
Pohon cemara berdiri kokoh di pinggir jalan. Dedaunan nya sedikit mengguning dibagian bawah dekat tanah.
Pohon pinang hias sudah berbuah lebat berwarna merah. Daunnya bergoyang-goyang tertiup angin.
Matahari tidak lagi sepanas di siang hari, cahayanya mulai memudar. Langit berwana biru sesekali menggelap tertutup awan putih.
Udara terasa sejuk disepanjang jalan penuh pepohonan tinggi dan berdahan lebat.
Hari ini jalanan lancar tanpa hambatan, sesekali terdengar suara sahut-sahutan klakson pengemudi yang ingin menambah kecepatan jarak tempuh.
Alona menikmati pemandangan dari balik kaca mobil yang transparan. Ia mencoba tetap fokus menyetir mobilnya.
Hatinya resah! ditambah perasaan bersalahnya pada Alvaro karena telah membohonginya berulang kali. Ia seperti terkena demam panggung, hal itu terjadi umumnya pada seseorang yang akan tampil di depan banyak orang. Ia bukan artis ataupun pembawa acara yang akan tampil. Tapi, menampakan wajahnya di depan orang yang paling ia benci seperti mengubah segalanya.
Hidupnya....!
Masa depanya....!
Cintanya....!
Mobil putih Maserati Gran Turismo V8 berbelok ke arah kanan memasuki kawasan perumahan paling elit di Kota J. Alona mengendarai mobil pemberian Alvaro, hadiah ulang tahunnya yang ke-17.
Gapura berwarna putih mengkilap berdiri tegak di pintu masuk, bertulisan Heaven Place. Rumah di sana hanya tersedia sebanyak sepuluh unit setiap bloknya, dengan berbeda-beda kategori. Blok A merupakan blok tingkat atas, hanya di huni oleh orang-orang tertentu.
Penjaga keamanan tersenyum ramah menyambut kedatangannya.
"Selamat sore, Nona...." Tolong perlihatkan identitas dan tujuan anda.
Alona membuka kaca mobil memperlihatkan identitasnya dan memberitahukan tujuan kedatangannya.
"Blok A No.1"
"Baik Nona, Saya akan menghubungi pemilik rumah sekarang."
"Ok!" Alona membuka kaca mata hitam yang dipakainya.
"Nona Kau boleh masuk. Saya akan mengantar Anda sampai tujuan." Nona harus keluar dari mobil, Saya akan memarkir mobil anda di parkiran khusus tamu.
"Maksud Bapak?"
"Iya Nona.... Kau harus keluar, ini sudah peraturan. Semua tamu yang masuk harus meninggalkan mobil di parkiran khusus tamu dan akan di antar oleh petugas kami. Tolong Nona mengerti."
"Baiklah, Aku akan turun. Tunggu sebentar Aku perlu membereskan sesuatu."
Alona menutup tirai di jendela kaca mobil. Ia meraih mantel hitam panjang sampai mata kaki. Ia memakainya dengan kecepatan penuh. Alona tidak ingin memperlihatkan lekuk tubuhnya kepada orang lain.
__ADS_1
Hotpants berwarna hitam, tank top berwarna putih serta rompi hitam tanpa lengan yang ia kenakan hari ini berhasil ia tutupi dengan mantel hitam panjangnya. Ia mengira masuk ke rumah pria itu sama saja dengan masuk ke perumahan biasanya. Ternyata, prediksinya salah. Ia harus turun di pos satpam dan naik mobil golf untuk sampai ke tempat tujuan.
"Orang kaya sombong!, sungguh merepotkan," celetuk Alona dalam hati. Ia merasa kesal dan sedikit mengutuknya.
Penjaga keamanan berbaju hitam itu dengan sopan membantu membukakan pintu mobil ketika pintu bergerak keluar.
"Trima kasih." Alona tersenyum kepada petugas yang membukakan pintu untuknya.
Naik ke mobil golf menyusuri jalan aspal. Halaman rumah itu lebih luas dari lapanagan sepak bola, sangat luas dan hijau. Banyak pohon-pohon buah yang ditanam disana, di sudut sebelah selatan terdapat perkarangan bunga anggrek dari berbagai jenis. Sementara di tengah terdapat kebun sayuran, bumbu dapur, dan di pinggirannya terdapat tanaman obat tradisional.
Pantas saja rumah ini di sebut surga. Halamanya sangat luas dan asri, bahkan halaman itu jika di ukur bisa untuk membangun lebih dari 100 rumah dengan halaman yang luas.
Jalanan berkelok dan sedikit menanjak , di pinggir jalan terdapat bunga-bunga yang memiliki beranekaragam warna.
Sudah lama Alona menysuri jalan itu tapi belum sampai, bahkan rumah pria itu juga belum terlihat. Sudah 15 menit rasanya ia duduk di kursi belakang. Alona berpikir "lebih lama masuk ke dalam rumah ini, dibandingkan perjalannaya dari rumah ke gerbang rumah pria itu."
10 menit berlalu, rumah yang ingin ia kunjungi sudah terlihat. Bangunan rumah itu seperti istana di negri dongeng, rumahnya berwarna putih dominan.
"Nona sudah sampai, pemilik rumah mengatakan agar Nona langsung masuk saja ke dalam rumahnya."
"Ok, Trima kasih pak."
Rumah itu terlihat sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Kenapa pria itu tidak mengecat ulang saja rumahnya itu? Aku rasa cat warna hitam sangat cocok dengan rumahnya, agar terlihat lebih menyeramkan.
Memangnya ia tidak takut tinggal di rumah sebesar ini?
Tinggal di sini tidak ada bedanya dengan tinggal di penjara, terasingkan dengan dunia luar.
Langkah kakinya melambat memasuki rumah megah dan mewah itu. Kaca besar di sudut ruangan memantulkan cahaya matahari. Ruangan itu minim pencahayaan sehingga ia tidak bebas melangkah. Matanya berhenti menatap pigura lebar dan panjang, di sana tertempel foto panasnya dengan semua gaya yang berbeda. Foto itu dicetak dengan ukuran 3R. Pigura itu di beri lampu hias LED yang kelap-kelip menerangi foto itu.
Ruangan itu seperti pameran fotografi. Banyak foto-fotonya yang di cetak dalam ukuran yang lebih besar dan hampir memenuhi setiap dinding di ruangan itu.
Muka Alona berubah merah padam. Ia terlihat seperti seroang ratu kegelapan yang akan membinasakan semua pengikutnya yang tidak setia. Alona mempercepat langkah kakinya menuju pigura itu. Ia ingin membanting dan membakar habis seluruh ruangan itu.
"Tuaaaaaaaaan! Keluar Kau pengecut!"
Alona berteriak, dan segera akan membanting pigura berwana emas yang telah ia pegang.
Dari sudut ruangan terdengar suara familiar seorang laki-laki. Ia berbicara dengan nada lembut dan sedikit menantang.
"Bantinglah!" Aku akan meminta 500 juta dari mu.
"...." Tangan Alona terdiam di atas dan mengurungkan niatnya membanting foto itu. Ia terlihat seperti maling yang tertangkap tangan oleh pemiliknya.
__ADS_1
Alona melihat sekilas foto itu, tidak ada yang istimewa!
Terbuat dari apa memangnya foto itu?
Tinta emas?
Berliankah?
Alona terus menghujani pikiranya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk akal.
Mendengar 500 juta Alona merinding ketakutan. Ia seperti baru melihat hantu tepat di depan matanya. Ia menyusun siasat untuk membalikkan keadaan.
"Aku akan menggugatmu ke pengadilan.Kau mengambil gambarku tanpa seizinku."
"Bagus, Aku tahu Kau wanita yang cerdas. Sepertinya itu akan menarik, aku akan bersikap kooperatif." Xander tersenyum menyeringgai ke arah Alona.
"Aku akan meminjamkan buktinya untukmu, Kau bisa membawanya."
"...." Mendengar bukti nyali Alona menciut, itu sama saja mempermalukan diri sendiri.
"Tuan....!"
"Sayang...."
"Tuan....!"
"Sayang...."
"Tuan!"
"Xander sayang atau sayang. Aku bukan tuanmu!"
Alona terdiam dengan kata-kata sayang yang dimaksud oleh Xander. Ia kebingungan menerka maksud artinya. Ia tersenyum sinis ketika mengetahui maksud pria itu untuk memanggilnya sayang atau nama nya di gabung dengan sayang.
"Xander serigala! Apa maumu!?"
"Alona Arunika Raharaja, nama yang indah. Matamu indah seperti matahari terbit."
"Xander, jika Kau berbelit-belit Aku akan pergi sekarang."
"Apakah Aku tidak memberi tahumu? Oh, maaf....! Sepertinya aku melupakannya."
"...." Alona ingin sekali menjambak rambut Xander yang berpura-pura lembut dan perhatian padanya. Ia menggertakkan giginya dan mengepalkan tanganya.
"Kau...!"
__ADS_1