
Setelah kepergian Cooper tadi, Edwald tak lagi memikirkan soal itu. Ia fokus pada Shireen yang semenjak kepergian Cooper terlihat melamun dan seperti ada yang menganggunya.
"Kau kenapa?"
Tanya Edwald tapi Shireen diam berdiri di depan jendela dapur. Pandangan jauh kedepan seperti tengah memikirkan sesuatu. Tentu hati Edwald tak tenang dengan kebisuan Shireen yang seperti menghindarinya.
"Kau ingin makan? Katakan! Kau ingin makan apa?"
"Kenapa kau rahasiakan?" Tanya Shireen dingin tanpa memandang Edwald yang ikut mematung karnanya.
"Maksudmu?"
Shireen menunduk. Matanya berkaca-kaca ia alihkan ke lantai dingin ini karna jelas tadi ia menguping pembicaraan Edwald dan Cooper karna merasa ada yang tak beres dan.. dan ternyata selama ini Edwald menyembunyikan hal sebesar itu darinya.
Tahu apa yang tengah di bahas Shireen, Edwald-pun segera menghela nafas.
"Aku.."
"Pergilah!"
Sontak Edwald langsung memandang tak suka Shireen yang masih menunduk meremas pinggir dress hamilnya.
Dengan cepat Edwald menarik bahu Shireen untuk segera berhadapan dengannya.
"Apa yang kau bicarakan?!"
"Pergi!" Lirih Shireen tapi tegas. Ia mengangkat pandangan mata berair nya pada Edwald yang sungguh tak ingin melihat ini.
Bibir Shireen bergetar menahan sesuatu yang sekarang bergumul menjadi satu di dalam dadanya. Seperti panas, sesak dan sangat sempit.
"P..pergilah! Pergi yang jauh!"
"Jangan bicara omong kosong. Kau sedang hamil dan kau ingat, saat itu kau memintaku untuk menemanimu dan.."
"Aku menariknya sekarang!" Sela Shireen serius dengan setetes air mata turun. Ia menyesal mengatakan itu karna tak tahu jika hal ini akan terjadi.
Edwald sampai termenggu diam menyelami manik hitam ini penuh perasaan.
"A..anggap saja aku tak mengatakan itu dan..dan kau pergi dari sini, s..sekarang!" Gemetar Shireen mendorong bahu Edwald yang ingin lebih dekat dengannya.
"Shireen! Aku sudah mengambil keputusan."
"Ingin mati? Atau di penjara seumur hidup, begitu?" Tanya Shireen tak rela. Saat Cooper mengatakan hal itu tadi ia langsung jantungan membayangkannya.
"Shireen!"
"Edwald! Aku lebih baik tak pernah bertemu denganmu lagi, t..tapi asal kau masih hidup..a..aku.."
Shireen menjeda ucapannya karna ia tak cukup kuat membayangkan hal itu.
"Aku tak ingin kau berakhir di sana. P..pergilah, pergilah aku mohon, pergi! Hiks," Isak Shireen akhirnya tak sanggup lagi.
__ADS_1
Edwald segera meraih bahu Shireen hingga jatuh dalam pelukannya. Shireen menangis tertahan tapi, ia berusaha untuk kuat tak ingin memberatkan Edwald.
"Pergilah! Selamatkan dirimu!"
"Aku akan baik-baik saja," Jawab Edwald tapi Shireen menggeleng. Ia tahu betapa beratnya hukuman yang nanti akan di terima Edwald jika sampai mendekam di dalam jeruji besi sana.
"J..jangan bohongi aku lagi! Kau harus segera pergi! Ayo!!"
Ajak Shireen menarik lengan Edwald yang mengikutinya. Nenek Rue dan kakek Bolssom kebetulan tak ada di kediaman jadi, Shireen bisa bebas menghadapi ini semua.
Tiba di depan kediaman sana, tiba-tiba saja ada salah anggota Edwald yang lari dari arah jalan sana dengan keadaan dada terkena tembakan dan mengalirkan darah.
"T..tuan, Steen!" Teriaknya sebelum jatuh ke teras kediaman tepat di hadapan Edwald dan Shireen yang segera membantunya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Shireen berdiri sedangkan Edwald berjongkok di dekat pria menyedihkan ini.
Dengan nafas setengah-setengah dan wajah berlumuran tanah, pria itu mengangkat tangannya menunjuk ke area jalan.
"T..tuan ... C..Cooper d..dia.."
"Apa yang terjadi pada Cooper?" Syok Shireen tapi pria itu memuntahkan darah ke lantai dingin ini. Edwald diam tapi kedua tangannya mengepal meremas bahu pria sekarat yang tampak masih berusaha bicara dengan mata sayup.
"C..Cooper..d..dia di j..jalan utama dia.."
Akhirnya pria itu menutup matanya setelah berhasil menyebutkan nama tempatnya. Edwald yang sudah kelam segera berdiri dengan wajah dingin dan penuh hawa membunuh berapi-api.
"Edwald! Cepat pergi dari sini! Aku akan mengurus mereka!" Panik Shireen ingin pergi ke luar area kediaman tapi Edwald langsung menyeretnya masuk ke dalam.
Shireen memukul-mukul pintu itu dari dalam tapi Edwald mengambil salah satu tali sepatu pria yang tewas tadi dan mengikatnya ke gagang pintu.
"EDWALD!!! BUKAA!!! BUKA PINTUNYAA!!"
Edwald hanya diam. Matanya sudah mengigil dan rahangnya mengetat kuat. Ia genggam erat gagang pintu itu seakan meninggalkan semua perasaan yang tadi menggerogoti jantungnya.
"Jangan keluar! Apapun yang terjadi!" Tegas Edwald mengusap pintu itu halus lalu melangkah pergi. Shireen berteriak sejadi-jadinya memanggil nama sang suami tapi Edwald sudah cepat pergi mengeluarkan pistol yang ada di balik jaketnya.
...........
Sementara di jalur masuk desa sana. Para mayat yang tadi ikut terseret dari aksi gila Cooper sudah di kumpulkan beberapa aparat yang baru datang. Pasukan pengepung yang sudah terbakar dalam ledakan tadi sempat mengirim panggilan khusus hingga Licnus datang dan sangat murka melihat rekan-rekan mereka juga banyak menjadi korban.
"Dimana pria itu?" Geram Licnus pada salah satu rekannya yang berjaga di sampingnya.
"Itu mobil yang tadi meledak tuan! Kemungkinan pria itu tak selamat!"
Ucap team pengintai yang tadi menyaksikan segalanya dan merekalah yang tadi memburu anggota GYUF yang tak sempat melarikan diri dan mati di tempat, 2 yang tersisa tak ditemukan lagi.
Licnus berdiri tak jauh dari mobil hitam yang sudah berasap bahkan masih mengobarkan api dari sisa bangkai mobil yang menghitam.
"Seret mayatnya keluar!"
"Baik!"
__ADS_1
Mereka segera mengerumuni mobil itu. Pistol saling beradu dengan baja panas ini dan dengan sigap salah satunya menarik pintu mobil yang ringsek hingga asap hitam dari dalam menguar hebat.
Aroma hangus bahkan menyengat ini sontak membakar hidup tapi, mereka sempat menarik seseorang yang terjepit kursi mobil dengan kepala tergeletak di atas stir mobil dalam keadaan berlumuran darah.
"Apa dia masih hidup?" Tanya Licnus harus memastikan.
Sosok itu di tarik keluar hingga jaket dan celana yang tadi Cooper pakai sudah setengah terbakar bahkan, kulit tubuhnya merah bak daging terkena panggangan bara yang panas.
Wajah Cooper sudah berlumuran darah nyaris tak dapat di lihat dengan jelas lagi.
"Sepertinya dia sudah tak bernyawa, kapten!" Jawab salah satunya membalikan tubuh Cooper secara terlentang dengan tolakan kakinya sementara yang lain waspada dengan senapan laras panjang dan seragam elit tentara.
Warga yang tadi ingin mendekat diamankan oleh pihak kepolisan agar segera menjahui tempat ini. Mereka terpaksa melihat dari jauh tapi saling berdiskusi tentang siapa sosok yang tergeletak di aspal penuh dengan darah ini.
Sementara Licnus ia mendekat dan mengamati kondisi Cooper. Luka-luka ini begitu serius dan tak mungkin bisa selamat.
"Kau yakin ini Steen?"
"Dia yang mengaku seperti itu, kapten! Bahkan, menghabisi petugas yang sudah kita kirim sebelumnya," Jawab salah satunya menjelaskan.
Licnus diam. Lama ia memandang sosok Cooper yang bertubuh lebih pendek dan tak begitu kekar. Sedangkan yang di katakan Johaness, sosok Steen yang selalu menutupi wajahnya itu bertubuh tinggi, kekar dan sempurna.
"Siram dia dengan air!" Titah Licnus dan bawahannya langsung mengambil sebotol air dari mobil.
"Siram wajahnya!"
"Baik!"
Air itu di siramkan secara kasar ke wajah Cooper yang pasti akan merasakan sakit yang luar biasa jika dia masih hidup. Dan yah, setelah beberapa menit kemudian Cooper mulai menunjukan tanda-tanda hidup yang lemah dimana bibirnya yang sobek bergerak seperti menahan tapi masih antara sadar atau tidak.
Licnus menyeringai. Ia punya rencana yang pas untuk memancing Steen yang asli untuk datang kesini.
"Ikat dia di pohon di pinggir sana!" Perintah Licnus menunjuk pohon sebesar pinggang orang dewasa yang tak jauh dari mereka.
Cooper di seret kasar ke sana bahkan tak peduli jika luka-lukanya tampak semakin menjadi-jadi tergores aspal. Sayangnya, Cooper tak ada daya lagi untuk bergerak atau melawan.
Ia hanya seperti di dalam mimpi dan ia sendiri tak percaya nyawanya masih ada walau akan segera redup.
"Tubuhnya memang begitu kuat. Pantas anggota GYUF sulit di tangkap jika begini."
Gumam mereka mengikat Cooper di pohon ini kuat sampai darah segar itu terus mengalir di mulut Cooper yang sudah terkulai seperti tak bernyawa dengan kepala tertunduk lemas.
Semua anggota menjauh dari Cooper. Hal ini membuat Licnus bertambah panas karna ia tak sabar melihat siapa yang akan datang.
"Mari akhiri ini, Steen!" Gumam Licnus mengeluarkan pistolnya. Bidikan senjata api itu tepat mengarah ke kepala Cooper yang masih setengah sadar.
Licnus melirik kanan kirinya tak ada tanda-tanda kedatangan siapapun, ia semakin serius dengan hal ini hingga tak sabar lagi.
Dooorr...
....
__ADS_1
Vote and like sayang