Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Suka atau tidak, bukan urusanmu!


__ADS_3

Siang ini mereka akan melakukan riset pasar pengedaran. Wesson bertugas mengemas barang di markas sedangkan Glimer memeggang bagian pemantauan daerah.


Strategi penyelundupan akan di buat oleh Edwald yang memang diandalkan karna pemikiran pria itu sangat mustahil di bantah. Edwald mahir dalam membolak-balikan arah rencana sampai GYUF semakin memperluas jangkauan bisnis haram dan kekuasaannya.


Di kota Began. Tempat ini termasuk wilayah bebas hukum hingga mereka bisa bertukar barang disini. Tempat pertama yang jadi ladang perjumpaan dua komisi itu adalah pinggiran hutan yang ada tak jauh dari pusat kota Began.


"Akhirnya kau datang!" Sapa seorang pria paruh baya yang sudah menunggu di depan mobil bersama satu kaki tangannya.


Pandangan keduanya terfokus pada satu mobil hitam pekat yang sudah menepi sendirian.


Hasrat puas akan kedatangan obat-obat haram ini benar-benar terlihat dari mata pria itu.


"Steen! Sudah lama kita tak bertemu. Kemaren kau hanya mengirim anak buah mu saja!"


Ujar Rue pria penadah barang-barang ilegal ini. Ia tampak humble menyambut seorang pria dengan jaket hitam membalut tubuh kekar dan tegapnya keluar dari mobil itu.


Auranya sangat mendominasi. Ia berdiri tapi seakan-akan mengklaim area ini menjadi miliknya.


"Kau selalu memakai masker dan topi. Tak pernah berubah," Kelakar Rue bersandar ke mobilnya seraya mengambil satu batang rokok yang di berikan oleh bawahan di sampingnya.


Cooper yang tadi ada di dalam mobil segera keluar. Ia berdiri di belakang Edwald yang masih belum bergerak dari samping mobil.


"Steen! Kita tak punya banyak waktu." Bisik Cooper tapi Edwald hanya diam. Manik hijau elang itu mengamati daerah sekitar hutan yang sangat lengang bahkan nyamuk-pun tak berani berdengung di telinga mereka.


"Sesuai kesepakatan awal. Kami sudah menyiapkan uangnya dan kau bisa memberikan benda itu sekarang!"


"Ini terlalu cepat," Sahut Edwald tenang. Ia menatap lekat Rue yang saling pandang dengan bawahannya lalu segera terkekeh kecil.


"Lebih cepat lebih baik. GYUF memiliki banyak urusan, bukan?"


"Hm! Tunjukan padaku uangnya!" Tegas Edwald tak bergerak dari tempatnya.


Rue mengangguk. Ia mengisyaratkan pada bawahannya untuk mengambil 4 koper uang yang di keluarkan dari dalam mobil.


"Uang ada dan sesuai kesepakatan. Kita bisa saling bertukar!"


"Buka!" Pinta Cooper waspada. Rue tersenyum tipis mengangguk paham segera membuka satu koper uang yang memang berisi dolar yang rapi.


"Ini semua milikmu jika transaksi ini berhasil!"


Cooper diam sejenak. Ia menunggu Edwald bergerak tapi kebisuan pria ini pasti punya maksudnya sendiri.


"Keluarkan!" Titah Edwald dan Cooper siap mengambil satu koper di dalam mobil.


Ia membawa benda itu mendekati Rue yang seketika tersenyum lebar saat Cooper membuka isinya adalah bungkusan obat yang siap di pakai.


"Woww!!! Kalian tak pernah kehabisan produk ilegal," Puji Rue mendekat.


Bawahan Rue diam saling pandang dengan tuannya. Mereka bermain kontak mata di tengah pantauan mata elang Edwald yang tersenyum iblis di balik maskernya.


"Berikan koper itu!"


"Kita saling bertukar!" Jawab Rue pada Cooper yang memberikan benda di tangannya.

__ADS_1


Saat Rue sudah mengambil alih koper uang itu, ia memberikan isyarat ke dalam hutan hingga luncuran peluru langsung menghadang.


"Habisi mereka!!" Tegas Rue tertawa lebar membawa koper itu masuk ke dalam mobil. Bawahannya segera mengikuti Rue dengan menyeret kembali 4 koper uang ke dalam mobil dengan cepat.


Edwald menunduk di samping mobil. Ia melirik Cooper yang baku tembak dengan anggota musuh di dalam hutan sana tapi jumlah mereka sangat banyak dan sudah di persiapkan.


"Steen! Aku sudah bilang bukan?! Kau harus membawa anggita GYUF. Kita jadi kecolongan!!" Rutuk Cooper yang sesekali bersembunyi di balik boddy mobil.


Edwald hanya santai. Cuaca berangin ini di tembus oleh peluru musuh yang datang dengan niat membunuh.


"Steen!! Hubungi anggota untuk mengejar mobil sialan itu!!" Teriak Cooper kesal karna Rue sudah pergi dan mereka terjebak hujan peluru disini.


Kaca-kaca mobil ini pecah tapi Edwald masih berjongkok di sampingnya. Cooper sangat heran ntah apa lagi yang dia rencanakan sampai membuat suasana mengancam seperti ini.


"Steen!! Jika kah ingin mati, maka pergilah sendiri. Aku masih ingin berkunjung ke rawa-rawa siluman di club kemareen!!"


Racau Cooper konyol. Edwald yang tak bertindak melirik jam di pergelangan tangannya. Di rasa waktu ini sudah cukup ia bangkit mengeluarkan pistol di balik jaketnya dan menembak brutal ke arah sumber hujan peluru ini.


Bagaikan mesin penembak jitu, Edwald tak menyisakan satupun dari mereka. Walau terhalang semak dan pepohonan, Edwald bisa memecah kepala anggota musuh sampai tak lagi terdengar suara langkah kaki.


Cooper yang menyaksikan itu lagi-lagi terperangah. Ia tahu Edwald memang monster tapi pria ini terlalu misterius dan mengejutkan.


"Steen! Kenapa baru sekarang kau berdiri? Peluruku sudah habis," Umpat Cooper mendekati Edwald yang berdiri di belakang mobil yang sudah penuh dengan kerusakan.


Ujung pistolnya berasap kembali ia masukan ke dalam jaket lalu melirik jam di pergelangannya.


"Steen! Kita rugi besar. Uang tak ada dan barang itu sudah jatuh ke tangan mereka. Apa lagi yang lebih buruk dari ini?!"


Jalan aspal ini lengang karna memang ini jalan yang tak bisa di lalui oleh sembarangan orang. Tingkat kriminal di kota Began begitu tinggi dan buruk.


"Ada 3 misi. Separuh anggota sudah pergi ke tempat yang lain dan kali ini misi kita gagal."


"Teruslah mengumpat," Datar Edwald segera melihat ada dua mobil hitam pekat yang datang dari arah samping kiri dengan satu mobil container yang besar.


Cooper kebingungan. Ia menjadi orang bodoh menyaksikan anggota GYUF yang keluar dari masing-masing mobil itu mendekati Edwald yang berdiri di dekatnya.


"Tuan!"


"Katakan!" Tegas Edwald memperhitungkan waktu yang mereka pakai.


"Semuanya selesai. Kami sudah menyita senjata mereka dan menghabisi tanpa sisa!"


"Tunggu. Apa maksudnya? Siapa yang di habisi?" Tanya Cooper menyela anak buah GYUF yang tadi sudah menerima taktik licik dari Edwald.


"Kami di perintahkan tuan untuk pergi ke tempat Rue selagi pria itu melakukan transaksi disini. Semua barang berharga dan anak buahnya sudah di bereskan dan kami menunggu perintah lanjutan!"


"Apaa??" Syok Cooper beralih menatap Edwald yang lagi-lagi melirik jam di pergelangannya.


"S..Steen.. Kau.."


"Ledakan!" Titah Edwald pada anggotanya yang mengangguk segera menekan tombol di monitornya. Cooper lagi-lagi tersentak mendengar suara dentuman di arah jalan mobil Rue tadi dengan asap hitam terlihat mengepul ke atas.


Pemandangan yang indah tapi ini sangat kejam. Setelah melihat semuanya Cooper jadi paham.

__ADS_1


"Astaga!! Yang ada di dalam benda itu bukanlah obat terlarang tapi bahan peledaak??! Dan kau sengaja membawa Rue kesini agar gudang uang mereka bisa di rampok diam-diam. Steen.. Kau benar-benar membuatku kaya mendadaak!!" Decah Cooper merasa dibodohi.


Para anggota GYUF hanya diam tapi mereka sangat puas menjalankan misi dengan Edwald. Pria ini mencari keuntungan besar di balik cela sempit sekalipun.


"Sebarkan ke seluruh kota jika mulai hari ini GYUF memimpin disini!"


"Baik, tuan!"


Jawab mereka membiarkan Edwald masuk ke salah satu mobil yang baru di bawa tadi. Cooper bersemangat menduduki kursi kemudi sedangkan Eswald masih berkuasa di belakang sana.


"Steen! Ajari aku merakit peledak!"


"Apa yang terjadi di kediaman Suma?" Tanya Edwald beralih ke pokok pembicaraan lain.


Cooper memiringkan bibirnya jengah seraya mengemudi dengan stabil keluar dari kota ini.


"Sejauh ini belum ada keributan. Shireen keluar dari kamar Suma dengan penampilan acak-acakan. Ntah apa yang mereka lakukan aku-pun tak tahu?!" Jelas Cooper tapi terselip intonasi menggelikan.


Edwald diam. Ia percaya jika Shireen tak akan semudah itu menyerahkan tubuhnya. Pasti sudah ada kejutan yang kucing peniru itu dapatkan di dalam kamar Suma.


"Steen! Apa kau menyukai Shireen?"


Brughh..


Terjangan kaki kokoh Edwald ke kursi kemudi membuat Cooper nyaris terlempar ke kaca depan.


"Aku hanya bertanya!! Kenapa respon mu selalu berlebihan?!" Rutuk Cooper mengusap dada gugup kembali fokus ke jalan.


"Suka atau tidak, BUKAN URUSANMU," Geram Edwald tampak emosi.


Cooper mendecah kasar. Ia memang merasa Edwald menyukai Shireen tapi pria monster ini sangat aneh dan sulit menjabarkan perasaannya.


"Steen! Shireen itu cantik, cerdas, lembut, keibuan, tubuhnya.."


Ucapan Cooper tercekat kala ujung pistol Edwald sudah menempel ke kepala kursinya.


"M..maksudku dia wanita idaman. Aku.. Aku hanya bingung, kenapa kau tak menyukainya?!" Gemetar Cooper memberi senyum miris.


Edwald diam. Ia kembali ke posisi awalnya memandang keluar jendela mobil.


"Kau melindunginya diam-diam. Masalah pembunuhan itu juga bukan karnamu. Kau hanya menjalankan misi dari Suma."


"Jangan bicara lagi," Tegas Edwald menyimpan kembali ponselnya.


Ia kembali seperti biasa tapi percayalah. Edwald memikirkan semua kata-kata Cooper. Ia selalu dihantui oleh rasa rindu dengan tawa riang, pelukan hangat, belaian penuh cinta dan kecupan di pagi hari.


Suka atau tidak, cinta atau bukan. Aku tak akan membiarkanmu jatuh ke lubang kotor ini.


Pikir Edwald menyentuh perutnya. Ia merasakan besar kebencian Shireen padanya dan itu tak masalah selagi wanita itu masih hidup dan berjuang.


...


Vote and Like Sayang

__ADS_1


__ADS_2