
Malam ini kediaman Suma terasa sangat sunyi. Bahkan, tak ada suara-suara manusia bicara atau mengobrol di luaran sana. Hal ini tentu sangat memberi manfaat bagi Shireen yang memberanikan diri keluar dari kamar Wesson.
Ia sudah berganti pakaian. Dress selutut santai dengan kedua lengan panjang berwarna navy. Untung saja pelayan yang tadi menyiapkan semua keperluannya sudah tak ada lagi di depan pintu.
"Syukurlah. Disini tak begitu banyak penjaga," Gumam Shireen berjalan keluar. Ada lorong yang masih terbuat dari beton dan tampilannya sangat elegan.
Cuaca dingin di luar tak bisa menembus masuk ke dalam kecuali melalui fentilasi kaca di atas sana. Semakin Shireen melangkah maju ia terasa di ikuti oleh sesuatu.
"Tak ada siapapun disini. Tapi, kenapa rasanya begitu gelisah?!"
Batin Shireen mengusap lengannya sendiri. Ia tetap berjalan ke depan sampai terlihat pintu keluar dari bangunan selatan. Yah, mansion ini benar-benar luas seperti kastil dengan banyak bangunan yang masih menjadi misteri.
Karna tak bisa diam di dalam satu bangunan ini saja. Shireen akhirnya keluar hingga serbuk salju itu langsung terhembus ke tubuhnya.
"Disini sangat dingin!" Gumam Shireen mengusap kedua lengannya. Ia melihat banyak lampu disini tapi minim penjagaan.
Ia harus mencari gadis muda yang tadi siang di bawa ke bangunan belakang. Dimana tempat itu?
"Apa mungkin di sana?!"
Shireen bertanya pada dirinya sendiri seraya menatap dari jauh beberapa bangunan yang sama seperti ini. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang rapi dan terurus.
Shireen menahan dingin di kakinya agak terburu-buru menapaki salju yang sangat menusuk kulit. Apalagi pakaian Shireen tak tebal dan pendek hingga ia mengigil.
"Sss.. Dingin," Gemetar Shireen berteduh di satu tempat bersantai yang berbentuk seperti payung ini. Shireen tak menduga jika cuacanya akan sedingin ini apalagi kakinya tak memakai alas.
"Heii kau!!"
Seru dua penjaga yang tadi berpatroli. Shireen yang memeluk dirinya sendiri menatap ke arah dua pria berpakaian serba hitam yang membawa senjata laras panjang di pundaknya. Sungguh itu terlihat mengerikan.
"Siapa kau? Kenapa bisa ada disini?" Tanya mereka sangat tegas.
"Aku pelayan tuan Wesson!" Jawab Shireen mengikuti alur. Ia paham nama Wesson cukup berpengaruh disini terbukti jika mereka saling pandang.
"Jangan melewati batas. Jika kau keluar dari bangunan selatan itu berarti kau menyinggung tuan kami yang lain!"
"Maksudmu?" Tanya Shireen sangat tak mengerti dengan peraturan di kediaman ini.
"Disini ada 3 putra tuan besar. Mereka memiliki tempat masing-masing dan kau harus ada di tempat tuanmu. Jika tidak, kau akan mendapat masalah besar."
Jelas mereka menduga Shireen adalah penghangat ranjang Wesson. Shireen-pun tak menggubris selagi ia aman dan tak kena imbasnya.
"Aku masih belum tahu siapa tuan besar disini dan kenapa mereka menghancurkan keluargaku?! Jika tetap diam di bangunan itu aku tak akan mendapat informasi apapun,"
Batin Shireen memutar otak cantiknya.
"Aku masih baru disini. Apa kalian bisa jelaskan peraturan tempat ini dan siapa saja yang memeggang perintah?" Tanya Shireen pura-pura kebingungan.
Keduanya saling pandang. Di lihat dari penampilan Shireen ia seperti wanita kesayangan Wesson. Buktinya dia memakai pakaian mewah dan bebas memasuki bangunan pria itu.
"Para pelayan tak bisa berkeliaran sembarangan tanpa ada perintah dari majikannya. Kalian hanya bisa keluar saat tuan kalian juga ikut mendampingi. Bisa dikatakan kalian adalah peliharaan."
"Cih. Aku tak sudi menjadi peliharaan busuk kalian,"
Maki batin Shireen benar-benar berubah total sejak datang kesini. Ia jadi sering berkata kasar dan melihat banyak hal yang selama di kehidupan awalnya tak pernah ia lihat.
__ADS_1
"Jika kau ingin selamat maka ikuti aturan ini. Tak akan ada yang bertanggung jawab jika kau di bunuh di luar area tuanmu!"
"Bagaimana dengan adik tuan Wesson?" Tanya Shireen berniat untuk menyinggung Edwald.
Tapi, sayangnya tak sesuai harapan Shireen. Wajah dua penjaga ini sudah lebih dulu pucat seakan-akan Edwald memang momok yang menakutkan.
"Kau jangan berani menyinggung tuan kedua!"
"Tuan kedua?" Gumam Shireen dan mereka terlihat gelisah.
"Yah. Kau akan habis jika menyinggungnya," Jawab mereka takut-takut jika ada yang mendengar pembicaraan ini.
Shireen semakin penasaran seberapa kuat pengaruh Edwald. Jika dia benar-benar berkuasa disini pasti akan sulit untuk menjatuhkannya.
Di tengah lamunan melawan badai ini. Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan dari belakang gudang. Shireen sontak terkejut melihat ada sekelebat bayangan seseorang yang melepas tembakan ke arah mereka.
"Ada penyusuup!!" Teriak dua penjaga tadi menembak ke atas hingga keluarlah rombongan yang sama.
Shireen kebingungan. Ia menutup telinganya karna suara tembakan ini begitu keras dan memecah keheningan yang tadi ia rasakan.
"Astaga!!" Pekik Shireen menunduk kala peluru itu melesat tipis ke arah kakinya.
Keadaan semakin menakutkan. Shireen menunduk membekap kedua telinganya lalu berlari diantara hujan peluru dan percikan salju yang tertembak.
Di sela hujan salju yang semakin lebat ini ada banyak cipratan darah dan mayat yang tiba-tiba saja jatuh dari pepohonan yang ada di sekitar kediaman.
Wajah Shireen pucat pasih karna ia belum pernah ada di tempat seperti ini.
"Kau ingin mati, ha??" Bentak salah satu penjaga yang tengah menembaki para penyusup di belakang sana.
Anggota Suma benar-benar brutal. Mereka seakan tak membiarkan satupun dari mereka lolos bahkan bidikannya harus mengenai kepala yang berserakan.
Tapi, di sela kekacauan ini ada satu penyusup yang berhasil lolos. Ia berlari ke arah Shireen membawa pisau tajam dan pistol di tangan kirinya.
"Siapapun akan mati!!" Geram pria itu menembak ke arah Shireen. Ntah apa yang terjadi, Shireen langsung berguling menghindar karna kakinya sulit di gerakan.
"K..kau.." Gumam Shireen melihat peluru itu mengikis tiang kayu dari tempat berteduh ini.
Seakan tak puas melihat Shireen mengelak. Pria itu segera menyabetkan pisaunya ke kaki Shireen yang refleks menendang kaki pria itu dengan sekuat tenaga.
"Menjauhlah!!" Teriak Shireen mengambil alih pistol yang terjatuh di dekatnya. Wajahnya sudah pucat dan mengigil. Ntah itu karna kedinginan atau mungkin ia takut memeggang senjata ini.
Bukannya melepaskan Shireen. Pria ini sepertinya sangat terkesima dengan betis mulus dan paha seksi Shireen yang tersingkap. Pandangannya jadi kelap dan buta akan situasi baku tembak ini.
"Kau adalah racun!" Desisnya mendekati Shireen dengan langkah pelan.
Dari cara Shireen memeggang pistol ia terlihat masih awam dan tak bisa. Bahkan, tangannya mengigil menambah aksi mesum pria ini.
"Ternyata disini gudangnya wanita cantik dan seksi!"
"Jangan mendekat," Geram Shireen terusik dengan pandangan liar pria ini ke pahanya. Ia benar-benar muak karna semua laki-laki di dunia ini hanya mendahulukan nafsunya.
"Jangan malu-malu. Setidaknya aku mati setelah mencicipi tu.."
Doorrr..
__ADS_1
Tembakan keras meluncur membuat kepala pria ini pecah dengan darah menjiprat ke kaki Shireen dan tumpukan salju di belakangnya.
Mata Shireen melebar dengan kedua tangan yang tadi mengacungkan senjata api itu segera menjatuhkan pistolnya.
"A.. aku.." Ia gemetar melihat darah segar ini sampai pucat di tempat.
"Apa ini sifat aslimu, hm?"
Degg..
Shireen terkejut. Ia melihat Edwald yang berdiri tak jauh di belakang tempat ia terduduk. Pria bermanik hijau tajam dan wajah dingin itu berdiri tegap memakai mantel dengan kedua tangan ada di masing-masing saku celananya.
"K..kau.."
"Kau tak ada bedanya dengan-ku," Gumam Edwald mendekat. Wajahnya seakan mengatakan jika Shireen adalah seorang pembunuh yang kejam.
"A..aku.."
"Selamat datang di dunia PEMBANTAIAN, sayang!"
"Tidak!!! Aku.. Aku tak menembaknya!! Aku tak membunuhnya!!" Bantah Shireen keras beringsut menjahui mayat itu.
Shireen benar-benar takut menatap keduanya tangannya yang gemetar. Sungguh, bukan ia yang melakukannya.
Melihat hal itu Edwald berjongkok. Ia menatap lekat wajah pucat Shireen yang masih trauma dengan kejadian tadi.
"Kau sangat berbisa, Sayang!"
"AKU TAK MELAKUKANNYA!! BERHENTI MEMANGGILKU DENGAN KATA ITU!!" bentak Shireen keras tapi Edwald hanya tersenyum licik.
"Kau P-E-M-B-U-N-U-H, hm?"
Shireen benar-benar kacau. Matanya mengigil segera mendorong bahu Edwald agar menjahuinya tapi ia tak cukup kuat sampai terdampar ke tumpukan salju ini.
Saat Edwald ingin mengulangi perkataannya. Tiba-tiba saja Wesson datang langsung merengkuh Shireen yang sudah membeku karna udara dingin.
"Kau.. Kenapa kau keluar??" Cemas Wesson menggendong Shireen yang masih menatap nanar mayat pria tadi.
"B..bukan aku. Aku.."
"Tenanglah!" Gumam Wesson segera membawa Shireen ke kamarnya.
Keadaan sudah normal hanya saja para penjaga yang tadi menghadang para penyusup itu tak ingin ikut campur urusan tuannya.
"Tuan!"
Salah satunya mendekati Edwald yang kembali berdiri tegap menatap datar ke arah kepergian Wesson.
"Bersihkan area ini!" Tegas Edwald berlalu pergi. Ia mengeluarkan pistol di dalam saku celananya yang tadinya meluncur bebas. Ini baru awal dari keras kepalanya Shireen untuk tetap disini.
....
Vote and like Sayang...
Tenang aja ya say.. Shireen bakal tetap balas dendam kok 🤣
__ADS_1