
Xander terduduk di sofa termenung memikirkan sesuatu. Badannya terasa lemas. Sedangkan kakinya terasa kaku. Ada rasa sakit di hatinya. Alona kau tidak boleh menikah dengan siapapun. Hanya aku yang bisa memilikimu, Xander bergumam sendiri.
Aku harus melakukan sesuatu agar Alona tidak menikah dengan orang lain.
Tapi..., kenapa hatiku terasa sakit saat Alona mengatakan bahwa dia akan menikah. Hatiku terasa seperti tersayat-sayat sembilu, hati ini terasa hancur tercabik-cabik hingga berkeping-keping. "Apakah ini yang dinamakan tidak bisa hidup tanpanya!?" Xander kembali meyakinkan hatinya.
Lalu bagaimana perjanjian yang ia telah setujui dengan Bibinya Diana. Tidak peduli!, persetan dengan semua janji itu. Bukan Xander jika tidak punya seribu akal. Aku pasti bisa menemukan cara lain untuk merebut apa yang aku telah miliki sebelumnya. Termasuk wanita itu. Walaupun harus menyeberangi lautan, mendaki gunung sekalipun aku tidak akan menyerah. Seperti kata pepatah, "sebelum janur kuning melengkung dia masih milik bersama" Xander membela dan menghibur dirinya sendiri.
Setelah tiba di lobi utama hotel, Alona menghampiri Anita di meja resepsionis. Kebetulan sedang tidak ada orang yang ingin melakukan check-in. "Anita bisakah Kau meminjamkan ku telepon genggammu. Aku ingin memesan taxi online."
Anita terdiam sejenak, tertegun memperhatikan bibir Alona yang sedikit bengkak di bagian bawah. "Ternyata bos jika bersama kekasihnya lebih bar-bar dibandingkan marah dengan bawahannya. Bibir calon Nyonya muda buktinya." Gumam Anita dalm hatinya.
"Anita?, apa aku terlihat buruk atau ada sesuatu di mukaku?" Alona bertanya sembari menunjuk mukanya sendiri. Karena dari tadi wanita itu hanya terdiam memandangi wajahnya.
Anita menjawab sedikit terbata-bata dengan rasa penyesalan. "Eh, m-maaf Nona Alona. Selama aku bekerja tidak diperbolehkan membawa ponsel pribadi. Tuan melarang kami melakukannya."
Alona mengganggukan kepalanya tanda ia mengerti. " Terima kasih" Alona tersenyum.
Xander terburu-buru melangkahkan kaki ke arah ruang kerjanya. Ia berharap masih bisa melihat Alona. Xander segera membuka laptop dan menyalakan tombol powernya. Pria itu memasukan password dan segera login membuka CCTV. "Alona, Alona," tangan Xander terus mengetik mencari titik camera yang menyorot ke lobi utama hotel.
Layar monitor menampilkan sosok Alona yang sedang melakukan percakapan dengan Anita. Tubuh ramping dan seksi Alona tetap terlihat indah meskipun di lihat dari CCTV yang di ambil dari kejauhan.
Datang seorang pria bersetelan rapih dan gagah. Pria itu menutup mata Alona dari belakang.
Tangan Alona memegang tangan pria yang menutup matanya. "Tolong jangan bercanda denganku. Aku akan mematahkan tanganmu jika kau tidak melepaskannya."
"Nona, coba tebak siapa aku!?" Mario mencoba bermain-main dengan Alona sahabatnya sejak kecil.
Alona membalikkan badannya. "Mario!?" Alona sempat tidak percaya dan memeluk pria itu.
"Alona aku sangat merindukanmu!. Saat di rumah sakit apa kau baik-baik saja?. Kita tidak sempat berbicara apapun waktu itu. Kau juga tidak meneleponku. Aku harap Kau baik-baik saja karena tidak meneleponku"
"Aku juga sangat merindukanmu Mario."
Mereka saling menepukkan kedua telapak tangan mereka secara bersamaan. "Terima kasih waktu itu. Aku baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi padaku. Mungkin karena- entahlah!" Alona mengangkat kedua bahunya. Tanda bahwa ia tidak ingin membicarakan tentang itu lagi.
"Syukurlah kalau begitu. Aku jadi senang mendengarnya." Mario tersenyum.
"Mario apa Kau sibuk!?" Alona tidak ingin melewatkan pertemuan tidak terduga dengan sahabatnya.
"Tidak" Mario menjawab jujur. "Aku hanya menunggu temanku di sini dia akan tiba 30 menit lagi" seru Mario bersemangat.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku mentraktirmu makan siang atau ngopi?" Alona menawarkan kebaikan hatinya.
"Tidak keberatan" Mario tersenyum hangat. "Sebuah kehormatan bagiku menerima ajakanmu makan.... Sahabat kecilku!" Mario mencubit kedua pipi Alona sama seperti yang mereka lakukan saat mereka masih kecil dulu. Mario sangat suka dengan pipi bakpao Alona kecil dibandingkan sekarang yang terlihat lebih padat dan kencang. Pipi Alona tidak tembem seperti dulu. Lebih cantik.
"Kau ingin makan apa?" Alona bertanya serius.
"Apa saja yang penting kau yang bayar" Mario bergurau.
"Ok!" Alona menjawab seadanya. "Bagaimana jika di hotel ini?" Alona menyarankan kembali.
"Aku rasa tidak buruk. Dengan begitu aku bisa tahu temanku sudah sampai atau belum." Ujar Mario
"Anita kau pasti tahu makanan enak di hotel ini!?" Alona bertanya rekomendasi makanan enak dari sumber terpercaya karena Anita tentu tahu semua keluhan bahkan kesukaan pelanggan. Secara kerjanya menyambut tamu datang dan pergi.
Anita menjawab dengan semua yang ia ketahui. "Rendang nomor satu. Bebek pedas sambal goreng cabai tidak kalah enaknya. Ayam bakar bumbu kuning juga rekomendasi setiap orang yang datang ke sini. Kau bisa memilih semua menu makanan di sini. Semua dijamin tidak akan mengecewakan lidahmu." Dia sepertinya sangat cocok menjadi sales. Karena saat ia berbicara mirip sales menawarkan barang jualannya.
"Terima kasih" Alona segera pergi menggandeng tangan sahabatnya.
Xander yang melihat keintiman dua orang itu merasa marah. Ia terus melihat gerak-gerik Alona dan Mario dari layar CCTV di laptopnya.
Xander melakukan panggilan telepon ke bagian resepsionis. "Anita apa yang di bicarakan antar Alona dan pria yang menutup matanya dari belakang!?"
"Tidak ada Tuan. Mereka cuma berbicara seputar kabar, lalu membicarakan pertemanan mereka dari kecil." Anita berbicara apa adanya tanpa di lebih-lebihkan.
"Benar Tuan. Aku tidak berbohong." Anita sedikit cemas.
"Jika Kau berbohong. Kau tahu akibatnya bukan?, konsekuensi karena melanggar perjanjian pasal 3 ayat 1. Mengerti!"
"Aku mengerti Tuan." Anita berkeringat dingin mendengar ancaman bos-nya. Itu artinya ia akan di keluarkan jika terbukti bertindak curang atau berbohong dalam pekerjaan.
"Ternyata jika seseorang cemburu tidak ada bedanya mau tampan,jelek, kaya, dan miskin sama saja. Sama gilanya!" Anita bergumam dengan keringat dingin membasahi keningnya.
Xander segera menganti baju santainya menjadi sedikit formal. Ia turun untuk mengacau Alona dan sahabatnya itu.
Xander berjalan mantap menuju meja Alona dan Mario. Tanpa peringatan apapun Xander menarik kursi di samping Alona dan mencium pipi wanita itu. "Sayang!, maaf membuatmu lama menunggu. Pasti Kau sangat kelaparan. Tadi meeting dengan klien sangat lama dan membosankan." Xander berbohong merangkai cerita. Pria itu tidak memperdulikan jika ada Mario di depannya.
Alona menjadi kikuk akibat ulah Xander. Ia mencoba tertawa dengan sejuta kekesalan pada Xander. Ia bahkan belum sempat berbincang-bincang apapun dengan sahabatnya. Tapi pengacau sudah datang lebih dulu.
"Sayang," Xander kembali memanggil Alona. "Maaf aku tidak tahu jika Kau sedang makan dengan sahabatmu?" Sembari menyelipkan rambut wanita itu kebelakang telinga yang sedikit menutupi mata Alona.
"Hai," Xander menyapa Mario. "Aku pacar Alona sekaligus tunangannya. Kami akan segera menikah. Aku harap Kau bisa datang nanti." Xander mengulurkan tangan ke arah Mario. Ia kemudian membusungkan dada, memamerkan cintanya pada pria di depannya. Jika ada stampel kepemilikan atas Alona, mungkin dia sudah menempelkannya di kening wanita itu. Tanda bahwa Alona hanya miliknya.
__ADS_1
Mario juga mengulurkan tangannya menjabat
tangan Xander. "Hai, aku Mario sahabatnya Alona sejak kecil."
Alona menendang kaki Xander di bawah meja tanpa terlihat oleh sahabatnya. Ia merasa kesal dengan ulah nakal pria itu.
"Apa ini karma karena kemarin.... Aku mengatakan bahwa aku pacar sekaligus tunangannya kepada penjaga keamanan rumahnya" Terdengar menjijikkan!, Alona menundukkan kepalanya.
Xander hanya tersenyum saat kakinya di tendang. Bukannya berhenti ia malah semakin menjadi-jadi. "Sayang aku benar-benar beruntung mendapatkanmu." Xander kembali membuat hal konyol di depannya. "Aku harap kita bisa segera melihat anak kita di dunia ini."
Apa yang di katakan pria itu sangat konyol hingga membuat Alona makin kesal dan marah. Ia seketika mengangkat kepalanya memelototi Xander kemudian tersenyum canggung ke arah Mario.
Tentu kata-kata itu akan menganggap bahwa dia sudah hamil. Bagaimana ia harus menjelaskannya pada sahabatnya Mario. Nanti atau setelahnya!?
Mario tidak ubahnya seperti racun nyamuk saat duduk di meja yang sama dengan sahabat dan kekasihnya itu. Walaupun ia belum mendapat konfirmasi langsung dari Alona. Ia lebih memilih percaya saja. Terlebih ia sudah sangat lama tidak bertemu dengannya. "Alona temanku sudah datang. Dia sudah menungguku." Mario mengulurkan tangannya ke arah Alona untuk bersalaman. Tapi pada saat yang sama Xander yang menjabat tangan pria itu dengan menekan tangan Mario sampai berwarna merah. "Hati-hati. Pastikan Kau datang nanti." Xander tersenyum tanpa menunjukkan rasa bersalah.
Mario merasakan sangat sakit di tangannya. Ia sangat yakin bahwa pria di depannya sangat marah dan cemburu padanya. Mario kemudian membalas senyuman Xander. "Aku pasti datang. Alona ingatlah untuk mengundangku pertama kali jika tidak aku akan marah padamu."
Alona tersenyum menganggukan kepalanya.
Punggung Mario semakin terlihat jauh. Alona menampakkan wajah aslinya. Merah karena marah. "Xander apa yang Kau lakukaan?"
"Apa Kau senang, puas, menghancurkan pertemuanku dengan sahabat masa kecilku." Alona menyilangkan tangan diperutnya lalu memalingkan wajahnya dari hadapan Xander.
"Sebelum Kau menikah aku putuskan akan menjadi kekasihmu Alona." Xander mengancam.
"Bermimpilah! , dalam tidurmu." Pipi Alona mengembung seperti balon di di tiup penjualnya.
Alona sudah berdiri ingin pergi dari tempat itu. Akan tetapi, Xander mencegahnya. Ia menarik tangan Alona hingga terduduk di pangkuannya. "Alona jika Kau memberontak aku akan melakukan lebih dari ini. Duduk dan habiskan makananmu."
Mata Alona melotot melihat Xander. Alona kembali duduk di kursinya. Sepanjang menghabiskan makan yang ia telah pesan Alona hanya menundukkan kepalanya karena malu di lihat oleh orang banyak. Ia tidak lagi dapat bersembunyi di manapun.
Xander memotong daging rendangnya kecil-kecil. Lalu, ia menata daging itu di atas nasi membentuk hati. Ia tidak lupa menghias ulang piring itu sangat cantik mengunakan sayuran di piringnya. Xander mengeluarkan ponselnya dan memanggil Alona. "Alona!, cekrek!" Xander mengambil foto wanita itu dengan nasi di depannya.
Alona kaget....
Xander mengangkat kedua bahunya. Ia memberitahu bahwa dia tidak memanggilnya.
"Berikan ponselmu Xander." Alona mengulurkan tangannya ke arah pria itu.
"Tidak!" Xander segera memasukkan ponsel dan kedua tangan ke dalam saku celananya. Ia berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan Alona begitu saja tanpa ada kata maaf atau sekedar ucapan selamat tinggal dan terima kasih.
__ADS_1
"Xander!" Alona ingin melemparkan piring nasi ke arah pria itu. Saat orang menatapnya ia pun merasa malu dan mengurungkan niatnya.
Alona menundukkan kepalanya, "....!!!" Karmaku sangat buruk hari ini. Semoga Tuhan membalasnya di lain waktu....