
Akhir-akhir ini, kuliah Alona kacau, hampir seminggu ia bolos dari jadwal kuliahnya. Di tambah hari ini, semakin banyak mata kuliah yang ia lewati.
"Tidak masalah, aku akan mengejar ketertinggalan ku." Alona mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan seraya mengemudikan mobilnya pelan.
Alona telah memikirkannya dengan matang. Setelah ia menyelesaikan masalahnya, ia akan mengambil kelas tambahan untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak masalah jika harus membayar biaya tambahan.
Bagi Alona datang ke rumah sakit, tidak ada bedanya dengan mimpi buruk. Wanita itu akan mengingat kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Kecelakaan mobil membuat orang tuanya di larikan ke rumah sakit. Tidak berselang lama saat menerima perawatan kedua orang tuanya meninggal. Kejadian itu sudah satu tahun berlalu. Akan tetapi, masih saja meninggalkan bekas luka kehilangan di hati Alona.
Hari ini, ia harus menambah mimpi buruknya di rumah sakit. Putus hubungan dengan orang yang dicintainya.
Setelah sampai di rumah sakit Alona mempercepat gerakannya. Ia tidak ingin hatinya goyah bila ia terus berjalan lambat, kemungkinan besar pikirannya akan berubah.
Alona mendorong pintu kamar Alvaro.
"Varo, aku datang." Alona menatap Alvaro yang sedang duduk di kursi rodanya. Wanita itu hanya berdiri mematung, wajahnya terlihat lesu.
Alvaro tersenyum sumringah ke arah Alona, "Sayang, Kau sudah datang. Aku sangat merindukanmu." Alvaro segera menghampiri Alona yang sedang berdiri di dekat pintu kamarnya.
Seorang perawat pria segera keluar saat Alona tiba. Perawat itu tahu dari cara Alvaro memberikan kodenya. Ia diminta untuk pergi.
"Varo kita harus bicara, aku harap keputusan ini tidak akan membuat kita terluka." Alona meraih kursi roda Alvaro dan mendorongnya ke sofa di sudut ruangan. Lalu ia duduk di sana menghadap Alvaro.
"Sayang apa Kau baik-baik saja?, mukamu terlihat pucat!" Alvaro menatap wajah Alona lekat.
"Aku baik-baik saja, tidak usah mengkhawatirkanku!" Alona tersenyum untuk meyakinkan Alvaro.
Tangan Alona terasa dingin, ia mengepalkan tangannya. Lalu, ia segera meraih kedua tangan Alvaro. Suhu dingin tangannya kontras dengan tangan hangat milik Alvaro. Seketika Alvaro merasakan dingin saat wanita itu memegang tangannya. Pria itu kemudian menggosok dan mencium punggung tangan Alona. Ia berusaha menghangatkan tangan kekasihnya.
Tanpa peringatan apapun Alona langsung ke inti pembicaraan. Kata-katanya jelas tanpa sedikit keraguan. "Varo, kita putus!" Air mata Alona tiba-tiba menetes dengan sendirinya. Dadanya terasa sangat sesak. Dengan sekuat tenaga ia mendongak menahan air mata yang ingin turun lagi. Setelah itu, ia mengatur raut wajahnya menjadi tenang tanpa ada air mata mengalir. Ia tidak ingin memperlihatkan kesedihan lebih dalam.
__ADS_1
Alvaro terdiam beberapa detik, tidak bergerak sama sekali. Pria itu seperti membeku saat mendengar kata putus dari Alona. Hati yang mulanya terasa hangat kini terasa ditusuk-tusuk ribuan paku. Ia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. "Tidak, tidak, tidak. Tidak mungkin!"
"Alona kamu pasti bercanda kan sayang?. Katakan padaku bahwa itu tidak benar, Alona!?"
Alona menundukkan kepalanya. tidak mengatakan apapun.
Alona jawab aku!?
"Kenapa!?" Alvaro menggoyangkan tangan wanita itu. Ia terus meminta penjelasan tentang alasan Alona memutuskannya.
Alona melepaskan genggaman tangan Alvaro dan menatapnya sendu. "Varo ini pilihanku, aku harap kamu bisa mengerti."
"Tidak!" Alvaro menolaknya dengan keras.
"Aku tidak ingin melukaimu Varo."
Alona menggelengkan kepalanya. "Bukan...!"
"Lalu, apa masalahnya!?" Alvaro kembali bertanya.
"Tidak ada masalah di antara kita Alvaro. Aku rasa ini keputusan terbaik untuk kita berdua."
"Tidak ada masalah, keputusan terbaik" Alvaro mengulangi kata-kata Alona. Pria itu tersenyum menyeringgai. Wajahnya berubah kemerahan, keringat sudah membasahi seluruh wajahnya. Air keringat perlahan menetes melalui lehernya hingga jatuh mengalir ke seluruh tubuhnya.
Alona masih duduk di sofa memejamkan mata dan menutup mulutnya rapat-rapat. Wanita itu mencoba menahan keluar suara tangisannya. Meskipun begitu, tetap saja terdengar samar-samar suara tangisan tertahan, terlihat dari dadanya kembang kempis.
Alvaro meraih tangan Alona. Ia menggenggam erat tangan wanita itu. "Alona, aku tidak tahu kalau aku ada salah padamu. Aku minta maaf jika aku berbuat salah. Tapi, jangan putuskan hubungan kita. Aku tidak ingin berpisah darimu. Aku hanya ingin menikah denganmu Alona, memiliki anak denganmu, menghabiskan waktu tua bersama-sama."
Alona ingin mengatakan tentang kondisinya secara jujur dan terbuka. Tapi, ketika ia ingin mengatakannya, selalu saja kata-kata itu tidak dapat keluar dari tenggorokannya. Alona sudah mencoba berulang kali, namun tetap gagal lagi dan lagi.
__ADS_1
Kondisi ini membuat Alona sangat malu untuk mengatakannya. Lebih malu dari pada tertangkap mencuri barang milik orang lain.
V-varo..., keputusanku sudah bulat. Aku harap kita masih bisa berteman baik meskipun kita sudah tidak punya hubungan apapun."
"Alona, Kau sangat muda mengatakan putus hubungan denganku. Apa karena kakiku tidak bisa berjalan seperti sebelumnya!?" Alvaro berteriak ke arah Alona.
"Tidak Alvaro!," Alona menagis tidak bisa menahan tangisannya lagi. " Aku juga tahu Kau memiliki wanita lain yang menyayangimu. Aku yakin Kau bisa bahagia dengannya."
Kali ini Alvaro sudah hilang kendali, kesabarannya sudah lenyap. "Alona, kau memanfaatkan kejadian itu untuk memutuskan hubungan kita. Sudah ku katakan dia hanya temanku. Tapi, Kau tetap saja menuduh ku berselingkuh."
"Varo, terlepas dari kejadian itu. Aku tetap akan meminta putus darimu. Aku wanita yang tidak layak Kau nikahi. Aku tidak mau kau menyesalinya, ketika kita sudah menikah." Alona mencoba memberikan penjelasan, meskipun penjelasannya terkesan ambigu.
Alvaro segera menjalankan kursi roda nya ke arah pintu kamar. Dengan cepat tangannya menarik kartu akses keluar kamar yang tertempel di pintu. Lalu kartu akses itu ia patahkan sampai hancur.
Alona kaget saat melihat Alvaro mematahkan kartu akses ke luar kamar. "Varo, apa yang Kau lakukaan. Kenapa kartu itu Kau patahkan Varo!?"
Alvaro tersenyum. "Alona aku lebih baik mati jika kau pergi meninggalkanku."
"....!!!" Alona terdiam mencoba mencerna kata-kata Alvaro padanya.
Ketika tersadar, Alona langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya. "Alvaro jangan bodoh!, itu tidak benar."
Alona..., apa yang bisa aku lakukan tanpamu. Tidak ada artinya lagi aku hidup. Aku akan bahagia menunggumu di surga atau di neraka.
Alvaro menjalankan kursi rodanya melewati Alona. "Alona sebelum Kau meninggalkanku, aku akan lebih dulu pergi."
Varo jangan lakukan itu...
Tidaaaaak!
__ADS_1