Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
J..jangan pergi!


__ADS_3

Keadaan masih sama. Shireen memeluk erat Edwald seakan tak mau melepas pria itu secara menatap waspada dan tegas pada semua aparat yang tengah mengelilingi mereka.


Ada seorang pria paruh baya dengan tubuh masih tegap dan berseragam jendral angkatan tertinggi yang memandang Edwald dan Shireen bergantian.


Pandangannya begitu intens seakan benar-benar seperti familiar dengan Edwald tapi ia tak mengekspresikan secara detail apa yang sekarang ia rasakan.


"Jendral! Dia adalah Steen pimpinan GYUF!" Seru Licnus mendekat. Pria itu memandang Licnus dari ujung rambut sampai ujung kaki dimana keadaan Licnus begitu tampak menyedihkan seperti habis di pukuli satu kampung.


"Kau dipukuli?"


"Aku bisa saja membunuhnya tapi, wanita itu menghalangi kami," Jawab Licnus bercampur geram memandang Shireen yang tak gentar masih menghadang mereka.


Jendral Adison terdiam. Tatapan datarnya terus mengintimidasi Edwald yang tak mengkhiraukan mereka karna prioritasnya sekarang adalah Shireen.


"Bawa pria itu!" Titah Jendral Adison merebakkan senyum culas Licnus puas.


Saat para anggota mendekat, Shireen kembali berteriak sekuat tenaga agar semua orang disini atau di desa ini bisa mendengarnya.


"TIDAK ADA YANG MEMBAWANYA!! DIA AKAN TETAP DISINI!!"


"Suamimu melakukan tindakan kriminal. Dia harus bertanggung jawab!" Tegas mereka tetap berjalan mendekat sampai Shireen sudah kehilangan akalnya karna rasa takut yang berlebih segera mengambil beberapa batu di sekitarnya dan melempar mereka dengan kuat.


"JANGAN SENTUH SUAMIKUU!!! TAK ADA YANG AKAN MEMBAWANYAA!!" Heroik Shireen melampaui karakternya yang selama ini begitu hangat dan elegan dan sekarang jadi begitu sensitif.


Nenek Rue menangis melihat sang cucu tampak begitu tertekan sama halnya dengan kakek Bolssom yang hanya bisa memalingkan wajah suramnya.


Melihat Shireen yang semakin tak terkendali bahkan akan mengancam kesehatannya sendiri, Edwald segera merebut batu yang ada di tangan Shireen saat siap di lempar.


"E..Ed! Mereka..mereka tak akan melakukan apapun padamu-kan? Tidak-kan?" Tanya Shireen sudah sesenggukan. Kebisuan Edwald bagai bongkeman mentah di dadanya.


Sungguh, ia sangat takut jika satu persatu orang yang ia cintai di renggut bahkan, tak akan kembali lagi padanya.


"E..Ed! M..mommyku pergi, daddy juga sudah..sudah menyusulnya dan..dan apa kau juga akan sama? Kau.. kau juga.."


"Shireen!" Gumam Edwald memeggang kedua bahu wanita itu dengan pandangan yang dalam penuh perasaan tapi, Shireen langsung menepisnya kasar.


"JANGAN MENGATAKAN SEMUANYA AKAN BAIK-BAIK SAJAA!! APA KALIAN AKAN SELALU SEPERTI INI?! MOMMY, DADDYKU DAN KAUU.. LALU SIAPA LAGI, HAA??" Depresi Shireen sampai tubuhnya mulai lemas tapi untung saja Edwald segera menahan pinggangnya.


Shireen kembali menangis meremas dada bidang Edwald kuat-kuat. Ini adalah masa paling sulit bahkan ia sudah tak tahu bagaimana bersikap. Otaknya buntu dan raganya juga membatu.

__ADS_1


"J..jangan tinggalkan aku, hiks! Aku mohon!"


Edwald diam tapi ia menahan rasa sesak dan sakit di dadanya. Jantung terasa terbakar karna hatinya juga ikut terluka mendengar perkataan dan perbuatan Shireen yang sudah tampak hancur.


Aku sangat ingin bersamamu tapi, aku tak bisa.


"Aku mohon! Aku mohon, hiks!"


"Aku tak akan meninggalkanmu. Jangan seperti ini," Bisik Edwald mengusap kepala Shireen yang menggeleng. Di peluknya erat tubuh kekar Edwald sementara para aparat di belakang sana mendekat.


Edwald diam sejenak meresapi pelukan terakhir ini. Keduanya sama-sama tak mau melepaskan bahkan sulit untuk menjaga jarak.


"Serahkan dirimu secara sukarela dan tak akan ada tembakan lagi!!" Tegas Jendral Adison.


Edwald diam. Ia dengan tenang menangkup kedua pipi sembab Shireen yang menggeleng lemah dengan tatapan memelas.


"T..tidak."


"Tak apa. Aku pernah membunuh daddymu dan menghancurkan keluargamu. Hukuman itu tak bisa ku hindari, Sayang!" Jelas Edwald mencoba memberi ketenagan pada Shireen yang menggeleng keras.


"Kau terpaksaa!! Tidak sepenuhnya salahmu. Kau.."


"J..jangan.. jangan pergi!"


"Maafkan aku!" Lirih Edwald pada Shireen yang berusaha menjauhkan para anggota yang sudah mengeluarkan borgolnya.


"Jangaan!! Jangan lakukan ituu!!" Kerasnya mendorong beberapa anggota yang tak bisa di halangi Shireen begitu saja.


Agar Shireen tak dal bahaya, Edwald menatap nenek Rue penuh permintaan untuk menahan Shireen dengan kedua tangannya sudah diborgol. Seiring hati yang gundah, wanita tua itu mendekati Shireen bersama kakek Bolssom yang segera menahan lengan cucunya saat ingin menahan Edwald.


"Sudahlah, nak!"


"K..kakek! Kakek mereka..mereka akan membawanya! Mereka membawanya, kek!" Gemetar Shireen tapi kakek Bolssom tak bisa berbuat apa-apa.


Edwald tak berani melihat Shireen dalam kondisi seperti itu. Dirinya bahkan lebih hancur memaksakan kakinya yang berulang kali ingin berbalik kebelakang tapi Edwald menegaskan jika melihat itu hanya akan membuatnya bertambah pedih.


"Kau sudah berjanjii!!! Kau sudah berjanji padakuu!!! Jangan bawa diaa!! Hiks, kakeeek!!"


Edwald hanya bisa mengepalkan tangannya di iring masuk kedalam mobil para anggota yang menahannya. Ia di dorong ke dalam sana di dampingi dua aparat khusus bersenjata lengkap dan ahli.

__ADS_1


"LEPASKAN DIAA!! KAU.. KAU BOLEH MENAHANNYA TAPI.. TAPI JANGAN BUNUH, AKU..AKU MOHON!!"


"Shireen sudah!" Tegas kakek Bolssom tapi Shireen sudah berlari mendekati mobil yang tadi mengurung Edwald. Sontak para anggota langsung menahan Shireen dan tentu Edwald begitu khawatir jika terjadi sesuatu pada wanita itu.


"Jangan bunuh!! Aku..aku akan segera melahirkan, biarkan dia melihat anakku, hiks! Jangan bunuh!!"


"KAU MEMANG MENYUSAHKAN!!" Geram Licnus langsung mendorong Shireen kasar sampai tersungkur ke aspal hitam ini.


Semua orang terkejut termasuk Edwald yang segera ingin keluar dari mobil tapi pintu itu di kunci otomatis.


"Shireen!!" Panggil Edwald tapi wanita itu tak lagi bisa berdiri.


Perutnya terkena benturan aspal dan ini membuat Jendral Adison menatap tajam Licnus yang seketika sadar jika tindakannya tadi terlalu anarkis.


Nenek Rue dan kakek Bolssom mendekati Shireen. Wanita tua itu terkejut kala Shireen meringis sakit memeggangi perutnya hingga tak lama setelahnya darah segar mengalir di sela betis Shireen.


"S..Sakiitt!"


"Darah?"


Syok mereka semua dan sontak Edwald tak bisa lagi menahan diri. Ia terjang pintu ini kuat bahkan sampai mobil terguncang.


"AKAN KU BUNUH KALIAN SEMUA JIKA TERJADI SESUATU PADANYA!!" Geram Edwald mencekik salah satu anggota yang tadi duduk di dekatnya.


Melihat keadaan sudah tak terkendali. Jendral Adison memilih pergi ikut memerintahkan mereka untuk putar arah.


Edwald yang menggila di dalam mobil itu juga langsung di beri suntikan obat penenang itupun mereka harus bertaruh nyawa karna Edwald sangat tak bisa di kendalikan.


Shireen yang sudah lemah hanya bisa meratapi kepergian mobil-mobil itu. Ia remas pinggir dressnya kuat dengan wajah sudah sepucat kasap dan keadaan berantakan.


"J..jangan p...pergi," Lirih Shireen mengangkat tangannya ke arah depan tapi tak berselang lama, ia sudah tak kuat hingga tumbang tak sadarkan diri.


"Cepat bawa kerumah sakit!! Dia sudah pernah pendarahan hebat sebelumnya dan ini sangat berbahaya!!" Panik nenek Rue pada kakek Bolssom yang segera menggendong Shireen masuk ke dalam mobil mengabaikan para warga yang nyatanya tak diam saja.


Mereka mulai membantu walau tak tahu apa masalah Edwald dengan pemerintahan negara ini dan kenapa bisa di tangkap? Semuanya masih menjadi misteri.


........


Vote and like sayang..

__ADS_1


__ADS_2