
Dokter Risma keluar kamarnya menuju dapur. Sepanjang perjalanan ia tidak henti-hentinya menguap. Beruntung hari ini akhir pekan, sehingga ia bisa menikmati tidur panjang setelah ini. Meskipun ia ditugaskan untuk menjaga Alona, ia tetap di berikan hari libur saat Tuan-nya pulang sabtu dan minggu. Semua pekerjaannya di ambil alih oleh Alexander selaku suami Nyonya-nya.
Dokter Risma membuka kulkas dan menuangkan segelas air. Ia kemudian menarik kursi di meja makan lalu duduk manis meminum air es-nya. Wajah Dokter Risma terlihat pucat karena kurang tidur Sementara rambutnya acak-acakan seperti rambut singa, matanya pun berkantung terlihat seperti mata panda. Ia kemudian menggaruk kepalanya. Bersamaan dengan itu ia menyapa Bibi Ani. "Bibi..., morning."
Bibi Ani yang tengah sibuk memasak untuk sarapan membalas dengan nada malas. "Emmm..."
"Apa Bibi bisa tidur nyenyak pagi ini." Tanya Dokter Risma. Ada makna yang sangat kental tersirat di dalam pertanyaan itu.
"Jangan suka bergosip. Aku tahu maksudmu." Kata Bi Ani dengan wajah datar. Ia sibuk memasak bubur kacang hijau untuk sarapan pagi ini.
Bibi Ani yang sudah berusia separuh baya tentu tahu maksud Dokter Risma. Dia juga mendengarnya. Mendengar semua suara perkelahian Tuan dan Nyonya-nya. Bahkan tidak ada sedikitpun suara yang lolos dari pendengarnya. Jika ia tahu Tuan-nya akan pulang pagi, ia akan tidur di kamar paling belakang.
"Bibi aku hanya bertanya. Lagipula siapa yang ingin bergosip dengan Bibi"
"Aku tahu segalanya. Kau itu masih bau kencur. Aku lebih berpengalaman darimu." Cemooh Bi Ani. " Oh, ya... jika Kau iri! Setelah Nyonya Alona melahirkan, sebaiknya Kau cepat cari pasangan dan menikah." Saran Bi Ani.
"Yaampun Bibi..., aku tidak menduga Bibi sangat perhatian. Aku masih muda, umurku masih 27 tahun. Aku akan menikah jika aku sudah berumur 30 tahun, Bi." Jawabnya yakin.
"Hei, wanita muda..., katamu?! kepala ku sakit mendengar itu, Nak. Usia 27 tahun, seharusnya Kau sudah memiliki 2 anak."
"Bibi, kontrak ku dengan Tuan Alexander selama 3 tahun. Aku juga akan merasakan memiliki anak dengan itu. Anak Tuan dan Nyonya aku yang akan merawatnya." Jawabnya sedikit sombong. "Apa Bibi tahu? Tuan ingin segera punya bayi lagi setelah 1 tahun Nyonya Alona melahirkan."
"Itu bagus..." Jawab Bi Ani. "Selagi masih muda, tidak ada salahnya untuk melahirkan lebih banyak bayi. Dengan begitu Nyonya dan Tuan bisa menikmati masa tua yang indah tanpa ganguan anak-anak.."
Dokter Risma tidak lagi menanggapi pernyataan Bibi Ani. Dia bergumam sendiri dengan suara yang sangat jelas. "Aish..., mendengar perkelahian mereka sepanjang pagi ini, aku tidak yakin Nyonya Alona sampai satu tahun menyusui anaknya. Prediksiku mengatakan bahwa 6 bulan pasca melahirkan, Nyonya Alona akan hamil lagi."
"Nona Dokter jika kau begitu banyak waktu untuk bergosip, alangkah baiknya Kau membantuku mengaduk bubur kacang hijau ini." Kata Bi Ani mulai geram. "Aku ingin membuat roti bakar."
"Ai, Bibi ini terlalu serius. Bergosip itu baik untuk kesehatan." Sangkal Dokter Risma mencari pembenaran.
"Jika bergosip baik. Tentu ibu-ibu rumpi akan semakin banyak." Celetuk Bi Ani kesal.
"Tidak bisakah Bibi jangan mengganggu waktu liburku?"
"Apa Kau juga akan libur makan?!" Bibi Ani melemparkan pengaduk bubur yang terbuat dari kayu jati ke arah Dokter Risma. Dengan cekatan Dokter Risma menangkapnya.
"Baik, Nyonya... aku akan melakukan semua printahmu." Jawabnya. Bagaimana pun ia butuh makan. Jika wanita di hadapannya marah, tentu ia akan kehilangan makanan gratisnya.
Dokter Risma berdiri dan mengambil alih mengaduk-aduk bubur kacang hijau. Mulut wanita itu memang tidak bisaa diam, jika ada sesuatu yang ingin sekali ia ketahui. "Bi, aku ingin bertanya padamu?"
"Apa?" Jawab Bi Ani dengan nada tinggi.
"Bagimana rasanya malam pertama?! apa itu sakit?"
"Aw..." Dokter Risma berteriak merasakan sakit akibat kepalanya di pukul menggunakan ujung sendok oleh Bibi Ani.
"Jika Kau penasaran, lebih baik Kau menikah!" sarannya.
Saat Bibi Ani dan Dokter Risma sedang asik beradu argumen, Alexander dan Alona keluar kamar. Wajah mereka terlihat berseri-seri. Alona menggunakan gaun panjang sampai mata kaki, lengan panjang, serta lehernya di balut syal. Sangat jelas bahwa ia menutupi sesuatu tersembunyi di balik gaun bermotif polkadot warna merah dan kuning telur.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya...." Sapa Bi Ani sedikit canggung karena ia baru saja tertangkap membicarakan sesuatu yang menyimpang.
Mata Bibi Ani melotot memandang ke arah Dokter Risma. Sementara Dokter Risma berpura-pura tidak melihat, mengabaikan peringatan itu.
"Hai Bi...." Balas Alexander. "Apa istriku membuat Bibi dan Dokter Risma dalam masalah saat aku pergi?" Tanya Alexander sambil menarik kursi untuk Alona di meja makan.
Bagaimana pun Alexander tidak memperlakukan asisten dan pekerjanya secara semena-mena. Baginya semua sama saja. Dia hanya beruntung mendapatkan lebih banyak uang. Dia juga sudah merasakan hidup susah. Meskipun seperti itu, ia akan tetap marah bila pekerjanya melakukan kesalahan, namun semua itu hanya sebatas memarahi kesalahannya bukan orangnya.
"Tidak sama sekali." Jawab Bi Ani.
"Jika Dia membuat masalah katakan saja padaku Bi. Aku akan menghukumnya ketika Aku pulang." Kata Alexander sambil menarik kursi untuknya duduk. Alexander tidak ingin istrinya seperti seorang ratu yang jahat tidak memiliki moral.
Dokter Risma berbicara lantang dengan muka datar. Ia tidak bisa jika tidak menggoda Tuanya. "Seperti tadi pagi ya,Tuan?" tanya Dokter Risma.
Menjadi dokter spesialis kandungan dan ahli gizi saat pensiun dari tugas militer menjadikannya sebagai wanita blak-blakan saat membahas hubungan suami istri.
"Mungkin, lebih dari itu." Jawab Alexander tanpa merasa sungkan.
"Pffrret..."Alona menyemburkan air yang sedang ia minum saat mendengar kata-kata suaminya. Dia tidak menyangka bahwa suaminya akan bicara blak-blakan mengenai rahasia ranjangnya.
Alexander menoleh ke arah Alona. "Sayang..., apa ada yang salah dengan airmu?" tanya Alexander.
"Tidak ada... hanya saja air ini terlalu panas." Jawab Alona santai dengan wajah memerah menahan malu bercampur marah.
"Oh, ya..., Bi dan Dokter Risma. Besok lusa aku akan kembali lagi ke kota J. Aku titip Alona lagi ya."
"Tenang saja Tuan. Nyonya aman bersama kami." Kata Dokter Risma meyakinkan.
Alona duduk di samping Alexander sedangkan Bibi Ani dan Dokter Risma duduk bersampingan di depan Alona dan Alexander.
"Kalau bisa Tuan jangan lama-lama mencari manajer baru untuk menggantikan Tuan sementara waktu. Soalnya ada yang takut tidur sendiri di kamar." Kata Dokter Risma.
Alona seketika mendelikkan matanya ke arah Dokter Risma. Memang benar selama Alexander pergi. Ia selalu tidur bersama Bibi Ani.
"Siapa itu?" tanya Alexander.
Dokter Risma tidak menjawab. Dia hanya tersenyum melihat Alona menundukkan kepalanya.
Bibi Ani yang lebih tua diantara mereka berempat langsung mengalihkan pembicaraan. Dia tidak dapat membiarkan kecanggungan berlangsung saat menikmati sarapan. "Nyonya, aku memasak kue kukus untukmu. Ini enak..., cobalah" Katanya dengan tersenyum hangat. Aura keibunya keluar saat itu.
Sarapan pagi menjadi suasana yang hangat dan bersahabat. Mereka sangat menikmati sarapan itu. Walaupun masakannya sederhana.
Sarapan telah berakhir, Alexander mengajak Alona pergi keluar untuk menikmati matahari pagi di tepi danau dekat rumah.
"Sayang apa Kau menyukai suasana di desa ini?" tanya Alexander.
Alona menganggukan kepalanya. "Sangat suka, terutama jika kamu bersamaku." jawabnya.
"Alona apa kamu ingin mendengar sebuah lagu cinta dariku?" tanya Alexander.
__ADS_1
"Tunjukkan jika kamu memiliki kemampuan." Kata Alona tidak yakin. Alona bukanya tidak percaya. Namun, melihat sifat Alexander untuk pertama kalinya bertemu membuat Alona menjadi ragu. Alexander pria ganas seperti serigala. Bagaimana ia bisa selembut seekor kucing saat ini merupakan suatu keajaiban tidak terduga.
Dulu Alexander adalah serigala. Setelah menikah ia menjadi seorang pria berhati lembut. Sementara Alona tidak berubah. Dia masih seperti yang dulu. Hanya saja Alona kini sangat mencintai pria di hadapannya.
Alona duduk di kursi kayu menghadap danau dan Alexander duduk di sampingnya.
Alexander mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi gitarnya. Perlahan ia mulai menyentuh layar ponselnya. Ia terlihat sangat pandi memainkan gitar itu. Sebuah lagu All of me dari John legend mengalun merdu. Suara Alexander tidak buruk. Dengan lirik lagu itu, mewakili semua hal yang ingin ia katakan pada istrinya.
Selama nyanyian itu berlangsung mata Alona tidak berkedip mendengar dan melihat Alexander memainkan gitar dan menyanyikan lagunya.
Lagu dan musik sudah berakhir. Namun suara gitar tetap berbunyi. Kini, Alexander mulai mengucapkan kata-katanya lewat sebuah puisi.
Alona, bumi selalu berputar pada porosnya. Sementara hatiku selalu tetap dan tidak bergerak. Hatiku telah tertambat untukmu seorang.
Alona, mimpi dan kenyataan terkadang tak sejalan selalu keluar dari jalurnya. Tapi aku tidak akan pernah berhenti bermimpi untuk mencintaimu selamanya. Aku mulai mencintaimu dari mimpi. Kini aku mewujudkan mimpi itu menjadi nyata dan tidak akan berakhir seperti mimpi dalam tidur.
Alona, mungkin bagi orang lain harta dan tahta adalah segalanya. Tapi, bagiku kamulah segalanya. Kamu harta, tahta, wanitaku dan ibu dari anak-anakku.
Alona, istriku.... sudikah kiranya engkau menemaniku sampai akhir hayat nanti?
Alexander meraih tangan istrinya. Sementara Alona menagis tidak dapat menahan rasa bahagianya. Dia merasa sangat beruntung mendapatkan suami yang paling mengerti keinginannya. "Alexander hentikan kata-kata mu itu. Aku tidak bisa berhenti menangis.... A-aku tentu saja sangat bersedia." kata Alona sambil mencubit perut suaminya.
"Istriku aku mencintaimu, semua kelebihan dan kekuranganmu"
Alexander memeluk Alona sangat erat. Ia takut kehilangan wanita di hadapannya. Bagimana pun setelah hari ini dia belum bisa memastikan kondisi akan membaik. Baginya selama Diana dan Alvaro belum diadili hubungannya dengan Alona belum sepenuhnya aman. "Sayang, berjanjilah satu hal padaku. Kamu tidak akan meninggalkanku walau apapun yang akan terjadi."
Alexander tidak memberitahu Alona bahwa Diana dan Alvaro sudah di tahan polisi. Dia tidak ingin Alona mengkhawatirkannya di kota J.
"Sayang, berhenti berbicara seakan-akan kamu akan pergi lama dariku." Jawab Alona. "Kita akan bertemu setiap akhir pekan. Tuhan sudah mengatur hal yang terbaik untuk kita. Kamu percaya, Kan? aku selalu ada bersama mu di dalam setiap tarikan napasmu. Aku berjanji! kamulah satu-satunya."
"Sayang, menurutmu apa nama yang baik untuk anak kita nanti?" tanya Alexander.
"Aku belum memikirkannya." Jawa Alona.
"Bagaimana kalau Axelle, Delvin, Evano, Farrell, Gavin..."
"Stop! kenapa tidak ada nama perempuan?" sangkal Alona.
"Anakku akan lahir laki-laki Alona. Aku sangat yakin itu." jawabnya percaya diri.
"Aku lebih suka anak perempuan. Dia akan sangat cantik seperti ku."
"Aku tidak setuju..., anak perempuan akan menjadi cerewet seperti mu. Jika ingin bayi perempuan maka tunggulah setelah ini." Balas Xander.
"Sayang..., apa kamu akan melawan ku?"
"...." Alexander tidak menjawab dia langsung mencium bibir istrinya agar diam.
Mereka pasangan sempurna. Tidak akan terpisahkan oleh jarak, ruang, dan waktu.
__ADS_1
Takdir sudah berpihak pada mereka berdua. Alona akan selalu bersama Alexander. Begitupun sebaliknya.