
Malam sudah tiba. Lampu taman menyala terang menyinari pekarangan bunga mawar.
Pekarangan bunga mawar sangat indah bila di lihat dari lantai dua kamar tidur. Terlihat berwarna-warni kelopak mawar sedang mekar dari berbagai macam jenisnya. Taman bunga mawar itu tertata rapih membentang di sepanjang jalan menuju rumah. Luasnya diperkirakan setengah hektar.
Setiap batang bunga mawar terdapat lampu hias, cahayanya kelap kelip seperti lampu disko.
Wangi bunga Mawar akan tercium dari lantai dua saat jendela kaca di buka. Bunga mawar itu seperti aromaterapi alami di bawah oleh angin ke dalam ruangan.
Alona terbangun di tengah keheningan malam. Matanya menatap heran ke seluruh sudut ruangan, gelap tanpa cahaya lampu. Anehnya wanita itu tidak merasa takut.
Alona perlahan turun dari kasur. Kaki telanjangnya merasa kedinginan saat menyentuh lantai.
Alona berdiri cukup lama, berdiri tegak dengan pikiran kosong. Kakinya ingin melangkah pergi tapi pikirannya tidak tahu ingin melangkah kemana.
Cahaya bulan masuk ke dalam sudut ruangan kamar tidur, cahayanya seperti memberikan cahaya kehidupan. Ada rasa lega di hati Alona, setidaknya ada cahaya yang setia menemaninya di ruang gelap.
Pandangan Alona tertuju pada sofa mewah berdesain modern. Terdapat sosok seorang pria tampan tidur di atasnya. Cahaya bulan memantul menyinari wajah Xander memperjelas ketampanan yang dimilikinya. Sebuah kehormatan bagi cahaya bulan menyinari wajah pria itu. Bahkan cahaya bulan rela terlihat redup di atas wajah Xander.
Otak Alona memroses dengan cepat. Alona melangkahkan kakinya menuju pria itu. Senyumannya cantik saat menatap Xander. Tidak tahu senyuman itu menampilkan sebuah kebahagiaan atau kesedihan.
Pandangan mata Alona seperti tertutup ribuan ilusi saat memandang pria itu.
Alona kemudian menatap pria itu semakin intens. Bibirnya mulai bergerak ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan, seperti ada bongkahan es yang menahan di tenggorokannya.
Alona tersenyum lagi saat melihat wajah pria tampan itu. Senyumanya kali ini benar nyata , sebuah senyum kebahagiaan.
Perlahan Alona mendekatkan wajahnya pada pria itu. Tangan hangatnya memegang pipi, kemudian turun ke bibir. Nafas Alona tenang sama tenangnya dengan nafas Xander.
Alona memejamkan matanya mencium bibir hangat Xander. Lidahnya mulai bermain masuk semakin dalam. Gerakannya lincah seperti sudah berlatih sangat lama. Lidahnya sangat lihai memainkan setiap ritme ciumannya.
Xander yang tengah tertidur dalam keadaaan di alam mimpi merespon dan membalas ciuman wanita itu. Tangan Xander dengan cepat menarik tubuh Alona dan menindihnya.
Ciuman terhenti saat keduanya hampir kehabisan nafas. Xander tidak ingin lepas dari wanita itu. Ia kemudian mencium leher Alona dengan sangat ganas meninggalkan bekas biru kemerahan.
Tangan Xander dengan kasar membuka bajunya. Kemudian jari rampingnya perlahan membuka kancing kemeja Alona. Satu persatu kancing kemeja terbuka dan menampilkan kulit putih Alona. Kulitnya sangat halus seperti kulit bayi baru lahir.
Badan Alona dan Xander saling menempel, bergulat dalam kenikmatan bercinta.
"Bang!"
Terdengar suara pintu kamar di tendang dari luar. Pintu terbuka lebar hingga timbul cahaya menyorot perbuatan kedua orang di dalam ruangan itu.
Sosok pria tampan berpostur tinggi menggunakan jubah hitam masuk ke dalam ruangan.
Tatapan matanya tajam. Langkah kakinya cepat mendekati kedua orang yang sedang tenggelam dalam lautan asmara.
Alona tersadar dari keadaannya saat ini. Dengan cepat wanita itu melepaskan dekapan Xander. Sementara Xander dengan cepat memakai celananya. Lalu pergi dari ruangan itu.
Bibir Alona bergetar, seluruh tubuhnya berubah menjadi membeku, tidak dapat bergerak hanya pasarah dengan keadaan.
Alona!
Kau!
Dasar wanita murahan!. Alvaro berteriak dan menarik rambut Alona hingga terjatuh ke lantai.
Varo aku akan menjelaskannya. Tolong jangan pergi.
Aku tidak membutuhkan penjelasanmu Alona. Semua sudah jelas. Mataku tidak buta, aku juga tidak tuli. Aku sudah mendengar semua suara kegilaanmu bersama pria itu. Desahan mu rintihan mu. Entah berapa kali kau melakukan itu.
__ADS_1
Varo jangan tinggalkan aku. Aku tidak ingin kehilanganmu, sedikitpun tidak mau berpisah darimu. Alona sudah menangis memohon pada Alvaro.
Kau masih berani mengatakan tidak mau berpisah denganku. Tapi lihat apa yang kau lakukan paduku Alona. Mengkhianati cintaku berulang kali bahkan kau tanpa malu melakukan hal memalukan.
Tangan pria itu dengan cepat mengambil pistol dari saku celananya. Ia kemudian menarik platuk pistol dan menembakkannya ke arah Alona. Tepat di dada wanita itu.
Alona jatuh tersungkur memeluk lantai. Darah segar keluar dari dada wanita itu. Nafas Alona tersengal-sengal kekurangan oksigen. Wajahnya di penuhi keringat. Mukanya memerah. Alona mengarahkan tangannya ke arah Alvaro seperti meminta tolong. "Varo selamatkan aku" Suaranya hampir tidak terdengar.
Alvaro tidak menoleh sedikitpun ke arah Alona.
Di sisa waktu sebelum Alona hilang kesadaran Alvaro menarik tangan seorang wanita dari balik pintu. "Amor!," Alona terkejut menatap wanita itu. Alona melihat Alvaro menggandeng tangan wanita itu sangat mesra. Alvaro memeluk dan menciumnya di hadapan Alona. "Buk...," kepala Alona jatuh kelantai.
Xander sangat cemas menyaksikan Alona tidur dengan kakinya menendang-nendang ke ujung kasur.
Pria itu berlari ke arah Alona. " Alona bangun, bangunlah."
Alona terbangun dari mimpi buruknya dan memeluk Xander. Xander..., D-dia menembakku dan pergi bersama wanita lain.Dia juga memeluk dan mencium wanita itu di depan mataku.
Aku telah mengkhianatinya juga. Dia tidak terima dan membunuhku. Alvaro menembak tepat di dadaku.
Alona memukul punggung Xander. Wanita itu menagis lagi.
"Alona tenanglah ada aku di sini. Tidak akan terjadi apa-apa dengan mu." Xander mencoba menenangkan wanita itu.
Hari sudah pagi saat Alona bangun dari mimpi buruknya. Xander terus menenangkan Alona.
Sesaat ruangan itu hening, tiba-tiba ada seorang pelayan datang mengetuk pintu. "Tuan, air hangat beserta wangi aroma terapinya sudah di siapkan."
Xander melambaikan tangan mengisyaratkan agar pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua.
Alona sayang, air hangat sudah siap. Mandilah segera. Kau belum mandi sejak kemarin sore. Xander menepuk bahu Alona dan mengusap kepalanya dengan lembut.
Selesai mandi badan Alona terasa segar. Ia mengganti bajunya mengunakan celana jeans pendek dan baju motif kelinci di dadanya. Baju itu tersedia di kamar ganti dan ia memilihnya karena terlihat lucu dan menggemaskan.
Memasuki kamar tidur Alona melihat Xander telah berganti pakaian. Wajah Xander terlihat serius menatap layar ponselnya. Alona tidak menganggu Xander. Ia berjalan ke arah kaca.
"Woah," mata Alona membelalak, mulutnya menganga lebar. Badannya berputar membelakangi kaca. Kakinya sangat cekatan berlari menuruni anak tangga menuju pekarangan bunga mawar.
Sampai di bawah Alona mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Alona menemukan alat pemotong rumput di samping tong sampah berwarna kuning.
Alona menggulung lengan bajunya. Kemudian rambut panjangnya ia gulung hingga membentuk seperti bakpao.
Saat selesai bersiap-siap Alona meraih gunting pemotong rumput. Tidak ada gunting kecil gunting pemotong rumputpun jadi.
Alona terlihat seperti anak-anak menemukan arena bermain. Ia siap bertempur dengan duri-duri dari tangkai bunga mawar.
Satu persatu, Alona memangkas bunga mawar itu dari tangkainya. Alona seperti seorang petani sedang panen.
Kening Alona sudah di banjir keringat. Hasil panennya ia letakkan di bawah pohon rindang.
Xander sudah lama menunggu Alona mandi. Akan tetapi wanita itu tidak kunjung menampakan wajahnya. Pria itu memutusakan mengetuk pintu kamar mandi tapi tidak ada jawabn dari Alona.
Xander memutar gagang pintu. Pria itu merasa cemas mendapati kamar mandi kosong, hanya ada suara tetesan air yang terdengar.
Xander panik setengah mati. Ia berlari kesana kemari mencari Alona di setiap sudut ruangan lantai dua.
Pandangan Xander terhenti saat melihat Alona sedang asik memanen tanaman bunga mawar miliknya.
Alona!
__ADS_1
Pria itu berteriak. Tanaman bunga mawar nya bersih tanpa sisa kelopak, hanya ada tangkai. Kebun itu terlihat seperti di terjang badai angin tornado.
Xander sangat cepat berlari menuruni anak tangga menghampiri wanita itu.
"Cit..., cit..." Alona mendengar sesuatu di balik batang bunga mawar. Alona melihat ekor bergoyang-goyang. Pandangannya sedikit terhalang daun dan tangkai bunga mawar. Alona mendekati sumber suara itu. Ia melihat ular sedang memakan tikus.
" U-ular, aaaakh!," Alona berteriak berlari terbirit-birit seperti di kejar anjing gila.
Hampir mendekati pintu rumah kaca Alona menabrak Xander yang sedang marah. Alona langsung menghambur memeluk pria itu. Alona meneluk Xander seperti anak monyet memeluk induknya. Tangan Alona merangkul leher pria itu. Sementara wajahnya ia benamkan di dada bidang Xander. " Xander ada ular, aku takut." Alona mengarahkan tangannya ke arah ular memakan tikus.
Xander tersenyum melihat tingkah Alona saat ketakutan. "Alona harusnya aku memberi tahumu. Aku juga memiliki ular sangat berbisa. Ular itu ada di bawah pantatmu."
Alona kembali berteriak, "jangan menakut-nakuti ku." Wanita itu mengencangkan pelukannya pada Xander. Pelukannya lebih erat dari lilitan ular piton.
Tidakkah Kau takut sayang!? Apa aku harus menggeluarkan ular itu dari sangkarnya.
Xander jangan membuatku lebih takut, atau aku akan memukulmu.
Coba saja kalau Kau berani sayang. Maka aku akan mengeluarkan ular itu dari sangkarnya. Ular itu akan menggigit dan menelanmu hidup-hidup.
Awalnya Xander ingin marah melihat kebun bunga mawarnya hancur berantakan. Saat melihat tingkah lucu dan polos Alona kemarahannya sedikit mereda.
Wanita itu selalu saja membuat hati Xander luluh.
Alona salah satu orang yang berani menyentuh tanaman kesayangannya. Asisten paruh waktu bahkan semua pekerjaannya tidak berani menyentuh sedikitpun dari bunga mawar itu.
Bunga-bunga indah itu sudah tertumpuk menggunung di bawah pohon. Jumblahnya tidak terhitung, jika di angkut menggunakan kendaraan maka satu truk penuh dengan bunga mawar.
Alona Kau harus bertanggung jawab dengan bunga-bunga ku. Kau menghancurkannya.
Alona turun, dan melepaskan pelukan dari pria itu.
Alona menoleh menatap bunga hasil panennya. Wanita itu tersenyum dan tertawa kecil. "Tuan Xander yang baik hati maafkan aku. Kau tahu kan kalau aku juga penggemar berat bunga mawar. Saat aku memotongnya aku tidak sadar kalau bunga-bunga mekarnya sudah ku petik semua." Alona menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
Alona menundukkan kepalanya dan melihat ke segala arah batang bunga mawar. Ia hanya mendapati batang, tidak ada satupun bunga yang tertinggal di tangkainya.
Alona menjepit lengan kemaja Xander. Ia menariknya dan di goyangan secara perlahan. Badan wanita itu ikut bergoyang-goyang. "Xander maafkan aku. Aku mohon."
Kalu begitu anggap saja ini sebagai pertukaran. Kau mengambil sahamku aku mengambil bunga mawarmu. Kita jadi impas bukan!?
Tangan Xander meraih bahu Alona dan mendorongnya ke dinding kaca.
Kau ingin bertanggung jawab bukan!?
Alona mengganggukan kepalanya.
Kalu begitu, bagaiman kalau kau memberi makan ular peliharaanku!?
T-tidak mau aku sangat takut dengan ular. Alona menggelengkan kepalanya.
Tenang saja ularku sangat jinak, hanya saja dia sangat agresif. Xander meraih dagu Alona.
Baiklah tunjukkan padaku di mana ularmu...
Xander melepaskan Alona dan pergi meninggalkannya.
Heh, rasanya aku mau memukul pria itu. Alona mengepalkan tangannya.
"Harus ku apakan bunga itu!?" Alona berfikir sejenak mencari solusi. Aku menemukan ide cemerlang. Aku kirim saja ke rumah sakit untuk Alvaro. Pasti dia akan baik lagi padaku. Setelah itu dia pasti akan meninggalkan wanita itu.
__ADS_1