahu dimana hewan peliharaan tuan Brandon, bukan?" Tegas Shireen mengintimidasi.
Alhasil semuanya pucat. Jika di beritahu maka nyawa mereka terancam tapi jika tidak, pekerjaan merekalah yang akan hancur.
"Nona!!! Kami minta maaf. Sebenarnya tuan Ealnest mengancam kami untuk tak memberitahu nona jika anjing itu di bunuh tuan Ealnest!"
"Apaa??" Syok Shireen terkejut. Saat semua pelayan ini mengangguk Shireen dengan emosi, marah dan tak percaya melangkah masuk ke dalam kediaman.
"Ealneest!!!" Panggil Shireen lantang di lantai dasar. Para pelayan yang melihat raut marah di wajah Shireen sampai gemetar takut jika mereka akan kena dampaknya.
"Ealneest!! Turun sekarang!!"
Tegas Shireen sampai para pelayan itu hanya bisa pasrah masuk ke dalam kediaman tapi berdiri di depan pintu utama.
"Kau tak mau turun, haa??" Geram Shireen ingin menjemput putranya ke atas sana tapi terhenti saat Ealnest sudah berlari turun dengan wajah gugup dan pucat.
"Iya, mom?" Tanya Ealnest berlari turun diikuti Cooper yang tadi bersamanya di kamar atas.
Saat sampai di hadapan Shireen, Ealnest jadi tegang. Manik hijau tajamnya mengintimidasi para pelayan di belakang Shireen yang seketika menunduk.
"Apa yang kau lakukan pada peliharaan tuan Brandon?" Tanya Shireen tegas menatap tajam Ealnest yang diam sejenak melirik Cooper dari ekor matanya.
Tapi, Cooper hanya menaikan bahu acuh tak mau ikut campur membuat Ealnest mengepal.
"Katakan! Apa yang kau lakukan?"
"Eal tak melakukan apapun, mom!"
"Bohong!" Bantah Shireen lalu menunjuk para pelayan yang semakin merasa panas dingin saat Ealnest terus memandang membunuh para mereka semua.
"Mereka melihatmu melakukan semua itu. Kau masih mengelak?!"
Alhasil karna tak dapat lagi menghindar, Ealnest memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan wajah angkuh dan arogan sangat mirip dengan ayahnya.
"Yah, Eal yang lakukan!"
Seketika Shireen langsung lemas memijat pelipisnya pusing. Sudah berulang kali putranya berlaku sangat arogan dan semaunya pada orang-orang yang tak ia suka dan ini buka pertama kali.
"Kenapa? Apa salahnya kau bermain yang normal-normal saja?! Kau membunuh hewan tak bersalah itu dan.."
"Apa Eal harus bunuh pemiliknya?"
"EALNEST!!" Bentak Shireen kelepasan. Semua orang jadi diam termasuk Cooper yang melihat wajah Shireen seperti menahan perasaan yang sulit di jabarkan.
__ADS_1
Berbeda dengan Ealnest yang tampak keras kepala dan tak ingin apapun yang ia punya di ambil orang lain atau diusik sedikit saja.
"Jangan katakan hal itu lagi," Tekan Shireen ingin pergi ke kamarnya tapi Ealnest tak cukup puas hingga mencecer pertanyaan.
"Kenapa? Kenapa Eal tak boleh mengatakan itu?! Mereka yang duluan menganggu kita, mom!"
"Apa dengan membunuh itu kau senang?" Tanya Shireen terus melanjutkan langkahnya tapi, jawaban Ealneat diluar perkiraan mereka.
"Yah!! Mati lebih baik dari pada melihatnya berkeliaran di sekitar sini."
Shireen terhenti melangkah. Ia mencengkram peggangan tangga dengan kuat menahan rasa marah, benci dan sakit yang terus ia sembunyikan.
"Lagi pula mommy kenapa mau dekat-dekat dengannya?! Dia tak cocok jadi daddy Eal!"
Shireen hanya diam memilih tak melayani putranya lagi. Ia pergi ke atas sana untuk menenagkan diri dulu karna jawaban pertanyaan Ealnest tak sanggup ia jabarkan.
Melihat respon Shireen yang selalu seperti itu, Ealnest langsung beralih meluapkan kemarahannya pada para pelayan tadi.
"Kalian yang memberitahu mommyku!! Baiklah, akan ku buat kalian menyusul hewan sialan itu!" Geram Elanest ingin mendekat pada mereka tapi Cooper langsung menahan lengannya.
"Uncle!!"
"Jangan membuat mommymu marah lagi," Decah Cooper menarik Ealnest ke arah kolam renang. Bocah ini memberontak tetap ingin menyerang para pelayan sana sampai Cooper kewalahan dan untung saja ia cepat menutup pintu kasa geser di samping sana.
"Uncle!!"
"Duduk!" Paksa Cooper tapi Ealnest masih keras kepala. Alhasil, Cooper menarik nafas dalam-dalam mencoba berpikir.
"Ayo cari daddymu!" Ajak Cooper dan sontak Ealnest berhenti memberontak. Ia memandang lekat Cooper seperti mencari tahu kebenaran.
"Kau yakin?"
"Yah, kau ingin daddy yang seperti apa?" Tanya Cooper duduk di tepi kolam seraya mencelupkan kakinya ke dalam air yang tadi sudah ia isi penuh.
"Aku ingin punya daddy yang kuat. Dia tak takut mati, bisa melindungi mommyku dan yang paling penting adalah dia melebihi kecerdasanku," Jelas Ealnest yang sepertinya bukan mencari ayah tetapi teman bersekutu dengannya.
Cooper mangut-mangut mengerti. Semua kriteria itu ada pada Edwald tapi sayangnya pria itu sudah pergi jauh. Apa salahnya ia mengalihkan sikap bengis Ealnest dengan menyibukkan bocah ini?! Pikirnya begitu.
"Baiklah. Besok kita cari pria seperti itu."
"Kau yakin ada pria seperti yang ku inginkan? Yang di gudang itu mayat tentara juga tak lolos uji," Ucap Ealnest santai.
Cooper hanya bisa mengangguk. Yang di maksud Ealnest barusan adalah petugas keamanan yang dulu mengejar-ngejar Shireen tapi, saat di uji oleh Ealnest ia tak kuat dan akhirnya tewas.
Alhasil mayat pria itu Cooper awetkan di sebuah tempat yang jauh dari kediaman. Ia selalu membantu Ealnest yang terkadang tak manusiawi.
....
Vote and Like Sayang
__ADS_1