
Wanita itu menagis, menjerit melihat kekasihnya yang akan segera mati. Ia ******* tangannya dan sesekali menggigit jarinya yang ramping. Ia seperti seorang anak kecil yang akan ditinggalkan ibunya pergi.
"Apa yang Kau inginkan?"
Wanita itu bertanya dengan nada mendominasi, ia berusaha bernegoisasi dengan pria itu.
"Tidak ada...!, Aku hanya ingin melihat dia mati di depan matamu!"
"Kau...!"
Wanita itu berusaha membuka pintu mobil tapi itu hanya sia-sia, pintu itu sudah menutup secara otomatis. Wanita itu melihat di balik kaca, kekasihnya yang ia cintai tepat di atas kepalanya terdapat pistol yang akan segera di lepaskan. Wanita itu ingin berteriak, ia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
*****
Dokter Chandra mengurungkan niatnya meletakan diaphragm ke dada Alona. Tatapan matanya berhenti tepat di leher Alona. Ia melihat penuh warna merah kebiruan di leher wanita itu. Ia hampir tersedak oleh air liurnya sendiri.
"Xander..., apa yang telah Kau lakukan pada wanita ini!?"
"Apakah Kau mencoba mencekeknya!?"
"Oh, tidak..., tidak..., ini bukan bekas cekekan tapi itu seperti gigitan cinta!"
"Xander..., apakah kau melakukannya!?"
"Sejak kapan seorang dokter suka bergosip?"
Xander mencoba menyangkal pertanyaan dari sepupunya itu.
"Apakah Kau akan memeriksanya atau tidak?, Kau membuat waktuku terbuang sia-sia!"
Xander pergi menjauh dari tempat tidur itu, kemudian ia berjalan menuju sofa di sebrang tempat tidur dan duduk di sana dengan sedikit kesal. Ia seperti sorang raja yang sedang marah dengan musuh-musuhnya.
"Kau yang selalu menghalangiku! Kau yang bilang bahwa aku tidak boleh menyentuhnya. Lalu bagaimana caraku memeriksanya."
"Itu urusanmu, seharusnya kau tahu bagaimana seorang dokter memeriksa pasiennya!"
__ADS_1
"...." Memangnya ada cara memeriksa pasien melalui telepati? Jika ada maka sudah ku lalukan dari dulu. Chandra mengumpat dalam hatinya, ia rasanya ingin mncabik-cabik mulut sepupunya itu. Kepalanya seperti terbakar oleh bara api, hingga menimbulkan asap yang keluar dari kepalanya.
"Heeekh.... Rasanya Aku ingin menjahit mulutnya dan memotong lidah ularnya itu!"
Dokter Chandra menghentikan semua umpatannya. Ia secara perlahan meletakan diaphragm ke dada wanita itu, ia berusaha sebisa mungkin tidak menyentuhnya. Ia kemudian memeriksa pupil mata Alona untuk memastikan tidak ada cedera atau hal serius lainnya.
Andra menepuk bagin perut wanita itu untuk memastikan ada masalah lambung atau tidak? Untuk memperjelas pemeriksaannya ia menempelkan diaphragm ke perut wanita itu, memastikan ada bunyi bising perut atau tidak?
Membuka tas berwarnah hitam, Andra mengeluarkan tensi meter dari tasnya. Ia memasangkan tensi meter ke tangan Alona.
"Xander..., semuanya normal tidak ada masalah dengan wanita ini!"
"...." Pikiran Xander sedang pergi berkelana, butuh waktu baginya untuk menjawab. Ia seperti kebingungan memikirkan hal-hal yang tidak jelas. Kedua tangannya ia kepalkan dan ia topangkan di bibirnya. Ia menatap kosong ke arah kasur di depannya.
"Xander..., apakah Kau akan menjadi model patung hari ini!?"
"Eeekh.... Maaf Aku tidak mendengarmu!, Apa yang Kau katakan barusan?
"Baiklah Aku akan mendengarkanmu!"
"Biarkan dia beristirahat, ia kelelahan sehingga ia tidak segera bangun dari pingsannya!"
Keringat sudah membanjiri tubuh Alona, suhu panas di badanya membuat ia mandi keringat. Sementara badanya kedinginan, ia menggigil, badanya bergetar hebat.
Alona mengigau dalam tidurnya ia sperti mengatakan sesuatu secara samar-samar. Ia menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"eeek..., emm..., eeek..., hehehek..."
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Alexander.
"Tenanglah Xander!, ia hanya menggigau saja! itu efek dari panas di tubuhnya."
"Aku akan mengompres keningnya dengan air dingin" Jawab Dokter Chandra.
__ADS_1
"Apakah Kau bercanda, wanita ini terlihat sangat pucat, ia seperi mayat hidup!?" Cecar Alexander.
Xander sangat marah melihat Andra sangat tenag sementara wanita yang di depannya sudah sangat pucat, bahkan wanita itu terlihat seperti mayat hidup.
"Xander, jika Aku panik bagaimana Aku bisa menjadi dokter!" Aku tahu apa yang harus Aku lakukan. Kau tidak usah cemas!"
Andra kembali mengingatkan bahwa dia yang lebih tahu hal apa yang harus dilakukan.
"Tidak..., eeekh..., jangan..., hek..., hek..., ja-jangan!"
Xander merasa khawatir melihat Alona yang mengigau dengan sangat kencang. Ia menarik Andra dari pinggir kasur itu dan sedikit mendorongnya ke belakang. Xander duduk di samping Alona dan menepuk-nepuk pipinya untuk membangunkannya.
"...." Andra tercengang melihat Xander menarik dan sedikit mendorongnya ke belakang.
"Nona..., Nona..., Nona....!"
Wanita itu memegang tangan Xander dengan sangat erat membuat ia tidak bisa bergerak.
"Tidak!"
Wanita itu terbangun dan memeluk Xander dengan sangat kuat.
"Sayang..., Kau baik-baik saja!"
"...." Sayang, Kau baik-baik saja. Mendengar Alona memanggilnya sayang ia seperti tersengat aliran listrik bertenaga tinggi. Hal itu cukup membuat Xander berkeringat dingin, hatinya berdebar-debar, jantungnya berdetak tak beraturan. Ia merasakan pelukan wanita itu sangat nyaman dan ia membalass pelukan itu. Xander mengelus-elus rambut Alona.
Alona mengencangkan pelukannya pada Xander, ia belum sadar sepenuhnya. Ia menepuk-nepuk punggung Xander seperti seorang ibu memeluk anaknya, penuh cinta dan kasih sayang.
Alona kemudian melepaskan pelukan itu secara perlahan. Ia kemudian membelai pipi Xander dan ingin menciumnya.
Napas merka saling beradu, sangat dekat hanya satu jengkal jaraknya. Alona memegang dagu pria itu kemudian ia mendekatkan bibirnya.
"Ehem....!" Dokter Chandra memberikan suara kodenya.
__ADS_1
"...."