Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Rindu!!!


__ADS_3

Golden Hotel, lobi utama.


Masuk dua petugas kepolisian tanpa seragam resmi.


Anita menyapa kedua petugas kepolisian itu sesuai standar SOP. "Selamat malam Bapak dengan saya Anita, ada yang bisa di bantu?"


"Selamat malam Nona. Bisa kami bertemu dengan Tuan Alexander?" Tanya petugas kepolisian pada Anita.


" Maaf..., bapak dari mana?" Tanya Anita yang sedang bertugas shift malam.


Petugas kepolisian menunjukkan identitas dan berkata. "Kami dari pihak kepolisian ingin bertemu dengan Tuan Alexander secara pribadi."


Anita tersenyum ramah. "Maaf Bapak. Tuan Alexander sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis bersama sekretarisnya. Saya kurang tahu masalah kapan Tuan akan pulang.


"Terima kasih. Kami akan datang lagi setelah Tuan Alexander pulang." Petugas kepolisian pulang dengan tangan hampa.


Mereka juga tidak berani untuk melakukan keributan. Bagaimanapun Tuan Alexander bukan seseorang yang bisa mereka tindas secara gampang....


*****


Kerinduan merupakan suatu hal yang sama seperti sebuah penyiksaan batin. Alexander tidak dapat menahan kerinduannya pada Alona. Ia menyusul Alona ke kota F menggunakan helikopter.


Ketika sampai, dengan cekatan Xander turun dan berlari menuju ke kamar Alona. Dengan nafas terengah-engah Xander membuka pintu kamar.


Alona sudah tidur saat itu. Xander perlahan berjalan mendekati Alona yang sedang tertidur. Dilihatnya lekat-lekat wajah polos Alona. Dada Xander terasa sesak menyaksikan keadaan Alona, terlihat lebih kurus. "Apa karena bayi di dalam perutnya? Dia menjadi seperti ini?" Tanya Xander sedikit perhatian.


Xander duduk di pinggir kasur mengusap kening Alona dengan lembut. Xander tersenyum berbaring dan memeluk Alona. "Sayang, aku sangat merindukanmu." Kemudian, Xander mencium leher Alona menghirup wangi tubuhnya serta memegang perut wanita itu. "Sayang jaga baik-baik ibumu. Kamu akan menjadi anakku, menjadi kebahagian ibu dan ayahmu. Meskipun kamu bukan anak biologisku. Ayah akan selalu menyayangimu. Tunggu ayah menyelesaikan masalah di kota J. Ayah akan segera menikahi ibumu."


Sekali lagi, Xander mencium kening Alona dan tidur nyenyak di samping wanita itu.


Pagi hari, Alona terbangun dengan Xander memeluknya dari belakang. Sementara Xander masih tertidur lelap memeluk erat Alona.


Melihat tangan melingkar di pinggangnya, Alona bergerak melonggarkan pelukan Xander. Wangi parfum pria yang memeluknya membuat Alona nyaman. "Siapa yang memelukku?" Tanya Alona dalam hati. Berdasarkan wangi parfum Alona bisa menebak, wangi parfum itu sangat familiar. "Xander? apa dia sudah datang?" Alona tersenyum dan membalikkan badannya. "Xander!? benar dia!"


Jantung Alona sudah berdetak tidak karuan. Pria yang selama ini ia benci, ternyata dialah pria yang selalu ia rindukan. Xander berhasil melumpuhkan hatinya. Alona tidak bisa mengendalikan kebahagiaannya dan segera ia membelai pipi pria itu.


Xander perlahan membuka matanya. "Pagi sayang..., kamu sudah bangun?" Tanya Xander dengan suara seraknya.


Alona menganggukan kepalanya. "Pagi..., kapan kamu sampai?" Kata Alona dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Tadi malam..., Aku pergi karena merindukanmu." Kata Xander.


Alona tersenyum geli mendengar kata-kata Xander. "Aku akan bangun membantu Bibi Ani membuat sarapan untukmu..."


"Jangan pergi...." Kata Xander menghentikan Alona sambil menarik tangan wanita itu untuk memeluknya lebih erat. "Aku sengaja datang kesini untuk menemuimu bukan untuk memakan masakanmu. Biarkan Bibi Ani yang memasak hari ini. Aku tidak merasa lapar, saat melihatmu sayang."


"Xander..., apa matahari terbit dari barat hari ini?" Alona mendelikkan matanya mendengar gombalan pria itu. "Aku yakin jika pria semua sepertimu, petani akan menaggis karena berasnya tidak laku di beli. Dan aku akhirnya menyadari kenapa populasi pria lebih sedikit di banding wanita, itu semua karena kalian para lelaki terlalu banyak menggombal. Aku sudah kenyang melihatmu sayang.... apa kalian bisa bertahan hidup tanpa memakan sesuatu?, itulah sebabnya mengapa kalian cepat mati. Sayangnya lelucon semacam itu tidak berlaku untuk ku!" Kata Alona mencibir.

__ADS_1


Xander menarik tangan Alona. Pria itu dengan cepat membaringkan badan Alona di atas kasur. "Siapa bilang aku tidak lapar... Pria adalah seorang manusia pemakan yang hebat" Kata Xander. Alona diam tidak bergerak, jantungnya berdebar kencang. Xander mencium bibir wanita itu dengan cepat. Mata Alona melotot karena tidak siap menerima ciuman secara spontan. Ciuman itu kian memanas seperti kobaran api. Perlahan ciuman Xander turun ke leher dan semakin turun. Ketika kegilaan itu tidak terkendali Alona menggelengkan kepalanya. "Xander jangan lakukan itu. Aku sedang hamil." Ucap Alona.


Seketika Xander berhenti dari kegiatannya. Pria itu lupa bahwa Alona sedang hamil. Hatinya kembali terluka, "anak siapa di dalam perutmu Alona?" Tanya Xander ingin memastikan.


Alona diam sesaat, binggung memikirkan cara menjelaskan semuanya. Bagaimanapun mereka juga pernah melakukannya. "Sebelum hari pertunanganku dengan Alvaro. Aku muntah saat dia menyuapiku makan. Dia berinisiatif membawaku ke rumah sakit. Setelah di lakukan pemeriksaan. Benar aku hamil. Dokter mengatakan bahwa kehamilanku memasuki usia dua minggu. Aku belum yakin bahwa ini miliknya. Tapi mendengar ucapan dokter bahwa aku hamil dua minggu itu membuktikan bawa benar memang ini anaknya. Malam itu aku habis pulang dari rumah sakit. Alvaro menjagaku di kamar. Alvaro melakukan itu, saat aku sedang tertidur. Dia---"


Kata-kata Alona terpotong kala Xander memeluknya. "Alona? apa Kau bersedia menikah dengan ku? aku akan menerima anakmu seperti anakku sendiri."


"Xander, aku tidak ingin mengecewakanmu. Kau tahu aku sedang hamil. Tentu tidak baik bagi kita menikah dalam keadaan aku menggandung anak orang lain."


"Alona aku sangat mencintaimu. Terlepas dari keadaanmu saat ini aku bisa menunggumu. Kita bisa menikah. Aku tidak akan menyentuhmu selagi Kau mengandung. Aku akan menunggu ketika anak itu sudah lahir."


"Apa Kau yakin Xander. Bisa menerima anakku? Aku juga sudah lelah hidup seperti ini. Aku ingin memiliki kehidupan yang bahagia."


"Alona aku bisa menerima semua keadaanmu. Aku akan menyayangi anak itu seperti anakku sendiri."


Alona membalas pelukan Xander. "Aku menerimamu Xander. Setelah ku pikirkan engkau memang jodohku. Alvaro tidak pernah memikirkan perasaan ku. Dia selalu marah kemudian baik. Dia itu pria gila! Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Aku tidak menginginkan pria itu lagi. Aku sudah trauma bersamanya. Setiap hari dia memulai pertengkaran dan dia juga meminta maaf," jelas Alona.


"Terima kasih Sayang. Kita akan menikah setelah aku menyelesaikan masalah di kota J."


Alona menganggukan kepalanya. Mereka tenggelam dalam suka cita kebahagiaan. "Tunggu di sini aku akan membuatkanmu bubur hati ayam. Kamu cukup berbaring saja di tempat tidur. Aku akan membawamu ke bawah saat makanan sudah siap." Kata Xander.


"Emm..., terima kasih Sayang. Aku mencintaimu." Kata Alona.


Setengah jam berlalu....


Suapan pertama berhasil Alona makan. Dia memasukkan bubur itu ke dalam perutnya. Detik berikutnya, perutnya mulai beraksi. Alona muntah lagi. Bibi Ani sudah terbiasa melihat Alona seperti itu. Namun Xander kebingungan dan ikut berjalan ke wastafel. Ia memijat tengkuk dan menepuk punggung Alona saat wanita itu terus muntah. "Bibi Ani, apa Alona selalu seperti ini?"


"Iya, Tuan." Jawab Bi Ani di dalam dapur belakang.


"Sayang, apa begitu tidak nyaman?" Tanya Xander.


Alona mengangguk dan menyeka mulutnya. "Aku tidak bisa makan apapun, perutku selalu bergejolak saat makanan masuk ke dalam perutku." Jawab Alona.


"Apa kamu, menginginkan makanan yang lain? aku bisa membelinya untukmu." Kata Xander.


"Es krim vanilla, roti coklat stroberi." Jawab Alona dengan menelan ludahnya. Kedua makanan itu membuat perutnya nyaman. Memikirkannya saja sudah membuat air liurnya naik turun.


"Aku akan membelinya untukmu sayang. Sekarang kita tunggu di kamar saja." Alona menganggukan kepalanya. Xander kembali menggendong Alona naik ke lantai dua menuju kamarnya. Alona melingkarkan tangannya ke leher Xander. "Sayang bisakah Kau tinggal lebih lama," pinta Alona memohon.


Xander mengerutkan keningnya lalu tersenyum mendengar perkataan Alona. "Apa seorang wanita hamil selalu seperti ini. Manja dan mudah emosi!" Gumam Xander dalam hatinya.


"Kau sangat berat sekali rupanya. Hanya penampilanmu saja yang terlihat kurus." Kata Xander menurunkan Alona di atas kasur.


Pria itu melepaskan bajunya. Menghela nafas sejenak, kemudian berkata. "Sayangku Alona, aku bukan tidak ingin tinggal lebih lama hanya saja pekerjaanku di kota J belum selesai. Tunggu masalah selesai aku akan tinggal di sini bersamamu."


Alona cemberut. "Ya sudah. Aku tidak bisa memaksamu," Kata Alona.

__ADS_1


Xander tertawa dan mencubit pipi Alona. "Kau sangat imut saat sedang marah." Xander mencium pipi Alona dengan lembut. "Aku akan mandi dan bersiap-siap untuk ke kota J"


Alona tetap menekuk wajahnya hingga membentuk kerutan angka 11 di keningnya. Alona menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan kembali tidur.


Tidak berselang lama Xander keluar dari kamar mandi. Aura menggodanya sangat kental. Lekuk tubuhnya sangat indah seperti pemandangan di bawah laut. Mendengar pintu terbuka Alona menyibakkan selimut yang menutupi kepalanya. Pandangan mata Alona langsung tertuju pada otot perut dan dada bidang Xander. Tidak ingin tergoda Alona lantas membalikkan badannya membelakangi pria itu.


Xander langsung pergi ke kamar ganti memaki setelan kemeja putih dan jas hitam serta celana bahan dengan warna senada. Pria itu menggantungkan dasi di lehernya. Kemudian keluar menuju kasur dengan Alona tertidur di atasnya. "Hei Nona pemalas bangunlah. Aku butuh bantuanmu." Kata Xander sambil mengoyangkan badan Alona. Gerakannya sangat lembut, lebih lembut daripada sentuhan kain sutera.


Wanita itu benar-benar tertidur nyenyak pantas dikatakan sebagai Nyonya pemalas. Melihat tidak ada pergerakkan dari Alona, Xander menggendong wanita itu dan duduk di sofa dengan Alona duduk di atas pangkuannya. "Sayang tolong pakaikan dasi untukku. Aku hari ini ada meeting formal dengan klien. Aku hampir terlambat, dan lagi aku tidak bisa memakainya." Kata Xander dengan tatapan serius.


Alona dengan malas masih menutup matanya. "Kenapa tidak membeli dasi yang sudah siap pakai saja" Celah Alona. "Sudah tahu tidak bisa mengenakannya kenapa membeli model seperti itu."


"Sayang..., bisakah Kau sedikit memperhatikan suamimu. Jika sikapmu seperti ini suami mana yang bisa tahan lama di rumah. Jangan salahkan kami para lelaki mencari pengganti yang lain!" ancam Xander.


"Coba saja kalau Kau berani. Aku akan memotong adikmu menjadi tiga bagian." Ancam balik Alona.


"Kau sangat mengerikan! Sayang..."


"Biar saja terlihat seperti itu. Banyak pria menyukai wanita yang mengerikan." Alona membalikkan kata-kata Xander yang mencoba mengancamnya.


Alona membuka matanya dan melihat dasi yang melingkar di leher Xander. Alona sudah ahli dalam memakai dasi cukup 20 detik sudah jadi. Jika Kau mempermaslahkan wanita tidak ingin memakaikan dasi pada suaminya. Mulai dari sekarang aku akan mencari pria eksekutif muda di kota ini dan melamarnya. Aku rela memakaikan dasi setiap hari untuknya." Jawab Alona dengan nada ketus.


"Lagipula kemampuanku sangat bagus." Alona mengencangkan simpul dasi di leher Xander dan menariknya hingga mencekek erat leher pria itu. "Bukan begitu, Sayang?" Tanya Alona sinis.


Xander hampir mati tercekik pagi ini. "Ya. Kemampuan istriku memang paling bagus." Kata Xander tersenyum kecut dengan tangannya melonggarkan dasi di lehernya. Pria itu tidak berani lagi menggoda istrinya. Mungkin benar adiknya akan di adilli menjadi tiga potongan terpisah jika ia bersikeras melawan wanitanya.


Pria sangat pantang menunjukkan kekalahan di depan wanitanya. Bagaimanapun dia tetap pria kuat dan tidak gampang di kalahkan. "Alona aku akan memberimu satu rahasia. Pria eksekutif sangat menyukai wanita penurut."


Alona belum sempat mencerna kata-kata pria itu. Tanpa persiapan, Xander sudah mencium bibirnya. Dan Alona tidak bisa bergerak. "Seperti ini." Kata Xander menunjukkan rahasia yang ia maksud.


Alona mengepalkan tangannya. "Pria brengsek!" Teriak Alona dalam hatinya sambil menahan senyum.


"Sayang aku akan kembali ke kota J."


"Hati-hati..." Kata Alona.


Xander mencium kening Alona dan pergi.


Dari lantai dua Alona menyaksikan punggung Xander semakin menjauh. Pria itu berbalik dan melambaikan tangannya. "Sayang cepat kembali." Teriak Alona dengan air mata menetes.


Di dalam helikopter Xander bertanya pada sekretarisnya Rudy. "Rudy, Kau sudah berpengalaman. Aku ingin bertanya di usia kehamilan berapa bulan sudah bisa melakukan tes DNA."


Rudy terkejut mendengar ucapan Tuannya. Untuk apa pria di depannya menanyakan pertanyaan tabu semacam itu. "Apa Tuan mendapatkan ancaman dari seseorang untuk bertanggung jawab. Tidak!, bos sangat bersih, dia tidak pernah bermain dengan perempuan." Gumam Rudy sebelum tersadar dari lamunannya.


Melihat sekretarisnya tidak menjawab Xander berkata. "Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya bertanya." Kata Xander. "Temanku bertanya padaku. Aku harus menjawab apa. Kau tahu kan aku pria lajang." Ucap Xander meyakinkan.


"Aku tidak mengetahui masalah seperti itu Tuan. Sepengetahuanku, kita bisa mengetahui anak itu milik siapa, dengan melihat dari usia kehamilan wanita dari jarak melakukan hubungan suami istri. Tentu itu kurang akurat. Sebaiknya Tuan sarankan teman Tuan untuk bertanya pada dokter ahli."

__ADS_1


Xander menganggukan kepalanya. "Sebaiknya aku melakukan tes saat Alona sudah melahirkan. Aku tidak ingin melukai perasaannya." kata Xander sambil menganggukan kepalanya.


__ADS_2