
Alvaro dengan setia menunggu Alona di rumahnya sepanjang malam. Pria itu masih menggunakan pakaian yang sama saat ia melihat isi berita. Tangannya terlihat ada noda darah yang sudah mengering tanpa dibungkus kain kasa ataupun diberi obat merah dan anti septik lainnya. Mata bagian bawahnya berkantung, terlihat sedikit menghitam seperti mata panda akibat kurang tidur. Alvaro membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang, di ruang tamu rumah Alona. Matanya terpejam, tangannya ia letakan di atas keningnya menghalangi cahaya lampu terang di ruangan itu.
Matahari sudah bersinar masuk keruang tamu, melalui sela-sela tirai yang terbuka. Asisten rumah sudah bangun dan mematikan lampu di ruangan tamu itu.
Alona Kau bahkan belum pulang meskipun hari sudah berganti. Alvaro menggerakan sedikit badannya yang sudah terasa kaku.
"Bi, Alona sudah pulang belum?" Alvaro bertanya pada Bibi Susi.
"Belum Tuan. Nona belum pulang. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Apa sebaiknya kita lapor polisi saja Tuan?" Bibi susi memberi saran pada Alvaro.
Alvaro mengangguk kan kepalnya dan berbicara pada bibi susi. "Sebaiknya kita tunggu dulu sampai siang," jawab Alvaro lirih!
"Bi, tolong bangukan aku jika Nona sudah pulang"
"Iya,Tuan. Sebaiknya tuan tidur di kamar tamu saja, tidur di sofa tidak nyaman"
"Tidak usah, Bi. Aku akan menunggunya di sini saja."
Bibi Susi sedikit merenung memikirkan tuanya yang belum pulang dari kemarin sore.
"Apakah Nona pergi ke rumah sakit menjaga tuan Alan? Semoga saja begitu dalam pikirannya."
Haruskah aku mengatakan pada tuan Varo bahwa tuan Alan di rumah sakit. Wanita itu menghentikan keinginannya untuk memberi tahu Alvaro karena Alona sudah memperingatkannya untuk tidak menceritakan masalah itu kepada siapapun.
Jam 07.00 terdengar suara bergerak dari luar. Alona masuk kerumah tanpa aba-aba. Wajahnya terlihat pucat seperti orang yang sedang sakit. Bibi susi yang sedang mengepel lantai di depan pintu sontak kaget dengan kehadiran Alona.
"Nona Alona. Kau sudah pulang?" Bibi Susi meninggalkan pelan di lantai dan menghampri Alona. "Nona Alona kemana saja? Bibi sangat khawatir!, Non."
Alona acuh tak acuh melihat Bibi susi berbicara padanya. "Bi, jangan sekarang aku tidak ingin bicara pada siapapun."
Alvaro tersadar dari tidurnya, mendengar suara Alona. Pria itu berlari mengejar Alona yang sudah berlari menaiki anak tangga.
"Alona tunggu! kita harus bicara"
"...." Alona terus berlari tanpa mempedulikan siapapun yang ada di sana.
"Alona tunggu!" Varo kembali mengingatkannya.
__ADS_1
"Jelaskan padaku Alona, Kau pergi kemana saja?"
"Tidak Varo, aku sedang ingin sendiri. Tolonglah...!" Alona memohon pada Varo dengan penuh harap.
Alona bukan tidak ingin bicara pada kekasihnya. Tapi, ia takut tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang di ajukan padanya.
"Tidak Alona!, aku ingin jawaban sekarang!" Alvaro memaksa jawaban dari Alona.
Alona berbalik menghadap pria itu. "Apa yang ingin Kau ketahui Varo, katakan!?"
"Siapa pria itu?"
Alona tidak menjawab pertanyaan Alvaro ia langsung lari menuju kamarnya
"Aku menunggumu seperti pengemis!, Alona. Kau bahkan tak memberikan jawaban apapun padaku!?"
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan pria itu Varo!" Alona menyangkal semua tuduhan Alvaro padanya.
"Lalu, bagaimana dengan semua foto di internet itu Alona!?" Alvaro membuka ponselnya dan memperlihatkan semua foto Alona bersama Xander.
"Sudah ku katakan, aku tidak ada hubungan apapun dengan pria itu, itu hanya ilusi optik." Alona kembali menyangkal.
Alvaro meraih kedua bahu Alona dan menempelkan tubuh wanita itu ke dinding dengan sangat kuat hingga Alona tidak ada ruang untuk bergerak.
"Jawab aku Alona! Siapa pria yang menciummu di pesta itu!?"
Alona menggelengkan kepalanya.
"Ponselmu mana Alona?" Pria itu ingin mencari bukti yang kongkrit tentang pengkhianatan Alona. Ponsel itu dilengkapi riwayat perjalanan, rekaman telepon, serta rekaman panggilan video pemiliknya.
Alvaro merebut tas Alona yang masih melingkar di bahunya dengan paksa. Ia kemudian membuka tas itu dan menjatuhkan semua isi di dalam tas. Tidak ada ponsel Alona yang ingin dia cari, semua barang di dalam tas itu jatuh berantakan. Alvaro melihat satu per satu barang yang jatuh itu.
Alangkah terkejutnya jantung pria itu, Alvaro menemukan alat kontrasepsi pria berwarna merah rasa stroberi. Beruntungnya alat kontrasepsi itu masih tersegel dengan rapih. Tapi cukup untuk dijadikan sebuah bukti pengkhianatan.
"Alona jawab aku! apa ini milik mu!?" Alvaro berteriak pada Alona, kesabarannya sudah habis ia memperlihatkan bungkusan berwarna merah itu dan melemparkannya ke arah Alona.
"....!!!" Alona diam seperti penderita tuna rungu dan tuna wicara.
__ADS_1
"Apa kau tidur dengan pria itu Alona!?"
"Jawab!?"
Alvaro mengoyangakan kedua bahu Alona.
"...." hiks...hiks...hiks.... Alona menangis dan menundukan kepalanya.
"Berapa kali!? Jawab Alona!?" Teriak Alvaro.
Alvaro bagai pohon tersambar petir di siang bolong. Badannya panas terutama bagian hatinya, gosong seperti di panggang mengunakan kobaran api. Alvaro melepaskan cengkraman pada kedua bahu Alona.
Pria itu mengangkat tangannya dan memegang kepalanya mengunakan kedua tangan itu. Kepalanya seperti akan meledak. ia sedikit menundukkan badannya dan menopangnya menggunakan kedua tangan di lututnya.
Hati Alvaro mungkin tidak sesakit saat melihat langsung kejadian itu, ketika kekasihnya melakukan hal memalukan bersama pria lain. Tapi, tetap saja rasa di khianati oleh orang yang dicintai akan membekas selamanya.
Pria mana yang sanggup melihat wanita yang ia cintai bermain gila bersama lelaki lain. Jangan kan manusia hewan pun pasti marah jika kekasihnya dicuri oleh pejantan lain.
Alona secara perlahan menjatuhkan tubuhnya di lantai. Wanita itu duduk meringkuk, matanya kembali memerah.
Alvaro naik pitam mengetahui semua kebenaran yang ia tidak ingin kan. Pria itu menarik badan Alona dan melemparkan nya ke atas kasur. Alvaro menjatuhkan badanya di atas badan wanita itu. Ia membelai kening Alona, menyusuri pipinya dan berhenti di bagian leher. Alvaro melihat jelas ada bekas cenkraman di tengkuk Alona, dan di sudut bibirnya terlihat bekas gigitan.
"Alona.... Aku kekasih mu saja tidak pernah menyentuh mu sedikit pun. Katakan siapa pria itu!? Kau bahkan sangat berani menggunakan gaun seperti ini!? Apakah Kau akan menjadi wanita murahan!?"
Alvaro mencium bibir Alona dengan sangat ganas dan berbahaya.
"Hentikan Xander!" Alona berteriak dan mendorong dada Alvaro yang telah **** nya.
"Apa katamu Alona? Xander!?"
"...." Alona menggelengkan kepalanya dan terus menangis.
"Jadi pria itu, Xander?"
Alvaro mencengkeram leher Alona seperti akan membunuh wanita itu. Alona tersengal-sengal menahan cengkraman yang sangat kuat hingga wanita itu tidak sadarkan diri.
Alvaro berteriak. "Alona...Alona...!"
__ADS_1
"Alona sayang..., bangun." Alvaro memeluk Alona dengan sangat erat dan mengoyangkan badannya.
"Bibi!" Alvaro berteriak sangat kencang memanggil asisten rumah tangga.