Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Aku paling tidak suka dibohongi!


__ADS_3

"Bangunlah, Alona!, Aku tahu Kau sudah bangun!"



"Apa yang Kau lakukan di belakangku?"



"Alona!"



Setengah sadar terbangun dari tidurnya yang cukup lama membuat Alona sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari kekasihnya itu. Ia hampir tidak berani membuka mulutnya, walau hanya sedikit saja!



"Va-Varo, Aku tidak!"



Alona menjawab dengan sedikit ketakutan, menundukan kepalanya dan air matanya mulai berjatuhan.



"Bicaralah!, sebelum kesabaran ku habis."



Alvaro memegang dagu Alona dan menariknya keatas. Ia memegang leher Alona dan hampir ingin mencekeknya. Ia sangat mencintai Alona. Alvaro tidak tahu harus berbuat apa jika Alona mengkhianati nya.



"Alvaro Aku tidak membohongimu. Aku tidak pernah bermain gila dengan orang lain! Aku sedang tidak enak badan Alvaro. Aku masuk angin. Leherku ini bekas di kerok" Jelas Alona panjang lebar.



"Kalau Kau tidak percaya padaku, Kau bisa melihatnya sendiri. Tidak ada bekas gigitan panjang seperti ini!"



"Lalu, syal ini!. Untuk apa Kau memakainya?"



"Aku memakai syal ini agar tidak kedinginan. Varo...!"



Alvaro membuka syal yang melingkar di leher Alona secara paksa. Ia membukanya seperti akan mencekek leher Alona.



Garis panjang di keempat sisi leher Alona ia lihat dengan jelas. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa itu adalah bekas gigitan.



"Alona kali ini Aku mempercayimu, tapi tidak lain kali! Kau tahu!, Aku paling tidak suka di bohongi!"



Alvaro membelai pipi Alona dan mencium bibirnya dengan lembut, pertahanan Alvaro lepas kendali akibat cemburu yang tidak jelas.



"Alona, Kau tahu! Kau hanya akan menjadi milikku selamanya!"



Alona menagis dan meringkuk di kursi mobil itu. Ia merasakan kesakitan di dagu dan leher nya.



"Alona sayang..., maafkan Aku. Aku tidak sengaja melakukannya!"



Alvaro memegang dan sedikit menjambak rambutnya. Ia sepertinya akan menjadi gila tentang pikirannya yang tidak-tidak. Pria itu kemudian memukul setir mobil di depannya dan berteriak.



"Aaaaaaaaaakh!"



Alvaro mendekatkan mukanya ke muka Alona sehingga mereka saling berhadapan. Tapi, mata Alona terus memandang kebawah, tidak berani menatap mata Alvaro yang sedang di penuhi amara.

__ADS_1



Merasa bersalah dengan yang dilakukanya Alvaro meminta maaf dan membelai pipi Alona, wajah keduanya saling berhadapan.



"Maafkan Aku sayang..., Aku lepas kendali. Aku khilaf!"



Alona masih diam dan menagis. Ia tidak pernah tahu sisi Alvaro yang seperti ini.



Apa yang harus Aku lakukan? jika ia mengetahui bahwa aku sudah tidak gadis lagi!?



Apa yang akan terjadi kepadaku? jika ia mengetahui bahwa aku membohonginya!?



Apa aku harus jujur sekarang?


"Tidak..., tidak..., itu sama saja dengan menggali lobang kematianku sendiri!"



"Aku harus merahasiakan darinya!"



Badan Alona gemetar dan sedikit sesenggukan akibat menagis terlalu lama.



Alvaro membelai pipi Alona dan menghapus air mata yang masih mengalir di wajahnya. Ia kemudian memeluk Alona dengan sangat hangat dan penuh cinta.



"Sayang..., berhentilah menagis. Percayalah Aku sangat mencintai mu Alona!"




"Tidak, Aku tidak akan mengantarkanmu pulang. Aku masih merindukan mu Alona. Aku akan mengajakmu jalan-jalan ke pantai."



"...." Alona tidak menjawab. Ia hanya mengikuti permintaan Alvaro. Alona ingin menolak tapi takut Alvaro memarahinya lagi.



Pohon-pohon yang rindang membuat udara terasa sejuk di perjalanan. Alvaro menyenderkan kepala Alona ke pundaknya. Ia raih tangan sebelah kanan Alona dan ia genggam dengan erat.



Suara musik pop klasik di dalam mobil menambah suasana romantis Alvaro dan Alona. Mereka menikmati setiap jalan yang di lalui. Alvaro sesekali mencium tangan dan kening Alona.



Bagi Alvaro, Alona adalah wanita yang sempurna untuk di jadikan istri. Alona wanita yang cerdas umurnya masih 17 tahun tapi ia sudah kuliah semester 4, ia mewarisi gen ayahnya yang seorang jenius. Selain itu ia juga pandai memasak, bisa di bilang masakannya tidak kalah dari buatan cehf handal.



Awalnya Alona adalah adik kelas Alvaro mereka beda satu tingkat. Alvaro dan Alona bertemu ketika Alona sedang di ospek. Alvaro masih dengan jelas melihat Alona berpakaian putih dan hitam, mereka bertabrakan saat menuju kantin kampus. Tanpa sengaja Alvaro yang sedang terburu-buru menabrak Alona yang sedang asik bermain ponsel barunya.



"Aw...!"



Alvaro jatuh cinta pada pandangan pertama melihat Alona. Ia sengaja menukar ponselnya dengan ponsel Alona yang mempunyai tipe yang sama.



"Sorry, cantik!"



"Ok, lain kali Kau harus hati-hati. Bagaimana kalau aku membawa air panas?"


__ADS_1


"Aku sedang buru-buru, besok aku akan mencarimu!"



Alvaro tidak mengetahui sama sekali kalau ia dan Alona berbeda umur sampi 3 tahunan.



Alona sangat pandai menutupi penampilan nya. Ia selalu berpenampilan lebih dewasa ketika di kampus, ia tidak ingin teman-teman di kampus menjauhinya karena umur mereka berbeda.



Singkat cerita Alona mendapatkan telepon dari seseorang di ponselnya, di sana bertuliskan Mama.



"Mama calling."



"...." Mama calling. Alona bisa mengingat dengan jelas ia tidak pernah menulis sebutan ibunya Mama. Ia segera mengangkat telepon itu.



"Halo Alvaro sayang, Kamu di mana? Mama sudah menunggu 20 menit loh!"



"Maaf tante, sepertinya tante salah sambung!"



"Tidak, tidak mungkin ini nomornya Alvaro."



Alona mematikan telepon itu, memang tidak sopan tapi ia sudah di tunggu temannya untuk kumpul di lapangan kampus. Hari itu penutupan ospek.



Hubungan mereka berlanjut, dari menukarakan ponsel dan menjadi teman akhirnya menjadi kekasih sampai dengan sekarang.



Mengingat kejadian itu membuat Alvaro semakin menginginkan Alona. Ia tidak ingin berpisah darinya.



Melati Resort berloksi di tepi pantai, disana tersedia kolam renang, spa, gym, dan tempat penginapan bintang 5.



Alvaro memilih rumah kecil terbuat dari bambu, di depan rumah itu terdapat 2 kursi panjang yang menghadap langsung ke pantai. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Alona menikmati terik matahari dan matahari terbenam.



"Sayang mau pesan minum atau makan?"tanya Alvaro.



"Ok! aku mau, aku sudah lapar!" jawab Alona.



"Aku akan memesan layanan kamar sekarng!"



"Nasi goreng dua, wine satu...." Kata Alvaro di sambungan telepon.



"Alvaro, tidak ada wine!"



Alona sangat membenci orang yang meminum wine dan sejenisnya, itu semua hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain.



"Ok. Wine cancel..., ganti kelapa muda satu, orange juice satu, teh manis panas dua. Puas!" jawab Alvaro sambil menatap wajah kekasihnya.



"...."

__ADS_1


__ADS_2