Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Rumah sakit, tujuh belas tahun lalu


__ADS_3

Rumah sakit, Gunawan Hospital.


Gunawan Hospital, 20 Juni 2002. Tempat Alona dilahirkan sebagai bayi perempuan cantik dan menggemaskan. Tujuh belas tahun berlalu, kini Alona kembali di rawat di rumah sakit yang sama sebagai pasien.


Dokter Gunawan masuk keruang ICU untuk memeriksa keadaan Alona. Jantung dokter Gunawan memompa lebih cepat ketika memasuki ruang ICU. Perasaan seperti ini tidak pernah Ia rasakan selama 25 tahun ia menjadi seorang dokter.


Menutupi kegugupannya dokter Gunawan segera meminta data pasien dan diagnosa awal pasien kepada dokter magang yang bertugas.


Alona Arunika Raharja!?


Keringat di kening dokter Gunawan jatuh bercucuran seakan-akan melihat hantu ketika ia melihat nama yang tertulis di data pasien.


Bayangan masa lalunya terlintas di benaknya. Tujuh belas tahun berlalu, pria itu tidak menyangka akan merawat seorang wanita yang pernah ia bantu lahir ke dunia ini.


"Dokter Gunawan, apakah Kau baik-baik saja?" Dokter Roy bertanya, melihat dokter Gunawan yang sudah terlihat pucat dengan keringat di keningnya.


"Lanjutkan perawatannya, seperti yang sudah ku ajarkan padamu." Dokter Gunawan memerintah dokter Roy.


"Baik Dok...." Dokter Roy mengambil alih perawatan yang akan dilakukan pada wanita itu dan sedikit menganggukan kepalanya.


Dokter Gunawan kembali keruangan pribadinya. Duduk di kursi empuknya dan melepaskan kaca mata, dokter Gunawan memijit keningnya yang sudah terasa berat.


"Apa yang harus aku lakukan pada wanita itu?Haruskah aku memberitahunya tentang siapa sebenarnya dia dan masa lalunya!?"


Dokter Gunawan menjadi gundah gulana memikirkan kejadian tujuh belas tahun lalu. Sebuah rahasia yang ia tutupi selama ini. Dokter Gunawan adalah salah satu saksi kunci yang masih hidup sampai saat ini.


"Aku tidak menyangka, Kau sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik, Nak. Semua itu terjadi, seperti baru kemarin, aku melihatmu masih merah dan menggemaskan."


Mata dokter Gunawan sedikit berkaca-kaca mengingat kejadian itu, pria itu mendesah mengeluarkan rasa penat di dadanya. "Biarkan saja, aku akan menguburnya sampai mati." Dokter itu mengambil nafas dalam-dalam dan melupakan kejadian itu, meskipun dadanya terasa sesak.


**********


Alona di rawat di rumah sakit Gunawan Hospital, kondisinya sedikit mengkhawatirkan. Wanita itu belum sadarkan diri selama 3 jam dirawat di rumah sakit.


Alvaro menyesali semua kesalahan yang telah ia lakukan pada kekasihnya, Alona. Pria itu memiliki temperamen tinggi yang mengakibatkan susah mengontrol emosi yang meledak-ledak.


Alvaro berjalan mondar-mandir di depan ruangan ICU, sesekali ia duduk di kursi tunggu. Pria itu bahkan tidak makan dan minum, tidak merasakan lapar dan haus sama sekali. Perasaannya tidak menentu, sedih bercampur perasaan bersalah membuatnya semakin terpukul.


"Alona bangunlah..., Sayang. Maaf kan aku!" Alvaro melihat Alona yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Infus dan alat bantu pernafasan melekat di tubuh wanita itu.


Tangan Alona sedikit bergerak dan matanya mulai terbuka secara perlahan. Napas wanita itu terengah-engah seperti kehabisan napas.

__ADS_1


"Dokter..., dokter..., dokter...." Alvaro memencet bel dan memanggil dokter di luar ruangan. Pria itu panik melihat kekasihnya seperti akan meregang nyawa.


Detik berikutnya, Alona bangun dari tempat tidurnya dan melepaskan alat bantu pernapasan. "Aku dimana?"


Wanita itu sedikit kebingungan menyadari bahwa bajunya telah berganti seperti pasien rumah sakit. Kepalanya sedikit pusing dan merasakan lemas di sekujur tubuhnya.Wanita itu baru saja terbangun dari mimpi buruknya.


Alvaro berlari ke ruangan ICU bersama seorang dokter. Pria itu kaget melihat Alona bangun.


"Alona? Kau sudah bangun Sayang?"


Alona mengganggukan kepalanya. Alvaro memeluk Alona, dan meminta maaf pada wanita itu untuk ke sekian kalinya.


*****


Cahaya remang-remang di ruang kerja rumah Xander terasa sesak dan pengap. Xander menyalakan ponsel Alona yang tertinggal di mobilnya. Pria itu menghubungkan ponsel itu ke layar proyektor miliknya.


Entah sudah berapa kali pria itu memandagi foto Alona dan Alvaro. Banyak foto-foto romantis Alona dan Alvaro, di pantai, gunung, jalan-jalan ke mall dan masih banyak lagi.


Ribuan foto Alvaro dan Alona ia hapus dari galeri di ponsel itu. Xander hanya menyisahkan foto Alona ketika sedang sendirian, mungkin bisa di hitung dengan jari. Foto-foto itu ia transfer ke ponselnya dan ia jadikan wallpaper dan screen saver di ponselnya.


*****


Sebulan berlalu hidup Alona terasa nyaman tanpa gangguan Xander di hidupnya.


Matahari masih bercahaya terang meskipun hari sudah mulai petang. Alona sibuk memainkan ponselnya keluar gerbang kampusnya. Jari-jarinya sangat cepat mengetik pesan.


"Varo, Kau dimana? Kelasku sudah selesai."


"Maaf..., Sayang, bisakah Kau pulang sendirian hari ini? Aku sangat sibuk. Tolong mengerti keadaanku saat ini." Alvaro menambahkan emoticon sepuluh bentuk hati pada pesannya untuk Alona.


Senyum simpul terlihat di bibir Alona saat membuka pesan. "Baiklah aku akan memesan taxi online saja. Tapi jangan salahkan aku jika aku diculik orang lian." Alona sedikit mengancam kekasihnya.


"Itu tidak akan terjadi, tidak ada yang berani menculikmu dari ku." Alvaro penuh percaya diri bahwa dialah satu-satunya yang berhak pada kekasihnya. "Hati-hati sayang, malam ini aku akan menjemput mu makan malam di restoran, Ayam menari."


"Oke!" Alona menjawab singkat.


Berulang kali Alona mencoba order taxi online tapi tidak ada satupun yang bersedia mengantarnya pulang. Akhirnya Alona memutuskan berjalan ke halte bus dekat kampusnya.


"Hari ini sungguh sial, apa yang dilakukan sopir-sopir itu sehingga tidak mau mengantarkan ku pulang. Memangnya mereka tidak butuh uang!?" Alona menggerutu dalam hatinya.


Berjalan santai menuju halte bus, Alona sedikit kepanasan dan mengambil kertas di dalam tasnya lalu ia mengibasi wajah cantiknya.

__ADS_1


Mobil berwarna kuning berjalan perlahan mengikuti langkah gadis itu. "Alvaro?" Alona mendadak kaget dan mendekati mobil itu. Wanita itu tidak sabar ingin menghampiri kekasihnya dan mengetuk pintu mobil.


"Kau...!" Maaf aku salah orang. Alona mengalihkan pandangannya. Warna wajahnya berubah muram dan kesal, bagaimana tidak seseorang yang paling ia benci muncul di hadapannya.


"Masuk!" Pria itu memerintah Alona.


"Maaf,Tuan. Aku tidak mengenalmu, Kau salah orang." Alona mempercepat langkah kakinya menuju halte bus.


"Masuk!" Perintah pria itu berulang kali.


Alona mengabaikan pria itu dan terus berjalan. Langkah kakinya ia percepat dan sedikit berlari kecil.


"Oh! apakah Kau tidak menginginkan benda ini lagi!?" Pria itu memperlihatkan sebuah ponsel milik Alona.


"Tidak, terima kasih. Aku tidak membutuhkannya lagi."


"Baiklah. Aku akan membuangnya di jalan. Tapi, aku takut jika seseorang melihat foto kita berdua, Nona."


"Biarkan saja! Aku tidak peduli!"


Pria itu marah merasa di abaikan oleh Alona. Tidak ada satupun ancaman yang berhasil menaklukkan wanita itu.


Mematikan mesin mobilnya. Pria itu keluar dan menggendong wanita itu.


"Lepaskan aku...! Aku bukan kekasihmu."


"Diam!, atau aku akan menciummu disini, jika kau terus memberontak." Pria itu kembali mengancam Alona. Senyum seringai menghiasi wajah tamapanya. Pria itu memakai kaca mata hitam dan tersenyum ke arah orang yang memandang mereka berdua. Pria itu tidak peduli tentang apapun yang di ucapkan oleh orang yang melihatnya.


Segerombolan wanita dan pria memperhatikan pasangan romantis itu bertengkar, banyak dari mereka mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan moment romantis itu.


"Bukankah itu Alona, kekasihnya Alvaro!?"


"Iya..., iya benar, itu Alona." Sahut yang lainnya.


"Dasar wanita rakus.... Tidak bisakah dia menjadi wanita baik-baik."


"Hei bung, sekarng tidak ada wanita yang mau hidup susah, jika dia menemukan tambang berlian maka dia akan membuang emas di genggamannya."


"Lihat!, aku akan merekam aksinya dan menguploadnya ke forum kampus agar wanita itu jera."


"Jangan terlalu sadis kawan. Mungkin kau juga begitu jika menemukan pria yang lebih kaya."

__ADS_1


"Sssssssscht.... Diam. Nikmati saja pertunjukannya, Nona."


Alona memilih membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu. Pipinya bersemu merah akibat malu. Tangannya memegang leher pria itu, seperti anak monyet yang ketakutan.


__ADS_2