Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Davis Moyes!


__ADS_3

Diana duduk di ruang khusus besuk rumah tahanan. Kepalanya tertunduk menunggu siapa orang yang akan mengunjunginya.


Dari balik pintu muncul sosok pria berumur pertengahan 40 tahun. Pria itu bersetelkan jas formal. Dia Carlos Vela, pengacara keluarga Diana Maringka.


Melihat Diana menundukkan kepalanya, Carlos Vela menyebutkan namanya. Dia ingin menyadarkan lamunan wanita di hadapannya.


"Nyonya Diana, aku Carlos Vela. Aku datang ke sini atas perintah Tuan Jaya Nugroho. Katakan apa yang terjadi di dalam rekaman itu? apa benar Kau melakukannya?"


Carlos langsung berbicara ke inti permasalahan kasus Diana Maringka. Baginya berbasa-basi itu tidak ada gunanya.


"...." Diana diam tidak berniat membalas perkataan pengacara Carlos Vela. Dia sudah tahu pria itu. Dia juga yang membantu kasus anaknya.


"Nyonya Diana. Katakan suatu hal yang bisa menyelamatkanmu dari hukuman penjara selama seumur hidup."


"...." Pandangan mata Diana sayu. Dia sama sekali tidak menganggap kehadiran Carlos Vela. Diana seperti tidak memiliki semangat hidup. Ia tersenyum menyeringgai melihat badannya mulai kurus dan tidak terawat.


"Nyonya Diana. Aku akan pergi jika Kau terus diam. Kau bisa langsung menjelaskan di persidangan perdana nanti. Semoga Kau beruntung!" Kata Carlos marah karena di acuhkan.


Pengacara Carlos bisa bersabar karena wanita di hadapannya adalah klien pentingnya. Dia juga sudah mendapatkan 50% dari total bayarannya untuk membela Diana selama persidangan berlangsung.


"Hahahaha!!!" Diana tertawa terbahak-bahak. "Mereka samapah. Mereka semua pantas mati. Aku sangat senang melihat mereka mati."


"Nyonya Diana. Jaga ucapan mu. Ada CCTV yang mengawasi ruangan ini. Jangan salahkan aku jika pihak jaksa penuntut umum menuntut mu lebih dari hukuman seumur hidup."


Diana tersenyum layaknya seperti seorang penguasa. Dia tidak peduli apa yang dikatakan Carlos Vela. Dia sangat percaya diri bahwa ia bisa lolos dari jeruji besi yang dingin.


"Carlos Vela, aku ingin menemui seseorang. Aku tahu Kau bisa menyimpan rahasia. Dia bisa menolong ku dari tahanan ini. Aku tidak ingin membusuk di dalam penjara selama sisa usiaku...." kata Diana berapi-api


"Katakan, siapa yang ingin Kau temui." Jawab Carlos langsung.


"Davis Moyes! Aku ingin bertemu dengannya. Jika Tuan Carlos tidak bisa menemuinya untuk memberitahukan bahwa aku di sini. Maka aku cukup mengirimkan pesan lewat ponsel Tuan Carlos."


"Jika Kau hapal nomornya silahkan Kau masukkan nomrnya di ponselku. Aku akan memberi kabar pada Davis segera setelah aku pulang."


"Terima kasih, Tuan Carlos. Aku akan selalu mengingat kebaikan hatimu."


"Tidak perlu sungkan. Nyonya Diana juga sangat baik padaku. Nyonya klien nomor satuku di kota J."


"Tuan Carlos pastikan pesanku sampai pada Davis Moyes. Aku akan memberimu lebih dari yang suamiku berikan padamu, jika Kau berhasil menagani kasusku kali ini."


Carlos Vela sudah beranjak berdiri dari kursinya. Belum sempat ia membalikkan badan. Tiba-tiba Diana menghentikannya.


"Tuan Carlos, bagaimana keadaan anakku, Alvaro? apa dia baik-baik saja?" tanya Diana penasaran sekaligus kahwatir pada anak kesayangannya.

__ADS_1


"Dia baik-baik saja di rumah tahanan bambu kuning. Tapi, sikapnya sedikit aneh saat ini."


"Apa maksudnya sedikit aneh?" Diana tidak berani menerka. Meskipun memang idenya untuk menyarankan anaknya agar berpura-pura gila.


"Tuan Alvaro seperti terkena gangguan sakit jiwa. Minggu depan pihak kepolisian akan melakukan tes terhadap anakmu. Jika benar dia terkena penyakit jiwa maka ia akan di bebaskan dari tuntutan apapun. Dia akan di kirim ke rumah sakit Kasih Waras."


"Emm, beri aku kabar perkembangan tentang anakku di sana."


"Akan Saya beritahu nanti. Aku akan mendampinginya. Nyonya Diana tenang saja. Selama aku ada di sisinya, Tuan Alvaro akan baik-baik saja."


Diana tetap duduk di ruangan besuk menunggu petugas membawanya kembali ke dalam tahanan.


"Alvaro.... Semoga Kau beruntung, Nak. Kau akan selamat jika Kau mengikuti semua rencana ku dan saran ibumu." Gumam Diana.


*****


Keesokan harinya....


Davis Moyes benar-benar pria yang dapat diandalkan. Belum 24 jam Carlos Vela memberikan kabar bahwa Diana ingin bertemu di rumah tahanan. Dia sudah datang menemui wanita itu.


"Davis..., anakku. Tolong Mama, Nak. Mama tidak kuat di dalam penjara ini." Kata Diana saat melihat anaknya masuk ke ruangan besuk. Diana langsung berlari menyambut kedatangan anaknya.


"Nyonya Diana..., apa kita cukup dekat seperti ibu dan anak. Bukankah anakmu hanya Alvaro saja?"


Diana terisak menagis, bersimpuh di hadapan anaknya. Dia sungguh pandai berakting.


"Nyonya Diana, aku akan membantumu untuk kali ini saja. Ketika Kau akan di pindahkan ke ruang tahanan akhir, saat itu aku akan membantumu kabur dari mobil tahanan. Kau juga harus menyiapkan rencana mu sendirian setelah bebas. Aku tidak ingin ada hubungan apapun dengan mu. Anggap saja aku melakukan ini sebagai rasa terima kasihku karena Kau telah melahirkanku ke dunia ini."


"Davis, bisakah kita berbaikan, Nak?"


"Jangan melampaui batas, Nyonya Diana. Kita tidak bisa sedekat itu. Kita akan menjadi orang asing sampai dunia kita berakhir. Aku sudah bertekad untuk itu...."


"Davis, bisakah ibu meminta satu hal lagi padamu?" Kata Diana dengan wajah memelas mengharapkan empati dari anaknya.


"Katakan!!!" Jawab Davis mulai malas mendengar omong kosong ibunya.


"Tolong cari wanita yang bernama Alona Arunika Raharja untukku. Dia kekasih adikmu. Dia juga menggandung cucu Mama. Culik dia dan kembalikan dia pada adikmu. Tolong Kau rebut dia dari Milan Allegri Alexander McQueen Utama. Bisa, kan? Sayang?! bagi Mama Kamu harapan satu-satunya. Adikmu masih belum mengerti apa-apa tentang dunia kejam ini."


Davis menundukkan kepalanya. Ia tersenyum kecut. Wajahnya berubah masam menyaksikan perhatian Diana pada adiknya. Perhatian itu membuat ia semakin cemburu, marah meradang.


Dia hanya dibutuhkan saat wanita itu membutuhkannya. Tapi, adiknya? Diana sangat mempedulikannya. Apa salahnya? sehingga wanita itu lebih mencintai adiknya di bandingkan dengannya.


"Aku akan mencobanya. Tapi, aku tidak bisa berjanji aku akan berhasil menjalankan misi itu atau tidak."

__ADS_1


Davis sangat malas menculik seseorang apalagi itu akan sangat membahayakan keselamatannya.


Diana meraih tangan anaknya lalu berkata.


"Terima kasih, Nak. Mama percaya pada kemampuan mu."


Segera setelah itu, Davis menepis tangan ibunya. Dia merasa jijik di sentuh ibunya sendiri.


"Aku pergi.... Siapkan dirimu sendiri di dalam mobil tahanan. Aku hanya bertugas memberikan mobil untukmu kabur. Aku tidak akan membantumu lebih dari itu. Kau harus mengendarai mobil sendirian."


"Iya, Sayang. Mama mengerti maksud rencanamu, Nak."


30 menit kemudian....


Davis Moyes tiba di istananya yang luas hampir 1000 Meter. Ia selalu bersembunyi di dalam istananya itu. Menikmati hidup di surga namun terasa sunyi seperti di dalam kuburan. Dia sudah di kurung lebih dari 20 tahun.


Di dalam ruangan favoritnya, Davis Moyes duduk di kursi goyang menghadap layar monitor laptop-nya. Davis segera mengetik nama Alona di papan pencarian di layar laptopnya. Gerakannya cukup terampil. Akan tetapi, pencarian itu sia-sia. Dia tidak menemukan apapun. Dia tidak ahli, namun ia memiliki banyak teman yang mengerti tentang IT. Ia segera memberikan perintah pada teman dunia maya-nya untuk mencari informasi detail tentang Alona kekasih dari adiknya.


"Hai teman..., bantu aku. Temanmu sedang dalam kesulitan. Aku ingin mencari informasi tentang seseorang.


Davis mengirim pesan pada teman setia di dunia maya-nya. Pertemanan mereka sudah teruji dalam segala bidang. Meskipun mereka belum pernah bertatap muka, untuk kesetiaan tidak perlu di ragukan lagi.


"Baik Bos...." Jawab temannya lewat email.


5 menit setelah Davis memberi perintah, muncul sebuah foto di layar laptopnya.


"Cantik!" pujinya pada foto Alona yang sedang berpose di pantai bersama Alvaro. Foto Alona dan Alvaro sedang tersenyum pada saat berkencan.


Davis Moyes tersenyum menyeringgai melihat foto di tangannya. Dia sudah mencetak foto itu dalam waktu kurang dari 2 menit.


"Aku tidak akan menyerahkan mu pada adikku. Kau akan menjadi milikku. Aku ingin merasakan belaian kasih sayang darimu, wanita cantik!"


Davis Moyes kekurangan kasih sayang. Dari kecil hidupnya sudah menderita. Dia selalu dididik seperti hidup di hutan rimba.


"Jika adikku saja bisa memilikimu. Aku tentu juga bisa memilikimu. Kau memiliki mata yang indah dengan warna coklat sempurna. Bibirmu tipis, hidungmu mancung simetris, warna kulitmu pun sangat putih seperti warna susu asli. Aku tidak bisa menemukan wanita sesempurna dirimu." pujinya untuk kesekian kalinya.


Bermodalkan sebuah foto Davis Moyes langsung memulai misi pencariannya. Dia memerintahkan detektif bayaran terkenal di kota J. "Beri tahu aku di mana posisi gadis itu sekarang? temukan dia! tidak peduli dia ada di belahan dunia bagian mana. Kalian harus menemukannya dalam keadaan hidup dan sehat. Dia akan menjadi wanitaku!" Perintah Davis Moyes pada detektif bayarannya.


****


Sisi lainnnya....


Alan menepati janjinya untuk menemui adiknya di west flores. Dia datang untuk melakukan tes kehamilan Alona.

__ADS_1


Alan mengirimkan pesan singkat sebelum pergi. "Alona, Kakak akan menemuimu. Kita akan bersiap-siap melakukan cek kandunganmu. Kakak akan membawamu pulang dari sana. Pastikan Kau bersiap-siap setelah Kakak sampai di sana."


__ADS_2