
Pagi-pagi sekali Alona terbangun dari tidur lelapnya. Mulai hari ini, Alona bertekad akan menjadi istri yang lebih baik untuk suaminya, Alexander. Alona tidak ingin menjadi istri manja lagi, yang hanya bisa mengandalkan asisten rumah untuk membangunkannya dari tidur ataupun melayani kebutuhan sehari-hari nya. Dia bukan seorang putri dari konglomerat ataupun adik dari pengusaha sukses lagi. Sekarang dia adalah istri seseorang yang harus melayani suaminya, kapanpun dan di manapun.
Alona bangun pagi untuk menyiapkan celana, kemeja, jas dan dasi untuk suaminya bekerja. Di lihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Alona menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi agar tidak kedinginan.
Alona duduk menyerong membelakangi suaminya di pinggir kasur. Tangan Alona mengoyangkan badan suaminya dan berkata. "Sayang bangun..., aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi."
Alexander mengerakkan badannya dan perlahan membuka matanya. Tangan Alona yang sedang mengoyangkan badan Xander di tarik. Kemudian Pria itu memeluknya "Sayang, jam berapa sekarang? Kamu membangunkan ku terlalu pagi." Ucapnya dengan suara serak.
"Jam 5 pagi.Kamu jalan jam 6 pagi, kan?." Jawab Alona bingung.
"Aku jalan jam 8 Sayang." Kata Xander sambil mencium kening istrinya.
Alona membalikkan badannya dan memegang pipi suaminya. "Ya, sudah kamu tidur lagi. Aku akan turun ke dapur untuk membuatkanmu sarapan, sebelum jalan ke kota J. Kamu mau sandwich atau roti bakar?" Tanya Alona.
Alexander menarik Alona lebih dekat dengannya. "Bagaimana jika aku menginginkanmu menjadi sarapanku untuk pagi ini?"
Meskipun di hadapannya adalah suaminya. Dada Alona tidak bisa tenang, jantungnya terus berdegup kencang seakan ingin melompat ke luar. Alona belum siap untuk melakukannya. Dia sedang hamil seperti itu takut melukai bayi di dalam perutnya. Terlebih lagi, Xander sudah berjanji tidak akan menyentuhnya sebelum bayi di dalam perut Alona lahir. "Apa yang kamu pikirkan?" Kata Alona sambil menghindari tatapan mata suaminya yang mulai liar. "Jangan berpikir macam-macam, hari masih pagi buta seperti ini. Aku akan turun menyiapkan sarapan untukmu."
"Aku tahu ini masih pagi. Justru karena itu, tenaga ku paling frima di pagi hari." Kata Xander tersenyum menggoda
"Sayang---" Kata Alona ingin menyelah maksud suaminya. Namun belum sempat kata-katanya terucap pria itu sudah mengunci mulutnya dengan ciuman bergairah di pagi hari.
Ciuman berakhir ketika mereka hampir ke habisan oksigen. Segera setelah itu, Alona menghirup udara sedalam-dalamnya. Berbeda dengan suaminya, pria itu semakin nakal, dan melanjutkan ciuman di bagian telinga, tengkuk, dan bagian sensitif lainnya. "Sayang..., sekali saja." Rayu Xander di telinga Alona.
"Tidak!" Jawab Alona tegas.
"Yes!" Balasnya.
"No!" Kata Alona dengan sedikit mengerang nikmat, karena pria itu sudah mencumbunya dengan lembut dan penuh gairah.
Alona menjambak rambut Xander dengan mata terpejam. "Sayang, stop!" Perintah Alona sudah tidak kuat menahan pertahanannya saat ciuman Xander hampir sampai di bawah perutnya. "Sayang, hanya bagian atas saja." Katanya kembali mengingatkan lagi.
Alexander memang pernah berjanji untuk tidak menyentuhnya selama bayi di dalam perut Alona belum lahir. Semua itu di maksudkan untuk menghindari hal-hal di luar dugaan. Hal itu di lakukan lantaran Mereka mengetahui bahwa anak di dalam perut Alona adalah milik Alvaro. Namun, kali ini dia harus kembali ingkar janji karena nafsunya sedang di puncak yang membuat kepalanya sangat sakit tidak kuat menahannya lagi.
"Aku akan menglurkannya di luar." Kata Xander berbisik pelan untuk meyakinkan Alona. "Bayi di dalam perutmu tidak akan terkontaminasi. Aku sudah membaca petunjuk di sebuah buku." Bisiknya lagi.
Alona menggelengkan kepalanya dengan nafas berat tidak beraturan. Pertahanannya juga sudah mulai runtuh. Sekali lagi pria itu melakukannya maka seluruh pertahanannya akan hancur. "Jangan...." Ucapnya pelan.
__ADS_1
"Sayang..., apa kamu tega membiarkannya tersiksa. Atau lakukan sesuatu untuk meredamnya." Kata Xander memohon.
"Aku tidak bisa. Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Alona tidak mengerti.
Alexander sudah benar-benar kehilangan benteng pertahanannya. Dan, pertarungan mereka pun tidak bisa terelakkan. "Alona, berteriaklah Sayang. Jangan tahan suara seksimu itu." Kata Xander saat berhasil memasuki istrinya dengan hangat, penuh gairah.
Alona berteriak, dan menjerit menahan rasa sakit akibat Xander terlalu kasar. "Sayang, tolong pelan sedikit. Ingat, di dalam perutku ada seorang bayi."
"Emm...." Jawab Xander dengan merasakan kenikmatan tiada Tara.
Alona kembali mengerang nikmat. "Oh!, Sayang... lebih cepat. Aku sudah tidak kuat." Kata Alona dengan badan menggelinjang menahan rasa nikmat di puncaknya.
"Sebentar lagi..." Jawab Xander dengan menekan kedua tangan Alona di atas kasur karena terus memberontak, dan mencakar punggungnya.
"Sayang aku selesai..." Ucap Alona dengan rasa lemas menjalar ke seluruh tubuhnya.
Alexander dan Alona tidur terlentang di atas kasur. Nafas mereka sama beratnya seperti di kejar seekor banteng.
Alexander mengatur napas dan memeluk istrinya, kemudian ia berkata. "Terima kasih..., kamu sudah mengizinkannya. Aku harap kamu tidak marah." Kata Xander pelan.
Alona hanya diam. Dia ingin marah. Namun ia sadar, memang sudah menjadi tugasnya untuk melayani suaminya. Alona memejamkan mata dan menenangkan gejolak emosinya. "Pergilah mandi. Sudah jam setengah tujuh." Kata Alona tidak ingin membahas masalah pertarungan mereka pagi ini.
"Aku ingin melihatmu pergi." Sangkal Alona.
"Tidak. Aku akan menggendongmu kembali ke kamar. Kamu bisa melihatku dari balkon kamar kita." Jawab Xander. "Oke. Sayang, tidak baik kamu berada di luar selama aku tidak ada," lanjutnya mengusap kepala Alona, menunjukkan perhatiannya.
Alona menganggukan kepalanya, mengikuti perintah suaminya. "Pastikan Kamu memberi kabar padaku, saat kamu sudah tiba di sana."Jawab Alona.
"Ya. Sayang." Jawab Xander, setelahnya ia mencium bibir istrinya sebagai ucapan salam perpisahan untuk sementara waktu. "Aku pergi..., jaga baik-baik bayi kita."
"Emm..." Jawab Alona sambil mencium pipi suaminya.
Baru saja Xander menginjakkan kakinya di atas gedung Golden Hotel. Puluhan SMS dari Alona sudah membanjiri ponselnya. Semua isi pesan sama tidak ada yang berbeda sedikitpun, bunyinya. "Sayang cepat kembali. Aku tidak tahan sendirian di kamar. Aku merindukanmu." Pesanya di ikuti 10 emoticon peluk dan ciuman.
"Alona, baru sebentar aku pergi sudah 99 SMS kamu kirim." Ucapnya dalam hati dengan seulas senyuman hangat.
Tangan Xander dengan cepat mengetik pesan membalas SMS istrinya. "Ya. Ratuku..., sampai ketemu di atas kasur yang panas." balas Xander sambil tersenyum geli.
__ADS_1
Setiap 30 menit sekali Alona mengirim SMS untuk suaminya. Terus berulang sampai pria itu membalas pesannya. "Jam berapa kamu pulang?" Tanya Alona dalam SMS.
"Jam 3 aku baru selesai meeting dengan investor Albert, Sayang." Balas Xander tanpa rasa bosan. "Sudah ya, aku akan segera memulai meeting dengan pak Albert. Ponsel akan aku matiikan sampai meeting selesai."
*****
Villa bukit merindu. Jam 03.00 sore hari. Dokter Risma datang mengetuk pintu kediaman Alona dan Xander.
Bibi Ani dengan sigap membukakan pintu.
"Selamat sore..." Sapa dokter Risma hangat menyapa BI Ani yang membukakan pintu untuknya.
"Selamat sore..."Jawab Bi Ani dengan tersenyum hangat menyambut dokter Risma.
"Perkenalkan, saya dokter Risma. Pasti anda Bibi Ani, kan?" Tanya dokter Risma.
Bibi Ani mengedarkan pandangannya menelusuri sikap dan jejak dokter Risma. "Ya." Jawab Bi Ani setelah mengmati dokter Risma. "Kamar Nyonya Alona ada di atas. Dokter Risma sudah boleh bekerja sesuai perintah Tuan Xander." Katanya tanpa berbasa-basi.
"Siap BI." Jawabnya.
Dokter Risma tersenyum, dan memencet headset bluetooth-nya. "Semua sudah siap." Ucapnya pelan sambil menaiki anak tangga. Bongkahan kristal ia lemparkan ke ruangan bawah yang mengandung aromaterapi obat bius untuk sementara waktu.
Alona baru saja keluar dari kamar ganti setelah selesai mandi sore hari. Pintu kamar berderit terbuka secara perlahan. Namun, tidak ada tanda-tanda seseorang masuk dari luar kamar. Alona berpikir positif, mungkin, suaminya ingin memberikan kejutan padanya. Alona tersenyum dan bertanya. " Sayang kamu sudah kembali." Tanya Alona.
"...." Ruangan hening tanpa ada suara.
Alona duduk di kursi baca, membaca buku petunjuk kehamilan. Posisi duduknya membelakangi pintu masuk kamar.
Tangan seorang pria memeluknya dari belakang. "Sayang sejak kapan kamu kembali? " Tanya Alona sambil tersenyum antusias menyambut suaminya pulang tanpa menoleh siapa pria sebenarnya di belakang yang sedang memeluknya.
Tangan berotot tersebut kemudian menutup mata Alona dan berbisik kepadanya dengan suara sangat halus, menghembuskan udara panas di telinganya. "Aku merindukanmu..."
"Sayang jangan bermain-main denganku." Ucap Alona sambil menerka suara pria yang berbeda. Suara itu terdengar asing di telingganya.
"Aku tidak bermain-main denganmu." Jawab pria itu lagi.
Alona membalikkan badannya. Dan, pandangannya pun berubah menjadi sebuah kecemasan.
__ADS_1
"Sipa kau? apa yang Kau inginkan dariku?" Tanya Alona dengan tatapan siaga dan siap melawan saat melihat wajah orang yang memeluknya.