
Mobil melaju dengan kecepatan penuh, seperti mobil balap di arena sirkuitnya.
Mata Alona terpejam, tangan kanannya ia letakkan di atas dadanya. Wanita itu menahan napas cukup lama. Jantungnya seakan ingin copot akibat kecepatan mobil di atas rata-rata.
"Pelankan mobilnya, Xander! Apakah kau ingin membunuhku!?"
"...." Pria itu tetap fokus memacu mobil sport-nya samapi titik akhir. Xander mengendari mobilnya seperti memacu adrenalin. Sudah tak terhitung berapa jumblah mobil yang ia lalui.
Ketegangan mereda setelah memasuki kawasan hutan lindung di kota J. Jalanan mulai terlihat sepi, hanya ada pohon besar di kedua sisi jalan. Pria itu mengurangi kecepatan mobilnya. Xander membuka atap mobilnya, menikmati angin sepoi-sepoi.
Rambut Alona berterbangan mengikuti arah angin. Wanita itu menggulung rambutnya seperti ikat cepol. Leher jenjangnya terlihat seksi dengan kalung berwarna silver melingkar di lehernya.
Alona tidak bisa mengabaikan untuk tidak bertanya pada pria itu. Wanita itu mulai cemas melihat jalan yang tidak ia kenal sama sekali.
"Kau mau membawaku kemana, Xander?" Alona bertanya penuh selidik.
"Hotel Cempaka!" Pria itu menjawab tanpa ragu-ragu seperti meminum air.
"Untuk apa kau membawa ku ke sana!?"
"Bercinta!" Mulut harimau Xander menjawab tanpa penyaring sedikitpun. Pria bertubuh atletis itu merupakan spesies langkah di bumi ini. Sifatnya tidak suka berbelit-belit, jujur dan apa adanya.
"Apa!?" Alona terkejut, tersedak seperti memakan buah kedondong dengan bijinya.
"Xander apakah Kau sadar dengan yang kau ucapkan itu!?" Muka Alona memerah dan sedikit berkeringat akibat luapan emosinya.
"Tentu saja sadar seratus persen! Aku sudah tidak tahan! Haruskah aku menghentikan mobilnya sekarang dan bercinta denganmu di sini sayang!?"
"Oh!, Baiklah hentikan mobilnya sekarang! Xander sayang.... Aku akan memukul daging tanpa tulangmu hingga kau tidak memiliki nafsu lagi."
Xander tidak pernah kehabisan kata-kata untuk bertengkar dengan Alona. Kemapuan konfrontasi verbalnya sangat baik. Sehingga tidak diragukan lagi kemampuannya berdebat dan mengoda wanita itu "Jangan terlalu kejam sayang! Bagaimana kita bisa membuat anak yang lucu-lucu seperti mu jika aku tidak memiliki nafsu."
__ADS_1
Sementara Xandar sangat menikmati setiap perselisihan dengan Alona, di sisi lain Wanita itu sangat kesal setiap berdebat dengan Xander. Kulit kepala Alona seperti akan mengelupas akibat kemarahannya. "Xander hentikan omong kosong mu itu!"
Alona diam membisu sepanjang perjalanan. Wanita itu merasa lelah dan mengantuk ditambah angin sejuk menghujani matanya seperti menambah keinginannya untuk tidur. Tertidur di mobil pria itu seperti masuk perangkap tikus. Alona sedikit khawatir, tapi ia sudah tidak tahan menahan kantuknya.
Kepala Alona bergoyang-goyang akibat jalanan yang berkelok-kelok. Xander memperlambat laju mobilnya, mengemudi dengan satu tangan . Pria itu meraih kepala Alona dan menyenderkan ke dada bidangnya. Alona persis tertidur di dalam pelukan pria itu.
Darah Xander memanas seperti darah domba. Nafsunya meningkat sungguh hebat akibat sentuhan wanita itu. "Jangan bilang jika aku pria yang selalu tergoda dengan wanita di sampingku ini, Xander bergumam dalam hatinya."
Welcome, Cempaka Hotel.
Hotel Cempaka, sebuah hotel berbintang lima dekat pantai Selatan Kota J. Pemandangan laut disana terlihat biru jernih dan belum terjamah banyak orang.
Xander mengangkat badan Alona yang sedang tertidur pulas di atas mobil menuju kamar hotel yang sudah di pesannya terlebih dahulu. Mata Alona terpejam seperti tanpa celah. Bulu matanya lentik dan indah seperti bulu burung cendrawasih. Matanya seperti memberikan sejuta warna kehangatan. Raut wajahnya polos seperti dewi kayangan.
Perlahan dan lembut Xander meletakan Alona di atas kasur empuk di kamar itu. Mata Xander tidak bisa berpaling dari wajah Alona. Xander membaringkan badannya di samping wanita itu. Ia membelai pipi Alona dan menikmati setiap hembusan nafasnya.
Alona seandainya saja Kau bersikap lembut sedikt saja padaku, seperti saat Kau tertidur saat ini. Mungkin hatiku akan mencair seperti gunung es diterpa pemanasan global.
"Apalagi selain bercinta. Aku selalu serius dengan kata-kata ku!"
"Aku juga sangat serius dengan kata-kata ku. Aku akan mematahkannya, jika Kau bersikeras!" Alona memperingatkan pria itu agar tidak berperilaku cabul padanya.
"Kau sangat sadis sayang. Kau selalu bisa membangkitkan gairah ku dari ujung kaki sampai ujung kepala."
"Xander apakah Kau salah satu oarang yang memakan kotoran hewan itu!? Sehingga otakmu itu dipenuhi pikiran mesum!?"
"Alona Kau terlalu serius sayang. Aku mengajak mu kesini untuk liburan, menjadi teman kencanku seharian. Apakah itu berlebihan...?"
"Aku sudah menyelidikinya besok Kau tidak ada jadwal kuliah, kan!?"
"Mau ada atau tidak pun itu tidak ada urusannya denganmu.... Antarkan aku pulang sekarang! Aku ada janji dengan Kekasihku." Alona memaksa Xander untuk mengantarnya pulang dari hotel itu.
__ADS_1
"Pulang saja jika Kau ingin pulang, sebagai lelaki aku tidak akan mengantarakan seorang wanita pada pria lain." Urat leher Xander terlihat menonjol saat Alona memintanya mengantarkan pulang.
Pria itu seperti telah merencanakan kejahatannya secara matang sehingga wanita itu tidak bisa kabur darinya. Tidak banyak orang di tempat terpencil jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Semua yang datang rata-rata memiliki tujuan berlibur. Kawasan hiburan itu termasuk kawasan para elite menghabisakan waktu liburnya. Kendaraan umum tidak dapat di temukan sepanjang kawasan itu.
Matahri sudah tidur lelap di penghujung hari. Alona dan Xandar masih saja bertengkar seperti tikus dan kucing.
Makan malam romantis telah di pesan di sebuah ruangan khusus menghadp lautan. Cahaya bulan dan bintang nampak dengan jelas terlihat dari semua sudut ruangan itu.
Ruangan dengan desain sederhana bertema pasangan baru menikah. Setangkai bunga Mawar menghiasi Vas bunga di atas meja itu. Lilin aromaterapi menghiasi di sepanjang jalan menuju meja makan.
Sorot lampu di desain khusus menyinari ruangan itu, cahayanya tidak terlalu membuat kepala pusing, ada rasa kehangatan di setiap pancaran cahayanya.
Seandainya saja bulan dan matahari bertemu setiap hari, mungkin Xander dan Alona akan bersatu secepatnya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Xander membuka pintu dengan segera. Seorang pelayan pria berperawakan sedang mengucapkan salam dan bertanya pada Xander. "Selamat malam, Tuan. Semua sudah siap, apakah kami harus menghidangkan makanan nya nanti atau sekarang?"
Xander melihat jam di tangannya. "Tiga puluh menit lagi. Bidadari dari kahyangan masih malas menampakan sayap indahnya," Xander menyindir Alona yang sedang bermalas-malasan tidur di kasur.
"Baik, Tuan."
Jam 20:00 Alona dan Xandar menikmati makan malam di ruangan khusus.
Xander denagn sejuta kecerdikannya mengoda wanita itu. "Sayang, apakah service ku kurang tadi!? Maaf... Aku sedang lapar sehingga tenagaku kurang maksimal. Bagaimana kalau kita ualngi lagi setelah makan." Xander mengoda Alona dengan suara sangat kencang. Seorang pelayan berdiri di depan pintu bahkan bisa mendengar perkataan Xander. Wajah Alona berubah merah padam. Matanya seperti akan keluar memelototi Xander.
"Sayang permainanmu benar-benar buruk hari ini. Aku rasa adikmu perlu belajar lebih giat. Selain itu aku tidak suka ukuranya sangat kecil, lebih besar dari jari kelingking ku."
Alona memperlihatkan jari kelingking nya pada pria itu.
"...." Xander tersedak makanan di mulutnya mendengar ukuranya sangat kecil bahkan lebih kecil dari jari kelingking gadis itu.
Apakah wanita itu mencoba membangun kan singa yang sedang lapar!?
__ADS_1
Entahlah!!!