Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Kembali ke markas


__ADS_3

Pesta besar itu tampak meriah di dalam sebuah bangunan besar selayaknya sebuah mansion. Bangunan khas klasik dengan batu-bata abu yang sangat antik itu tampak berkelas di gempur oleh banyak lampu kediaman yang menjadi saksi pesta minum di dalamnya.


Seorang pria paruh baya yang memakai sarung tangan hitam dan memiliki satu gigi emas di taringnya itu menatap puas pada seluruh anggota intinya yang malam ini bebas menikmati suguhan atas kejayaan mereka.


"Minum sebanyak-banyaknya!! Kita bersulang untuk putraku Steen!!" Serunya mengangkat gelas bir yang diisi oleh pelayan wanita yang berpakaian sangat minim di samping kursinya.


Pria yang ia panggil Steen itu hanya diam duduk mengelilingi meja yang penuh dengan botol minum. Ia juga mengangkat gelasnya untuk di satukan dengan yang lain.


"Terimakasih, Dad!" Gumamnya ikut menegguk minuman itu.


Senyum kemenangan selalu terpancar di wajah pria paruh baya ini. Ia seperti berdiri di puncak gunung yang selama ini sulit di daki dan sekarang ia mendapatkannya.


Jika kalian menebak itu SUMA maka kalian benar. Dialah Suma, pria yang memimpin GYUF organisasi terlarang dan ilegal yang sudah banyak menyuplai barang-barang ilegal. Sayangnya, mereka selalu lolos dan lolos. Tak satupun ada yang meringkus mafia kelas kakap ini bahkan di negara manapun.


"Aku sangat puas dengan semua misi yang kau kerjakan, Steen! Selalu berhasil dengan sempurna dan tak mengecewakanku," Bangga Suma selalu menyanjung-nyanjung Edwald sampai putra bungsunya yang juga bergabung disini jadi memendam iri.


Pria muda berkacamata dengan tubuh lebih pendek dan potongan rambut seperti comahear itu hanya bisa diam tapi ia menggenggam erat gelasnya.


"Selalu saja dia yang di banggakan. Aku juga sudah banyak menyelesaikan misiku," Batin Gilmer putra bungsu Suma.


Namun, ia segera terhipnotis kala Suma mengeluarkan sesuatu dari balik mantel hitam mahalnya.


Tatapan semua orang terkunci pada pistol Sig Sauer p226. Pistol yang menjadi incaran banyak orang bahkan anggota GYUF karna memiliki metode duel action yang tak pernah gagal.


"Dad! Ini senjata yang di modif itu-kan?" Ganya Glimer terlihat menginginkan benda itu.


Suma tersenyum mengiyakan. Ia menunjukan pistol berbahaya ini dihadapan banyak anggota yang benar-benar sudah lama menginginkannya.


"Senjata ini sudah di modifikasi oleh pabrik GYUF. Ini ku pesan khusus untuk hadiah kemenangan Steen anakku!"


Mereka semua bertepuk tangan ikut senang tapi tidak dengan Glimer yang mengepal. Sorot mata tak sukanya jelas menghadang Edwald yang hanya setia dengan wajah dingin dan cara duduk angkuh khasnya.


"Steen! Ambilah!" Menyerahkan benda itu pada Edwald yang tak langsung mengambil.


"Aku rasa ini terlalu berlebihan."


"Tidak. Ini hasil dari semua kerja kerasmu dan ini perintahku," Tegas Suma dam mau tak mau Edwald berdiri dengan tubuh tegap gagahnya yang di baluti mantel hangat membungkuk kecil sebagai tanda hormat menerima pistol itu.

__ADS_1


"Aku terima, dad!"


"Bagus. Aku sangat senang dengan semua kemenangan yang kau bawa, nak!" Decah Suma seperti hanya memiliki Edwald sebagai andalannya.


Edwald duduk kembali di kursinya. Ia tahu Glimer pasti menginginkan senjata ini tapi ia tak mungkin membantah Suma.


"Sekarang, aku ingin mendengar berita lanjutan dari keluarga itu!"


"Mereka sudah tamat," Tegas Edwald menyorot langsung dengan manik hijau tenangnya.


"Yah. Tapi, aku ingin tahu apa ada harapan mereka untuk bangkit atau tidak."


"Semuanya sudah lumpuh. Satu putrinya sudah kritis di rumah sakit dan kemungkinan besar rumah mereka juga akan di jual, tuan!" Jelas salah satu mata-mata yang berdiri di belakang kursi Suma.


"Apa yang lebih mengembirakan dari semua itu?" Tanya Suma kembali meneguk minumannya.


"Putri tunggal mereka melaporkan kasus kematian Walter ke pihak kepolisian. Tapi, sayangnya mereka tak mendapatkan apa-apa."


"Hm. Putri tunggal?" Gumam Suma beralih memandang Edwald yang seperti biasa tak menunjukan respon apapun.


"Yah, tuan! Shireen yang dinikahi oleh tuan Steen kemaren!"


"Dia sudah tak berguna," Gumam Edwald tapi tak memandang Suma yang seketika terkekeh kecil.


"Aku sangat pelupa. Sudah jelas wanita itu tak akan bisa bertahan lagi. Cerai atau tidak itu sama sekali tak penting, nak!"


"Hm," Gumam Edwald hanya menjawab seadanya. Puas memutar-mutar ujung pistol ini ke pahanya. Pandangan Edeald kembali bergulir ke arah lain seakan tak ada yang menarik disini.


Padahal banyak wanita cantik bertubuh semok yang mengelilingi mereka tapi, matanya seakan enggan dan lebih tertarik pada bulir salju yang turun di luar kaca tempat mewah ini.


"Habiskan malam ini dengan minuman dan wanita!!" Ajak Suma mengayomi anak buahnya. Mereka bersuka ria bahkan tak segan untuk membawa para wanita penghibur itu untuk memuaskan hasrat masing-masing.


Melihat Edwald yang tak berminat, Suma berinisiatif untuk memanggil wanita yang paling berbisa disini.


"Steen!" Panggilnya dan Edwald menoleh datar.


Ia memandang wanita semampai berdada besar di samping Suma yang tersenyum hangat padanya.

__ADS_1


"Lepaskan lelahmu, nak! Wanita ini sangat lihai memanjakam lelaki!"


"Tentu saja, tuan!" Timpal wanita itu sangat ingin bahkan mendambakan sentuhan Edwald. Pandangannya yang berapi-api dan gestur tubuh tak sabaran ini sudah seperti hiasan jalan bagi Edwald.


"Layani tuanmu!"


"Aku sudah ada, dad!" Jawab Edwald segera berdiri dari duduknya. Ia berpamitan untuk pergi memantik tatapan kecewa dari wanita itu.


"Aku ingin istirahat!"


"Baiklah. Kau bisa pergi," Jawab Suma tak mempermasalahkan itu.


Edwald berjalan pergi ke arah pintu keluar dari sini. Tapi, seiring langkah tegasnya Edwald berpapasan dengan seorang pria bertubuh tinggi dan berjambang tipis tapi maskulin.


Mantel pria ini di bumbuhi serbuk salju pertanda ia sudah lama di luar. Sebelum benar-benar menjauh pria itu memberi sapaan pada Edwald.


"Selamat kembali ke rumah!" Ucapnya hangat tapi jelas ia lebih dewasa dari Edwald yang hanya mengangguk tetap melanjutkan langkahnya.


Dia adalah Wesson putra pertama Suma yang memiliki dua anak kandung. Wesson adalah seorang dokter tapi ia juga ikut dalam aliran gelap ayahnya.


"Selamat malam, dad!" Sapanya formal pada Suma yang tengah bercengkrama dengan para wanita disini.


Pemandangan biasa bagi mereka melihat Suma yang tak lagi punya istri itu bermain wanita.


"Wesson! Kau kembali?"


"Yah. Hari ini lumayan," Jawab Wesson duduk di kursi dimana Edwald duduk tadi.


Melihat kakaknya datang, Glimer segera mendekat karna ia selalu menunggu kabar keberhasilan pria ini.


"Berapa tawanan yang kau tangkap? Kak!"


"100!"


"Wooww!! Kau bahkan lebih hebat dari Steen!!" Decah Glimer tapi mereka tak terlalu menggubris. Wesson memang punya tugasnya sendiri dalam mencari manusia yang akan di perdaggangkan.


...

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2