Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Aku tidak bermain-main denganmu! Apa yang aku katakan pasti akan aku lakukan.


__ADS_3

Alona menjawab pria itu dengan nada yang sopan tapi terkesan meremehkan.


"Iya, Tuan Xander yang terhormat! Ada yang bisa saya bantu?"


Matanya bergerak-gerak, ia sengaja memainkan mata kucingnya. Alona menginginkan pria itu marah dan terbakar oleh amarahnya. Ia seperti sengaja melakukan hal-hal yang membuat Xander merasa kesal. Alona sangat menyukai ketika Xander meledak-ledak marah padanya.


"Alona, apakah Kau tidak diajari sopan santun?"


Alona mengangguk-angukan kepalanya. Sikapnya acuh tak acuh pada pria itu. Matanya terus menatap layar ponsel yang sedang menyala. Senyum simpul terukir di wajahnya yang anggun. Jari tangannya terus mengulir layar ponselnya, sesekali kedua jempolnya bergerak seperti mengetik pesan atau sesuatu. Ia tidak melihat ke arah pria itu, saat Xander berbicara padanya.


Alona menjawab, nadanya seperti malas-malasan. "Iya..., yah..., yah tentu saja ibuku mengajariku Tuan. Tapi, sayang ibuku tidak mengajari bagaimana caranya berperilaku sopan pada hewan! Jadi, tolong maafkan Aku, Tuan Xander." Ekor matanya sedikit bergerak menoleh pada Xander, kemudian memalingkan wajahnya. Matanya masih fokus menatap layar ponselnya, ia asik dengan dunianya sendiri. Senyum dan sedikit tertawa lembut masih menghiasi wajahnya.


"Apa maumu Alona!? Kau terus menyangkal setiap perkataanku!"


Xander seperti kesurupan raja iblis. Ia seperti akan meledakkan se-isi mobil akibat kemarahannya pada Alona.


"Kau sudah tahu bahwa Aku tidak mau menjadi pasangan menarimu. Tapi kau tetap saja memaksa!"


"Bukankah kau memiliki kekasih? Oh! Aku tahu, tidak ada yang mau memiliki kekasih manusia setengah serigala. Oooops!" Alona menutup mulut dengan telapak tangan kanannya.


Wanita itu memainkan jari-jarinya yang lentik. Ia membuka tasnya dan mengambil penghalus kuku. Alona mulai menggesekkan penghalus kuku itu di ujung kukunya yang berwarna bening, bersih, mengkilap dan sedikit terlihat motif kepala kucing berwarna biru muda di atas kuku nya."


"Aku melihatmu sangat bersemangat saat latihan menari bersama nona Tiffany." Xander menyangkal pernyataan Alona yang tidak sesuai dengan kenyataan bahwa ia tidak menyukai menjadi pasangan menarinya, padahal wanita itu sangat bersemangat pada saat latihan.


Menoleh dan sedikit menyeringai, wanita itu kemudian menjawab dengan nada lebih tinggi.


"Tentu saja aku bersemangat! Ia sangat baik padaku."


"Maksudmu Aku tidak baik padamu?"


"Pria baik tidak akan merenggut masa depan orang lain, Tuan Xander!"


Alona sepertinya Kau sudah berhasil menjadi anak singa!


Alona merasa ia seperti anak kucing kecil imut bermetamorfosis menjadi anak singa yang akan segara dewasa.


Lanjutkan sayangku, aku sangat mencintaimu seperti ini.


Hancurkan pria itu!


Alona sangat menikmati setiap kemarahan Xander. Wanita itu seperti mendapatkan setumpuk berlian yang berkilaun di depan wajahnya.


Kepala Xander benar-benar akan meledak melihat tingkah wanita itu. Kepalanya sudah terasa panas seperti lava yang keluar dari permukaan gunung api aktif.


Wanita itu masih asik memainkan kuku-kukunya. Ia menjentikkan jari sebelah kirinya sedangkan tangan bagian kanannya masih asik memainkan ponsel kesayangannya. Alona terlihat seperti ABG yang sedang kasmaran.


Senyum di wajahnya seperti aliran air sungai, terus menggalir tidak pernah putus dan berhenti. Wanita itu sedang asik bertukar pesan dengan kekasihnya, Alvaro.


"Alona!"


Xander sudah kehilangan kesabarannya.

__ADS_1


Merasa di acuhakan, otak pria itu sudah seperti di siram air mendidih, melepuh! hingga tidak bisa berpikir secara jernih.


Berbicara dengan wanita itu tidak lain bedanya denga berbicara sendiri, seperti berbicara dengan patung.


Gerakannya sangat cepat merebut ponsel Alona. Tangannya dengan lihai mengulir panggilan telpon yang ditujukan kepada Alvaro, kekasih Alona.


"Lihat!, Aku akan meneleponnya sekarang juga. Oh, tidak Video call akan lebih menantang! Aku akan menciummu di depanya!"


"Xander! Hentikan!"


"Xander tolong jangan lakukan itu. Aku mohon!" Alona berusaha membujuk pria itu.


Wanita itu berusaha mengambil ponsel yang ada di tangan Xander. Ia berusaha meraih nya dengan sekuat tenaga. Tubuhnya sudah bergerak-gerak, tangannya terus mencoba menjangkau ponsel yang di rebut oleh Xander.


"Xander aku mohon. Tolong!" Wanita itu menggelengkan kepalanya dan menangkupkan kedua tangannya memohon pada Xandar.


"Sudah terlamabat sayang..., itu hukuman yang pantas untukmu!"


Kesabaran pria itu sudah habis, bahkan tanpa sisa sedikitpun untuk wanita itu.


Pria itu melepaskan seat belt Alona, ia menarik kunci jok dan menurunkan badan Alona seperti posisi tidur di kasur.


Setan-setan mulai bergentayangan membujuk pria itu untuk menghancurkan Alona sampai ke tulangnya. Wajahnya yang tampan sudah terlihat bengis, sorot matanya beringas menatap wanita itu. Pria itu membelai wajah Alona, bibirnya ia dekatkan pada wanita itu, sedikit bersentuhan. Badanya yang berotot sudah menekan tubuh Alona, menyebabkan wanita itu tidak bisa bergerak sedikitpun.


Wanita itu seperti kembali ke habitatnya, menjadi kucing kecil imut. Ia tidak bergerak, wajahnya berubah menjadi merah menyala memancarkan seribu rasa ketakutan yang mendalam. Keringat di sudut wajahnya sudah berjatuhan.


Xander berbisik di telinga Alona.


"Aku tidak bermain-main denganmu, Nona!


Lihatlah, jika kau masih tidak mau mengikuti perkataanku aku akan mengalihkan panggilan biasa ke panggilan video."


"Cobalah! Jika Kau berani! Sayang."


Honey, memanggil. Telepon Alona sedang memanggil kekasihnya. Alexander yang melakukan itu.


Tut..., tut..., tut....


Terhubung....


Terdengar sangat lantang suara Alvaro di ujung sambungan telepon setelah satu kali panggilan tidak dijawab olehnya.


0.01 Halo sayang...


0.02 Alona


0.03 Alona


0.04 Alona sayang....


0.05 Aku tidak bisa mendengar suaramu sayang...

__ADS_1


0.06 Kau dimana?


Tut..., tut..., tut....


Panggilan berakhir. "No signal!" tertulis di layar ponsel Alona.


Alona terlihat sangat menyedihkan, seperti kucing kurus yang di buang di jalanan oleh majikannya.


Mata wanita itu sedikit berair, bulu matanya yang lentik sedikit bergerak. Kepalanya sedikit mengangguk merespon pria itu.


Pria itu memegang erat tengkuk Alona. Ia segera melumat bibir wanita itu dengan sangat cepat. Ciuman pria itu semakin lama semakin dalam hingga wanita itu terengah-engah kehabisan napas.


"Kau akan berakhir seperti ini, jika Kau membuatku marah!"


"...." Alona hanya bisa menangis dan meringkuk di jok mobil.


Pria itu menarik kunci jok mobil, mengembalikan nya ke posisi semula. "Rapihkan dirimu, aku tidak mau melihat mu seperti ini!"


"I-iya Xander." Alona menjawab dengan sedikit terbata-bata. Ia masih merasa ketakutan oleh perbuatan pria itu.


Kebahagiaan Alona tidak berlangsung lama. Kebahagiaan dan kesedihan miliknya seperti jarak telapak tangan atas dan bawah. Sangat jelas!


Wanita itu ingin menagis, tapi, ia tahan agar tidak membuat Xander marah. Ia menghapus air mata di pipinya.


*****


"Alona....!?"


Dorong, Varo memegang gagang pintu itu dan masuk ke sebuah cafe. Sebelum ia masuk ia melihat wanita berbaju merah mirip Alona sedang memasuki hotel di samping cafe bersama seorang pria.


"Tidak..., tidak..., itu hanya pikiran ku saja. Alona tidak akan berpakaian seperti itu.Sudahlah mungkin cuma mirip saja."


Alvaro masuk ke dalam cafe menemui temanya yang sudah menunggunya.


"Hai, Varo! Sebelah sini." Wanita itu melambaikan tangannya ketika melihat Alvaro berdiri di depan pintu."


"Amor...," Pria itu membalas, melambaikan tangan ke arah wanita itu.


Duduk dan menarik kursi di depan wanita itu. Alvaro memulai percakapan nya sebagai teman yang sudah lama tidak bertemu.


"Apa kabar?" Alvaro menanyakan kabar sahabatnya yang baru pulang dari luar negeri.


"Aku baik, bagaiman dengan Kau?"


"Tentu saja kabarku sangat baik. Jika aku sakit aku tidak akan menemuimu di sini, Nona Amor." Alvaro menjawab Amor dengan sedikit bercanda dan tersenyum lepas ke arah wanita itu.


"Aku dengar Kau sudah memiliki kekasih?" Wanita itu bertanya penuh selidik untuk mengatur siasatnya, ia tipe wanita yang tidak suka berbasa basi. Tentu saja ini kesempatan emas baginya untuk mengetahui segala sesustu tentang pria itu, setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu dengan pria yang pernah ia sukai semasa SMA. Alvaro bukan tipe pria yang gampang di ajak keluar oleh seseorang. Pria itu tidak akan pergi keluar jika tidak ada tujuan yang jelas.


"Ting!" bunyi pesan masuk di ponsel Alvaro


Hot News...

__ADS_1


Tuan M dan Nona A terpergok berjalan berduan menghadiri sebuah pesta.


Alvaro, "....!?"


__ADS_2