
Xander tetap duduk di kursi meja makan. Ia memperhatikan Alona sedang mencuci piring. Matanya enggan berpaling walau hanya satu detik.
Alona merasakan sedikit aneh. Ia merasa risih kala Xander menatapnya terus-menerus. Ia bukan pemandangan indah sehingga harus di perhatikan sangat intens "Tuan Xander tolong pergilah. Aku tidak bisa bekerja jika kau terus menatapku seperti itu."
Xander tertawa. "Alona Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya takut kau memecahkan gelas dan pringku."
Apa? mata Alona melotot. Aku tidak salah dengar kan. Pria itu hanya mengkhawatirkan piring dan gelasnya saja. Alona menoleh ke arah Xander. Ia membanting pring itu, "prank". "Biarkan saja piringnya pecah. Aku tidak peduli." Alona berguman di dalam hatinya.
"Alona!," Xander memberikan peringatan.
"Maaf aku tidak sengaja. Tanganku licin karena sabun yang terlalu banyak." Alona berbicara tanpa keraguan. Ia tidak memperlihatkan bahwa ia sengaja melakukannya.
Xander berjalan ke arah Alona. "Sayang apa kamu tahu apa kesalahanmu?"
Alona menggelengkan kepalanya tidak peduli.
"kau mengacuhkanku...," Xander memeluk Alona dari belakang.
"Xander lepaskan aku. Aku bukan boneka yang bisa sembarangan kau peluk dan cium."
"Alona kau pelit sekali. Aku tidak akan mengantarkanmu pulang jika kau selalu marah seperti kucing kuning di rumahmu. Kau sama seperti kucingmu bar-bar." Xander membisikkan kata bar-bar dengan kencang di telinga Alona.
"Tidak peduli. Aku punya kaki dan tangan. Aku bisa pulang sendiri." Alona menanggapi Xander dengan santai.
Xander berdiri miring menopangkan tanganya di atas wastafel di dekat tempat cuci piring sembari memperhatikan Alona. "Alona apa kau sudah melihat sekeliling rumah ini?, tidak ada rumah dan jalanan besar, hanya ada rumah ini di tengah hutan."
Alona membeku di tempat. Dadanya tersentak kaget saat mendengar tidak ada rumah lain.
Xander mengangguk-anggukan kepalanya.
"Tidak masalah juga jika kau ingin jalan kaki. Kalau begitu kau bisa menikmati perjalananmu ke kota. Jalan kaki mungkin 3 jam. Lumayan untuk menguruskan badanmu yang gemuk itu." Saat selesai berbicara Xander langsung berlari menuju kamarnya di lantai dua.
"Xander!" Alona berteriak. "Apa kau senang mengerjaiku."
Alona tidak percaya rumah megah seperti ini ada di tengah hutan. Alona segera pergi keluar rumah. Alona terkejut saat mendapati rumah itu benar-benar di tengah hutan. Tidak ada jalan besar tidak ada rumah satupun di sampingnya.
Alona takut, bagaimana jika di rumah itu terdapat ular atau binatang buas lainnya. Alona berlari ke lantai dua. Ia segera menghampiri Xander. "Xander sebaiknya kita pulang hari ini. Di sini tidak benar. Aku rasa rumah ini bukan rumah pada umumnya. Jangan-jangan rumah ini rumah hantu."
Xander mengagetkan Alona hingga wanita itu berteriak dan memeluknya karena ketakutan.
__ADS_1
"Xander aku akan memukulmu jika kau mengerjaiku lagi."
Alona melepaskan pelukannya. Saat ia ingin pergi Xander menarik tangannya lagi. "Alona aku mencintaimu"
Alona diam dan menatap mata Xander. Bibirnya berubah menjadi pucat. Alona seperti di rasuki setan saat Xander mengatakan cintanya. Ia menjadi kikuk tidak bisa bergerak. Seperti ada sesuatu yang menekan tubuhnya.
"Aku juga mencintaimu Xander. Sangat-sangat mencintaimu. Alona mengeja kata-katanya.
Xander sudah merasa senang jantungnya mulai memompa kencang saat mendengar Alona mengatakan bahwa ia juga mencintainya.
"Tapi-," Alona terdiam sejenak menceerna kata-kata yang akan ia ucapkan.
Xander sudah tidak sabar mendengar kata-kata yang ingin keluar dari mulut Alona.
"Maaf aku sudah ada yang punya."
Xander kecewa lalu ia tersenyum ringan menatap Alona. "Bersiap-siaplah aku akan membawamu ke suatu tempat."
"Aku tidak punya pakaian ganti." Alona menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
Buka saja lemari baju kakakku kau bisa memakainya.
Saat di perjalanan Xander menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ada toko bunga besar menjual beraneka ragam bunga. Tanpa di suruh turun Alona langsung melangkahkan kakinya keluar mobil. Matanya selalu berkilauan saat melihat bunga mawar kesukaannya. Alona mengambil satu persatu dari jenis bunga mawar yang di jual. Ketika ia sadar bunga mawar yang ia ambil sudah satu keranjang penuh. Alona segera memeriksa dompetnya. Alona memejamkan matanya saat melihat dompetnya kosong tidak ada uang satu senpun. Kartu debit, kartu kredit, juga tidak ada. Alona menitipkan keranjang bunganya pada penjual. Tidak lupa ia juga menyampaikan pesan. "Bibi bisa lihat kan, pria tampan itu kekasihku." Alona menunjuk Xander yang tengah sibuk memilih bunga. Wanita paruh baya menganggukan kepalanya tanda ia mengerti. "Aku titip keranjang bunga ini sama Bibi nanti dia yang bayar. Ok Bibi"
"Sayang aku akan menunggumu di dalam mobil." Alona memberikan senyum termanisnya berharap pria itu tidak mencurigai perbuatannya saat ini.
Xander menoleh ke arah Alona dan menganggukan kepalanya.
Alona duduk dengan elegan di dalam mobil. Wanita itu terus memperbaiki mimik wajahnya. Ia harus terus tersenyum tidak boleh menunjukkan kegugupan saat Xander selesai membayar bunga miliknya.
"Bi tolong bungkus bunga ini. Aku sudah selesai." Xander memanggil penjual bunga.
"Baik Tuan." Wanita paruh baya segera membungkus bunga itu sangat cantik.
"Berapa semuanya Bi?"
"Tiga koma lima Tuan." Penjual menyebutkan nominal yang harus di bayar.
Xander mengeluarkan uang 350 ribu rupiah dan menyerahkan uangnya pada penjual bunga itu.
__ADS_1
"Maaf Tuan maksud saya. Tiga juta lima ratus ribu rupiah." Penjual bunga meralat ucapannya.
Xander kaget bukan main. Saat mendengar bunga yang ia beli bernilai cukup fantastis. Pria itu tidak mempermasalahkan harga tapi ia lebih berpikir secara logis. Apa bisa bunga untuk menabur makam berharga sampai jutaan rupiah?
"Maaf Bibi apa Bibi tidak salah hitung?. Maksudku aku hanya membeli bunga biasa untuk ke pemakaman. Apa bisa semahal itu?" Xander bertanya sedikit ragu takut menyinggung perasaan penjual bunga.
"Tidak salah Tuan. Kekasih anda menitipkan bunga ini" Penjual bunga menunjukkan sekeranjang bunga mawar milik Alona.
Raut wajah Xander berubah menjadi hitam seperti batu bara. Kepalanya akan pecah rasanya. Wanita itu bisa-bisanya mengerjaiku lagi dan lagi.
Xander mengeluarkan dompetnya lagi. "Maaf Bibi aku bayar pakai kartu debit saja. Aku tidak punya uang tunai."
"Baik Tuan. Tidak masalah"
Dengan wajah muram Xander membanting pintu mobilnya sangat kencang. Xander melemparkan semu bunga mawar ke arah Alona yang sedang duduk di kursi depan. "Jangan serakah jika tidak punya uang."
Alona tersenyum tersipu malu-malu, " Terima kasih sayang kau sangat baik hati."
Alona memegang bunga di tangannya. Ia menciumi setiap kelopak mawar itu.
Melihat Alona senang kemarahan Xander berangsur-angsur hilang. Pria itu sedikit menoleh ke arah Alona memperhatikan tingkah lucu wanita itu. Seuntai senyum menghiasi wajah tampannya.
Alona menguap berulang kali. Matanya mulai terpejam sedikit demi sedikit. Tidak tahan rasanya, ia memejamkan mata tertidur dengan memeluk bunganya.
Xander melihat Alona yang tengah tertidur sangat lucu "Alona kau wanita tukang tidur. Baru sebentar di mobil sudah tertidur pulas."
Alona terbangun dari tidurnya. Matanya menatap ke luar jendela kaca. Ia melihat pemakaman umum di depannya. "Xander?" Alona memanggil Xander, lalu ia menoleh kesamping. Alona tidak menemukan Xander di sampingnya. "Kemana dia?, kenapa Xander meninggalkanku sendirian di dalam mobil?"
Dari kejauhan Alona melihat punggung Xander sedang duduk di samping pemakaman. Alona turun menghampiri Xander.
"Ayah, ibu, kakak aku datang. Maafkan aku yang selalu sibuk sehingga aku melupakan kalian." Xander tersenyum menatap pemakaman ayah, ibu dan kakaknya.
Alona memegang pundak Xander saat ia tiba di pemakaman itu. Xander menoleh ke arah Alona lalu berdiri.
"Xander?, kakakmu!?"
"Xander menganggukan kepalanya. "Ya kakakku sudah meninggal lima tahun yang lalu." Xander terlihat lesu.
Alona memeluk Xander. "Bersabarlah, aku bisa merasakan apa yang kau rasakan. Orang tuaku juga sudah tiada."
__ADS_1