Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Kesalah pahaman membuat Alona cemburu!


__ADS_3

Mendengar perkataan Xander membuat Alona terdiam membisu. Alona berdiri mematung di tangga, mulutnya setengah menganga. Setidaknya wanita itu membutuhkan waktu lebih dari satu menit untuk tersadar dari lamunannya.


Xander.... Alona menghambur berlari mengejar Xander masuk ke kamar pria itu.


Sampai di kamar, kaki Alona terhenti saat melihat Xander ingin membuka bajunya. Baju Xander basah akibat semburan air dari mulut Alona. Menyaksikan pemandangan itu Alona refleks menutup kedua bola matanya. Alona membalikkan badan membelakangi Xander.


"Lihat saja apa yang ingin Kau lihat," Xander menggoda Alona.


Xander apa Kau sudah selesai?, aku ingin mengambil tas dan ponselku. Alona mengalihkan pembicaraan.


Xander berjalan ke arah Alona lalu ia menundukkan kepalanya mendekati telinga wanita itu. Suara Xander halus saat ia berbisik pada Alona. "Belum..., tunggu saja sampai Kau jamuran, karena aku maunya kamu, yang membuka bajuku Alona."


Kaget!, Alona membalikkan badan saat Xander berbisik padanya. Ketika Alona membalikkan badan, bibirnya bertemu dengan bibir Xander. Mereka berciuman tanpa sengaja. Mata Alona mengerjap berulang kali, memandangi mata Xander. Sesaat ruangan itu terasa panas. Aura menggoda Alona terus menguasi pengendalian diri Xander. Hampir saja pertahanannya lepas akibat bibir mereka masih menempel satu sama lainnya. Mata Alona perlahan terpejam, tidak tahu menahan rasa malu atau menunggu Xander menciumnya dengan lembut. Xander menjentikkan jarinya ke kening Alona. "Aw...," Alona tersadar dari fantasi liarnya.


"Kau pencuri!" Xander membalikkan badannya meninggalkan Alona sendirian di kamar itu.


Alona tersadar. Apa yang di maksud pria itu!?, pencuri!


Apakah aku yang di maksud pencuri itu!?


Bukankah bibirnya yang bergerak saat bibirku bertemu dengan bibirnya. Alona memegang bibirnya yang terasa dingin. Sampai kini masih terasa bekas ciuman bibir pria itu. Wangi mint dari mulut Xander membuatnya mengingat kejadian itu lebih lama. Tanpa sadar ia memiringkan kepalanya dan tersenyum.


Detik berikutnya Alona berteriak. Xander!


Bukan aku, Alona menggelengkan kepalanya. Aku tidak mencuri apapun darinya. Enak saja dia bilang begitu. Iya, benar dia yang mencuri ciumanku.


Tidak ingin lama terjebak di sangkar harimau Alona menepuk-nepuk pipinya, menyadarkan dirinya dari ketidak benaran ini.


Gerakan Alona sangat cepat mengemasi tas dan meraih ponselnya di atas kasur. Alona berlari menuruni anak tangga dan pergi meninggalkan rumah itu.


*****


Sore hari di taman rumah sakit, Gunawan hospital.


Seorang wanita dan pria tengah asik duduk di taman bercanda gurau. Amor duduk di kursi taman sementara Alvaro duduk di kursi rodanya. Dari Kedekatannya terlihat kedua orang itu seperti sepasang kekasih. Senyuman demi senyuman terus terpancar dari wajah Amor dan Alvaro. Tidak tahu pembicaraan seperti apa yang membuat mereka tertawa seperti dunia hanya milik mereka berdua. Tangan kiri Amor memegang mangkok berisi bubur nasi. Amor menyendok bubur itu dan memberikan pada Alvaro. Suap demi suap di lahap oleh Alvaro, nafsu makannya sangat baik hari ini.


Amor memegang wajah Alvaro. Pria itu membiarkan Amor menyentuhnya, bahkan ia juga memegang tangan itu.


Alona tahu, alvaro tidak akan pernah ingin di sentuh wanita lain selain dirinya. Tapi kali ini, apa maksudnya dia membiarkan wanita lain menyentuhnya bahkan ia juga memegang tangan wanita itu. Jelas dia berselingkuh dariku.


Sejak Sepuluh menit lalu Alona berdiri memandangi kedua orang itu. Alona berdiri mengamati setiap pergerakan Amor dan Alvaro. Alona seperti seseorang sedang memata-matai kekasihnya berselingkuh. Hatinya mulai memanas. Panasnya matahari belum seberapa dibanding panasnya hati Alona saat menyaksikan kekasihnya sedang asik berduaan di depan matanya.


Tidak!, aku tidak bisa membiarkan mereka berbuat lebih dari itu. Alona mengepalkan tangannya dan *** jari-jemarinya.


Varo siapa wanita itu!?


Tanpa menunggu Alvaro menjawab, Alona menarik kursi roda Alvaro dari genggaman tangan Amor. Alona menatap angkuh wanita itu dan menepis tangan Amor yang sedang memegang kursi roda Alvaro . Mimik wajah Alona seperti cucian baju basah, kusut dan tidak enak di pandang.


Alvaro tidak tahu Alona belajar dari mana, menampilkan mimik muka yang membuat orang ketakutan bahkan terlihat sangat menyeramkan. Alona tak ubahnya seperti induk ayam di rebut anaknya. Matanya memelototi Amor mengisyaratkan agar wanita itu pergi dari pandangannya atau Alona bisa melakukan hal yang lebih menyeramkan dari itu." Biar aku saja. Kau bisa pergi. Tolong jangan ganggu Alvaro lagi."


Alona tidak membiarkan Amor untuk mengenalkan dirinya atau sekedar menyapanya.


Alona muak melihat wanita itu. Ia ingin menjambak rambut Amor. Tapi Alona sadar di rumah sakit tidak boleh membuat keributan, akan sangat memalukan baginya bertengkar dengan seorang wanita memperebutkan seorang pria di rumah sakit. Tentu sangat memalukan!


Alvaro tertawa melihat wajah masam Alona. "Alona dia temanku, Amor!"

__ADS_1


Aku tidak percaya!, dia temanmu. Kalau teman untuk hati mungkin!" Alona menjawab Alvaro dengan tatapan sinis matanya mendelik sedangkan giginya menagkup erat menahan emosinya.


Alona sayang, dia hanya teman ku... Alvaro menjelaskan semuanya pada Alona.


Teman macam apa varo!? pegangan tangan, dia memegang pipimu. Kau bahkan memegang tangannya.


Alona!, jadi hanya Kau yang bisa mencium pria lain. Alvaro menjadi emosi karena Alona tidak mendengar perkataannya.


"Kalu begitu Kau pilih dia atau Aku!" Alona melepaskan kursi roda Alvaro dan meninggalkannya bersama Amor di tengah taman rumah sakit.


Alona tunggu, itu tidak benar dia hanya temanku.


Alona menutup kupingnya tidak ingin tahu. Wanita itu berlari meninggalkan Alvaro. Air matanya sudah berjatuhan. Ia tidak bisa mendengarkan lebih dari itu. Alona takut, pria itu memutusakan hubungannya.


Duduk di kursi roda membuat Alvaro kesulitan mengejar Alona.


Amor diam tidak mengatakan apapun. Wanita itu seperti menikmati pertunjukannya. Ia tidak perlu membuang keringatnya untuk mengalahkan wanita itu. Amor tidak menyangka bahwa usahanya akan semuda itu menghancurkan hubungan Alvaro dengan kekasihnya.


"Amor maaf, seharusnya dia tidak seperti itu." Alvaro berusaha menjelaskan situasi.


"Tidak apa-apa, hampir semua wanita akan meledak jika melihat kekasihnya bersama wanita lain." Amor menunjukkan sikap anggunnya mencoba mengambil simpati Alvaro.


Alona terus berlari meninggalkan rumah sakit sesegera mungkin. Pandangannya kabur akibat air mata yang menggenang di matanya.


Tepat di pintu rumah sakit Alona menabrak seorang lelaki. Ada apa dengan mu Nona cantik?. Alona langsung meraih tangan pria itu " Tolong bawa aku pergi dari sini." Dengan air mata membanjiri pipinya Alona terus menagis tersedu-sedu.


Pria itu memegang kedua pipi Alona yang sudah basah. Ia menghapus air mata wanita itu. "Hei..., apa Kau baik-baik saja!?" Pria itu bertanya pada Alona untuk memastikan keadaannya.


Alona menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tidak baik dan butuh ketenangan.


Alona menundukkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki pria itu.


*****


Ma..., aku tidak mau lagi menuruti saran Mama. Buktinya Alona pergi meninggalkanku di taman.


Diana tertawa mendengar protes anaknya. Diana sedang merapihkan tatanan rambutnya. Wanita itu ingin pergi arisan bersama teman-temannya. "Alvaro Kau bodoh apa terlalu polos sayang?, itu tandanya dia cemburu padamu."


Alvaro menghampiri Mamanya yang tengah sibuk berdandan. "Tapi tetep saja dia pergi meninggalkanku. Mama harus tanggung jawab."


Diana bersikap tenang, "minta maaf padanya dengan tulus lalu berikan dia hadiah yang sedang diinginkannya. Nanti dia juga meleleh."


Ma Alona tidak seperti itu, jika dia tidak menyukai seseorang lagi akan susah untuknya berbaikan dengan orang itu.


Kalau cara itu tidak berhasil, Mama akan tanggung jawab. Sekarang Mama mau pergi.


Mama mau kemana!?


"Pergi arisan. Mama sudah cantik belum?" Diana bertanya pada Alvaro meminta pendapat mengenai penampilannya.


Lalu siapa yang menjagaku, Ma!?


"Perawat di sini cantik-cantik. Kau bisa memanggilnya kapanpun, tidak perlu repot-repot sayang. Bye Mama pergi!" Diana mencium pipi anaknya dan pergi begitu saja.


Mama!, Alvaro berteriak memanggil Mamanya. Pria itu kesal dan emosi di tinggal sendirian.

__ADS_1


Alona?, aku harus menghubunginya sekarang. Aku tidak ingin kehilangannya.


*****


Lorong rumah sakit, menuju parkiran bawah tanah. Berdiri seorang pria tampan mengenakan pakaian santai dan kaca mata hitam menutupi matanya. Pria itu menyenderkan punggungnya dengan kaki kanan menopang ke dinding. Kedua tangannya ia silangkan di atas perutnya. Pandangan matanya tertuju pada tangan pria yang memegang tangan Alona. "Hai bung, tolong lepaskan tanganmu dari tangan wanita itu."


"Maaf tuan sepertinya kita tidak saling kenal." Pria di samping Alona memegang tangan Alona lebih erat. Ia enggan melepaskan tangan itu.


Lepasakan!, atau aku akan mematahkan tanganmu. Pria berkaca mata itu memerintah.


Alona apa kau mengenalnya? Pria berbaju putih menunggu konfirmasi dari wanita itu.


Alona mengganggukan kepalanya. "Mario terima kasih sudah membantuku. Aku akan menghubungimu nanti."


Ok, aku tunggu. Kau bisa meneleponku kapan pun Kau mau." Mario pergi meninggalkan Alona bersama pria itu.


Kenapa Kau menangis? Nada pria itu lantang seperti mengintrogasi Alona.


Alona diam tanpa mengatakan sepatah katapun.


Pria itu menarik tangan Alona dan menggendongnya. Ia membawa Alona masuk ke dalam mobil dan meletakkannya di kursi penumpang.


Alona tidak melawan atau memberontak seperti biasa. Ia sangat penurut. Tidak mengatakan kata kasar ataupun umpatan.


Pria itu geram memandang Alona seperti tidak ada semangat hidup. "Alona katakan!, ada apa denganmu?"


Alona berbicara pada pria itu, Kau ingin tahu aku kenapa?. Kau sepertinya sangat peduli padaku. Harusnya kau sadar, kau yang membuat aku seperti ini. Alona berteriak pada pria itu.


Alona menangis..., dia selingkuh dariku. Apa kau tahu artinya selingkuh!?


Xander memeluk Alona dan menepuk lembut punggung wanita itu. Ia memanfaatkan kejadian itu dengan baik. Beruntung dia datang ke rumah sakit tepat waktu. Kalau tidak pasti ada pria lain yang akan memanfaatkan kepolosan Alona.


Xander..., dia selingkuh dariku. Alona memukul punggung Xander. Air mata yang sudah kering kini berderai lagi seperti musim hujan tak henti-hentinya turun mengalir membasahi pipinya.


Hari ini Xander tidak membawa mobil sendiri. Ia membawa sopir kantornya. "Pak jalan segera, ke rumah ku."


Sepanjang jalan Xander terus memeluk Alona dan menenangkan wanita itu.


Isak tangis Alona mewarnai perjalanan pulang. "Alona berhentilah menangis matamu sudah bengkak." Xander mengusap-usap kepala Alona, ia mengelap sisa air mata di mata Alona yang perlahan sudah memejamkan matanya.


Lelah menangis, Alona tertidur lelap di pelukan Xander.


Mobil berbelok memasuki kawasan perumahan elite.


"Pak Anan, tolong lurus antarkan aku ke rumah kaca di belakang rumah utama."


"Baik Tuan." Sopir Anan menganggukan kepalanya tanda ia mengerti.


Tiba di depan rumah kaca, Xander menggendong Alona memasuki rumah itu. Rumah kaca itu terdiri dari dua lantai dengan satu kamar tidur di lantai dua. Kamar tidur itu menghadap pekarangan bunga Mawar.


Xander meletakan badan Alona di atas kasur. Wanita itu sudah tertidur nyenyak. Sampai-sampai badannya tidak bergerak. Xander menyelimuti Alona dan mencium keningnya. "Selamat tidur sayang, mimpi indah."


Pria itu berdiri, berjalan ke arah kaca menghadap ke pemandangan luar. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Berdiri termenung seperti memikirkan sesuatu...


Xander menoleh, mengangkat kepalanya menatap wajah Alona. Kemudian ia berjalan ke arah sofa dan merbahkan badannya. Kedua tangannya ia letakkan di atas kepala. Ia perlahan memejamkan mata dan tertidur lelap.

__ADS_1


__ADS_2