
Cahaya lampu menyala terang membuat mata Alona dengan cepat mengenali pria di depannya. "Iya! ini aku, Alona sayang....!" Xander menekankan kata iya untuk meyakinkan Alona. Pria itu kemudian menopangkan tangan kanannya ke dinding di atas kepala Alona. Sementara tangan kirinya memegang dagu Alona hingga wajah Alona mendongak menatap wajahnya.
Saat Xander mengangkat dagunya, mata Alona mentap intens ke pupil mata milik Xander. Pandangannya tidak beralih seakan- akan menatap rembulan malam.
Pria itu menikmati pandangan Alona dan mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu. "Memangnya Kau pikir siapa aku? Michael!? Mario!? atau aku yang selalu membuat hatimu berdebar-debar?!" Tanya Xander dengan sedikit memainkan suara menggodanya.
Degupan jantung Alonapun kian kencang dan hatinya mulai bereaksi berdebar-debar. Tidak ingin mengakuinya namun hatinya lebih dulu berkhianat padanya.
Pria itu berpura-pura berpikir keras lalu mengucapkan kata-katanya. "Emm.... Coba aku tebak. Sepertinya kamu mengharapkan aku yang datang. Bukan begitu sayang?"
"Pria ini!? lagi-lagi... mengetahui isi hatiku!? Bagaimana ia bisa mengetahui bahwa aku mengharapkannya datang." Kata Alona dalam hatinya.
Xander berdehem mencoba menyadarkan lamunan Alona yang terus-menerus menatapnya. Akan tetapi, Alona tidak juga melepaskan tatapan yang penuh godaan itu. Ingin rasanya Xander memakannya. Namun ia berpikir, "ini bukan waktu yang tepat." Xander mengangkat tangannya dan menjentikkan jari telunjuknya ke hidung Alona. "Sayang, aku memang tampan tapi jangan memandang ku seperti itu. Aku takut matamu tidak bisa berkedip nanti..."
"Suaraku akhir-akhir ini sedikit serak. Apa karena suaraku berubah sehingga kamu tidak mengenaliku, sayang?" Tanya Xander.
Ketika Xander mengatakan bahwa suaranya sedikit serak barulah Alona tersadar dari lamunannya. Kini pipi Alona berubah merah merona. Dengan sedikit canggung Alona langsung memeluk pria itu. "Xander tolong bawa aku keluar dari sini." Alona meperlihatkan ekspresi sedihnya. Melihat ekspresi sedih Alona, seketika jiwa pelindung nya bangkit. "Sayang kenapa wajahmu terlihat sedih? bukan kah hari ini kebahagiaan yang kau tunggu- tunggu sejak dulu?" Kata Xander dengan nada menyindir.
"Xander aku sedang tidak bercanda denganmu. Jika aku masih menginginkannya tentu aku tidak akan meminta bantuan padamu."
"Oh..., Benarkah?!"
"Alexander...!" Alona menepuk manja dada bidang Xander. Mata Alona terlihat memerah dan muncul butiran air ingin jatuh.
Xander dengan sigap membelai pipi Alona dan menyeka air mata yang ingin jatuh. "Alona sayang jangan bersedih, bulan dan bintang akan runtuh jika air matamu jatuh."
"Cepatlah xander bawa aku keluar dari sini, sekarang! aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan gombalanmu!"
"Sepertinya Kau sangat terburu-buru, sayang?. Apa ada yang membuatmu takut?! bagaimana dengan kekasihmu Alvaro? bukankah acara pertunanganmu sedang berlangsung?"
"Oh! Xander apa Kau mau aku kembali lagi ke dalam dan melanjutkan pertunangan ku?!" Alona mulai marah. "Aku tidak bisa mengatakannya sekarang!"
"Baiklah Alona sayang, Aku akan segera membawa mu keluar" Kata Xander.
__ADS_1
"Xander aku sangat lemas hari ini, bisa kah Kau mengendongku?" Kata Alona dengan suara sedikit manja. "Kau bisa lihatkan kakiku bengkak. Kau harus bertanggung jawab, kakiku terluka karena kamu menariku secara paksa."
Alona hanya beralasan, padahal kakinya terkilir saat jatuh di taman belakang rumah. Alona memang tidak kuat berjalan sehingga ia meminta bantuan, karena gengsi, ia pun memanfaatkan keadaan.
"Tentu saja aku akan bertangg jawab."Ucap Xander. "Jangankan mengendongmu di suruh tanggung jawab menikahimupun aku mau."
"Alexander hentikan kata-kata manis mu. Aku bukan memintamu untuk menikahiku"
Alona memalingkan wajahnya lalu tersenyum mendengar kata-kata Xander ingin menikahinya. "Alona sadar, apa kau an*ing ketika di beri orang asing sepotong tulang lalu kau langsung menggatakan bahwa orang itu baik dan penolong mu, dan menjadikanya sebagai majikan barumu?" Gumam Alona dalam hatinya.
Namun, Xander tidak bisa menerima di acuhkan. Tangannya dengan cepat membalikan wajah Alona dan mencium bibirnya.
Ciuman itu berlangsung 10 detik, berakhir saat pintu lift terbuka. Xander menggendong Alona keluar dan membawanya ke lantai paling atas. Sebuah helikopter sudah menunggu di atas untuk membawa Alona pergi ke kota F.
Alona binggung, mengetahui bahwa Xander tidak akan ikut bersamanya. "Xander Kau akan pergi ke mana?" Tanya Alona.
"Pergilah!" Seru Xander. "Kau akan aman di kota F. Aku masih ada urusan, setelah selesai aku akan menyusulmu."
Di sisi lain, di dalam ballroom lantai lima kegaduhan masih berlangsung. Ketika lampu menyala, Alvaro mencari sosok Alona. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan bahkan Alvaro berlari dari ujung ke ujung. "Ma! Alona tidak ada!" Kata Alvaro saat Diana berjalan ke arahnya. "Apa maksudmu?" Jawab Diana kebingungan. "Alona hilang Ma, saat lampu mati ada seseorang yang menariknya aku tidak bisa menghentikannya karena banyak tamu yang menghalangi."
Diana seketika menjadi lemas dan hampir terjatuh ke lantai. "Kemana Alona pergi..." Tanyanya dalm hati.
Melihat Diana pucat Alvaro menuntun Mamanya dan berkata. "Ma, hati-hati."
Diana duduk termenung di kursi tamu. Sementara Alvaro mulai cemas. Demi mendapatkan Alona kembali dia berbohong. "Ma, Alona hamil anakku!" Kata Alvaro.
"Apa?!" Diana tambah terkejut. "Apa maksudmu Varo? apa dia benar-benar mengandung anakmu?" Tanya Diana memastikan.
"Benar Ma!" Kata Alvaro dengan memasang muka sendu.
Mendengar kebenaran itu Diana langsung mengatakan pada suaminya. Diana menarik suaminya ke pojok ruangan. "Pa calon menantu kita hilang. Selain itu dia juga mengandung cucu kita. Lakukan sesuatu, setidaknya demi keturunan kita." Kata Diana dengan muka memelas.
Tuan Jaya langsung bertindak. Jika suaranya sudah keluar tidak ada yang tidak mungkin. Seluruh penduduk Negeri mengetahui kekuasaannya. "Perintahkan semua petugas keamanan untuk mencari ke manapun calon menantuku pergi." Kata Tuan Jaya kepada petugas keamanan yang sedang bertugas di ballroom saat acara sedang berlangsung.
__ADS_1
Selepas itu, Tuan Jaya menelpon ketua pasukan keamanan di perusahaaanya. "David!, menantuku hilang saat acara pertunangan sedang berlangsung. Perintahkan tim keamanan untuk mencarinya. Pastikan kalian memberi tahu seluruh rumah sakit dan klink sekecil apapun untuk menahan Nona Alona jika ia pergi kesana. Calon menantuku sedang hamil saat ini. Pastikan kalian juga tidak menyakitinya saat menemukannya."
"Baik Tuan" Jawab David "Tim-ku akan mencari Nona kemanapun. Kami akan memastikan keselamatan Nona dan bayinya."
David langsung menjalankan perintah. Seluruh tim berjumlah 100 orang, langsung di sebar ke seluruh penjuru kota bahkan ke daerah terpencil.
Seluruh tamu undangan sudah bergosip di mana-mana. Tuan Jaya naik ke atas panggung memberikan penjelasan. "Selamat siang seluruh tamu terhormat. Hari ini saya meminta maaf pada kalian semua. Acara hari ini terpaksa saya tunda karena saat mati lampu calon menantuku jatuh pingsan dan sudah di larikan ke rumah sakit."
Seketika tamu undangan diam dan memberikan ungkapan rasa prihatin. Satu persatu tamu undangan berpamitan meninggalkan ruangan. Mereka percaya pada kebenaran itu dan tiadak ada rasa curiga sedikitpun.
Tuan Jaya menepuk bahu Diana. "Ma tenanglah. Aku sudah memerintahkan pasukan keamanan perusahaan untuk mencari keberadaannya. Selain itu para tamu juga percaya bahwa kita hanya menunda acara pertunangan anak kita."
Diana menoleh dan memegang tangan suaminya. "Pa, aku khawatir dengan Alvaro. Kita harus menemukan Alona. Aku takut anak kita melakukan hal-hal yang buruk lagi. Papa tahukan dia hampir bunuh diri saat wanita itu ingin putus darinya."
"Di mana dia sekarang." Tanya Tuan Jaya.
"Alvaro di kamar pa." Suara Diana terdengar sangat pelan seperti akan menagis.
"Aku akan menemuinya." Kata Tuan Jaya.
Tuan Jaya berjalan menuju kamar di dalam ballroom itu.
Demi menjaga nama baik keluarga. Alvaro tidak membuat onar di depan para tamu. Ia masuk ke dalam kamar kedap suara di dalam ballroom hotel. Alvaro duduk di pojok ruangan di dalam kamar. Kamar itu sudah hancur berantakan. "Alona ke mana kamu pergi!?" Tanya Alvaro dengan muka berapi-api.
"Aku akan menemukanmu Alona!"
Tuan Jaya masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu. Ia melihat anaknya Alvaro. "Al kenapa sikapmu masih seperti anak-anak. Papa sudah memerintahkan bagian keamanan perusahaan untuk mencari Alona. Jaga sikapmu. Papa Tidak mau kamu seperti ini. Belajarlah menjadi pria yang kuat dan tahan banting. Ucap Tuan Jaya menasehati anakanya.
"Pa. Aku ingin Alona. Dia sedang mengandung anakku. Bagaimana jika dia di culik seseorang yang ingin membunuhnya."
"Aku sudah tahu, kalian akan punya anak. Tenanglah tidak akan ada yang berani melakukan itu. Papa juga sudah menghubungi pihak kepolisian untuk melacak keberadaannya."
Ketika Tuan Jaya pergi ke kamar, Diana turun ke lantai satu menuju meja resepsionis. "Di mana bos kalian." Tanya Diana. "Panggil dia sekarang!"
__ADS_1