
Dokter Raisa datang 30 menit setelah menerima telepon dari Alvaro.
Penjaga keamanan mengantar dokter Raisa ke ruang tamu. "Varo ada apa kau memanggilku." Ucap dokter Raisa sambil meletakkan alat medisnya di atas meja.
Dokter Raisa berumur 30 tahun, raut wajahnya bersahabat dan cenderung serius ketika bekerja.
"Dokter Raisa tolong periksa kekasihku Alona. Dia terjatuh di lantai tadi. Badannya sangat panas. Aku takut terjadi sesuatu padanya." Kata Alvaro sambil mengusap kening Alona.
Dokter Raisa langsung memeriksa Alona. Selama pemeriksaan berlangsung raut wajah dokter Raisa terlihat serius namun sesekali tersenyum menatap Alona. "Tidak ada yang bermasalah. Dia hanya telat makan, kelelahan, dan sedikit stres." Ucap dokter Raisa sambil menulis resep obat yang harus di tebus di apotek. "Semua obat sudah saya tulis termasuk cara pemakaiannya. Obat ini bisa di tebus di apotek manapun." Kata dokter Raisa menejelaskan pada Alvaro.
"Terima kasih dokter Raisa. Aku akan segera menebus obatnya." Kata Alvaro sambil memegang resep obat yang telah diberikan oleh dokter Raisa.
"Sama-sama" Jawab dokter Raisa dengan sikap yang anggun. "Alvaro aku ingin bicara empat mata denganmu." Kata dokter Raisa dengan raut wajah yang serius.
Alvaro mengerti apa yang dimaksud dokter Raisa. "Bibi Asih tolong jaga Alona. Aku ingin bicara sebentar dengan dokter Raisa di ruang kerjaku."
"Baik Tuan." Jawab Bibi Asih.
Alvaro dan dokter Raisa duduk saling berhadapan di ruang kerja itu dengan meja kerja sebagai pembatas di antara keduanya. Sebelum berbicara, dokter Raisa mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. "Varo aku ingin bertanya padamu, ini penting. Tapi, aku harap kamu jangan tersinggung padaku." Ucap dokter Raisa dengan penuh kehati-hatian dalam berbicara.
"Katakan. Dokter Raisa tidak perlu sungkan padaku." Alvaro menjamin bahwa ia tidak akan tersinggung.
"Apa kamu tahu bahwa Alona---" Tiba-tiba ponsel dokter Raisa berdering. Dokter Raisa segera melihat nama pemanggil di layar ponselnya. "Reihan...?" Dokter Raisa memicingkan matanya. "Maaf Alvaro aku angkat telepon sebentar, ini dari kakakku."
"Silahkan." Jawab Alvaro singkat dengan perasaannya kian penasaran pada apa yang ingin di katakan dokter Raisa.
Dokter Raisa berdiri dan berjalan ke pojok ruangan mengusap layar ponselnya, terima telepon. Telpon tersambung dengan cepat.
"Kak Reihan ada apa memanggilku. Aku sedang bekerja."
"Raisa segera pulang ibu jatuh pingsan di rumah. Sekarang sedang di bawah ke rumah sakit Gunawan Hospital." Kata-kata itu membuat dada Dokter Raisa sakit seperti di bakar. "Apa!?" Air mata dokter Raisa turun secara perlahan.
"Alvaro, maaf aku harus pulang. Ibuku masuk ke rumah sakit. Masalah kekasihmu nanti saja aku katakan padamu. Jaga dia baik-baik. Jangan sampai ia kelelahan." Kata dokter Raisa terburu-buru.
Tidak lama dokter Raisa pergi meninggalkan Alvaro di ruang kerja. Alvaro makin penasaran. Apa sebenarnya yang dokter Raisa ingin katakan padanya. Alvaro keluar dari ruang kerjanya. "Bi apa Alona sudah bangun"
__ADS_1
Bibi Asih segera berdiri dari sofa di samping Alona tidur. "Belum Tuan"
"Bi tolong ambilkan bubur dan segelas air hangat aku akan menyuapinya makan."
Alvaro memiringkan badannya di atas sofa dan menepuk wajah Alona dengan lembut. "Alona bangun sayang." Kemudian Alvaro menarik badan Alona hingga posisinya duduk dan menyenderkannya di sofa.
Alona perlahan mengerjapkan matanya. Melihat Alvaro di depannya ia tersentak kaget dan hampir jatuh dari sofa. Alona ketakutan dengan perilaku Alvaro yang gila.
Melihat Alona membuka matanya Alvaro tersenyum. "Sayang aku suapin kamu makan ya..."
Alona diam dan memandang aneh ke arah Alvaro. Saat sesendok bubur nasi dengan santan masuk ke mulutnya perasaannya berubah menjadi hangat. Kelaparan membuatnya terlihat rakus memakan bubur itu.
Akhir-akhir ini tubuhnya tidak seperti biasa muda lelah dan lemas. Terutama matanya selalu saja ingin terpejam. Perasaannya juga tidak menentu, sangat sensitif. Alona memandang wajah Alvaro yang sedang menyuapinya makan. " Aku ingin pulang"
Alvaro kembali emosi. Bubur yang ia pegang seketika ia hempaskan di atas meja. "Apa maumu" Tanya Alvaro dengan mendelikkan
"Pulang." Kata Alona menundukkan kepalanya dengan air mata jatuh di pipinya.
"Alona jangan membuat kesabaranku habis. Rumahmu di sini sekarang!!!." Teriak Alvaro dengan wajah menakutkan.
"Aku katakan padamu. Bisakah kau menerimaku Alvaro dengan keadaan bahwa aku tidak suci lagi."
"A-aku sudah tidak suci lagi!!!." Alona mengucapkannya untuk yang kedua kalinya.
Alvaro yang semula berdiri langsung terduduk di sofa. Matanya berkaca-kaca, ia tidak percaya apa yang di katakan Alona padanya. "Siapa!?" Tanya Alvaro.
Alona diam tidak berani mengatakannya.
"Siapa Alona!?" Teriak Alvaro. "Siapa pria itu!?"
"A-Alexander." Jawab Alona dengan rambut yang sudah kusut dan mata merah.
Alvaro tersenyum sinis menatap Alona. "Sudah ku duga." Katanya dalam hati. "Kau atau dia yang berinisiatif" Tanya Alvaro.
Alona menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya lalu berkata ."Aku!!!" Setelah memberi tahu Alvaro, Alona semakin merasa terpukul.
__ADS_1
Tidak berselang lama, sebuah tamparan mendarat di pipi Alona. "Dasar wanita murahan." Teriak Alvaro.
"Alvaro bukan kemauanku melakukan hal itu. Aku melakukannya demi kakakku dia di tahan oleh pria itu. Apa Kau pernah bertanya padaku mengenai kakakku?"
Alvaro tertawa kecil mengejek Alona.
Alona sudah tidak peduli dengan semuanya Lebih baik menuntaskannya hari ini. Alvaro meskipun hubungan kalian tidak baik setidaknya kau bisa bertanya padaku di mana kakakku selama ini. kenapa dia tidak muncul? Kau hanya peduli dengan dirimu sendiri. Mengatakan cinta padaku, Kau bahkan mencoba bunuh diri tapi semua itu palsu. Kau bukan mencintaiku kau hanya mencintaimu sendiri. Kau bukan takut kehilanganku tapi kau gengsi tidak mau di tolak oleh orang lain. Kau tidak suka orang lain mengambil barang milikmu termasuk aku. Kau egois Alvaro!!!."
Alona terdiam sejenak mengambil nafas lalu kembali mengucapkan kata-katanya. "Memang salahku tidak mengatakannya padamu. Tapi apa pernah kau mencoba bertanya padaku. Apa yang terjadi padaku. Apa yang ingin aku mau. Aku mencintaimu membuang semua perasaanku untuk yang lainnya. Ingat!!! Kau juga pernah berselingkuh dariku. Aku tetap mencintaimu waktu itu Alvaro!!!.
"Alona!!!" Alvaro berteriak. "Sudah kukatakan aku tidak berselingkuh darimu. Aku di jebak orang lain. Kita berbeda, di sini kau yang curang."
"Apa aku juga salah..., aku tidak mencintai pria itu aku hanya ingin menyelamatkan kakakku. Aku tidak pernah tahu jika pria itu menginginkanku. Melihat sikapmu aku jadi sadar bahwa kita hanya membuang waktu kita saling bertengkar dan menyakiti. Kau selalu tidak percaya dan menuduhku. Jika Kau memang mencintaiku apa buktinya Alvaro!?"
Alvaro mengertakan giginya. Tangannya terkepal. "2 hari lagi kita akan bertunangan Alona. Aku mempercepat waktunya. Setelah itu kita memilih tempat untuk menikah. Jadi jangan pernah katakan ingin putus dariku."
"Raka!!!" Alvaro berteriak. "Ambil semua alat komunikasi milik Nona Alona di atas. Pastikan tidak ada yang tertinggal.
"Baik Tuan." Jawab Raka kepala penjaga keamanan di rumah Alvaro.
"Alvaro apa aku tahananmu. Kenapa Kau membatasi semua pergerakanku."
"Diam!!!" Teriaknya lagi. " Kau ingin bukti bukan!? setelah kita menikah nanti kita akan pindah ke luar negeri memulai hidup baru. Aku akan memaafkanmu saat itu. Kembali ke kamarmu Alona! sekarang!!!"
"Adi pastikan untuk mengawasi Nona Alona 24 jam. Aku akan membunuhmu jika dia pergi dari rumah ini."
"Bi Asih tolong buatkan Alona makanan yang bergizi tiap hari. Pastikan ia memakanya, jika tidak aku akan memotong gajimu."
"Hari ini aku akan pulang ke rumah Mama. Jangan lupa laporkan semua yang dilakukan Alona padaku."
Alvaro pergi dan membanting pintu hingga bergetar. Sementara Alona masuk ke kamarnya dengan pikiran kosong tidak tentu arah dan tujuan. Alona bagai mayat hidup, matanya menatap ke arah luar jendela memikirkan sesuatu yang tidak pasti.
*****
Rutinitas di kota B membuat Xander jenuh. Hari kerjanya tersisa selama seminggu di kota B. Xander mengeluarkan ponselnya untuk melihat pesan masuk. Pada saat layar ponsel menyala foto Alona sedang tersenyum membuat Xander teralihkan dari dunianya. "Alona sedang apa kamu di sana!?" Tanyanya dalam hati dengan seuntai senyum mengembang di wajahnya.
__ADS_1
Xander memutar-mutar ponselnya memikirkan Alona. Terbersit di hatinya untuk meneleponnya. kemudian ia mengetik nama Alona di kolom pencarian kontak telepon. Segera setelah itu, ia melakukan panggilan. Telepon tidak bisa tersambung hanya suara robot yang menjawab teleponnya. "Kenapa nomornya tidak aktif?"
Xander kemudian mengernyitkan alisnya. "Aku akan melacak keberadaannya sekarang. Sekalian mau memastikan apakah GPS yang aku taruh di tasnya masih berfungsi atau tidak."