
Malam ini sangat dingin sampai terasa menusuk ke dalam tulang. Alona tidur nyenyak di atas kasur dengan selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya. Alona sengaja tidur lebih awal agar ia bisa bangun pagi-pagi sekali untuk menyambut kedatangan suaminya pulang dari kota J.
Alexander bukan tipe pria yang bisa berlama-lama jauh dari istrinya. Bukan karena napsu yang tidak terpenuhi selama berpisah. Namun, ia benar-benar tidak bisa berpisah lama dari Alona. Baginya Alona adalah segalanya. Entah apa jadinya bila Alona meninggalkannya. Mungkin dunia akan berakhir....
Alexander tidak kenal waktu bila menyangkut istrinya. Ia segera pulang saat pekerjaannya selesai. Jam 3 pagi Alexander tiba di west flores. Ia membuka pintu kamar, perlahan berjalan ke arah Alona.
"Sayang, kamu terlihat sangat lezat malam ini." bisik Alexander pada Alona saat ia sampai di samping istrinya.
Alexander melepaskan semua pakaiannya lalu ia lemparkan ke sembarang arah. Udara yang terasa dingin menyerang tubuhnya, namun ia hiraukan saat melihat istrinya tertidur lelap. Alexander tersenyum menyeringai saat menatap wajah polos Alona. "Sayang aku menginginkanmu sampai pagi." Ucapnya yang sudah memeluk dan membelai pipi istrinya.
Alona hanya menepis tangan yang hinggap di pipinya. Alona bagai mayat hidup saat tertidur. Dia tidak akan sadar walaupun badannya di lemparkan ke dalam jurang sekalipun.
Alexander mencium bibir istrinya sangat lembut. Kemudian beralih mencium leher dan berhenti di telinga Alona. "Alona bangunlah Sayang..., aku sudah kembali. Bukankah, Kau menunggu ku pulang?" tanya Alexander sambil melancarkan aksinya. Tangan Alexander sudah sperti ular yang berjalan perlahan menelusuri setiap inci tubuh Alona.
Alona hanya mengerjapkan matanya. Ia seperti bermimpi sedang berhubungan intim dengan suaminya. Namun, hal itu terasa bukan seperti mimpi. Sangat nyata! Alona terus menutup matanya, menikmati mimpi indah itu.
Melodi sura nikmat Alona kian kencang menembus keheningan malam menjelang pagi. "Alexander sedikit lagi...." Rintihnya merasakan nikmat yang luar biasa dalam mimpinya. Alona tersadar saat ia akan mencapai puncaknya. Alona seketika mendorong dada bidang yang sedang menindih tubuhnya. "Siapa, Kau?" Teriak Alona ketakutan.
Alona tidak bisa menerima kenyataan bila ia di nodai pria lain, selain suaminya Alexander.
Alexander dengan sigap menutup mulut Alona menggunakan telapak tangannya. "Aku...." Jawab Alexander di telinga istrinya dengan lembut. "Apa kamu menyukai olahraga pagi ini, Sayang?" Tanya Alexander dengan suara sedikit mendesah.
Alona ingin mencaci maki suami mesumnya itu. Tapi, merasakan tubuhnya berkhianat. Ia mengurungkan niatnya. "Alexander bisakah Kau menahan sedikit napsu mu itu?" Tanya Alona menutupi rasa malunya.
"Tidak bisa...." Jawab Alexander dengan lancar.
"Aku sedang hamil muda, bagaimana jika terjadi sesuatu pada bayiku?" tanyanya.
"Tenang saja Sayang, kemarin kita juga sering melakukanya, bukan? semua baik-baik saja, anakku sangat kuat di dalam perutmu. Dia sangat mengerti ayahnya. Dia juga tidak akan mau bersaing dengan ayahnya. Dia harus tahu bahwa Kamu itu hanya milikku, Alona!" Jawab Alexander.
__ADS_1
"Alexander itu kemarin, bagimana jika hal itu terjadi. Aku tidak akan memaafkan mu." Balas Alona marah dan mengalihkan situasi agar ia tidak malu. Bagaimanapun dia juga menginginkanya. Karena gengsinya sangat tinggi, Alona mencari alasan untuk menutupinya.
"Apa kamu marah padaku, karena aku melakukan nya saat kamu tertidur lelap, dan kamu tidak bisa menikmati setiap ritme permainan panasku?" Tanya Alexander.
Alona membuka mulutnya dan ingin berteriak. Namun tangan Alexander lagi-lagi memblokirnya. "Kalau begitu, mari lakukan sekali lagi. Aku janji kali ini Kamu akan meminta lebih." Kata Alexander menyombongkan kemampuan ranjangnya.
"Dasar pencuri!" maki Alona tidak terima karena Alexander mengaulinya saat tertidur.
"Hei, Sayang..." Kata Alexander dengan lembut sambil menutup mulut Alona menggunakan jari telunjuknya. Alona terdiam dan mengerjapkan matanya saat Alexander meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
"Jangan katakan aku pencuri. Kau tahu siapa pencuri sesungguhnya di sini?" tanya Alexander.
"Siapa?!" Jawab Alona kesal namun tetap menjawab pertanyaan yang tidak penting itu. Ingin rasanya Alona bersembunyi di dalam lobang yang dalam lalu melemparkan bom ke arah suaminya.
"Kamu pencuri hatiku. Kamu yang sudah mencuri semua yang ada pada ku. Bahkan yang lebih parah lagi, kamu telah mengambil kebebasan ku untuk bernafas. Karena nafasku akan berhenti ketika nafasmu hilang. selamanya"
"Alexander!" teriak Alona marah dengan tingkah Alexander. Rayuan gombal itu selalu menghiasi hari-hari nya saat bersama pria itu. Meskipun terdengar berlebihan, tapi, semua itu mampu menyihirnya seperti teralihkan dari kemarahan yang sedang memuncak. Suaminya sungguh seorang pria yang memiliki kemampuan ulung dalam merayu seorang wanita.'
"Kau memang pencuri! kembali Kau ke kota J. Aku tidak menginginkan kehadiranmu lagi. Aku lebih baik sendiri menunggu kelahiran anakku di sini. Aku akan baik-baik saja tanpamu." Jawab Alona.
"Kamu wanita sangat kejam Alona. Setelah semua yang ku miliki hilang karena kamu curi. Sekarang kamu berniat mencampakanku? lalu, bagaimana aku harus hidup tanpa majikan ku yang selalu menjerat ku di dalam pelukannya setiap malam. Setidaknya kamu harus berbaik hati, bertanggung jawab menghangatkan ranjangku selama 2 hari 2 malam." Jawab Alexander memalingkan wajahnya dan tersenyum.
"Lagipula kamu juga menginginkanya, bukan? tanya Alexander menyindir Alona.
"...." Alona terdiam, dan menarik air liurnya.
"Sudahlah aku ingin mandi." Kata Alexander berjalan pergi menuju kamar mandi. Sebelum masuk ia membalikkan badannya menghadap ke arah Alona. "Apa kamu ingin ikut mandi denganku, Sayang?" tawar Alexander dengan tatapan menggoda, tersenyum, kemudian mengedipkan sebelah matanya.
"...." Alona hanya diam, tanduk iblisnya mulai muncul.
__ADS_1
Alexander menghentikan langkahnya. Ia kemudian berbalik menghampiri istrinya. Rayuan maut Xander mulai keluar lagi. "Alona, kamu itu kalau marah cantik, kalau cemberut semakin cantik, kalau kamu tersenyum kamu menjadi wanita paling cantik di antara semua wanita di dunia ini."
Alona ingin tersenyum, namun ia tahan hingga pipinya mengembung. "Ya sedikit lagi, tersenyum..." Goda Alexander saat menyaksikan Alona tersenyum tertahan. "Alona Kamu sangat pandai menentukan pilihan." Kata Alexander saat melihat Alona tersenyum. "Senyumanmu itu menjadikan mu seperti seorang malaikat." puji Alexander.
Detik berikutnya, Alexander menggendong Alona dan mencium keningnya. Ia membawanya ke kamar mandi dan mandi bersamanya di bathtub. Alona duduk di pangkuan Xander dan bersandar di dada bidangnya. "Tidak marah lagi, kan?" tanya Alexander sambil memeluk istrinya di pangkuannya menikmati air hangat wangi bunga mawar.
"Alona tersenyum, "apa kamu tahu bagaimana aku melewati hari-hari tanpmu?" tanya Alona.
Alexander menggelengkan kepalanya. "Emm, coba aku tebak. Pasti kamu merindukan ku, bukan?" tanyanya.
"Bukan, aku tidak merindukan mu sama sekali. Hanya saja aku selalu menantimu di depan pintu setiap hari. Berharap kamu bisa memberikan kejutan padaku. Walaupun aku tahu mustahil bagimu untuk pulang selain hari sabtu dan minggu, aku tetap menunggumu pulang seperti orang bodoh." Kata Alona menuturkan keluhan pada suaminya.
Alona meraih tangan Alexander. Kemudian ia letakkan tangan itu di atas perutnya. "Sayang..., bagaimana menurutmu jika anak di dalam perutku adalah anakmu." Kata Alona membuka pembicaraan serius.
"Sayang, apa maksud pertanyaan mu itu? aku tidak mengerti." Jawab Alexander kebingungan.
Alona memasang wajah sendu. "Maksudku---"
"Alona..., Sayang. Sudah ku katakan aku tidak akan pernah mempermasalahkan hal itu. Bagiku dia akan menjadi anakku. Tidak penting ayahnya dia atau aku." Selah Xander pelan takut melukai hati istrinya. "Aku tahu, pasti kamu merasa tidak nyaman, bukan? tapi kamu tidak perlu khawatir aku bersungguh-sungguh menginginkannya. Masalah Kakakmu tidak menyukainya, aku akan membicarakannya empat mata dengannya.
"Sayang, aku sudah memeriksanya. Anak ini milik mu, milik kita, bukan dia." jelas Alona dengan senyum sumringah bercampur perasaan haru.
"Benarkah?" Jawab Alexander kaget.
Alexander seketika tersenyum dan tertawa. Ia sepertinya sedang bermimpi. "Alona apa benar, bayi itu punya kita?" tanya Alexander memastikan lagi.
Alona menganggukan kepalanya. "Aku sudah memeriksanya. Alvaro memasang CCTV di kamarku waktu itu. Bibi Ani sudah membantuku meretas CCTV itu. Dia tidak pernah menyentuhku, Sayang. Malam itu dia hanya berpura-pura bahwa dia melakukan hubungan denganku."
Alona tidak ingin menemui mantan kekasihnya itu. Bahkan menyebut namanya saja dia sudah tidak sudi lagi. Sudah terlalu banyak luka yang ia rasakan!
__ADS_1
Alexander mengangkat badan Alona dari bathtub. "Jangan berlama-lama berendam air." Katanya. "Aku tidak ingin kamu masuk angin. Aku akan membersihkan sisa sabun di badan mu." Ucap Xander sangat perhatian.
Alexander tidak ingin Alona kelelahan. Jika ia bisa, ia ingin sekali tinggal di rumah untuk menemani Alona selama masa kehamilan. Dia akan melayani istrinya setiap saat. Dia akan menebarkan bukti cintanya pada Alona seorang. Akan tetapi, semua itu hanya menjadi angan-angannya untuk saat ini. Diana dan Alvaro belum sepenuhnya mendapatkan hukuman. Mereka masih dalam tahap proses peradilan. Alexander masih takut untuk membawa Alona kembali bersamanya. Bagaimanapun Diana dan Alvaro bukan orang sembarangan. Mata-matanya sangat banyak dan loyalitasnya sangat tinggi.