
Masih di tempat yang sama. Wesson lega karna Edwald tak mempermasalahkan kejadian ini karna ia tahu Edwald termasuk pria yang misterius.
Tapi, yang membuatnya merasa aneh adalah tatapan Shireen yang seakan begitu membenci Edwald sampai berdiri di hadapan pria itu saja ia enggan. Shireen memilih untuk ada di samping Wesson yang setidaknya merasa senang.
"Steen! Dia pelayan pribadiku. Aku harap kau tak mempermasalahkannya," Ucap Wesson tapi Edwald hanya diam.
Ia tetap memandang Shireen yang tak sudi berkontak mata dengannya. Jauh di dalam lubuk hati Edwald. Ia benar-benar emosi karna Shireen datang ke tempat seperti ini.
"Dari mana kau memungut wanita ini?"
Shireen mengepal. Pertanyaan Edwald menjerumus pada seonggok sampah yang ada di tepi jalan. Apa dia memang sekejam itu?!
"Aku rasa ini keberuntunganku!" Lirih Wesson hanya bisa di dengar oleh Edwald. Shireen masih setia dengan wajah dinginnya dan selalu menyimak hinaan Edwald padanya.
Seakan tak suka jika Shireen disini. Edwald beralih pada Wesson memandang datar pria dewasa ini.
"Wanita seperti ini tak akan bisa melakukan apapun dengan baik. Dia akan merugikan-mu."
"Aku bisa!"
Sahut Shireen tegas. Ia harus mencari tahu, kenapa Edwald bisa disini? Dan apa hubungan pria ini dengan Wesson?!
"Aku bisa melakukan apapun. APAPUN!" tekan Shireen di ujung kalimatnya.
Rahang Edwald mengetat. Ada urat kemarahan di lengannya tapi itu ia redam dengan hawa tak bersahabat.
Jawaban Shireen sungguh membuat Wesson bingung. Kenapa Shireen tiba-tiba mau padahal sebelumnya ia menentang kuat pernyataan itu?!
Sebelum keadaan semakin di luar kendali. Shireen akhirnya mengambil langkah besar yang baru ia mulai.
"Aku sudah disini. Lari-pun tak akan bisa. Kau bisa melakukan APAPUN padaku!"
"A.. kau terlalu lurus," Canggung Wesson agak gugup dengan arti perkataan Shireen. Gelagatnya yang jelas menyukai wanita cantik ini bisa di rekam jelas dari balik lensa mata Edwald.
Kau mencari mati, Shireen! Sudah baik kau ada di luar sana tapi masuk ke lumpur hitam ini.
Batin Edwald geram. Shireen mengabaikan hal itu. Ia akan memanfaatkan Wesson untuk bertahan disini walau ia tak tahu Wesson orang yang seperti apa.
"Baiklah. Aku rasa kau sibuk. Aku pergi!" Ucap Wesson menepuk bahu kokoh Edwald lalu melangkah pergi ke arah pintu samping.
Shireen mengikutinya tapi belum sempat dua kaki melangkah tiba-tiba saja lengannya langsung di tarik kasar oleh Edwald.
"Kauu..."
"Kau ingin mati?" Desis Edwald beralih mencengkram kedua pipi Shireen dengan raupan tangan kekarnya.
Mata keduanya beradu panas dan penuh amarah dari persoalan masing-masing.
"Kau tak berhak mengaturku!"
"Kau ingin menjual tubuhmu?" Jijik Edwald menekan jarinya kuat sampai Shireen tak tahan untuk tetap diam.
"Jika di perlukan aku akan MELAKUKANNYA!"
__ADS_1
"Menjijikan," Desis Edwald tapi Shireen segera menampar wajahnya. Cengkraman itu terlepas begitu juga lengannya yang tadi di seret Edwald.
"Kau yang menjijikan! Bahkan, aku tak bernafsu makan melihatmu," Desis Shireen lalu melangkah pergi menyusul Wesson.
Edwald melirik penuh amarah segera menendang porselen di sampingnya hingga pecah. Deru nafasnya memburu dengan wajah kelap menahan emosi dan tak terima.
"Siall!! Dia sama saja menghancurkan hidupnya sendiri," Umpat Edwald mengusap wajahnya kasar. Untung saja disini tak ada siapapun termasuk para pelayan yang sudah bekerja dari pagi.
Namun, sedetik kemudian Edwald mulai sadar. Kenapa ia begitu marah? Seharusnya ini bagus dan sangat-sangat menyenangkan melihat wanita bodoh itu menyerahkan dirinya sendiri.
"Yah. Untuk apa aku peduli. Itu bukan urusanku," Gumam Edwald mencoba sadar.
Dari pintu depan sana masuklah Cooper yang baru datang setelah menjalankan perintahnya kemaren malam.
Pria bertubuh lebih pendek dari Edwald itu mendekat tapi ia heran. Kenapa Edwald terlihat menahan emosi?!
"Steen!"
Edwald tak menjawab. Ia mengambil ponselnya yang tadi jatuh ke lantai dengan hawa panas dingin yang membuat Cooper merinding.
"Steen! Setelah pemakaman ayahnya kemaren. Shireen tak lagi pulang ke kediamannya. Dia.."
"Aku tak peduli," Sela Edwald ketus dan berlalu pergi. Cooper sampai syok dan kebingungan. Maksudnya apa? Kemaren dia menyuruhku terus memantau wanita cantik itu tapi sekarang jawaban seperti apa ini?!
"Aku akan depresi jika selalu melayani tingkat emosinya," Gumam Cooper mencoba rileks dengan mengusap-ngusap dadanya.
.......
Sementara Shireen. Ia tengah ada di dalam kamar Wesson yang dengan hangat menyambutnya. Jantung Shireen tak berhenti berdegup, sungguh sangat takut jika Wesson benar-benar menanggapi ucapannya tadi.
Tahu akan isi pikiran Shireen, Wesson langsung mendudukan diri ke sofa panjang di depan ranjang king size yang terlihat mewah disini.
"Duduklah disini!" Menepuk tempat di sampingnya.
Shireen tetap diam. Ia tak bisa masuk ke kamar seorang laki-laki karna itu memang tak pernah ia lakukan.
"Duduklah! Aku tak akan menyentuhmu!"
"B..bukankah kau.."
"Duduk!" Tegas Wesson dan barulah Shireen melangkah masuk. Ia dengan canggung duduk di samping Wesson itupun berjarak 1 meter menjaga aman.
"Kenapa sangat jauh?"
"Disini saja," Gumam Shireen lebih nyaman seperti ini. Tak ingin mengusik Shireen yang sudah mau duduk di dekatnya, Wesson memilih untuk menjelaskan kamarnya.
"Kamarku tak terlalu luas. Disana kamar mandi, itu balkon dan ruang ganti. Aku jarang pulang kesini jadi tak begitu memerlukan banyak ruangan."
"M..maksudmu aku.."
"Kau tinggal disini."
Degg..
__ADS_1
Shireen terkejut. Mata indahnya membulat sempurna terlihat sangat menggemaskan.
"T...tidak. Aku.."
"Aku tak akan melakukan apapun tanpa persetujuan darimu," Tegas Wesson terlihat lebih hangat dari Edwald.
Shireen sampai terdiam menatap lekat wajah dewasa Wesson yang seperti lebih menghormati wanita.
"Kau siapa?"
"Wesson!" Mengulur tangannya pada Shireen yang mematung.
"Namaku Wesson. Kau bisa panggil aku dengan sebutan apapun yang kau mau. Umurku 35 tahun dan pekerjaanku kau sudah tahu, bukan?" Imbuh Wesson santai.
Tapi, bagi Shireen yang sudah pernah di tipu dan di permainkan pernyataan Wesson membawa kewaspadaannya.
"Kau ingin apa dariku?" Tanya Shireen tegas.
Wesson menatap kecewa tangannya yang tak di jabat Shireen. Ia sangat tertarik dengan wanita ini bahkan setiap ekspresi di wajah Shireen mengandung arti untuknya.
"Kau pasti menginginkan sesuatu sampai bersikap baik padaku. Katakan saja, kau ingin apa?" Lugas Shireen sudah lelah di permainkan.
"Kau terlalu berterus terang."
"Katakan!"
"Aku ingin kau menerimaku," Jawab Wesson menaikan satu alisnya meminta persetujuan Shireen yang masih diam.
"Bukankah aku tawanan disini?"
"Kau yang mengatakan jika kau di culik dan di paksa. Berarti kau bukan tawanan tapi tamuku," Sambar Wesson benar-benar pria yang hangat. Ia memberi senyum tipis dan tatapan bersahabat.
"Maksudmu?"
"Aku menyukaimu!"
Shireen seketika mengejang. Ekspresi wajahnya kembali seperti tadi membuat senyum tertahan Wesson semakin mekar.
"K..kau sangat lugas!"
"Apa salah? Aku tak ingin kau berburuk sangka dengan perlakuanku. Jalani saja dulu, aku juga tak akan memaksa," Santai Wesson seraya melirik jam di pergelangan tangannya.
Ia harus segera ke markas untuk mengurus para tawanan lain yang siap untuk di jual hari ini.
"Tetaplah disini. Jika kau butuh sesuatu aku akan siapkan pelayan di depan."
"Ka..kau.." tergesa-gesa berdiri karna Wesson juga bangkit dari duduknya.
"Jangan masuk ke kediaman utama tanpa aku. Kau bisa saja bertemu adik monsterku seperti tadi," Peringat Wesson meraih mantelnya di punggung sofa lalu segera keluar dari kamar.
Shireen seketika diam. Ia fokus pada kalimat Wesson di akhir tadi. Adik monster? Apa Edwald itu adiknya? Kenapa mereka tak mirip?
"Jika Edwald adiknya aku bisa memanfaatkan Wesson untuk mencari tahu seluk beluk pria sialan itu," Gumam Shireen memantapkan keputusannya.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..