
Setelah seharian di rumah sakit akhirnya Shireen sudah di perbolehkan pulang, bukan karna dokternya tetapi karna Edwald yang masih memastikan sampai kondisi tubuh Shireen benar-benar baik barulah ia perbolahkan pulang.
Tapi, tak di sangka-sangka keluarga Aldebaron hadir di sana. Shireen terkejut dengan semua orang baru yang ia lihat dan tentu saja tak terganggu karna mereka sangat ramah menyambut kepulangannya.
"Kau istri putraku-kan?" Tanya nyonya Zofia mendekati Shireen yang masih mematung di depan pintu kediamannya sendiri.
Ia melirik Edwald yang berdiri di sampingnya dengan tanda tanya.
"Dia mommyku!"
"M..mommy?" Bingung Shireen sekaligus tersentak. Disini ada jenderal Adison yang tengah di peluk Catharina si wanita pecicilan kemaren.
"Yah, aku ibunya Fedrick! Pasti selama ini dia begitu menyusahkan-mu."
"A.. aku.."
Shireen tak bisa berkata-kata. Ia digiring masuk oleh nyonya Zofia yang tahu Shireen baru keluar rumah sakit.
Deretan buah di meja kaca ruang tamu dan banyak lagi makanan yang di sajikan di sini sontak membuat Shireen kebingungan.
"Duduklah! Aku meminjam dapurmu untuk memasak semua ini. Maaf jika kami terlalu lancang hingga.."
"Tidak, tidak perlu mengatakan itu, Mom!" Sela Shireen menggeleng tak enak hati karna sudah di layani seperti ini.
Edwald hanya memandang tenang kecanggungan Shireen saat menghadapi mommy-nya yang memang seperti itu.
"Mom! Tak perlu repot memasak sebanyak ini. Seharusnya aku yang memasak untukmu!"
"Tidak ada yang seperti itu. Kau istri putraku dan dia begitu mencintaimu sampai hanya sehari di kediaman kami dan langsung buru-buru kesini. Pantas hal itu terjadi karna nyatanya kau begitu cantik dan emm.. sangat cantik!" Puji nyonya Zofia mencubit pipi Shireen yang seketika malu tapi juga memelototi Edwald yang menaikan alisnya bangga.
Pandangan Shireen beralih pada jenderal Adison yang sedari tadi diam berdiri di samping Edwald. Shireen diam sejenak mengamati wajah sosok ini sampai ia ingat sesuatu.
"Bukankah dia yang dulu memimpin aksi penangkapan Edwald?! Tapi, bagaimana bisa mereka.."
Batin Shireen sampai berpikir keras. Edwald merasa inilah saatnya ia menjelaskan kronologi kejadian itu pada Shireen.
"Mereka memang kedua orang tua kandungku! Hanya saja saat kecil aku lari dari kediaman dan hidup sendiri. Tapi, beruntung karna itu semua aku jadi masih hidup," Jelas Edwald dan di angguki oleh Catharina yang duduk di samping nyonya Zofia.
"Benar kakak ipar! Daddy sengaja memanipulasi kematian kakakku tapi, kakak tetap di hukum di penjara selama 7 setengah tahun. Itu karenanya dia baru bisa kembali sekarang!" Imbuh Catharina menyempurnakan.
Shireen mangut-mangut mengerti. Ia juga tak ada alasan lagi untuk membenci Edwald atau mempertanyakan soal peristiwa saat itu.
"Seluruh anggota GYUF juga sudah di bebaskan. Tuan yang saat itu jatuh cinta pada kakak juga sudah pergi memulai hidupnya sendiri."
"Wesson?" Tanya Shireen pada Catharina dan wanita itu mengangguk.
__ADS_1
"Yah, dengan hanya terkena kibaran rambut kakak saja dia sudah mabuk kepayang," Goda Catharina membuat wajah Edwald dingin tapi Shireen seperti tak asing dengan Catharina.
"Kauu.."
"Aku gadis berseragam yang dulu kakak bantu. Saat itu aku di suruh daddy mencari kakak Edwald tapi bertemu denganmu," Sela Catharina tak menyangka.
Shireen sampai mematung seperti tak menduga juga jika masa lalu itu terlalu mengejutkan di masa sekarang.
"Sudahlah. Sekarang semuanya sudah jelas dan jangan biarkan makananmu dingin. Aku tak ingin tubuhmu kurus kering seperti putriku ini!"
"Mommy! Aku sedang diet!" Kesal Catharina tak suka di katai kurus. Mereka hanya tersenyum saja kembali fokus pada Shireen.
Nyonya Zofia begitu baik menyuapi Shireen semua makanan yang ada disini. Edwald hanya menatap puas wajah tersiksa Shireen yang mau tak mau mengunyah setiap apa yang nyonya Zofia sodorkan ke mulutnya.
"Makan yang banyak!"
"M..mom! Sudah.."
"Ini, kau itu jangan terlalu memikirkan bentuk tubuh. Jika dia pria baik-baik pasti tak akan masalah dengan semua postur tubuhmu, sayang!"
Shireen hanya mengangguk saja. Jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam, Shireen begitu senang bahkan ingin menangis karna tak pernah di perlakukan seperti ini oleh ibunya sendiri.
Sementara Edwald, ia hanya diam memandangi dua wanita yang paling berharga dalam hidupnya itu. Ada rasa lega dan ringan di dada Edwald melihat Shireen bisa merasakan kehangatan keluarga lagi.
"Kau tak salah pilih!" Lirih jenderal Adison seraya menatap interaksi dua wanita itu.
"Syukurlah. Aku kira istrimu adalah wanita yang sering kau ajak ke club," Sarkas jenderal Adison sontak membuat Edwald mengepal.
Cukup jengkel memang tapi, ia juga sangat bersyukur itu tak terjadi.
"Jangan membahas itu di depan istriku!"
"Kenapa? Kau takut aibmu teringat lagi?!"
Edwald sungguh ingin bergulat dengan jenderal Adison yang sialnya benar. Karena tak mungkin bertengkar di depan Shireen akhirnya Edwald beranjak pergi ke depan kediaman dimana Ealnest dan Cooper baru datang.
"Kenapa ramai sekali? Apa ada pesta?" Tanya Ealnest berdiri di hadapan Edwald yang hanya diam karna masih jengkel akan si penganggu ini.
"Kau diam? Baiklah, aku tak akan setuju jika kau menjadi daddyku!" Ancam Ealnest dan sontak Edwald langsung mendorong bahu Ealnest yang terhuyung kebelakang.
"Kauu!!"
"Ayo duel! Jika kalah aku menyerah!" Tegas Edwald bersedekap dada angkuh. Cooper hanya membelo jengah melihat interaksi absuard ayah dan anak ini hingga berlalu masuk.
"Jika kau memang?"
__ADS_1
Pertanyaan Ealnest sukses membuat seringaian Edwald muncul berjongkok menyamakan tingginya dengan bocah ini.
"Jika aku menang, kau tak boleh ke kamar mommy-mu selama satu minggu. Bagaimana?"
"Baiklah, aku terima!" Sanggup Ealnest polos. Ia belum mengerti apa tujuan Edwald membuat duel seperti ini tapi di pikiran Ealnest hanya ada sebuah pertandingan.
"Tapi, aku yang menentukan kita duel apa?!"
"Hm, aku setuju!" Jawab Edwald dan Ealnest tentu punya ide yang licik. Ia masuk ke kediaman melihat banyak orang asing disini.
"Heey!! Kau Ealnest?" Tanya Catharina berlari langsung menyambar bocah itu bak elang betina.
Cooper yang melihatnya sangat ngeri sekaligus jengkel karna Catharina termasuk wanita yang menyebalkan.
"Kau sangat tampan. Aku mencintaimu!"
"Lepass!!" Geram Ealnest memberontak lalu berlari ke arah Shireen yang tersenyum melihat pipi Ealnest membekas lipstik Catharina.
"Mommy! Kenapa Zombie itu disini?"
"Heey!! Aku aunty-mu!!" Pekik Catharina tak terima.
Ealnest hanya menjulurkan lidahnya mengejek lalu naik ke pangkuan Shireen seraya memandang bergantian nyonya Zofia dan jenderal Adison.
"Dia memang jiplakan Edwald saat kecil. Wajah mereka bahkan sama persis, suamiku!"
"Hm, aku harap sifatnya tidak," Jawab jenderal Adison memandang lekat Ealnest yang risih.
"Mom! Mereka siapa?"
"Ini kakek dan nenek-mu Eal! Mereka orang tua daddy Edwald, hm?" Jelas Shireen dan Ealnest melirik sinis Edwald yang membusungkan dada bangga di depan pintu sana
"Mom! Dia itu benar daddyku?"
"Iya, memangnya kenapa?" Tanya Shireen tapi Ealnest hanya diam. Ia tak masalah tapi Edwald adalah lawan yang sengit.
"Mom! boleh Eal pinjam make-upmu?"
"Untuk apa?" Tanya Shireen bingung tapi Ealnest tersenyum kecil tapi itu pertanda buruk.
"Eal mau main dengan daddy!"
"Boleh, ambil saja di kamar!" Jawab Shireen membiarkan Ealnest pergi ke kamar atas.
Edwald tak mengerti dengan rencana bocah ini. Apa mungkin Ealnest membawa pistol? Atau pisau tajam dan rudal?!
__ADS_1
...
Vote and like Sayang