Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Kehilangan akal


__ADS_3

Tamparan pria itu sangat kuat yang mengakibatkan telinga Alona berdengung.



"Tinnitus!"



Wajahnya mati rasa akibat tamparan itu. Ia membelai pipinya secara perlahan. Ia memejamkan matanya, merasakan kesakitan yang tak kunjung berhenti.



Alona meggertakkan giginya. Ia ingin marah, memaki dan menghujat lelaki itu. Rasanya ia ingin sekali mencabik-cabik muka pria itu.



"Kau brengsek!" Kata Alona dengan tangannya tetap memegang pipinya.



"Kita impas, Nona!" Kau yang menamparku terlebih dahulu! Kata Xander dengan emosional.



Pria itu dengan gamblang mengatakan bahwa wanita itu yang terlebih dahulu memulai perkelahian di antara keduanya. Ia ingin memprovokasi Alona!.



Pria itu menginginkan Alona marah! begitu wanita itu marah dan sedang berada di puncak kemarahannya ia ingin menjatuhkannya ke titik yang paling rendah.



"Apakah Kau terlahir di dunia ini? tidak melalui rahim ibumu!" Kau sungguh berani menampar perempuan!"



"Kau tidak pantas di anggap perempuan! Kau lebih pantas menjadi pereman pasar, Nona...!"



Dada Alona kembang kempis menahan emosi. Ia berjalan mendekati Pria itu. Tangannya Ia angkat dan Ia ayunkan untuk menampar Pria itu. Lelaki itu menagkis tamparan Alona, kemudian tangan itu ia putar kebelakang seperti polisi melumpuhkan penjahat.



Pria itu dengan cepat mengikat kedua tangan Alona tepat di atas kepalanya. Ia mengikat Alona menggunakan dasi di tangannya.



Alona tidak berhenti bergerak, terus memberontak, kakinya menendang pria itu. Ia seperti ulat, meliuk-liuk kesegala arah.



"Lepasakan Aku!"



"Tidak akan kulepaskan!"



"Kau pecundang!"



"Lalu, Kau mau apa?. Jika aku pecundang!"



"Aku akan mencabik-cabik mukamu!, Aku ingin mematahkan tulang-tulangmu itu!" Apakah Kau mendengarku!?



"Aku bosan saat ini, Aku ingin bermain-main denganmu, Nona....!" Kau bebas menentukan peraturan permainannya. Aku akan mengikutimu, bagaimana Nona!?" Tanya pria itu.



Alona mencoba mengerakan tangannya yang terikat, ia sedikit menundukkan kepalanya. Ia mengatur nafas dan siasat. Ia tersenyum simpul menemukan ide jahatnya.



"Baiklah, Tuan....! Aku akan bermin denganmu, sungguh...!" Kata Alona sambil menempelkan badannya pada pria itu.



Suara Alona lembut dan mengoda seperti kucing kecil, lucu, imut yang sedang meminta makan pada majikannya.



Senyumannya terlihat asli dan tulus. Siapa saja yang melihat pasti akan lengah!.



Pria itu tersenyum menawan melihat reaksi Alona. Senyumannya seperti memiliki arti dan maksud tersembunyi.



Apa yang di pikirkan Lelaki itu?


Alona terus melihat gerak-geriknya yang membingungkan!



Dengan tangannya yang terikat Alona memegang dada pria itu dengan lembut dan sedikit rangsangan sensualitas.



"Tuan..., bisakah Kau melepaskan tanganku ini...!, Aku akan kesulitan bergerak, bukankah ini akan menghalangi permainan kita?" Tanya Alona menggoda pria itu.



"Tidak!" Kau akan menjadi gila!, jika Aku melepaskan ikatan di tanganmu."



Alona menggerutu di dalam hatinya, "gagal lagi...!", Aku harus memikirkan cara menyingkirkan pria ini!.



Alona mengalungkan tangannya yang terikat ke leher pria itu, posisinya seperti sepasang kekasih yang sedang menari di lantai dansa. Alona secara perlahan membawa pria itu ke depan pintu kamar, ia melepaskan tangannya dari leher pria itu. Ia membelai pipi lelaki itu, kemudian wajahnya ia arahkan menghadap pintu kamar.



Alona memegang dadanya secara perlahan, ia menyusuri setiap inci tubuhnya yang menawan. Alona berjalan mengelilingi pria itu dan merebahkan tubuhnya di pundak lelaki itu.


__ADS_1


"Click...!"



Pintu kamar terbuka secara perlahan, meskipun suaranya terdengar samar dengan telinga burung hantunya, Alona bisa mendengar dengan jelas suara itu.



Alona menarik pria itu, kemudian ia menendang tubuh bagian bawahnya.



"Aaaaaaaaaakh!"



"Kau....!"



Alona berlari ke luar dari kamar itu, ia mencari kartu yang di berikan lelaki itu padanya. Ia menyusuri setiap sudut ruangan untuk mencari kartu itu. Ia menemukan tasnya yang berwarna silver. Alona membuka tasnya dan menemukan kartu itu.



"Aku menemukannya...!"



Alona berlari sangat kencang menghampiri pintu utama kamar itu.



"Sial!, tidak ada tempat untuk menempelkan kartu ini!"



Pria itu benar-benar akan mengurung setiap maling yang berusaha masuk ke kamar ini.



"Aku harus menemukannya!, cepat..., cepat... atau pria itu akan menangkapku!"



Alona menempelkan kartu itu di setiap permukaan pintu, tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Alona kehabisan akal, ia memikirkan cara membuka pintu itu. Ia melihat ke kiri dan ke kanan, di kedua sisi itu ada pot bunga besar.



Alona memegang setiap pot itu, berharap ada jejak yang bisa membuka pintu itu sesegera mungkin.



Sepandai-pandainya Alona mencari cara untuk pergi, semakin sulit ia menemukan jalannya!



Kecerdasan dan kecerdikannya tidak berfungsi pada saat ini!



Ia sudah kehilangan akal!



"Tak..., tak..., tak....!"




"Eee-emmm-mmm....!"



Tangan Pria itu memegang sapu tangan dengan obat bius. Ia membius Alona. Ia membekap mulut dan hidungnya.



Alona jatuh terkulai di pelukan lelaki itu. Ia membawa wanita itu ke kamar yang berbeda.



Senyuman pria itu beringas dan ganas. Ia lebih ganas dari serigala kelaparan.



Pria itu membanting wanita itu ke atas kasur dengan sangat kencang tanpa mempedulikan apakah wanita itu akan terluka?



"Kau akan merasakannya!"



Pria itu meregangkan otot-ototnya yang kaku. Ia memutar pinggulnya ke kanan dan ke kiri seperti pemanasan senam olahraga pagi. Ia membuka celananya dan melemparkannya ke sembarang arah. Ia merangkak naik ke atas kasur, mendekati pipi Alona.



Sentuhannya sangat lembut membelai setiap sisi pipi Wanita yang sedang tertidur itu. Ia mengelus-elus alisnya yang tebal serta menatap kelopak matanya yang lebar, berbulu mata lebat dan lentik. Pria itu memainkan rambut bagian pinggir telinga Alona dan berbisik pelan padanya.



"Malam ini, Kau akan merasakan apa yang kakak ku rasakan!"



Pria itu mencium bibir Alona dengan lembut, sangat lembut. Ia mencium leher dan tulang selangka Alona dengan belaian manja. Gaun warna hitam terlihat kontras dengan kulit Alona, warna hitam itu menonjolkan kulitnya yang putih, seputih porselin. Ia merobeknya secara paksa. Tidak ada sehelai kain pun yang tersisa di tubuh Alona.



Tahi lalat di atas dadanya yang sudah berisi, menamba kesan seksi di tubuhnya yang ramping. Wajahnya cantik berseri-seri, putih bersih, dan bening, sebening kristal. Perutnya datar tanpa lipatan lemak. Ia juga memiliki sepasang kaki jenjeng seperti seroang supermodel yang menambah nilai kecantikannya.



Alona tidak bergerk, hanya suara samar nafasnya yang terdengar. Ia tertidur sangat nyenyak dan terlihat pasrah. Ia seperti kelinci kecil putih yang sangat patuh dan menggemasakan. Ia seperti Alona yang terlahir kembali. Gadis kecil asli dan murni yang tidak bersalah.



Pria itu terus menyusuri setiap tubuh Alona. Ia membayangkan kakaknya 5 tahun yang lalu.



Kakanya menagis, menjerit meminta pertolongan!.


__ADS_1


Pria itu sangat mengetahui detail tragedi yang menimpa kakaknya. Hal itu terus membayangi setiap kehidupannya kini dan nanti.



Pria itu hanya bisa menyaksiakan dari kejauhan dan mendengar setiap teriakan kakaknya. Ia melihat sekujur tubuh kakaknya penuh dengan tanda merah di leher, tulang selangka, dada, dan selangkangannya.



Jika ia bisa memilih, pria itu menginginkan ingatan 5 tahun yang lalu hilang selamanya!.



Andai waktu bisa di putar, waktu itu dia sudah segagah sekarang, pasti kakaknya tidak akan terluka.



"Kak lihat Aku, Aku akan membalaskan dendammu!"



Aku akan menghancurkannya sama seperti kakak dulu.



"Kak, tenanglah Kau di sana!"



Pria itu memulai pembalasannya, ia segera mengauli Alona.



"Ternyata Dia masih gadis!"



Pria itu menghabiskan waktu 3 jam melakukan pertarungannya yang melelahkan, ia begitu menikmati setiap permainannya.



Pria itu merasakan kelelahan yang luar biasa. Napasnya sudah seperti atlet lari maraton selesai bertanding. Ia membaringkan tubuhnya di kasur, posisi badannya terlentang, tangan kananya ia letakkan diatas kepalanya, pandangan matanya melihat ke langit-langit kamar dan perlahan memejamkan mata cokelatnya yang menawan.



Pagi hari yang cerah, matahari bersinar sangat terang, sinar-sinar cahayanya masuk melewati celah-celah tirai yang sedikit terbuka. Cahayanya seperti belaian seorang Ibu kepada anak-anaknya, begitu menghangatkan.



Sepasang wanita dan pria sedang menikmati tidurnya yang nyenyak. Pasangan itu seperti suami isteri yang sedang memadu kasih, pelukannya sangat erat dan hangat pada wanita itu.



Kepala Alona bersandar di bagian dada bidang lelaki itu, ia menjadikan dada lelaki itu sebagai bantalnya. Alona meringkuk dan memeluk pria itu. Ia tertidur sangat pulas, wangi tubuh pria itu menjadikan tidur Alona semakin nyaman. Ia tak pernah merasa senyaman ini saat tidur.



Cahaya matahari memantulkan cahayanya pada mata yang indah dan masih setengah mengantuk. Cahayanya menyilaukan mata indah itu.



Alona memegang kepalanya dan menarik rambutnya yang kusut. Ia merasakan pusing, bola matanya yang besar bergerak-gerak membuka secara perlahan. Ia berguling ke pinggir kasur merenggangkan tubuhnya yang kaku.



"Aaackh! Kepalaku pusing sekali, rasanya sperti gangsing yang terus berputar-putar!"



Alona menggeliat kan tubuhnya, senyum pagi harinya sangat manis. Ia memegang telinga sebelah kirinya yang terasa panas.



"Sepertinya aku tidur dengan sangat patuh hari ini, telingaku sakit dan panas." Ia memegang telingganya dan memijatnya secara perlahan untuk mengalirkan darah ke telinganya.



Obat bius itu memberikan efek tidur yang pulas pada Alona. Ia sangat kelelahan akibat perkelahiannya denga pria itu. Ia menjadi lebih energik setelah tidur cukup lama.



Alona menyadari ada yang salah dengan tubuhnya. Ia merasakan sakit hampir di seluruh tubuhnya yang mungil dan berisi. Ia merasakan sakit yang luar biasa terutama di bagian tubuh paling bawahnya. Sementara di leher, tulang selangka, dan di dadanya ia merasakan seperti ada luka memar.



Selimut tebal yang menutupi tubuhnya, ia buka secara perlahan. Ia melihat penuh tanda merah di sekujur tubuhnya. Tanda itu bukan seperti tanda ciuman asmara tapi lebih tepatnya seperti gigitan monster.



Alona bertanya-tanya apa yang terjadi dengannya?



Alona terperangah dan sedikit menutup mulutnya. Ia terkejut melihat ada darah berceceran di atas sprei berwarna putih.



Alona makin binggung dibuatnya. Ia memperluas pandangannya ke segala arah di ruangan itu. Ia melihat seorang lelaki sedang tidur sangat nyenyak di sampinganya.



Pria itu tertidur sangat nyenyak dan tertelungkup dengan posisi wajah menghadap pada wanita itu. Alona melihat jelas wajah lelaki yang telah merenggut masa depannya.



Air matanya mulai menetes.



Alona ingin menjerit!



Alona ingin berteriak!



Alona ingin meruntuhkan kamar itu!



"Aaaaaaaaaakh!"



"...."

__ADS_1



__ADS_2